Input: data tanpa label — tidak ada jawaban yang benar
Tujuan: temukan struktur tersembunyi dalam data
Output: kelompok, pola, atau representasi baru
Contoh output: "pelanggan terbagi 4 segmen berdasarkan perilaku"
Teknik utama: Clustering & Dimensionality Reduction
Pertanyaan kunci untuk memilih: Apakah kita punya data historis berlabel yang cukup? Jika ya → pertimbangkan supervised (klasifikasi). Jika tidak atau kita ingin menemukan pola baru → pertimbangkan unsupervised (clustering).
Topik 1
Klasifikasi dalam Bisnis
Dari credit scoring hingga deteksi fraud
Klasifikasi: Cara Kerja & Logika Bisnis
Cara Kerja Klasifikasi
Training data: kumpulkan data historis berlabel (contoh: 10.000 aplikasi kredit + hasil aktual)
Pilih variabel split untuk membagi data nasabah, lalu amati bagaimana nilai Gini impurity turun setiap kali split dipilih dengan tepat.
Studi Kasus: Credit Scoring di Indonesia
BRImo — Credit Scoring Digital BRI
BRI menggunakan ML untuk menilai kelayakan kredit nasabah mikro yang sebelumnya tidak terjangkau sistem konvensional (unbankable).
Elemen
Detail
Data input
Riwayat transaksi BRImo, frekuensi top-up, pola pengeluaran, data SLIK OJK
Output model
Skor kredit 0–1000; label risiko: Rendah / Sedang / Tinggi
Keputusan
Limit KUR digital otomatis dalam < 5 menit
Hasil bisnis
Ekspansi ke segmen mikro yang sebelumnya sulit dijangkau
BCA — Fraud Classification Real-Time
BCA menerapkan klasifikasi real-time untuk setiap transaksi mobile banking — bukan hanya credit scoring, tapi juga apakah transaksi ini legitim atau mencurigakan.
Elemen
Detail
Data input
Lokasi, device, jam, jumlah, pola transaksi historis
Insight Manajerial: Dua kasus, satu teknik (klasifikasi), dua konteks berbeda. Kuncinya: keduanya punya label historis yang jelas — "gagal bayar / tidak" dan "fraud / tidak" — sehingga supervised learning bisa diterapkan.
Membaca Hasil Klasifikasi: Yang Perlu Diketahui Manajer
Confusion Matrix — Dasar Evaluasi
Metrik yang Relevan untuk Bisnis
Precision: dari yang diprediksi positif, berapa persen benar? (TP / TP+FP)
Recall: dari semua positif nyata, berapa persen terdeteksi? (TP / TP+FN)
Accuracy: total prediksi benar — menyesatkan jika kelas tidak seimbang
Trade-off Bisnis
Kredit: recall tinggi → tolak lebih banyak calon gagal bayar (konservatif)
Inisialisasi: algoritma pilih titik pusat acak untuk tiap klaster
Assignment: setiap data point dimasukkan ke klaster terdekat
Update: hitung ulang pusat klaster berdasarkan anggotanya
Iterasi: ulangi langkah 3–4 sampai anggota klaster stabil
Interpretasi: manajer beri nama dan strategi untuk tiap klaster
Output Clustering
Label klaster (angka: Klaster 0, 1, 2…) — diberi nama oleh manusia
Profil tiap klaster: rata-rata nilai variabel per kelompok
Ukuran klaster: berapa persen pelanggan di tiap segmen
Algoritma Umum (Konseptual)
K-Means: paling populer, cepat, cocok untuk data numerik besar
Hierarchical: tidak perlu tentukan K di awal, hasilkan dendogram
DBSCAN: temukan klaster dengan bentuk bebas, deteksi outlier
Poin Kritis: Model hanya menyebut "Klaster 0, 1, 2, 3." Manajer yang menentukan nama dan makna bisnis tiap klaster — misalnya: "Klaster 2 adalah pelanggan loyalis premium dengan frekuensi tinggi." Tanpa interpretasi manusia, clustering tidak ada nilainya.
Klik tombol iterasi langkah demi langkah untuk melihat titik data ditugaskan ke klaster terdekat dan centroid bergeser sampai stabil.
Studi Kasus: Segmentasi Pelanggan Gojek & Tokopedia
Gojek — Segmentasi untuk Targeted Promo
Gojek mengelompokkan ~270 juta pengguna (estimasi platform GoTo) berdasarkan perilaku nyata — bukan asumsi demografis.
Segmen (contoh)
Profil
Strategi
Commuter Harian
GoCar/GoRide 2× sehari, pagi-sore, weekday
Diskon langganan bulanan
Food Lover
GoFood 5× seminggu, diversifikasi resto
Bundle cashback GoFood
Weekend Casual
Aktif hanya Sabtu-Minggu, order jarang
Promo weekend activation
Multi-service Power
Pakai semua layanan, high spend
GoPay+ loyalty premium
Tokopedia — RFM Clustering untuk Retensi
Tokopedia memakai framework RFM (Recency, Frequency, Monetary) sebagai fitur clustering — pendekatan klasik yang diperbarui dengan ML.
Segmen RFM
Profil
Tindakan
Champions
Beli baru-baru ini, sering, besar
Reward loyalitas eksklusif
At Risk
Dulu aktif, sekarang menghilang
Win-back campaign diskon besar
New Customers
Baru pertama beli, nilai kecil
Onboarding, edukasi fitur
Lost
Lama tidak aktif, nilai rendah
Survey exit atau biarkan pergi
Kunci Nilai Bisnis: Segmentasi berbasis ML lebih akurat dari segmentasi manual (demografis) karena berdasarkan perilaku nyata, bukan asumsi. Gojek tidak perlu tahu umur Anda untuk tahu Anda "Commuter Harian."
Topik 3
Mencocokkan Masalah Bisnis dengan Teknik ML
Framework keputusan untuk manajer
Framework: Pilih Teknik ML yang Tepat
Pertanyaan Diagnostik (tanyakan berurutan)
Apa yang ingin kita putuskan atau ketahui? (prediksi vs. eksplorasi)
Apakah kita punya data berlabel historis yang cukup?
Apakah outputnya berupa kategori diskret (ya/tidak, A/B/C) atau angka kontinu (harga, jumlah)?
Apakah kita ingin menemukan struktur tersembunyi yang belum kita tahu?
Studi Kasus Terpadu: Telkom Indonesia — ML untuk Retensi Pelanggan
Konteks Masalah
Telkom Indonesia (IndiHome/Telkomsel) menghadapi churn rate — pelanggan yang berhenti berlangganan. Biaya akuisisi pelanggan baru ~5× lebih mahal dari mempertahankan yang ada. Solusi: gunakan ML untuk identifikasi pelanggan berisiko churn sebelum mereka pergi.
Pendekatan Dua Tahap
Clustering dulu: segmentasikan pelanggan berdasarkan pola penggunaan — temukan profil "berisiko tinggi churn"
Klasifikasi kemudian: untuk tiap segmen, build model klasifikasi churn vs. tidak churn dengan label historis
Alur Keputusan Bisnis Terintegrasi
Data Pelanggan Penggunaan, tagihan, komplain
→
Clustering Segmen 1–5
→
Klasifikasi Churn / Tidak per segmen
→
Intervensi Promo/hubungi/upgrade
→
Evaluasi Ukur churn rate post-intervensi
Pelajaran: Klasifikasi dan clustering tidak selalu bersaing — sering dipakai bersamaan. Clustering untuk eksplorasi dan segmentasi; klasifikasi untuk prediksi per segmen.
Latihan: Pilih Teknik ML untuk Kasus Bisnis
Instruksi
Untuk setiap skenario berikut, tentukan: (a) Klasifikasi atau Clustering? (b) Alasan berdasarkan pertanyaan diagnostik? (c) Data apa yang dibutuhkan?
#
Skenario Bisnis
Teknik?
Alasan
1
BNI ingin prediksi apakah nasabah baru akan default dalam 12 bulan. Ada data 50.000 nasabah lama + status kredit aktual.
?
?
2
Traveloka ingin tahu ada berapa tipe traveler di platform mereka untuk desain paket wisata baru. Tidak ada kategori traveler sebelumnya.
?
?
3
Indofood ingin prediksi produk mana yang akan expired di rak sebelum terjual, untuk optimasi supply chain.
?
?
4
Startup healthtech ingin kelompokkan pasien berdasarkan pola konsumsi obat dan respons pengobatan, untuk riset klinis awal.
?
?
5
E-commerce fashion ingin filter otomatis ulasan produk: positif, negatif, atau netral.
?
?
Waktu: 12 menit. Diskusi berpasangan. Presentasikan jawaban + reasoning, bukan sekadar label "klasifikasi" atau "clustering."
Keterbatasan & Risiko ML yang Wajib Diketahui Manajer
Risiko Klasifikasi
Bias historis: jika data training bias (misal kredit lebih sering ditolak ke daerah tertentu), model akan mereplikasi bias itu
Distribusi berubah: model kredit yang dilatih sebelum pandemi mungkin tidak valid setelahnya
False confidence: model output 95% confidence tidak berarti benar 95% — bisa overfit ke training data
K yang salah: memilih terlalu sedikit atau terlalu banyak klaster distorsi makna bisnis
Interpretasi subjektif: dua orang bisa beri nama berbeda untuk klaster yang sama
Stabilitas: K-Means sensitif terhadap inisialisasi — dijalankan ulang bisa hasil berbeda
Curse of dimensionality: terlalu banyak variabel membuat jarak antar titik tidak bermakna
Prinsip Tanggung Jawab: Manajer yang memakai ML harus bisa menjelaskan keputusan yang dihasilkan — terutama saat menyangkut hak individu (kredit ditolak, asuransi mahal). OJK mensyaratkan explainability untuk model di sektor keuangan Indonesia (POJK 11/2022 tentang inovasi keuangan digital).
Rangkuman Pertemuan 6
Konsep Utama
Supervised vs. unsupervised: perbedaan ada di ketersediaan label
Klasifikasi: prediksi kategori dari data berlabel — "masuk kelas mana?"
Clustering: temukan kelompok natural tanpa label — "ada berapa tipe?"
Framework diagnostik: 4 pertanyaan untuk pilih teknik yang tepat
Klasifikasi + clustering bisa dikombinasikan (contoh: Telkom churn)
Aplikasi Bisnis Indonesia
BRI/BCA: klasifikasi untuk credit scoring dan fraud detection
Gojek/Tokopedia: clustering untuk segmentasi pelanggan dan promo targeting
Telkom: kombinasi clustering → klasifikasi untuk churn prevention