Siklus hidup proyek AI, teknik agile, pembentukan tim, dan perencanaan proyek AI yang efektif
Kecerdasan BuatanPertemuan 10 dari 14CPL2 · CPL4 · CPL6
Agenda Pertemuan 10
Teori & Konsep
Siklus hidup proyek AI: 6 fase
Perbedaan manajemen proyek AI vs. proyek konvensional
Teknik Agile yang disesuaikan untuk AI
Peran dan komposisi tim AI yang efektif
Aplikasi & Praktik
Kasus: Gojek, BRImo, Tokopedia — bagaimana mereka jalankan proyek AI
Framework rencana proyek AI sederhana
Common pitfalls dan cara menghindarinya
Latihan: susun rencana proyek AI mini
Fokus Utama: Menerapkan prinsip-prinsip dasar manajemen proyek AI, termasuk pendekatan agile dan pembentukan tim (Sub-CPMK 10, C3).
Tujuan Pembelajaran
Setelah pertemuan ini, mahasiswa mampu:
Kognitif (C3 — Menerapkan)
Menerapkan kerangka siklus hidup proyek AI pada konteks bisnis nyata
Menggunakan teknik agile yang tepat untuk proyek AI
Merancang komposisi tim AI yang sesuai dengan skala dan tujuan proyek
Aplikatif
Menyusun rencana proyek AI sederhana yang terstruktur
Mengidentifikasi risiko dan mitigasi dalam proyek AI
Membedakan sprint AI dari sprint software konvensional
Sub-CPMK 10CPMK-4CPL2 · CPL4 · CPL6
Topik 1
Siklus Hidup Proyek AI
Dari masalah bisnis ke solusi AI yang berjalan
Siklus Hidup Proyek AI: 6 Fase
1
Problem Framing
Definisi masalah bisnis & metrik sukses
→
2
Data Readiness
Audit, akuisisi, pembersihan data
→
3
Modelling & Experimentation
Eksplorasi, training, evaluasi model
→
4
Deployment
Integrasi ke sistem produksi
→
5
Monitoring & Operations
Model drift, performa, retraining
→
6
Iteration & Scaling
Perbaikan berkelanjutan & ekspansi
Kunci Pembeda: Proyek AI tidak pernah benar-benar selesai. Setelah deployment, model harus terus dipantau dan di-retrain — karena dunia nyata berubah, dan data berubah. Ini berbeda dari proyek software konvensional.
Proyek AI vs. Proyek Software Konvensional
Dimensi
Proyek Software Konvensional
Proyek AI
Kepastian output
Tinggi — spesifikasi jelas, output deterministik
Rendah — model probabilistik, output tidak selalu dapat diprediksi
Ketergantungan data
Rendah — logika dikoding manual
Sangat tinggi — kualitas data menentukan kualitas model
Ukuran "selesai"
Fitur terdeploy dan berjalan
Model mencapai metrik performa & terdeploy ke produksi
Fase terbesar
Development (coding)
Data preparation (~50-80% waktu proyek)
Risiko kegagalan
Bug logic, missing requirements
Data bias, overfitting, model drift, ethical issues
Umur proyek
Selesai saat diluncurkan
Terus berjalan: monitoring, retraining, perbaikan berkelanjutan
Implikasi Manajerial: Jangan terapkan manajemen proyek waterfall konvensional ke proyek AI. Ketidakpastian tinggi butuh pendekatan iteratif dan fleksibel — agile yang disesuaikan.
Mengapa Proyek AI Gagal? Pelajaran dari Lapangan
Statistik Kegagalan Proyek AI
~50% proyek AI tidak mencapai production (Gartner, 2022)
Alasan utama: bukan teknologi, tapi manajemen
Masalah paling umum: masalah bisnis tidak terdefinisi jelas
Masalah kedua: data tidak siap saat proyek dimulai
Masalah ketiga: ekspektasi stakeholder tidak realistis
Akar Masalah per Fase
Fase 1: "Kita mau pakai AI" tanpa tahu masalah apa yang dipecahkan
Fase 2: Data tidak tersedia, tidak bersih, atau tidak cukup
Fase 3: Model di lab bagus, tapi di produksi buruk
Fase 4: Tim IT tidak siap integrasikan model ke sistem lama
Fase 5: Tidak ada yang memantau — model drifts tanpa disadari
Konteks Indonesia: Banyak perusahaan mulai proyek AI karena "FOMO" (Fear of Missing Out) — kompetitor pakai AI, jadi kita juga harus. Tanpa problem framing yang jelas, proyek ini sering berakhir sebagai proof-of-concept yang tidak pernah masuk produksi.
Topik 2
Teknik Agile untuk Proyek AI
Iterasi cepat untuk mengelola ketidakpastian AI
Mengapa Agile Cocok untuk Proyek AI?
Prinsip Agile yang Relevan untuk AI
Iterasi pendek: sprint 2 minggu → cepat test hipotesis model
Feedback loop cepat: validasi awal sebelum terlalu jauh
Adaptive planning: rencana berubah seiring temuan baru
Working software: di AI = model yang berjalan, bukan presentasi
Adaptasi Agile untuk AI: Apa yang Berbeda?
Sprint goal AI = "validasi hipotesis model", bukan "deliver fitur"
Definition of Done: model mencapai threshold akurasi, bukan kode selesai
Spike: eksplorasi teknis untuk kurangi uncertainty sebelum sprint resmi
Backlog AI: campuran user stories + eksperimen data + model hypothesis
Retrospektif khusus: apa yang dipelajari dari eksperimen, bukan hanya apa yang selesai
Framework Populer:MLOps + Scrum — Scrum untuk ritme kerja tim, MLOps untuk pipeline teknis (data versioning, model registry, deployment automation, monitoring).
Struktur Sprint AI: Praktik Terbaik
Minggu 1
Eksplorasi & Hipotesis
Review data yang tersedia
Formulasi hipotesis model
Eksperimen baseline
Identifikasi gap data
Minggu 2
Iterasi & Validasi
Refine model berdasarkan temuan
Evaluasi metrik performa
Validasi dengan domain expert
Dokumentasi eksperimen
Review Sprint
Demo & Retrospektif
Demo model ke stakeholder
Review metrik vs. target
Learning retrospektif
Update backlog berikutnya
Contoh Sprint Goal AI: "Di akhir sprint ini, kami akan memiliki model fraud detection baseline dengan AUC ≥ 0.80 pada data validasi BRImo Januari–Maret 2024, sehingga kami dapat memutuskan apakah pendekatan ini layak dilanjutkan."
Rapat & Ritual Agile yang Disesuaikan untuk AI
Ritual
Tujuan Umum Agile
Adaptasi untuk AI
Durasi Ideal
Sprint Planning
Pilih backlog item untuk sprint
Pilih hipotesis model + data experiment yang akan diuji; estimasi uncertainty
2–3 jam
Daily Standup
Sinkronisasi harian tim
Tambahkan: "Apa yang dipelajari hari ini dari eksperimen?" — bukan hanya "apa yang dikerjakan?"
15 menit
Sprint Review
Demo ke stakeholder
Demo model berjalan; jelaskan metrik performa dalam bahasa bisnis
1–2 jam
Retrospektif
Perbaikan proses tim
Tambahkan: review eksperimen — hipotesis mana yang terbukti, mana yang gagal, dan mengapa?
1 jam
Model Review
(Baru — khusus AI)
Evaluasi model oleh domain expert dan ethics reviewer sebelum deployment
1–2 jam
Topik 3
Membangun Tim AI yang Efektif
Komposisi, peran, dan budaya tim yang mendukung inovasi AI
Peran Kunci dalam Tim AI
Peran Teknis
Peran
Tanggung Jawab Utama
Data Scientist
Bangun & evaluasi model; eksplorasi data
ML Engineer
Productionize model; pipeline MLOps
Data Engineer
Pipeline data; data warehouse; ETL
AI/ML Architect
Desain infrastruktur AI; scalability
Backend/Platform Eng.
Integrasi model ke sistem produksi
Peran Non-Teknis (Sama Pentingnya)
Peran
Tanggung Jawab Utama
AI Product Manager
Roadmap, prioritas, stakeholder management
Domain Expert
Validasi relevansi bisnis; knowledge transfer
AI Ethics Reviewer
Bias audit; fairness; compliance
Change Manager
Adopsi pengguna; training; komunikasi
Legal/Compliance
Regulasi data; UU PDP; kontrak vendor
Kesalahan Umum: Tim AI terdiri hanya dari data scientist dan engineer. Tanpa domain expert, model tidak relevan untuk bisnis. Tanpa AI PM, proyek kehilangan arah. Tanpa change manager, model bagus tapi pengguna tidak mau pakai.
Komposisi Tim Berdasarkan Skala Proyek
Tim Kecil
3–5 orang · startup atau PoC
1 AI PM (rangkap domain expert)
1-2 Data Scientist
1 Data/ML Engineer
Domain expert sebagai advisor
Tim Menengah
8–15 orang · perusahaan berkembang
1 AI PM + 1 AI Architect
2-3 Data Scientist
2 ML Engineer + 1 Data Engineer
1 Domain Expert full-time
1 Ethics Reviewer (part-time)
🏢
Tim Besar
20+ orang · enterprise seperti BRI, Telkom
AI Center of Excellence (CoE) terpusat
Squad per use case (fraud, credit, UX)
Shared platform team (MLOps, data)
Dedicated ethics & compliance team
Change management team
Topik 4
Rencana Proyek AI Sederhana
Dari ide ke dokumen rencana yang actionable
Template Rencana Proyek AI: 7 Komponen
1. Problem Statement
Masalah bisnis apa yang dipecahkan? Apa dampaknya jika tidak diselesaikan? Siapa yang terdampak?
2. Success Metrics
Metrik teknis AI (akurasi, AUC, F1) DAN metrik bisnis (penghematan biaya, konversi, NPS). Keduanya wajib ada.
3. Data Assessment
Data apa yang tersedia? Kualitasnya? Gap apa yang perlu diisi? Berapa lama akuisisi data memakan waktu?
4. Approach & Milestones
Pendekatan teknis apa yang akan dicoba? Milestone per sprint? Go/No-go criteria di setiap milestone?
5. Tim & Peran
Siapa yang terlibat? Peran dan tanggung jawab masing-masing? Siapa decision-maker untuk go/no-go?
6. Risiko & Mitigasi
Risiko teknis (data tidak cukup, model tidak konvergen) dan risiko bisnis (adopsi rendah, regulasi). Rencana mitigasi per risiko.
7. Timeline & Anggaran
Timeline realistis per fase. Anggaran: compute, data, lisensi tools, sumber daya manusia. Buffer untuk eksperimen yang gagal (~20-30%).
Studi Kasus: Proyek AI di Perusahaan Indonesia
Gojek: Sistem Rekomendasi GoPay
Problem
Pengguna tidak tahu promo yang relevan → konversi rendah
Success Metric
CTR promo naik 25%; redemption rate naik 15%
Data
Histori transaksi, lokasi, merchant category, waktu
Cold start untuk pengguna baru; mitigasi: rule-based fallback
BCA: Chatbot Halo BCA
Problem
Volume call center tinggi; wait time 8+ menit
Success Metric
40% query dihandle chatbot; wait time < 1 menit
Data
Log call center 2 tahun; FAQ; transkrip agen
Approach
NLU (intent classification) + dialogue management
Tim
2 DS (NLP) + 2 MLE + 1 PM + tim customer service (domain)
Timeline
16 minggu: iterasi 4 sprint × 4 minggu
Risiko
Halusinasi chatbot; mitigasi: human escalation mandatory
Jebakan Umum Proyek AI & Cara Menghindarinya
Jebakan
Tanda Peringatan
Cara Menghindari
AI untuk AI
"Kita harus pakai AI" tanpa problem yang jelas
Mulai dengan problem statement, bukan dengan pilihan teknologi
Data Optimism
"Data pasti ada, nanti kita cari"
Data assessment di fase pertama — sebelum commit ke proyek
Perfeksionisme Model
Tim terus iterasi tanpa pernah deploy
Tetapkan threshold performa minimum dan jadwal deploy
Shadow IT AI
Tim pakai AI tools tanpa sepengetahuan IT/legal
Governance AI yang jelas; register semua tools dan model
Lupa Change Management
Model bagus tapi tidak ada yang pakai
Libatkan pengguna akhir dari sprint pertama; training intensif
Model Drift Diabaikan
Model diluncurkan lalu ditinggalkan
Monitoring dashboard + SLA retraining yang jelas
Latihan: Susun Rencana Proyek AI Mini
Skenario: PT Retail Nusantara Digital
PT Retail Nusantara Digital adalah perusahaan retail dengan 200 toko dan platform e-commerce yang baru diluncurkan. CFO meminta Anda — sebagai AI Project Manager — merancang proyek AI untuk meningkatkan penjualan melalui rekomendasi produk yang lebih personal. Anggaran tersedia: Rp 2 miliar. Batas waktu proyek: 6 bulan.
Data yang tersedia:
Histori transaksi offline 3 tahun (200 toko)
Data transaksi online 3 bulan (baru diluncurkan)
Katalog produk: 15.000 SKU
Data demografi anggota loyalty: 500 ribu member
Tugas kelompok (15 menit):
Rumuskan Problem Statement yang spesifik
Tentukan 2 success metrics (1 teknis, 1 bisnis)
Identifikasi 2 risiko utama & mitigasinya
Rancang komposisi tim (5–8 orang)
Buat timeline kasar: 4 milestone dalam 6 bulan
Presentasi: Setiap kelompok presentasikan rencana dalam 3 menit. Kelompok lain berperan sebagai CFO yang skeptis — ajukan pertanyaan kritis.
Rangkuman & Preview Pertemuan 11
Poin Kunci Pertemuan 10
Siklus hidup proyek AI: 6 fase dari problem framing hingga scaling — dan tidak pernah benar-benar "selesai"
AI berbeda dari proyek konvensional: ketidakpastian tinggi, data-centric, butuh iterasi
Agile disesuaikan: sprint goal = validasi hipotesis; DOD = threshold performa model
Tim AI butuh keahlian teknis DAN non-teknis: PM, domain expert, ethics reviewer, change manager