Ketika dana terbatas dan proyek mengantre — cara ilmiah memilih kombinasi terbaik dan menyusun bisnis plan yang siap diajukan ke bank atau OJK.
RPS MINGGU 15 • SUB-CPMK 15 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu melakukan penjatahan investasi dalam anggaran terbatas (Sub-CPMK 15). Secara rinci:
CAPAIAN 1
DEFINISI
Mendefinisikan capital rationing (penjatahan modal) & membedakan hard rationing dari soft rationing dengan contoh konteks perusahaan Indonesia.
CAPAIAN 2
KLASIFIKASI
Mengklasifikasikan proyek ke dalam kategori independent, mutually exclusive (saling mengecualikan), dan dependent/contingent (bergantung).
CAPAIAN 3
HITUNG PI
Menghitung PI (Profitability Index — indeks profitabilitas), menyusun ranking, dan memilih kombinasi optimal dalam batas anggaran tanpa kesalahan aritmetika.
CAPAIAN 4
INTEGRASI
Mengintegrasikan empat aspek bisnis plan (pasar, teknis, manajemen, keuangan) menjadi kesimpulan kelayakan komprehensif sesuai format OJK/BKPM.
Masalah Nyata: Dana Rp 1 Miliar, 5 Proyek Mengantri
PT Arjuna Nusantara punya anggaran investasi Rp 1.000 juta tahun ini. Ada 5 proyek yang semuanya NPV-positif. Mana yang dipilih?
Proyek
Investasi (Rp juta)
NPV (Rp juta)
A
400
120
B
300
105
C
250
90
D
200
60
E
150
30
TOTAL
1.300
405
Masalah: Total investasi semua proyek = Rp 1.300 juta > Rp 1.000 juta anggaran. Tidak bisa ambil semua! — Pilih A+B+C? Atau A+C+D+E? Atau cara lain?
Blok 1 dari 4
Capital Rationing: Mengapa Anggaran Selalu Terbatas
Definisi · Hard vs Soft Rationing · Implikasi untuk Pengambilan Keputusan
Definisi Capital Rationing: Pilih Terbaik dari yang Terbatas
Capital rationing (penjatahan modal) — situasi di mana perusahaan tidak dapat atau tidak mau mendanai semua proyek NPV-positif karena anggaran investasi dibatasi pada jumlah tertentu.
Dunia Ideal (Pasar Modal Sempurna)
Pinjam dana sebanyak apapun, biaya tetap
Ambil semua proyek dengan NPV > 0
Tidak ada keterbatasan modal
✓ Tidak ada capital rationing
Dunia Nyata (Indonesia)
Biaya utang naik saat leverage (rasio utang) terlalu tinggi
Bank/kreditur menolak pinjaman baru
Pemilik membatasi anggaran demi kontrol
✗ Capital rationing terjadi
Hard vs Soft Rationing: Bedanya Krusial
Dimensi
Hard Rationing
Soft Rationing
Sumber
Pasar modal eksternal
Kebijakan manajemen internal
Bisa dinegosiasi?
Tidak — pasar menolak
Ya — bisa diajukan ke direksi
Penyebab umum
Krisis kredit, peringkat utang rendah, UMKM tanpa agunan
Holding BUMN batasi CAPEX (pengeluaran modal) anak usaha per PMK
Respons optimal
Pilih kombinasi PI tertinggi dalam batas mutlak
Optimalkan dulu, lalu ajukan case untuk tambah anggaran
Anchor Indonesia: Holding BUMN & Perusahaan Keluarga Menjelang IPO
Kasus 1 — MIND ID (Soft Rationing)
MIND ID (holding pertambangan BUMN: ANTAM, PTBA, Freeport Indonesia) menetapkan CAPEX konsolidasi tahunan via PMK
Anak usaha bersaing mengajukan proyek; total proposal selalu melebihi anggaran induk
Mekanisme: anak usaha ranking proyek dengan PI → holding pilih kombinasi tertinggi
Soft rationing — bisa diajukan ke holding
Kasus 2 — Perusahaan Keluarga & IPO di BEI
Sebelum IPO (Initial Public Offering — penawaran saham perdana): akses modal terbatas → hard rationing ketat
Menjelang/setelah IPO di BEI (Bursa Efek Indonesia): akses rights issue + obligasi korporat → soft rationing
Dilema: ekspansi agresif vs kontrol keluarga (hindari dilusi — penurunan persentase kepemilikan)
Blok 2 dari 4
Tiga Kategori Proyek: Independent · Mutually Exclusive · Dependent
Kategori menentukan cara memilih — pastikan Anda mengklasifikasi dengan benar sebelum menghitung
Independent: Pilih Semua yang NPV > 0 (kalau ada dana)
Proyek independent — proyek-proyek yang tidak saling mempengaruhi. Keputusan memilih proyek A tidak mempengaruhi manfaat atau biaya proyek B, dan keduanya bisa dijalankan bersamaan.
Aturan Seleksi
Tanpa capital rationing: Terima SEMUA proyek dengan NPV > 0 (atau IRR > hurdle rate — tingkat hambatan minimum)
Dengan capital rationing: Ranking dengan PI → pilih kombinasi dalam batas anggaran
Contoh: PT Indofood — Ekspansi Independen
Pabrik mie baru di Semarang
Pabrik bumbu di Surabaya
Gudang distribusi di Medan
Ketiganya bisa berjalan bersamaan — satu tidak membatalkan yang lain
Mutually Exclusive: Hanya Satu yang Bisa Dipilih
Proyek mutually exclusive (saling mengecualikan) — proyek-proyek yang bersaing untuk fungsi yang sama; memilih satu secara otomatis menolak yang lain.
Aturan Seleksi
Skala sama → pilih NPV tertinggi
Skala berbeda → potensi konflik NPV vs PI → analisis incremental (perbandingan arus kas tambahan)
PI bukan kriteria utama untuk mutually exclusive
Contoh Indonesia
PT Semen Indonesia: kiln konvensional vs kiln efisiensi tinggi — hanya satu di pabrik yang sama
Distributor: gudang lokasi A vs lokasi B di kota yang sama
BBCA (Bank BCA): sistem core banking A vs B — pilih satu platform
Proyek
NPV (Rp juta)
Keputusan
X
200
✓ Pilih X
Y
150
✗ Tolak
Dependent/Contingent: Proyek A Mensyaratkan Proyek B
Proyek dependent/contingent (bergantung) — Proyek A hanya bisa dijalankan jika proyek B juga dijalankan; ada syarat ketergantungan teknis atau operasional.
Dua Sub-Tipe
Complementary (saling melengkapi): A dan B harus dipilih bersama, tidak bisa salah satu saja
Contingent (bersyarat): A boleh dipilih sendiri, tetapi B hanya bisa dipilih jika A sudah dipilih terlebih dahulu
Contoh Industri Indonesia
PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di pabrik Karawang → mensyaratkan upgrade jaringan listrik internal sebagai prasyarat
Platform e-commerce → mensyaratkan sistem ERP (Enterprise Resource Planning) sebagai fondasi
Implikasi: Saat evaluasi, paketkan proyek yang dependent dan hitung NPV gabungan — baru bandingkan dengan proyek lain sebagai satu unit.
Blok 3 dari 4
Profitability Index & Optimasi Kombinasi Proyek
Rumus PI · Ranking · Pemilihan kombinasi terbaik dalam batas anggaran · Masalah multi-periode
Profitability Index (PI): Ranking dalam Keterbatasan
PI = PV Arus Kas Masuk / ICF = (NPV + ICF) / ICF = NPV / ICF + 1
Jembatan konsep: Dari Pertemuan 13: NPV = PV arus kas masuk − ICF. Maka PV arus kas masuk = NPV + ICF. Itulah mengapa ketiga bentuk PI menghasilkan angka yang sama persis. ICF = Initial Cash Flow (investasi awal — nilai absolut); PV = Present Value (nilai kini).
PI > 1
LAYAK
ekuivalen NPV > 0
PI = 1
BEP
Break-even (NPV = 0)
PI < 1
TOLAK
NPV negatif
Interpretasi: PI = 1,30 → setiap Rp 1 yang diinvestasikan menghasilkan Rp 1,30 nilai sekarang — keuntungan bersih Rp 0,30 per rupiah investasi. Dalam capital rationing: ranking dari PI tertinggi ke terendah → pilih dari atas hingga anggaran habis.
HDN-1: Lima Proyek Independent — Pilih Kombinasi Optimal (Rp 1 M)
Anggaran tersedia: Rp 1.000 juta
Langkah
Perhitungan
Nilai PI
1a · Proyek A (ICF 400, NPV 120)
PI = 120/400 + 1 = 0,3000 + 1
1,3000
1b · Proyek B (ICF 300, NPV 105)
PI = 105/300 + 1 = 0,3500 + 1
1,3500
1c · Proyek C (ICF 250, NPV 90)
PI = 90/250 + 1 = 0,3600 + 1
1,3600 ▲
1d · Proyek D (ICF 200, NPV 60)
PI = 60/200 + 1 = 0,3000 + 1
1,3000
1e · Proyek E (ICF 150, NPV 30)
PI = 30/150 + 1 = 0,2000 + 1
1,2000
Ranking: C > B > A ≥ D > E
Pilih C (sisa 750) → B (sisa 450) → A (sisa 50)
D=200 tdk muat
Kombinasi optimal C + B + A: Total investasi = 250 + 300 + 400 = Rp 950 juta (sisa Rp 50 juta) — Total NPV = 90 + 105 + 120 = Rp 315 juta Bandingkan C+B+D+E = 900 juta → NPV hanya Rp 285 juta (lebih rendah Rp 30 juta).
Analisis HDN-1: Mengapa Kombinasi PI-Ranked Lebih Baik?
Intuisi fundamental: PI mengukur "NPV yang dihasilkan per rupiah yang diinvestasikan" — alat ukur efisiensi modal. Dalam capital rationing, kita mengalokasikan sumber daya langka.
Strategi Seleksi
Proyek Dipilih
Total Investasi
Total NPV
Pilih NPV absolut terbesar
A (400) + B (300) + C (250)
Rp 950 jt
Rp 315 jt
Pilih PI tertinggi (benar)
C (250) + B (300) + A (400)
Rp 950 jt
Rp 315 jt
Pilih terbanyak (kecil dulu)
E+D+C+B = 4 proyek
Rp 900 jt
Rp 285 jt
Limitasi PI: Ada sisa anggaran Rp 50 juta yang tidak terpakai. Optimasi sempurna membutuhkan integer programming (pemrograman bilangan bulat — metode optimasi matematika dengan variabel biner 0/1). Dalam praktik, Excel Solver atau LINGO dipakai untuk skala besar.
Coba Sendiri: Ranking PI & Kombinasi Proyek Optimal
Ubah batas dana yang tersedia dan lihat kombinasi proyek pilihan (ranking PI) berubah otomatis, lengkap dengan sisa anggaran yang tak terpakai.
HDN-2: Tiga Proyek Mutually Exclusive — Konflik NPV vs PI
PT Bintang Perkasa harus memilih SATU mesin produksi dari tiga pilihan (fungsi sama).
Langkah
Perhitungan
Nilai
Mesin A — ICF Rp 500 jt, NPV Rp 200 jt
PI = 200/500 + 1 = 0,400 + 1
PI = 1,400 ▲ (PI tertinggi)
Mesin B — ICF Rp 800 jt, NPV Rp 280 jt
PI = 280/800 + 1 = 0,350 + 1
PI = 1,350
Mesin C — ICF Rp 1.200 jt, NPV Rp 360 jt
PI = 360/1.200 + 1 = 0,300 + 1
PI = 1,300
Ranking NPV: C (360) > B (280) > A (200)
NPV menunjuk Mesin C
✓ Pilih C
Analisis incremental C vs A: ΔI = 700, ΔNPV = 160
PI incremental = 160/700 + 1 = 1,229
1,229 > 1 ✓
Analisis incremental C vs B: ΔI = 400, ΔNPV = 80
PI incremental = 80/400 + 1 = 1,200
1,200 > 1 ✓
KONFLIK: PI menunjuk A (1,400), NPV menunjuk C (Rp 360 jt). Untuk proyek mutually exclusive → NPV absolut tertinggi = kriteria utama. Pilih Mesin C. Analisis incremental mengonfirmasi: tambahan investasi di C worthwhile di kedua perbandingan.
Resolusi Konflik NPV vs PI: Kapan Gunakan Apa?
Situasi
Alat Utama
Alasan
Independent, anggaran tak terbatas
NPV
Terima semua NPV > 0
Independent, capital rationing
PI (ranking)
Efisiensi modal per rupiah
Mutually exclusive, skala sama
NPV tertinggi
Pilih yang paling menambah nilai absolut
Mutually exclusive, skala berbeda
NPV tertinggi + cek incremental
PI bisa menyesatkan di sini
Dependent/contingent
NPV gabungan paket
Tidak bisa dipisah
Jangan salah: PI < NPV bukan berarti proyek lebih jelek secara absolut. PI mengukur efisiensi; NPV mengukur nilai total. Analogi: PI = "miles per liter" (efisiensi BBM); NPV = kapasitas angkut kargo. Untuk memilih satu kendaraan angkut barang besar → kapasitas angkut (NPV) yang menentukan.
Masalah Multi-Periode (Lorie-Savage) & Integer Programming
Lorie-Savage Problem (1955)
PI hanya optimal untuk satu periode dengan satu anggaran
Ketika anggaran ada di Tahun 1 dan Tahun 2 (multi-periode), ranking PI sederhana tidak cukup
Contoh: Anggaran Th-1 Rp 1 M & Th-2 Rp 800 jt; proyek punya profil pengeluaran berbeda tiap tahun
Dinamakan dari James Lorie & Leonard Savage ("Three Problems in Rationing Capital," Journal of Business, 1955)
Integer Programming — Solusi Formal
Variabel keputusan: xᵢ ∈ {0, 1} (ambil proyek i atau tidak)
Fungsi tujuan: Maksimumkan Σ NPVᵢ × xᵢ
Kendala: Σ ICFᵢ × xᵢ ≤ Anggaran (tiap periode)
Diselesaikan dengan Excel Solver, LINGO, atau Python scipy.optimize
Ranking PI tetap berguna sebagai aproksimasi cepat pertama
Blok 4 dari 4
Integrasi Bisnis Plan Komprehensif
Empat aspek kelayakan → satu kesimpulan terintegrasi → siap diajukan ke bank, OJK, atau BKPM
Kunci konsistensi: Asumsi penjualan di Aspek Pasar harus persis sama dengan angka pendapatan di Aspek Keuangan. Jika ada perbedaan, dokumen tidak konsisten dan akan langsung dipertanyakan oleh analis kredit bank atau OJK.
Aspek Pasar & Teknis: Landasan Asumsi Keuangan
Aspek Pasar — Linkage ke Keuangan
Ukuran pasar (TAM/SAM/SOM — Total/Serviceable/Obtainable Addressable Market) → proyeksi unit terjual
Harga jual & elastisitas → proyeksi pendapatan
Pertumbuhan pasar (CAGR — Compound Annual Growth Rate) → growth rate arus kas
Analisis kompetitor → market share & pricing power
Sumber data kredibel: BPS (Badan Pusat Statistik), Nielsen, asosiasi industri, laporan OJK/BI
Aspek Teknis — Linkage ke Keuangan
Kapasitas mesin/pabrik → batas produksi (ceiling)
BOM (Bill of Materials — daftar rinci bahan baku per unit) → HPP per unit
Masa manfaat aset → periode depresiasi sesuai PSAK 16 (standar aset tetap)
Referensi harga mesin Indonesia: katalog distributor resmi, e-catalogue LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Depresiasi: PSAK 16 — masa manfaat berdasarkan estimasi ekonomis, bukan semata kebijakan pajak.
Aspek Manajemen & Keuangan: Konvergensi ke Kelayakan
Format OJK/BKPM: Studi Kelayakan untuk Pengajuan Kredit/Izin
Tujuan
Dokumen Utama
Aspek Ditekankan
Platform
Kredit Bank (BRI/Mandiri/BNI)
Studi Kelayakan + FS Proforma
DSCR, agunan, arus kas
Pengajuan masing-masing bank
Izin PMDN/PMA (BKPM/OSS)
Proposal Investasi + NIB
Nilai investasi, tenaga kerja, KBLI
OSS (oss.go.id)
Pengawasan OJK (efek/fintech)
Prospektus / Proposal Perizinan
Tata kelola, kepatuhan, modal minimum
SPRINT (OJK)
Dana Pemerintah (BLU/PMN)
Business Case + RKAP
IRR, multiplier ekonomi, SDG linkage
Kemenkeu / Kementerian teknis
Glos: NIB = Nomor Induk Berusaha (identitas usaha via OSS — Online Single Submission); KBLI = Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (kode bidang usaha BPS/BKPM); SPRINT = Sistem Perizinan dan Registrasi Terintegrasi OJK. Best practice: Sesuaikan kedalaman dan bahasa dengan audiens — banker bicara arus kas & agunan; regulator bicara kepatuhan; investor bicara imbal hasil & risiko.
Cheat Sheet: Capital Rationing — Panduan Keputusan
Situasi
Langkah 1
Langkah 2
Keputusan
Independent, anggaran tak terbatas
Hitung NPV
—
Terima semua NPV > 0
Independent, capital rationing
Hitung PI = NPV/ICF + 1
Ranking PI; pilih dari atas
Kombinasi PI tertinggi dalam batas
Mutually exclusive, skala sama
Hitung NPV
—
Pilih NPV tertinggi
Mutually exclusive, skala berbeda
Hitung NPV + PI
Cek analisis incremental
NPV tertinggi (dominan)
Dependent/contingent
Paketkan A+B
Hitung NPV gabungan
Terima/tolak sebagai satu paket
Multi-periode (Lorie-Savage)
Identifikasi kendala tiap periode
Integer programming / Solver
Solusi optimal matematis
Rumus wajib ingat:PI = NPV/ICF + 1 |
PI > 1 → Layak |
PI < 1 → Tolak |
DSCR ≥ 1,2× → Syarat kredit bank Indonesia
Peta Besar Perkuliahan: Dari Anggaran ke Bisnis Plan Utuh
"Setiap pertemuan adalah satu batu bata — P14 adalah atapnya."
Penutup & Refleksi Akhir Semester
Yang Sudah Anda Kuasai Semester Ini
Menyusun semua komponen anggaran (penjualan, produksi, biaya, kas, keuangan proforma)
Mengevaluasi proyek dengan NPV, IRR, MIRR, dan PI
Memilih kombinasi proyek terbaik dalam keterbatasan anggaran (capital rationing)
Mengintegrasikan aspek pasar, teknis, manajemen, dan keuangan menjadi bisnis plan komprehensif
Langkah Berikutnya
Ujian Akhir Semester: Kuasai HDN-1 (capital rationing + PI) dan HDN-2 (mutually exclusive + incremental analysis)
Dunia kerja: Kemampuan ini langsung aplikatif di posisi keuangan, analis bisnis, konsultan, atau wirausaha
DSCR ≥ 1,2× — ingat angka ini saat pertama kali Anda mengajukan kredit investasi
"Anggaran bukan sekadar tabel angka — ia adalah peta perjalanan bisnis yang Anda pilih."
📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.