Dari rencana investasi ke keputusan layak/tidak layak — empat metode kuantitatif untuk menilai apakah proyek bisnis sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
RPS MINGGU 14 • SUB-CPMK 14 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu mengevaluasi kelayakan keuangan suatu proyek menggunakan empat metode standar (Sub-CPMK 14).
Metode 1
PBP
Payback Period
Menghitung & menafsirkan periode balik modal — sederhana maupun discounted (DPBP).
Metode 2
BEP
Break-Even Point
Menghitung titik impas dalam unit & rupiah, membaca grafik BEP untuk keputusan produksi.
Metode 3
NPV
Net Present Value
Menghitung NPV menggunakan diskonto WACC dan menarik keputusan layak/tidak layak.
Metode 4
IRR
Internal Rate of Return
Menghitung IRR dengan interpolasi, membandingkan vs WACC, memahami MIRR.
Mengapa Perusahaan Perlu Metode Evaluasi Formal?
Setiap rupiah investasi harus dipertanggungjawabkan — bagaimana manajer keuangan memutuskan?
Skenario: PT Pupuk Indonesia — Pabrik Granul Baru Rp 500 Miliar
Kapan modal kembali? → PBP
Berapa minimum produksi agar tidak rugi? → BEP
Apakah investasi ini menambah nilai perusahaan? → NPV
Berapa imbal hasil nyata dibandingkan biaya utang? → IRR
Keputusan investasi salah → nilai pemegang saham turun permanen. Bappenas & ESDM mensyaratkan analisis NPV & IRR dalam setiap dokumen studi kelayakan proyek infrastruktur.
Blok 1 dari 5
Kerangka Evaluasi Kelayakan Keuangan
Komponen arus kas & jenis metode
Empat Kriteria Kelayakan Keuangan
Empat metode standar — berbeda perspektif, sama tujuan: layak atau tidak layak?
PBP — Waktu Balik Modal
"Berapa tahun ICF (Initial Cash Flow, investasi awal) tertutup oleh OCF (Operating Cash Flow, arus kas operasi) kumulatif?"
Kriteria: PBP < batas maksimum perusahaan
BEP — Titik Impas Produksi
"Berapa unit/rupiah agar TR (Total Revenue, total pendapatan) = TC (Total Cost, total biaya)?"
Kriteria: volume rencana > BEP
NPV — Nilai Tambah Absolut
"Apakah proyek menghasilkan surplus di atas biaya modal setelah didiskon?"
Kriteria: NPV > 0
IRR — Imbal Hasil Persentase
"Berapa % imbal hasil nyata proyek ini dibanding WACC (biaya modal tertimbang)?"
Kriteria: IRR > WACC (hurdle rate)
Komponen Arus Kas Proyek: ICF, OCF, TCF
Semua metode bekerja dari data arus kas yang sama — pastikan Anda sudah memahami tiga komponennya.
ICF (Initial Cash Flow)
Investasi awal: aset tetap, modal kerja awal, instalasi. Tanda (–). Depresiasi (penyusutan) tidak masuk karena bukan kas.
OCF (Operating Cash Flow)
Arus kas operasi tiap periode = Laba Sblm Pajak × (1 − t) + Depresiasi. Tanda (+).
TCF (Terminal Cash Flow)
Nilai sisa aset + pemulihan modal kerja (working capital) di akhir proyek. Tanda (+).
PBP mudah, tapi tahu batasannya agar tidak salah memutuskan.
Kelebihan PBP
Sederhana & intuitif — mudah dipahami manajer non-keuangan
Cocok sebagai filter cepat (screening awal) proyek
Berguna untuk proyek dengan ketidakpastian tinggi jangka panjang
Proxy ukuran risiko likuiditas perusahaan
Kelemahan PBP
Mengabaikan arus kas setelah periode balik modal
PBP sederhana mengabaikan nilai waktu uang (TVM)
Tidak mengukur penciptaan nilai bagi pemegang saham
Kriteria batas (cutoff) bersifat arbitrer — ditentukan subjektif
Gunakan PBP sebagai pelengkap, bukan pengganti NPV. TVM = Time Value of Money (nilai waktu uang). Screening = penyaringan awal proyek yang jelas tidak layak.
Blok 3 dari 5
Break-Even Point (BEP)
Titik di mana pendapatan = biaya total
BEP Unit dan BEP Rupiah — Formulasi
BEP terjadi saat Total Pendapatan (TR) = Total Biaya (TC)
BEP Unit
BEP (unit) = BT ÷ (P − BVu) = BT ÷ CM per unit
BT = Biaya Tetap (fixed cost — sewa, gaji tetap, depresiasi) P = Harga Jual per unit BVu = Biaya Variabel per unit (bahan baku, komisi) CM = Contribution Margin = P − BVu
BEP Rupiah
BEP (Rp) = BT ÷ (1 − BVu/P) = BT ÷ Rasio CM
Rasio CM = CM per unit ÷ P = 1 − (BVu/P) Cek silang: BEP Rupiah = BEP unit × Harga Jual
HDN-2: BEP Produksi dari Nol
Data: Harga jual Rp 50.000/unit • Biaya variabel Rp 30.000/unit • Biaya tetap Rp 200 jt/tahun
Langkah BEP Unit
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. CM per unit
50.000 − 30.000
Rp 20.000/unit
2. BEP unit
200.000.000 ÷ 20.000
10.000 unit
3. Cek TR di BEP
10.000 × 50.000
Rp 500.000.000
4. Cek TC di BEP
(10.000×30.000)+200.000.000
Rp 500.000.000 ✓
Langkah BEP Rupiah
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Rasio CM
1 − (30.000 ÷ 50.000)
0,40 (= 40%)
2. BEP Rupiah
200.000.000 ÷ 0,40
Rp 500.000.000
TR = TC = Rp 500 jt di titik BEP. Produksi harus > 10.000 unit agar menghasilkan laba. Relevant range = kisaran produksi di mana asumsi biaya tetap dan harga jual berlaku.
Coba Sendiri: Geser Harga & Biaya, Amati Titik BEP Bergeser
Ubah harga jual, biaya variabel, atau biaya tetap, lalu lihat grafik TR-TC dan titik BEP unit maupun rupiah bergeser langsung.
Studi Kasus: BEP PT Semen Indonesia (SMGR)
Konteks nyata: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (kode BEI: SMGR) — produsen semen terbesar Indonesia.
Profil Industri (Estimasi Ilustratif)
Kapasitas produksi ~50 juta ton semen/tahun (seluruh grup)
Investasi per lini produksi: Rp 1–3 triliun (estimasi umum industri, bukan angka resmi)
Biaya tetap masif → BEP volume sangat tinggi
Harus ada utilisasi kapasitas (capacity utilization) yang tinggi agar tidak merugi
Pelajaran BEP dari SMGR
Industri capital intensive (padat modal) → BEP tinggi → risiko kerugian besar jika permintaan turun
SMGR aktif memantau utilisasi kapasitas di laporan tahunan
BEP membantu manajer menentukan minimum contract/offtake yang harus dijamin
Data laporan tahunan SMGR tersedia publik di IDX (www.idx.co.id)
Lihat Laporan Tahunan SMGR di BEI — bagian MD&A (Management Discussion & Analysis, kewajiban OJK bagi emiten) mencantumkan data biaya dan kapasitas.
Blok 4 dari 5
NPV & IRR
Metode berbasis nilai waktu uang — standar internasional
Net Present Value (NPV) — Formulasi Lengkap
NPV = nilai sekarang semua arus kas masuk dikurangi nilai sekarang investasi awal
NPV = Σ [OCFt ÷ (1 + r)t] + [TCFn ÷ (1 + r)n] − ICF t = 1 hingga n • r = WACC • DFt = 1 / (1 + r)t
NPV > 0
LAYAK
Proyek menambah nilai perusahaan & kekayaan pemegang saham.
NPV = 0
IMPAS
Imbal hasil tepat sama dengan WACC. Ambang batas keputusan.
NPV < 0
TIDAK
Proyek menghancurkan nilai — imbal hasil di bawah biaya modal.
HDN-3: NPV Proyek Rp 500 Jt dari Nol
Data: ICF Rp 500 jt • OCF t1–t5: 120, 150, 180, 160, 140 jt • TCF t5: 60 jt • WACC = 12%
Langkah
Perhitungan
Nilai
t=1: PV OCF₁
120 ÷ (1,12)¹ = 120 × 0,8929
107,14 jt
t=2: PV OCF₂
150 ÷ (1,12)² = 150 × 0,7972
119,58 jt
t=3: PV OCF₃
180 ÷ (1,12)³ = 180 × 0,7118
128,12 jt
t=4: PV OCF₄
160 ÷ (1,12)⁴ = 160 × 0,6355
101,68 jt
t=5: PV (OCF+TCF)
200* ÷ (1,12)⁵ = 200 × 0,5674
113,48 jt
Σ PV = Total nilai sekarang semua arus kas
570,00 jt
NPV = Σ PV − ICF = 570,00 − 500,00
Rp 70,00 jt
*t5: OCF 140 + TCF 60 = 200 jt.
NPV = +Rp 70,00 jt > 0 → LAYAK ✓ — menambah nilai perusahaan Rp 70 juta
Internal Rate of Return (IRR) — Konsep
IRR = tingkat diskonto yang membuat NPV = 0 — imbal hasil nyata yang dihasilkan proyek.
IRR < WACC → TIDAK LAYAK (imbal hasil tidak cukup)
HDN-4: IRR dengan Interpolasi dari Nol
HDN-4: Cari IRR dengan interpolasi — gunakan dua tingkat diskonto yang mengapit NPV = 0.
Langkah 1 — r₁ = 12%
NPV₁ = +70,00 jt (dari HDN-3)
Langkah 2 — r₂ = 20%
t
Arus Kas (jt)
DF=1/(1,20)ᵗ
PV (jt)
1
120
0,8333
100,00
2
150
0,6944
104,17
3
180
0,5787
104,17
4
160
0,4823
77,17
5
200
0,4019
80,38
Total PV
465,89
NPV₂ = 465,89 − 500 = −34,11 jt
Langkah 3 — Interpolasi IRR
Langkah
Perhitungan
Nilai
Formula
r₁ + [NPV₁/(NPV₁−NPV₂)] × (r₂−r₁)
Selisih NPV
70,00 + 34,11
104,11
Rasio
70,00 ÷ 104,11
0,6724
Rentang r
20% − 12%
8%
Tambahan
0,6724 × 8%
5,38%
IRR = 12% + 5,38%
17,38%
IRR ≈ 17,38% > WACC 12% → LAYAK ✓
Tiga Kelemahan IRR
IRR populer tapi punya tiga kelemahan serius — kenali agar tidak salah memutuskan.
Kelemahan 1 — Multiple IRR
Terjadi ketika arus kas berganti tanda lebih dari sekali. Persamaan polinomial bisa punya lebih dari satu solusi IRR.
Contoh: tambang atau pembangkit dengan biaya penutupan besar di akhir.
Kelemahan 2 — Scale Problem
IRR tidak mempertimbangkan skala investasi.
Proyek A: ICF Rp 10 jt, IRR 50% → NPV Rp 5 jt Proyek B: ICF Rp 1 M, IRR 20% → NPV Rp 200 jt
IRR pilih A; NPV pilih B → B menambah nilai lebih besar.
Kelemahan 3 — Asumsi Reinvestasi
IRR mengasumsikan OCF diinvestasikan ulang pada tingkat = IRR sendiri (tidak realistis).
NPV mengasumsikan reinvestasi (reinvestment) pada WACC — jauh lebih realistis.
Gunakan NPV sebagai kriteria utama; IRR sebagai pelengkap komunikasi — solusi di slide berikutnya.
MIRR: Solusi atas Kelemahan IRR
MIRR (Modified Internal Rate of Return — IRR Termodifikasi): lebih realistis, selalu unik, tidak ada nilai ganda.
MIRR = [FV(semua OCF+, diakumulasi ke t=n pada WACC) ÷ PV(semua biaya, diskonto WACC)]1/n − 1
Contoh numerik proyek Rp 500 jt (WACC 12%, n=5): FV semua OCF ke t=5 pada WACC 12% ≈ Rp 882 jt MIRR = (882/500)1/5 − 1 ≈ 12% → lebih konservatif dari IRR 17,38%
Keunggulan MIRR vs IRR
Selalu menghasilkan satu nilai tunggal (tidak ada MIRR ganda)
Asumsi reinvestasi pada WACC — lebih realistis
Kriteria: MIRR > WACC → LAYAK
Dalam analisis proyek infrastruktur besar, disajikan bersama IRR & NPV
Gunakan NPV sebagai keputusan utama; MIRR berguna saat manajemen meminta angka persentase yang lebih akurat dari IRR standar.
Coba Sendiri: Uji Kelayakan Proyek dari Empat Sisi
Ubah arus kas tahunan atau tingkat diskonto, lalu bandingkan PBP, NPV, IRR, dan MIRR sekaligus untuk proyek yang sama.
Kasus Indonesia: PLTS vs PLTG — IRR Sektoral
Kementerian ESDM & PLN menggunakan analisis NPV/IRR dalam RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik).
Parameter
PLTS (Surya)
PLTG (Gas)
Kapasitas
50 MW
50 MW
Investasi awal
~Rp 750 M
~Rp 600 M
Umur proyek
25 tahun
20 tahun
Biaya operasi
Rendah (surya — insolasi)
Tinggi (bahan bakar gas fluktuatif)
IRR estimasi (ilustrasi)
~12–15%
~14–18%
Sensitivitas utama
Tarif listrik & insolasi
Harga gas & tarif
Keunggulan NPV jangka panjang
Biaya operasi rendah 25 thn
Investasi awal lebih rendah
Angka di tabel = ilustrasi berdasarkan kisaran umum industri — verifikasi dari dokumen RUPTL PLN terbaru (dokumen publik) untuk angka aktual.
Blok 5 dari 5
Integrasi & Keputusan
Merakit empat metode menjadi satu rekomendasi
Integrasi: Proyek Rp 500 Jt — Keputusan Akhir
Ringkasan keputusan — ICF Rp 500 jt • WACC 12% • Umur 5 tahun
Metode
Hasil
Kriteria
Status
PBP Sederhana
3,3125 tahun
< 4 tahun (asumsi batas)
✅ LAYAK
DPBP
4,38 tahun
< 5 tahun (asumsi batas)
✅ LAYAK
BEP (data terpisah)
10.000 unit / Rp 500 jt
Volume rencana > BEP
✅ LAYAK (jika target >10.000 unit)
NPV (WACC 12%)
+Rp 70,00 jt
NPV > 0
✅ LAYAK
IRR
≈ 17,38%
IRR > WACC 12%
✅ LAYAK
Rekomendasi: Proyek LAYAK DIEKSEKUSI — semua metode sinyal positif
Meski semua metode hijau, tetap lakukan analisis sensitivitas — what if WACC naik ke 15%? What if OCF turun 20%?
Cheat Sheet Evaluasi Kelayakan Keuangan
Rangkuman satu halaman — simpan, hafalkan, terapkan.
Metode
Rumus Inti
Kriteria
Kelemahan Utama
PBP
Tahun + (Sisa / OCF berikutnya)
PBP < batas maks
Abaikan TVM & arus kas pasca-PBP
DPBP
Kumulasi PV OCF hingga lunasi ICF
DPBP < batas maks
Masih abaikan arus kas pasca-DPBP
BEP unit
BT ÷ (P − BVu)
Volume > BEP
Asumsi harga & biaya tetap (relevant range)
BEP rupiah
BT ÷ (1 − BVu/P)
Penjualan > BEP Rp
Asumsi harga & biaya tetap
NPV
Σ PV(OCF) + PV(TCF) − ICF
NPV > 0
Perlu estimasi WACC yang tepat
IRR
r* saat NPV = 0 (interpolasi)
IRR > WACC
Multiple IRR, scale problem
MIRR
[FV(+CF,WACC)/PV(−CF,WACC)]1/n −1
MIRR > WACC
Lebih kompleks dihitung
Hierarki keputusan: NPV → IRR/MIRR → PBP/DPBP → BEP (dari paling ke kurang informatif tentang nilai tambah). TVM = Time Value of Money (nilai waktu uang).
Persiapan & Tugas — Pertemuan 13 Selesai
Tugas Mandiri
Latihan soal Lampiran B (minimal 3 soal selesaikan sendiri tanpa melihat kunci)
Unduh laporan tahunan satu emiten BEI pilihan Anda — cari apakah ada pembahasan NPV/IRR/BEP dalam MD&A (Management Discussion & Analysis, kewajiban OJK)
Buat tabel ringkasan 4 metode untuk proyek hipotetis: ICF Rp 200 jt, OCF Rp 60 jt/tahun, 5 tahun, WACC 10%
Persiapan Pertemuan 14 (Minggu RPS 15)
Topik: Penyusunan Anggaran Komprehensif & Presentasi Final
Bawa: draft anggaran proyek kelompok Anda — sudah harus ada analisis kelayakan keuangannya!
Review seluruh materi pertemuan 11–13 sebagai bekal presentasi
Pertemuan 14 adalah puncak dan penutup seluruh mata kuliah ini
“The whole point of capital budgeting is to find projects that add value.” — Eugene F. Brigham
📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.