Menyusun kerangka kerja strategi AI yang selaras dengan tujuan bisnis: dari vision ke roadmap eksekusi
Kecerdasan BuatanPertemuan 9 dari 14CPL2 · CPL4 · CPL6
Agenda Pertemuan 9
Teori & Kerangka
Apa itu AI Strategy dan mengapa penting
Framework strategi AI: 4 dimensi utama
Menyelaraskan AI dengan tujuan bisnis (AI-Business Alignment)
Matriks pilihan: Build vs. Buy vs. Partner
Aplikasi & Praktik
AI Readiness Assessment
Menyusun AI Roadmap: fase dan milestones
Kasus Indonesia: Gojek, BCA, Telkom, Tokopedia
Latihan: draft AI Strategy Canvas
Fokus Utama: Menyusun kerangka kerja strategi AI yang selaras dengan tujuan bisnis perusahaan (Sub-CPMK 9, C6 — level tertinggi Bloom's Taxonomy).
Tujuan Pembelajaran
Setelah pertemuan ini, mahasiswa mampu:
Kognitif (C6 — Mencipta)
Menyusun kerangka kerja strategi AI yang selaras dengan visi bisnis
Merancang AI roadmap dengan fase, milestone, dan metrik keberhasilan
Memilih pendekatan Build / Buy / Partner berdasarkan konteks perusahaan
Aplikatif
Mengevaluasi AI readiness organisasi secara terstruktur
Mengidentifikasi hambatan umum implementasi AI di perusahaan Indonesia
Mengisi AI Strategy Canvas sebagai alat komunikasi ke stakeholder
Sub-CPMK 9CPMK-4CPL2 · CPL4 · CPL6
Topik 1
Mengapa Perusahaan Butuh Strategi AI?
AI bukan proyek IT — AI adalah transformasi bisnis
AI Strategy vs. IT Strategy: Perbedaan Fundamental
Dimensi
IT Strategy (Tradisional)
AI Strategy
Pertanyaan utama
"Sistem apa yang kita butuhkan?"
"Keputusan bisnis mana yang bisa diperbaiki AI?"
Output
Sistem berjalan, uptime tinggi
Keputusan lebih baik, revenue, efisiensi
Ownership
CIO / Divisi IT
CEO + seluruh C-Suite + unit bisnis
Timeline
Project-based (selesai = done)
Continuous learning — model terus berkembang
Investasi utama
Infrastruktur, lisensi software
Data, talent, change management
Risiko dominan
Downtime, security breach
Bias model, ethical failure, talent gap
Implikasi: AI Strategy harus dimiliki oleh pimpinan bisnis, bukan didelegasikan ke IT. Keputusan Build/Buy/Partner, alokasi data, dan prioritas use case adalah keputusan strategis—bukan teknis.
Kerangka Kerja Strategi AI: 4 Dimensi
1. Vision & Ambition
Apa peran AI dalam visi jangka panjang perusahaan?
AI sebagai cost reducer (efisiensi operasional)?
AI sebagai revenue enhancer (produk/layanan baru)?
AI sebagai business model disruptor (transformasi total)?
2. Capabilities & Resources
Apa yang kita miliki dan apa yang kurang?
Data: kualitas, volume, aksesibilitas
Talent: data scientist, ML engineer, AI-literate manager
Infrastruktur: cloud, compute, pipeline
3. Use Case Portfolio
Use case mana yang diprioritaskan dan mengapa?
Nilai bisnis vs. kompleksitas teknis (matriks 2×2)
Quick wins (3–6 bulan) vs. transformational bets (1–3 tahun)
Sekuensing: mana dulu, mana kemudian?
4. Governance & Ethics
Bagaimana AI dikelola secara bertanggung jawab?
Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan AI?
Bagaimana mendeteksi dan mitigasi bias?
Kepatuhan: UU PDP, regulasi OJK untuk fintech
Topik 2
Menyelaraskan AI dengan Tujuan Bisnis
AI yang tidak terhubung ke KPI bisnis adalah hobi mahal
Model Penyelarasan AI–Bisnis
Langkah 1: Mulai dari Tujuan Bisnis
Tentukan terlebih dahulu: apa tujuan strategis perusahaan dalam 3–5 tahun?
Contoh BCA: meningkatkan NPS nasabah digital dari 65 ke 80
Contoh Telkom: mengurangi churn enterprise 15% dalam 2 tahun
Contoh Tokopedia: meningkatkan conversion rate rekomendasi produk 20%
Langkah 2: Identifikasi Bottleneck Keputusan
Pertanyaan kunci: keputusan mana yang saat ini lambat, tidak akurat, atau tidak konsisten?
Keputusan kredit di BRI membutuhkan ~3 hari — AI bisa kurangi jadi 3 menit
Routing pengiriman Shopee Express tidak optimal — AI bisa hemat ~15% biaya
Langkah 3: Petakan Solusi AI ke Tujuan
Tujuan Bisnis
Solusi AI
KPI Pengukur
Kurangi churn
Predictive churn model
Churn rate (%)
Tingkatkan penjualan
Recommendation engine
CTR, conversion
Efisiensi operasi
Process automation (RPA+AI)
Cost per transaction
Kepuasan pelanggan
AI chatbot + sentiment
NPS, CSAT
Langkah 4: Definisikan Ukuran Keberhasilan
Setiap proyek AI harus punya business metric yang jelas — bukan hanya technical metric (akurasi model).
Technical: accuracy 90% → Business: fraud losses turun Rp 120M/bulan
Matriks Prioritas Use Case AI
Quick Wins — Mulai di Sini
Nilai bisnis tinggi, kompleksitas rendah. Selesai dalam 3–6 bulan. Bangun kepercayaan internal terhadap AI.
Contoh: chatbot layanan nasabah BRI, auto-categorization laporan keuangan Telkom.
Strategic Bets — Investasi Masa Depan
Nilai bisnis tinggi, kompleksitas juga tinggi. Butuh 1–3 tahun. Potensi competitive moat jika berhasil.
Contoh: recommendation engine Tokopedia, dynamic pricing Gojek berbasis real-time demand.
Deprioritize — Hindari Dulu
Kompleksitas tinggi, nilai bisnis rendah. Ini adalah perangkap umum: proyek ambisius tapi tidak ada dampak bisnis.
Contoh: membangun LLM internal dari nol ketika ada OpenAI API yang cukup.
Coba Sendiri: Peringkat Prioritas Use Case AI
Tiga kandidat use case AI diadu: chatbot layanan nasabah bank BUMN, pembayaran QRIS berbasis suara untuk warung UMKM, dan penyelesaian transaksi berbasis blockchain di bursa efek. Geser bobot tiga kriteria — keselarasan strategis, kesiapan teknologi (baca: kesiapan data dan model), serta dampak bisnis — lalu perhatikan bagaimana peringkatnya berubah.
Topik 3
Build vs. Buy vs. Partner
Keputusan paling kritis dalam implementasi AI perusahaan
Keputusan Build / Buy / Partner
Kriteria
Build (Bangun Sendiri)
Buy (Beli Solusi)
Partner (Mitra)
Competitive moat
Tinggi — IP milik sendiri
Rendah — kompetitor bisa beli yang sama
Sedang — tergantung keunikan mitra
Time-to-deploy
Lama (1–3 tahun)
Cepat (1–6 bulan)
Sedang (3–12 bulan)
Biaya awal
Sangat tinggi
Sedang (lisensi)
Bervariasi
Biaya jangka panjang
Lebih rendah jika skala besar
Tinggi (subscription terus)
Bervariasi
Kustomisasi
Penuh
Terbatas
Sedang
Talent yang dibutuhkan
Tim AI internal kuat
Minimal (vendor support)
AI-literate manager
Risiko utama
Talent loss, overruns
Vendor lock-in
Dependency, IP conflict
Rekomendasi: Strategi hybrid paling umum — Build untuk core competitive advantage, Buy untuk fungsi standar, Partner untuk akses data/keahlian yang tidak dimiliki sendiri.
Coba Sendiri: Build, Buy, atau Partner
Satu kapabilitas AI, misalnya mesin penilaian kredit UMKM. Geser kekhasan kebutuhan, kematangan vendor, talenta AI internal, dan tenggat waktu — perhatikan skor kesesuaian, biaya tiga tahun, dan bulan kesiapan tiap opsi bergerak, lalu lihat kapan pemenangnya berpindah.
Buy: Google Maps API untuk navigasi, AWS/GCP untuk sebagian infrastruktur
Partner: Grab Data (dulunya) untuk benchmark, merchant partners untuk data perilaku
Alasan build: algoritma matching adalah core IP — tidak boleh dimiliki vendor lain.
BCA — Balanced Hybrid
Build: Halo BCA AI chatbot (in-house NLP), fraud detection model berbasis transaksi 18 juta nasabah
Buy: IBM Watson untuk sebagian analitik, Microsoft Azure cloud
Partner: BI Fast integration, fintech API untuk open banking
Alasan build: data nasabah sensitif, tidak boleh keluar ke vendor cloud pihak ketiga untuk model fraud.
Telkom Indonesia — Partner-Led
Build: BigBox data analytics platform (anak perusahaan Sigma)
Buy: Microsoft 365 Copilot untuk produktivitas internal, Google Workspace AI
Partner: NVIDIA untuk AI infrastructure, startup AI lokal via MDI Ventures portfolio
Alasan partner: Telkom tidak punya talent AI sebanyak Gojek — bermitra lebih efisien.
Tokopedia / TikTok Shop — Buy-then-Build
Awal: Buy solusi rekomendasi dari vendor China (sebelum merger)
Setelah merger dengan TikTok: Build bersama TikTok ByteDance AI Lab
Partner: Brand besar untuk co-marketing AI (personalisasi iklan)
Evolusi: mulai dengan buy karena cepat, kemudian build setelah punya data dan talent.
Topik 4
Peta Jalan Implementasi AI
Dari vision ke eksekusi: fase, milestone, dan metrik
AI Roadmap: Tiga Fase Implementasi
Fase 1: Foundation
Bulan 1–6 · Quick wins + infrastruktur
Audit data readiness
Pilih 2–3 quick win use cases
Bangun data pipeline dasar
Rekrut / training talent AI awal
Tetapkan AI governance policy
KPI Fase 1: ≥1 AI use case live, data pipeline operasional, AI policy doc selesai
→
Fase 2: Scale
Bulan 6–18 · Ekspansi & penguatan
Scale use case yang terbukti berhasil
Tambah 4–6 use case baru
Bangun MLOps: deploy, monitor, retrain
AI literacy training untuk seluruh fungsi
Ukur ROI secara konsisten
KPI Fase 2: ≥5 use case produksi, ROI terukur ≥3×, AI team ≥10 orang
→
Fase 3: Transform
Bulan 18–36 · AI-native organization
AI terintegrasi di setiap unit bisnis
Strategic bets: use case transformasional
AI-driven business model baru
External AI products / API economy
Continuous governance & ethics audit
KPI Fase 3: AI sebagai sumber revenue baru, AI moat terbangun
Coba Sendiri: Susun Roadmap AI Tiga Fase
Program AI senilai Rp 9,00 miliar dengan horizon 36 bulan. Atur durasi fase Fondasi, Pilot, dan Skala serta porsi anggaran untuk fondasi — garis waktu bergerak, dan kurva nilai terealisasi kumulatif ikut berubah bersama biaya rework yang muncul bila fondasi dipangkas.
AI Readiness Assessment: Mengevaluasi Kesiapan Organisasi
Dimensi Kesiapan
Level 1 (Awal)
Level 3 (Berkembang)
Level 5 (Matang)
Data
Data tersebar, tidak terstruktur, tidak ada governance
Data warehouse ada, governance dasar, pipeline sebagian otomatis
Data lake + warehouse terintegrasi, real-time, kualitas tinggi
Talent
Tidak ada AI talent, IT generalis
1–3 data scientist, butuh vendor untuk ML
AI team lintas fungsi: DS, MLE, AI Product Manager
Teknologi
On-premise legacy, tidak ada cloud
Hybrid cloud, beberapa API AI dipakai
Cloud-native, MLOps mature, own model registry
Leadership
AI = IT project, tidak ada C-suite champion
1 C-suite sponsor, beberapa unit bisnis adopt AI
AI di agenda board, Chief AI Officer, AI-first culture
Proses
Proses manual, tidak ada eksperimen AI
Beberapa proses di-augment AI, pilot berhasil
AI terintegrasi di core business process, continuous experimentation
Cara Pakai: Nilai perusahaan Anda di tiap dimensi (1–5). Total skor <10 = Fase 1. 10–18 = Fase 2. >18 = Fase 3. Mulai roadmap dari fase yang sesuai.
Hambatan Umum Implementasi AI di Indonesia
Hambatan Internal
Talent gap: ~70% perusahaan Indonesia kekurangan data scientist dan ML engineer yang berpengalaman
Data silo: data tersebar di sistem legacy yang tidak terintegrasi, seringkali di server cabang
Change resistance: karyawan takut digantikan AI, manajemen menengah tidak mendukung
ROI impatience: ekspektasi ROI terlalu cepat (3–6 bulan) padahal AI butuh 12–24 bulan untuk mature
Hambatan Eksternal
Regulasi belum matang: UU PDP baru berlaku 2024 — implementasi masih beradaptasi; regulasi AI belum ada
Infrastruktur: koneksi internet tidak merata di luar Jawa — AI real-time sulit di-deploy nasional
Vendor ecosystem: solusi AI tier-1 global (AWS, Azure, Google) mahal dalam USD; kurs USD/IDR volatil
Talenta lokal: lulusan AI/DS terbaik banyak yang pindah ke perusahaan global (brain drain)
Strategi Mitigasi
Talent: Partnership dengan UNDIP, UI, ITB; program magang intensif; upskilling karyawan existing.
Data: Mulai dengan data warehouse terpusat sebelum AI. Foundation dulu, AI kemudian.
Change: Communicate AI sebagai augmentation, bukan replacement. Libatkan karyawan dalam desain.
Coba Sendiri: Mata Rantai Terlemah Strategi AI
Lima hambatan tadi dinilai 0 sampai 10, makin tinggi makin baik. Skor kemajuan dihitung secara perkalian, bukan rata-rata — geser satu faktor mendekati nol dan perhatikan seluruh rantai jatuh, sementara skor rata-rata tetap tampak nyaman.
Latihan: AI Strategy Canvas
Instruksi (15 menit, kelompok 3–4 orang)
Pilih satu perusahaan Indonesia yang sudah dikenal (boleh: BRI, Telkom, Bukalapak, Pertamina, atau perusahaan lain). Isi canvas berikut:
Blok Canvas
Pertanyaan Panduan
Isi (draft kelompok)
1. Tujuan Bisnis
Apa 1 tujuan bisnis utama yang ingin dicapai dalam 3 tahun?
...
2. Bottleneck Keputusan
Keputusan bisnis mana yang saat ini paling lambat/tidak akurat?
...
3. Use Case Prioritas
1 quick win dan 1 strategic bet — apa dan mengapa?
...
4. Pilihan BBP
Untuk use case utama: Build, Buy, atau Partner? Alasan?
...
5. Readiness Score
Nilai kesiapan 5 dimensi (1–5 masing-masing)
D:_ T:_ IT:_ L:_ P:_
6. Hambatan Utama
2 hambatan terbesar dan strategi mitigasinya
...
7. Milestone Fase 1
Apa yang akan dicapai dalam 6 bulan pertama?
...
Output: Presentasi singkat 3 menit per kelompok. Canvas ini adalah fondasi tugas besar matakuliah ini — AI Strategy Report.
Rangkuman Pertemuan 9
Konsep Utama
AI Strategy berbeda dari IT Strategy — harus dimiliki leadership bisnis, bukan didelegasikan ke IT
4 dimensi: Vision, Capabilities, Use Case Portfolio, Governance
Alignment AI–bisnis: mulai dari tujuan bisnis, bukan dari teknologi
AI Readiness Assessment: 5 dimensi (data, talent, teknologi, leadership, proses)
"AI is not about replacing human judgment — it is about freeing human judgment to focus on what matters most." — Marco Iansiti & Karim Lakhani, Competing in the Age of AI (2020)
Tugas & Referensi
Tugas Besar: AI Strategy Report (Deadline: Pertemuan 14)
Susun AI Strategy Report untuk satu perusahaan Indonesia pilihan Anda:
Profil perusahaan & konteks industri
AI Strategy Framework (4 dimensi)
AI-Business Alignment: tujuan bisnis → use case mapping
Keputusan Build / Buy / Partner dengan justifikasi
AI Readiness Assessment (5 dimensi, skor 1–5)
Roadmap 3 fase dengan milestone dan KPI
Hambatan dan strategi mitigasi
Format: 10–15 hal. PDF. Bobot: 30% nilai akhir.
Referensi Wajib
Iansiti, M., & Lakhani, K. R. (2020). Competing in the Age of AI. Ch. 7–9. HBR Press.
Marr, B. (2025). AI Strategy. Ch. 1–4. Wiley.
Almeida, I. (2024). AI Fundamentals for Business Leaders. Ch. 9–10. Now Next Later.
Referensi Pendukung
Davenport, T. H. (2018). The AI Advantage. Ch. 6–8. MIT Press.
Farri, E., & Rosani, G. (2025). HBR Guide to Generative AI for Managers. Ch. 5. HBR Press.
Pertanyaan & Preview Pertemuan 10
💬
Q&A
Pertanyaan tentang AI Strategy Framework, Build-Buy-Partner, atau AI Roadmap?
Canvas kelompok tadi bisa dijadikan starting point diskusi.
Pertemuan 10: Tata Kelola AI dan Etika Bisnis
Prinsip-prinsip AI yang bertanggung jawab (Responsible AI)
Bias algoritmik: sumber, dampak, mitigasi
Regulasi AI global dan implikasinya untuk perusahaan Indonesia (UU PDP, EU AI Act)
Sub-CPMK 10: (C5) Mengevaluasi prinsip tata kelola AI yang bertanggung jawab