‹ Daftar slidePertemuan 03 - Diksi (Pilihan Kata) dalam Penulisan Ilmiah
Mata Kuliah Umum • Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
Pertemuan 03 — Diksi dalam Penulisan Ilmiah
Bagaimana memilih kata yang tepat, selaras, dan sesuai konteks menggunakan standar EYD Edisi V untuk memperkuat kualitas dan kredibilitas karya ilmiah Anda.
RPS MINGGU 3 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menerapkan diksi yang tepat sesuai EYD V dalam karya ilmiah. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — KONSEP DIKSI
MEMAHAMI MAKNA
Menjelaskan fungsi dan syarat diksi (kebenaran, kecermatan, ketepatan, kelaziman) dalam komunikasi akademik.
CAPAIAN 2 — BAHASA ILMIAH
CIRI KHAS
Mengidentifikasi karakteristik kata ilmiah yang objektif, lugas (denotatif), dan baku.
CAPAIAN 3 — MENGHINDARI KESALAHAN
EVALUASI KATA
Mendeteksi dan memperbaiki kesalahan diksi umum: sinonim yang keliru, kata percakapan, dan pleonasme.
CAPAIAN 4 — APLIKASI EYD V
STANDARISASI
Menerapkan pedoman EYD V untuk penulisan istilah asing, imbuhan, dan kata depan secara presisi.
Pilih: "Mati", "Wafat", atau "Meninggal Dunia"?
Ketiga kata tersebut bersinonim. Tapi apakah ketiganya bisa saling menggantikan dalam semua konteks?
KATA DASAR
Mati
Biasanya untuk hewan, tumbuhan, atau benda (mesin mati). Kasar bila untuk manusia terhormat.
PENGHORMATAN
Wafat
Sangat sopan, bernuansa penghormatan tinggi (untuk tokoh agama, pahlawan, presiden).
NETRAL/FORMAL
Meninggal
Bentuk netral dan sopan untuk manusia secara umum. Sering dipakai di berita atau laporan.
Itulah esensi Diksi: bukan sekadar mencari kata yang artinya sama, tapi mencari kata yang rasanya pas, konteksnya benar, dan efeknya tepat.
Bagian 1 dari 4
Konsep Dasar Diksi
Membedah apa itu diksi, perbedaannya dengan EYD, dan syarat mutlak pemilihan kata yang baik.
KebenaranKecermatanKetepatan
Apa Itu Diksi (Pilihan Kata)?
Diksi adalah kemampuan memilih kata yang tepat, selaras, dan baku untuk mengungkapkan gagasan sehingga tercipta komunikasi yang efektif.
FUNGSI DIKSI DALAM KARYA ILMIAH
Mencegah Ambiguitas: Pembaca memahami persis apa yang dimaksud penulis.
Meningkatkan Kredibilitas: Menunjukkan penguasaan konsep teknis penulis.
EYD V mengatur cara menulisnya (huruf kapital, miring, koma).
Diksi mengatur kata apa yang dipilih (makna, nuansa, kesesuaian konteks). Keduanya harus bersinergi.
Empat Syarat Diksi yang Baik
1. KEBENARAN (BAKU)
Sesuai Kaidah EYD V & KBBI
Kata harus terdaftar secara formal. Salah: Praktek, Apotik, Resiko. Benar:Praktik, Apotek, Risiko.
2. KECERMATAN
Tidak Berlebihan/Mubazir
Menghindari pleonasme. Salah: Adalah merupakan hal yang... Benar:Merupakan hal yang...
3. KETEPATAN
Makna yang Presisi
Membedakan kata yang mirip. Beda:Menonton (TV) vs Meninjau (lokasi penelitian).
4. KESERASIAN (KELAZIMAN)
Sesuai Konteks Akademik
Tidak menggunakan bahasa gaul/koran. Salah: Harga saham anjlok parah. Benar:Harga saham mengalami penurunan drastis.
Hubungan EYD V dan Diksi Ilmiah
Diksi yang tepat harus dibungkus dengan ejaan yang benar agar tidak kehilangan makna profesionalnya. EYD V (Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V) adalah standar terbaru.
CONTOH KASUS PENULISAN ILMIAH
Versi Mentah
Perbaikan Diksi
Perbaikan EYD V & Diksi (Final)
Data disave ke dalem flashdisk agar supaya aman.
Data disimpan ke dalam flashdiskagar aman.
Data disimpan ke dalam flash disk agar aman. (Cetak miring untuk istilah asing, dipisah menurut EYD).
Jika diksi sudah "keren" namun ejaannya kacau (huruf kapital salah, kata depan digabung), kualitas karya ilmiah tetap dinilai rendah oleh reviewer jurnal atau dosen penguji.
Bagian 2 dari 4
Karakteristik Bahasa Ilmiah
Mengapa tulisan ilmiah terasa kaku? Karena bahasa ilmiah menuntut kelugasan, objektivitas, dan rasionalitas yang tinggi.
Lugas & DenotatifObjektifBaku & Rasional
1. Lugas dan Bermakna Denotatif
Karya ilmiah haram menggunakan kata kiasan (konotatif), majas, atau metafora. Makna kata harus apa adanya sesuai kamus (denotatif).
MAKNA KONOTATIF (SASTRA/KORAN)
Kiasan & Emosional
"Perusahaan X akhirnya gulung tikar setelah berdarah-darah menghadapi krisis pandemi."
(Diksi ini cocok untuk cerpen atau majalah berita, bukan skripsi).
MAKNA DENOTATIF (ILMIAH)
Harfiah & Lugas
"Perusahaan X akhirnya mengalami kebangkrutan setelah mengalami kerugian finansial yang signifikan akibat pandemi."
(Lebih kering, tetapi sangat akurat dan terukur).
2. Objektif dan Non-Personal
Bahasa ilmiah berfokus pada objek penelitian, bukan penulisnya. Hindari kata ganti orang pertama (aku, saya, kita) atau kata emosional.
TRANSFORMASI KALIMAT MENJADI OBJEKTIF
Subjektif (Dihindari)
Objektif (Dianjurkan)
Saya berpendapat bahwa metode ini sangat luar biasa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini memiliki tingkat efektivitas tinggi.
Kita bisa melihat penurunan laba yang mengerikan di tabel 2.
Penurunan laba yang signifikan dapat diamati pada Tabel 2.
Tips: Gunakan bentuk pasif ("diketahui bahwa...", "dianalisis menggunakan...") untuk menyamarkan subjek penulis, sehingga fokus tetap pada data penelitian.
3. Formal dan Baku
Karya ilmiah menuntut pemakaian kata yang diakui resmi secara nasional (KBBI dan pedoman EYD V).
KATA TIDAK BAKU
Sering Terucap
Bikin Dibilang Gimana Cuman Ketimbang
KATA BAKU (ILMIAH)
Resmi/Tulis
Membuat Dikatakan Bagaimana Hanya Daripada
ATURAN EYD V
Standar Validasi
Pastikan selalu mengecek di KBBI daring. Kata baku seringkali berbeda dari bahasa lisan sehari-hari.
Bagian 3 dari 4
Kesalahan Umum Diksi
Mengidentifikasi jebakan yang paling sering menjatuhkan kualitas bahasa skripsi mahasiswa: dari pleonasme hingga salah sinonim.
Sinonim RancuKata PercakapanPleonasme
Kesalahan 1: Penggunaan Sinonim yang Kurang Tepat
Tidak semua kata bersinonim dapat saling menggantikan. Tiap kata punya kolokasi (pasangan kata yang lazim).
KASUS: "MEMBUAT" vs "MENYUSUN" vs "MERUMUSKAN"
Peneliti membuat kuesioner... (Terasa kurang akademis).
Peneliti menyusun kuesioner... (Benar. 'Kuesioner' lazimnya 'disusun', bukan sekadar 'dibuat').
Kita akan menemukan masalah penelitian... (Masalah penelitian tidak hilang dicuri).
Kita akan merumuskan masalah penelitian... (Benar. Masalah akademis dirumuskan/diidentifikasi).
Kesalahan 2: Pleonasme (Pemborosan Kata)
Pleonasme terjadi saat menambahkan keterangan yang sudah terkandung pada kata sebelumnya. Ilmiah = efisien.
CONTOH MENGANDUNG PLEONASME
"sangat banyak sekali"
Mulai dari sejak tahun 2020...
Faktor-faktor yang memengaruhi adalah merupakan...
Tujuan penelitian ini agar supaya...
PERBAIKAN (EFISIEN & CERMAT)
"sangat banyak" atau "banyak sekali"
Sejak tahun 2020... (atau Mulai tahun...)
Faktor-faktor yang memengaruhi adalah...
Tujuan penelitian ini agar... (atau supaya)
Kesalahan 3: Terlalu Banyak Jargon yang Tidak Perlu
Menggunakan istilah asing atau jargon sulit secara berlebihan hanya untuk terlihat pintar, padahal ada padanan Bahasa Indonesia yang lebih jelas.
SEDERHANAKAN DIKSI TANPA MENGURANGI KUALITAS
Terlalu Jargon/Asing (Pretentious)
Padanan Ilmiah (Lebih Jelas)
Peneliti melakukan follow up terhadap feedback.
Peneliti melakukan tindak lanjut terhadap umpan balik.
Sistem ini men-generate solusi secara real-time.
Sistem ini menghasilkan solusi secara seketika (atau waktu nyata).
Dibutuhkan effort yang massive untuk hal ini.
Dibutuhkan upaya yang besar/masif untuk hal ini.
Gunakan istilah asing (Inggris) HANYA jika padanan Bahasa Indonesia-nya belum ada, belum lazim, atau justru menimbulkan kerancuan makna.
Bagian 4 dari 4
Penerapan Praktis EYD V & Diksi
Menggabungkan pilihan kata dengan aturan teknis penulisan EYD V, dari kata serapan, kata depan, hingga cetak miring.
Istilah AsingKata Depan (Di/Ke)Studi Kasus
Aturan EYD V: Istilah Asing dan Daerah
EYD V secara tegas mengatur bahwa kata-kata bahasa asing (yang belum diserap) dan bahasa daerah wajib dicetak miring (italic).
KATA BELUM DISERAP (CETAK MIRING)
Ditulis sesuai bahasa aslinya
Strategi word of mouth.
Menggunakan metode purposive sampling.
Kondisi force majeure.
KATA SUDAH DISERAP (TEGAK)
Ditulis sesuai KBBI/EYD V
Sudah ada di kamus: Standardisasi (bukan standarisasi), Risiko (bukan resiko), Efektivitas (bukan efektifitas).
Cek cepat: Jika kata tersebut bisa dicari di KBBI daring, berarti sudah diserap, jangan dicetak miring.
Aturan EYD V: Di- sebagai Awalan vs Kata Depan
Salah satu dosa terbesar penulisan ilmiah adalah tidak bisa membedakan di sebagai imbuhan dan di sebagai kata depan.
KATA DEPAN "DI" (DIPISAH)
Menunjukkan tempat, waktu, atau arah.
Rumus: Di + (Nama Tempat/Arah) Bisa diganti "ke" atau "dari".
Contoh Benar:
di Jakarta
di rumah
di samping
di bawah
AWALAN "DI-" (DIGABUNG)
Membentuk kata kerja pasif.
Rumus: Di + (Kata Kerja Dasar) Bisa diganti dengan awalan "me-".
Contoh Benar:
dianalisis (menganalisis)
digunakan (menggunakan)
ditulis (menulis)
disimpan (menyimpan)
Studi Kasus: Membedah Kalimat Abstrak Skripsi
Mari perbaiki kalimat ini secara Diksi dan EYD V:
"Penelitian ini ngebahas masalah efektifitas online learning di masa pandemi covid-19 dimana data di ambil dari quisioner."
ANALISIS KESALAHAN & PERBAIKAN
Kata Salah
Jenis Kesalahan
Perbaikan (Benar)
ngebahas
Tidak baku (percakapan)
membahas / mengkaji
efektifitas
Ejaan baku salah
efektivitas (pakai 'v')
online learning
Bisa disederhanakan
pembelajaran daring
covid-19
Huruf kapital EYD V
Covid-19
dimana
Penggunaan kata hubung salah
dengan / (diubah strukturnya)
di ambil
Awalan 'di-' ditulis pisah
diambil (digabung)
quisioner
Tidak baku
kuesioner
Kesimpulan & Takeaways
INTISARI 1
Diksi ≠ Sekadar Pemanis
Diksi dalam karya ilmiah berfungsi menjamin akurasi makna, kejelasan, dan objektivitas tulisan, bukan untuk memperindah layaknya puisi.
INTISARI 2
Sinergi Diksi & EYD V
Pilihan kata yang tepat tidak akan berarti jika penulisannya (ejaan, huruf miring, kapital) melanggar standar baku EYD V.
Tugas Minggu Depan: Siapkan satu paragraf latar belakang masalah bidang Anda. Kita akan melakukan peer-review khusus untuk mengecek akurasi diksi dan kepatuhan EYD V di kelas!