stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-06
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 6: Machine Learning 2: Pola & Pengelompokan

Machine Learning 2: Pola & Pengelompokan

Klasifikasi vs. Clustering: membedakan teknik ML dan mencocokkannya dengan masalah bisnis nyata

Kecerdasan Buatan Pertemuan 6 dari 14 CPL2 · CPL4 · CPL6

Agenda Pertemuan 6

Teori & Konsep
  • Supervised vs. unsupervised learning: perbedaan mendasar
  • Klasifikasi: cara kerja dan contoh bisnis
  • Clustering: cara kerja dan contoh bisnis
  • Mencocokkan masalah bisnis dengan teknik yang tepat
Aplikasi & Praktik
  • Credit scoring di perbankan Indonesia (BRI, BCA)
  • Segmentasi pelanggan di Gojek & Tokopedia
  • Latihan: pilih teknik ML untuk kasus bisnis
  • Studi kasus: fraud detection Telkom
Fokus Utama: Membedakan aplikasi bisnis dari teknik klasifikasi dan klastering untuk pengambilan keputusan (Sub-CPMK 6, C3).

Tujuan Pembelajaran

Setelah pertemuan ini, mahasiswa mampu:

Kognitif (C3)
  • Membedakan klasifikasi dan clustering dari prinsip kerjanya
  • Mengidentifikasi jenis masalah bisnis yang cocok dengan tiap teknik
  • Menjelaskan output dan kegunaan masing-masing teknik bagi pengambilan keputusan
Aplikatif
  • Menganalisis studi kasus credit scoring dan segmentasi pelanggan
  • Merumuskan teknik ML yang tepat untuk skenario bisnis baru
  • Mengevaluasi risiko dan keterbatasan teknik ML dalam konteks manajerial
Sub-CPMK 6 CPMK-3 CPL2 · CPL4 · CPL6

Fondasi

Supervised vs. Unsupervised

Dua paradigma belajar yang berbeda

Supervised vs. Unsupervised Learning

Supervised Learning

"Belajar dengan jawaban"

  • Input: data berlabel — setiap contoh punya jawaban yang benar
  • Tujuan: belajar pola untuk memprediksi label baru
  • Output: prediksi — kategori (klasifikasi) atau angka (regresi)
  • Contoh label: "gagal bayar / tidak", "churn / tidak", "fraud / tidak"
Teknik utama: Klasifikasi & Regresi
Unsupervised Learning

"Menemukan pola sendiri"

  • Input: data tanpa label — tidak ada jawaban yang benar
  • Tujuan: temukan struktur tersembunyi dalam data
  • Output: kelompok, pola, atau representasi baru
  • Contoh output: "pelanggan terbagi 4 segmen berdasarkan perilaku"
Teknik utama: Clustering & Dimensionality Reduction
Pertanyaan kunci untuk memilih: Apakah kita punya data historis berlabel yang cukup? Jika ya → pertimbangkan supervised (klasifikasi). Jika tidak atau kita ingin menemukan pola baru → pertimbangkan unsupervised (clustering).

Topik 1

Klasifikasi dalam Bisnis

Dari credit scoring hingga deteksi fraud

Klasifikasi: Cara Kerja & Logika Bisnis

Cara Kerja Klasifikasi
  1. Training data: kumpulkan data historis berlabel (contoh: 10.000 aplikasi kredit + hasil aktual)
  2. Feature extraction: pilih variabel penjelas — umur, pendapatan, riwayat kredit, dsb.
  3. Model training: algoritma belajar batas keputusan antara kelas
  4. Prediction: untuk nasabah baru, model output probabilitas tiap kelas
  5. Decision: manajer tetapkan threshold — di atas 70% probabilitas gagal bayar = tolak
Output Klasifikasi
  • Label prediksi: "Gagal Bayar" / "Tidak Gagal Bayar"
  • Probabilitas: 82% kemungkinan gagal bayar
  • Confidence: seberapa yakin model atas prediksinya
Algoritma Umum (Konseptual)
  • Logistic Regression: sederhana, interpretable, cocok untuk kredit
  • Decision Tree: mudah dijelaskan ke regulator
  • Random Forest: akurasi tinggi, banyak dipakai industri
  • Neural Network: kompleks, powerful untuk data besar

Coba Sendiri: Bangun Decision Tree, Amati Gini Impurity

Pilih variabel split untuk membagi data nasabah, lalu amati bagaimana nilai Gini impurity turun setiap kali split dipilih dengan tepat.

Studi Kasus: Credit Scoring di Indonesia

BRImo — Credit Scoring Digital BRI

BRI menggunakan ML untuk menilai kelayakan kredit nasabah mikro yang sebelumnya tidak terjangkau sistem konvensional (unbankable).

ElemenDetail
Data inputRiwayat transaksi BRImo, frekuensi top-up, pola pengeluaran, data SLIK OJK
Output modelSkor kredit 0–1000; label risiko: Rendah / Sedang / Tinggi
KeputusanLimit KUR digital otomatis dalam < 5 menit
Hasil bisnisEkspansi ke segmen mikro yang sebelumnya sulit dijangkau
BCA — Fraud Classification Real-Time

BCA menerapkan klasifikasi real-time untuk setiap transaksi mobile banking — bukan hanya credit scoring, tapi juga apakah transaksi ini legitim atau mencurigakan.

ElemenDetail
Data inputLokasi, device, jam, jumlah, pola transaksi historis
Output modelLabel: Legitimate / Suspicious / Block; skor risiko
KeputusanOtomatis blokir jika skor > threshold; minta verifikasi jika sedang
Hasil bisnisPenurunan kerugian fraud; kepercayaan nasabah meningkat
Insight Manajerial: Dua kasus, satu teknik (klasifikasi), dua konteks berbeda. Kuncinya: keduanya punya label historis yang jelas — "gagal bayar / tidak" dan "fraud / tidak" — sehingga supervised learning bisa diterapkan.

Membaca Hasil Klasifikasi: Yang Perlu Diketahui Manajer

Confusion Matrix — Dasar Evaluasi
Prediksi ModelPositifNegatifAktual PositifAktual NegatifTPBenar PositifFPSalah PositifFNSalah NegatifTNBenar Negatif
Metrik yang Relevan untuk Bisnis
  • Precision: dari yang diprediksi positif, berapa persen benar? (TP / TP+FP)
  • Recall: dari semua positif nyata, berapa persen terdeteksi? (TP / TP+FN)
  • Accuracy: total prediksi benar — menyesatkan jika kelas tidak seimbang
Trade-off Bisnis
  • Kredit: recall tinggi → tolak lebih banyak calon gagal bayar (konservatif)
  • Fraud: precision tinggi → kurangi false block nasabah legitim (pengalaman pengguna)
  • Tidak ada metrik "terbaik" — bergantung pada cost of error bisnis

Topik 2

Clustering untuk Segmentasi

Menemukan pola tersembunyi dalam data pelanggan

Clustering: Cara Kerja & Logika Bisnis

Cara Kerja Clustering (K-Means sebagai Contoh)
  1. Tentukan K: manajer/analis putuskan berapa klaster yang diinginkan (misal: 4 segmen)
  2. Inisialisasi: algoritma pilih titik pusat acak untuk tiap klaster
  3. Assignment: setiap data point dimasukkan ke klaster terdekat
  4. Update: hitung ulang pusat klaster berdasarkan anggotanya
  5. Iterasi: ulangi langkah 3–4 sampai anggota klaster stabil
  6. Interpretasi: manajer beri nama dan strategi untuk tiap klaster
Output Clustering
  • Label klaster (angka: Klaster 0, 1, 2…) — diberi nama oleh manusia
  • Profil tiap klaster: rata-rata nilai variabel per kelompok
  • Ukuran klaster: berapa persen pelanggan di tiap segmen
Algoritma Umum (Konseptual)
  • K-Means: paling populer, cepat, cocok untuk data numerik besar
  • Hierarchical: tidak perlu tentukan K di awal, hasilkan dendogram
  • DBSCAN: temukan klaster dengan bentuk bebas, deteksi outlier
Poin Kritis: Model hanya menyebut "Klaster 0, 1, 2, 3." Manajer yang menentukan nama dan makna bisnis tiap klaster — misalnya: "Klaster 2 adalah pelanggan loyalis premium dengan frekuensi tinggi." Tanpa interpretasi manusia, clustering tidak ada nilainya.

Coba Sendiri: Iterasi K-Means, Assignment & Update Centroid

Klik tombol iterasi langkah demi langkah untuk melihat titik data ditugaskan ke klaster terdekat dan centroid bergeser sampai stabil.

Studi Kasus: Segmentasi Pelanggan Gojek & Tokopedia

Gojek — Segmentasi untuk Targeted Promo

Gojek mengelompokkan ~270 juta pengguna (estimasi platform GoTo) berdasarkan perilaku nyata — bukan asumsi demografis.

Segmen (contoh)ProfilStrategi
Commuter HarianGoCar/GoRide 2× sehari, pagi-sore, weekdayDiskon langganan bulanan
Food LoverGoFood 5× seminggu, diversifikasi restoBundle cashback GoFood
Weekend CasualAktif hanya Sabtu-Minggu, order jarangPromo weekend activation
Multi-service PowerPakai semua layanan, high spendGoPay+ loyalty premium
Tokopedia — RFM Clustering untuk Retensi

Tokopedia memakai framework RFM (Recency, Frequency, Monetary) sebagai fitur clustering — pendekatan klasik yang diperbarui dengan ML.

Segmen RFMProfilTindakan
ChampionsBeli baru-baru ini, sering, besarReward loyalitas eksklusif
At RiskDulu aktif, sekarang menghilangWin-back campaign diskon besar
New CustomersBaru pertama beli, nilai kecilOnboarding, edukasi fitur
LostLama tidak aktif, nilai rendahSurvey exit atau biarkan pergi
Kunci Nilai Bisnis: Segmentasi berbasis ML lebih akurat dari segmentasi manual (demografis) karena berdasarkan perilaku nyata, bukan asumsi. Gojek tidak perlu tahu umur Anda untuk tahu Anda "Commuter Harian."

Topik 3

Mencocokkan Masalah Bisnis dengan Teknik ML

Framework keputusan untuk manajer

Framework: Pilih Teknik ML yang Tepat

Pertanyaan Diagnostik (tanyakan berurutan)
  1. Apa yang ingin kita putuskan atau ketahui? (prediksi vs. eksplorasi)
  2. Apakah kita punya data berlabel historis yang cukup?
  3. Apakah outputnya berupa kategori diskret (ya/tidak, A/B/C) atau angka kontinu (harga, jumlah)?
  4. Apakah kita ingin menemukan struktur tersembunyi yang belum kita tahu?
Jenis MasalahContoh Pertanyaan BisnisTeknikAlasan
Prediksi kategori, ada labelNasabah ini akan gagal bayar?KlasifikasiOutput kategori, label historis tersedia
Prediksi angka, ada labelBerapa penjualan bulan depan?RegresiOutput numerik, label historis tersedia
Temukan kelompok, tanpa labelAda berapa segmen pelanggan kita?ClusteringEksplorasi pola, tidak ada label pra-ada
Deteksi anomaliTransaksi ini janggal?Clustering / Isolation ForestTidak punya label fraud cukup; cari outlier
RekomendasiProduk apa yang cocok untuk user ini?Collaborative FilteringGunakan kemiripan antar pengguna/item

Klasifikasi vs. Clustering: Perbandingan Lengkap

DimensiKlasifikasiClustering
Tipe learningSupervisedUnsupervised
Kebutuhan labelWajib ada label historisTidak perlu label
Pertanyaan bisnis"Termasuk kategori mana ini?""Ada berapa kelompok natural?"
OutputPrediksi label + probabilitasID klaster + profil kelompok
InterpretasiLangsung — label sudah bermaknaButuh interpretasi manusia
Evaluasi modelAccuracy, Precision, Recall, F1Silhouette score, Elbow method
Contoh bisnisCredit scoring, fraud detection, churn prediction, spam filterSegmentasi pelanggan, market basket, topic modeling
Tantangan utamaPerlu data berlabel besar; model bisa biasMenentukan K optimal; interpretasi subjektif
Contoh perusahaan IndonesiaBRI (kredit mikro), BCA (fraud), Telkom (churn)Gojek (promo targeting), Tokopedia (RFM), Traveloka (user segment)

Studi Kasus Terpadu: Telkom Indonesia — ML untuk Retensi Pelanggan

Konteks Masalah

Telkom Indonesia (IndiHome/Telkomsel) menghadapi churn rate — pelanggan yang berhenti berlangganan. Biaya akuisisi pelanggan baru ~5× lebih mahal dari mempertahankan yang ada. Solusi: gunakan ML untuk identifikasi pelanggan berisiko churn sebelum mereka pergi.

Pendekatan Dua Tahap
  1. Clustering dulu: segmentasikan pelanggan berdasarkan pola penggunaan — temukan profil "berisiko tinggi churn"
  2. Klasifikasi kemudian: untuk tiap segmen, build model klasifikasi churn vs. tidak churn dengan label historis
Alur Keputusan Bisnis Terintegrasi
Data Pelanggan
Penggunaan, tagihan, komplain
Clustering
Segmen 1–5
Klasifikasi
Churn / Tidak per segmen
Intervensi
Promo/hubungi/upgrade
Evaluasi
Ukur churn rate post-intervensi
Pelajaran: Klasifikasi dan clustering tidak selalu bersaing — sering dipakai bersamaan. Clustering untuk eksplorasi dan segmentasi; klasifikasi untuk prediksi per segmen.

Latihan: Pilih Teknik ML untuk Kasus Bisnis

Instruksi

Untuk setiap skenario berikut, tentukan: (a) Klasifikasi atau Clustering? (b) Alasan berdasarkan pertanyaan diagnostik? (c) Data apa yang dibutuhkan?

#Skenario BisnisTeknik?Alasan
1BNI ingin prediksi apakah nasabah baru akan default dalam 12 bulan. Ada data 50.000 nasabah lama + status kredit aktual.??
2Traveloka ingin tahu ada berapa tipe traveler di platform mereka untuk desain paket wisata baru. Tidak ada kategori traveler sebelumnya.??
3Indofood ingin prediksi produk mana yang akan expired di rak sebelum terjual, untuk optimasi supply chain.??
4Startup healthtech ingin kelompokkan pasien berdasarkan pola konsumsi obat dan respons pengobatan, untuk riset klinis awal.??
5E-commerce fashion ingin filter otomatis ulasan produk: positif, negatif, atau netral.??
Waktu: 12 menit. Diskusi berpasangan. Presentasikan jawaban + reasoning, bukan sekadar label "klasifikasi" atau "clustering."

Keterbatasan & Risiko ML yang Wajib Diketahui Manajer

Risiko Klasifikasi
  • Bias historis: jika data training bias (misal kredit lebih sering ditolak ke daerah tertentu), model akan mereplikasi bias itu
  • Distribusi berubah: model kredit yang dilatih sebelum pandemi mungkin tidak valid setelahnya
  • False confidence: model output 95% confidence tidak berarti benar 95% — bisa overfit ke training data
  • Interpretabilitas: neural network sulit dijelaskan ke regulator (OJK wajib prinsip explainability)
Risiko Clustering
  • K yang salah: memilih terlalu sedikit atau terlalu banyak klaster distorsi makna bisnis
  • Interpretasi subjektif: dua orang bisa beri nama berbeda untuk klaster yang sama
  • Stabilitas: K-Means sensitif terhadap inisialisasi — dijalankan ulang bisa hasil berbeda
  • Curse of dimensionality: terlalu banyak variabel membuat jarak antar titik tidak bermakna
Prinsip Tanggung Jawab: Manajer yang memakai ML harus bisa menjelaskan keputusan yang dihasilkan — terutama saat menyangkut hak individu (kredit ditolak, asuransi mahal). OJK mensyaratkan explainability untuk model di sektor keuangan Indonesia (POJK 11/2022 tentang inovasi keuangan digital).

Rangkuman Pertemuan 6

Konsep Utama
  • Supervised vs. unsupervised: perbedaan ada di ketersediaan label
  • Klasifikasi: prediksi kategori dari data berlabel — "masuk kelas mana?"
  • Clustering: temukan kelompok natural tanpa label — "ada berapa tipe?"
  • Framework diagnostik: 4 pertanyaan untuk pilih teknik yang tepat
  • Klasifikasi + clustering bisa dikombinasikan (contoh: Telkom churn)
Aplikasi Bisnis Indonesia
  • BRI/BCA: klasifikasi untuk credit scoring dan fraud detection
  • Gojek/Tokopedia: clustering untuk segmentasi pelanggan dan promo targeting
  • Telkom: kombinasi clustering → klasifikasi untuk churn prevention
  • Risiko: bias, distribusi drift, interpretabilitas — wajib dikelola manajer
"The goal is to turn data into information, and information into insight."
— Carly Fiorina, mantan CEO Hewlett-Packard

Tugas & Preview Pertemuan 7

Tugas Individu (Deadline: Pertemuan 7)

Analisis Teknik ML untuk Satu Perusahaan Indonesia:

  1. Pilih satu perusahaan Indonesia yang menggunakan ML (tidak harus yang dibahas hari ini)
  2. Identifikasi minimal dua use case ML di perusahaan tersebut
  3. Untuk tiap use case: tentukan klasifikasi atau clustering, jelaskan alasannya dengan framework diagnostik
  4. Identifikasi satu risiko atau keterbatasan utama per use case
  5. Rumuskan satu rekomendasi manajerial untuk mitigasi risiko tersebut
  6. Format: 1–2 halaman, PDF, referensi minimal 2 sumber
Bobot: 5% | Kriteria: Rubrik Analitik C3
Preview Pertemuan 7: Natural Language Processing
  • Bagaimana komputer memahami bahasa manusia
  • Sentiment analysis: membaca emosi pelanggan dari teks
  • Chatbot dan virtual assistant: dari rule-based ke GPT
  • Aplikasi NLP di layanan publik Indonesia
Baca sebelum kelas: Almeida (2024) Ch. 7 · Farri & Rosani (2025) Ch. 3
Kecerdasan Buatan · PEBD6026 · Program Studi S1 Bisnis Digital
Fakultas Ekonomika dan Bisnis · Universitas Diponegoro