‹ Daftar slidePertemuan 12: Estimasi Arus Kas Proyek Investasi
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Anggaran dan Perencanaan Bisnis
Pertemuan 12 — Estimasi Arus Kas Proyek Investasi
Sebelum memutuskan investasi, kita perlu tahu: berapa uang keluar di awal, berapa uang masuk tiap tahun, dan berapa uang masuk saat proyek berakhir. Hari ini kita belajar cara menghitungnya.
ICF — initial cash flow (arus kas awal)•OCF — operational cash flow (arus kas operasional)•TCF — terminal cash flow (arus kas akhir proyek)
RPS MINGGU 13 • SUB-CPMK 13 • DURASI 2 × 50 MENIT
Empat Capaian Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mengestimasi arus kas proyek investasi (Sub-CPMK 13). Secara rinci:
CAPAIAN 1 — ICF
INITIAL
Menghitung initial cash flow (arus kas awal): harga beli + instalasi + modal kerja + penyesuaian aset lama beserta pajaknya.
CAPAIAN 2 — OCF
OPERASI
Menghitung operational cash flow menggunakan 3 metode dan memverifikasi hasilnya selalu identik.
CAPAIAN 3 — TCF
TERMINAL
Menghitung terminal cash flow: nilai residu bersih setelah pajak dan recovery modal kerja di akhir proyek.
CAPAIAN 4 — PRINSIP
PRINSIP
Membedakan incremental cash flow, sunk cost (biaya hangus), dan opportunity cost dalam capital budgeting.
Proyek PLTS 2 MW di Pabrik Semarang — Laba vs Arus Kas
PT Sinar Jaya Tekstil ingin pasang PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) untuk hemat listrik. Dewan direksi bertanya: apakah proyek ini layak? Jawaban butuh arus kas, bukan laba akuntansi.
Laporan Laba Rugi (Akuntansi)
Pendapatan hemat listrik: Rp 800 jt/thn
Beban penyusutan PLTS: (Rp 400 jt/thn)
EBIT (earnings before interest & taxes — laba sebelum bunga & pajak): Rp 400 jt
PPh (pajak penghasilan) Badan 22%: (Rp 88 jt)
Laba bersih: Rp 312 jt
Arus Kas Operasional (Keuangan)
Laba bersih: Rp 312 jt
(+) Penyusutan (non-tunai — dicatat tapi tidak ada uang keluar): + Rp 400 jt
OCF (operational cash flow): Rp 712 jt/thn
Perbedaan Rp 400 jt/tahun ini bukan sihir — penyusutan (depresiasi: alokasi biaya aset tetap sepanjang umur ekonomisnya) adalah biaya yang dicatat tapi uangnya tidak berpindah tangan. OCF-lah yang relevan untuk keputusan investasi. Konsep tax shield penyusutan dibahas penuh di Slide 15.
BLOK 1 dari 4
Fondasi: Incremental & Relevan
Arus kas mana yang masuk hitungan proyek? Bukan semua — hanya yang incremental (bertambah karena proyek).
Yang dihitung hanyalah arus kas yang berubah karena proyek ini — dibanding situasi tanpa proyek. Incremental = bertambah/berubah.
✅ Masuk hitungan (incremental)
Penghematan biaya listrik karena mesin baru
Modal kerja tambahan yang diperlukan proyek
Penerimaan dari penjualan produk baru
Biaya instalasi mesin baru
❌ Tidak masuk hitungan (bukan incremental)
Gaji CEO yang tidak berubah karena proyek
Overhead pabrik yang sudah ada sebelumnya (kecuali berubah)
Biaya riset pasar yang sudah dibayar tahun lalu (sunk cost)
Uji incremental: “Apakah arus kas ini ada/berubah jika proyek tidak jadi dilaksanakan?” → Tidak? Abaikan.
Sunk Cost vs Opportunity Cost
Konsep
Definisi
Perlakuan dalam Capital Budgeting
Sunk Cost (biaya hangus)
Biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak dapat diambil kembali apapun keputusan ke depan
DIABAIKAN — tidak relevan untuk keputusan ke depan
Opportunity Cost (biaya peluang)
Nilai manfaat terbaik yang dikorbankan karena memilih proyek ini
DIMASUKKAN — merupakan biaya ekonomi nyata
Contoh sunk cost: PT Sentosa sudah bayar konsultan Rp 200 jt untuk studi kelayakan proyek gudang. Proyek belum diputuskan. → Rp 200 jt ini TIDAK masuk ICF.
Contoh opportunity cost: PT Sentosa punya lahan yang bisa disewakan Rp 300 jt/thn jika tidak dipakai proyek. → Rp 300 jt/thn ini HARUS masuk sebagai biaya proyek.
BLOK 2 dari 4
Initial Cash Flow (ICF)
Berapa total uang yang keluar di hari pertama proyek dimulai (t₀, titik waktu nol)?
1 Komponen ICF2 Pajak aset lama3 HDN-14 Studi Kasus PLTS
Formula ICF — Initial Cash Flow
ICF = semua uang yang keluar di awal proyek, dikurangi uang masuk dari menjual aset lama dan efek pajaknya — angka ini kita taruh di t₀.
ICF = − Harga beli aktiva tetap baru − Biaya instalasi & pengangkutan − ΔWC (tambahan modal kerja neto: kas+piutang+persediaan − utang dagang) − Biaya pra-operasi (perizinan, uji coba) + Proceed penjualan aset lama (PL) ± Pajak atas gain/loss: PL > NB → gain → bayar pajak (kurangi ICF) PL < NB → loss → hemat pajak (tambah ICF)
Total installed cost = Harga beli + Instalasi = dasar penyusutan fiskal (PMK-96/2009)
NB (nilai buku) = harga perolehan aset − akumulasi penyusutan yang sudah dicatat. Bukan harga pasar.
Pajak atas Gain/Loss Penjualan Aset Lama
Saat menjual aset lama, ada efek pajak yang mempengaruhi ICF. NB = nilai buku (harga perolehan − akumulasi penyusutan).
Skenario
Kondisi
Pajak yang Berlaku
Dampak ke ICF
A — Capital Gain
Harga jual (PL) > Nilai Buku (NB)
Gain × 22% PPh Badan dibayar
+ PL − (PL−NB)×22%
B — PL = NB
Harga jual = Nilai Buku
Tidak ada pajak
+ PL (penuh)
C — Capital Loss
Harga jual (PL) < Nilai Buku (NB)
Loss × 22% → penghematan pajak
+ PL + (NB−PL)×22%
PPh Badan = 22% — tarif resmi per UU HPP No. 7 Tahun 2021, Pasal 17 ayat 2a. Capital gain (keuntungan modal) = selisih positif harga jual di atas NB. Capital loss (kerugian modal) = selisih negatif. Jangan gunakan tarif lain tanpa verifikasi.
HDN-1 — Hitung dari Nol: ICF Proyek Mesin Baru
Diketahui: Harga beli mesin baru Rp 800 jt • Biaya instalasi Rp 50 jt • Tambahan modal kerja Rp 100 jt • Mesin lama dijual Rp 75 jt • Nilai buku mesin lama Rp 60 jt • PPh Badan 22%.
Langkah
Perhitungan
Nilai (Rp juta)
1 — Harga beli mesin baru
Diberikan
−800,0
2 — Biaya instalasi
Diberikan
−50,0
3 — Total installed cost (dasar depresiasi)
800 + 50
= 850
4 — Tambahan modal kerja (ΔWC)
Diberikan
−100,0
5 — Proceed penjualan mesin lama (PL)
Diberikan
+75,0
6 — Capital gain: PL − NB
75 − 60 = 15
gain = 15,0
7 — Pajak atas gain (22%)
15 × 0,22
−3,3
ICF Total
−800 + (−50) + (−100) + 75 + (−3,3)
−878,3
Verifikasi: −(800+50+100) + 75 − 3,3 = −950 + 71,7 = −Rp 878,3 jt ✓ | Total installed cost dasar penyusutan = Rp 850 jt
Studi Kasus ICF — PLTS Atap 2 MW, Pabrik Tekstil Semarang
Komponen ICF
Nilai (Rp juta)
Harga beli modul surya + inverter
−3.200
Biaya pemasangan & instalasi listrik
−480
Biaya pengujian (commissioning: penyalaan perdana) & izin
−120
Tambahan modal kerja O&M tahun pertama
−80
Insentif ESDM: subsidi pengadaan EBT (asumsi 10%)
+320
ICF Total
−3.560
⚠ Catatan regulasi: Insentif ESDM/MEMR untuk PLTS industri berubah per periode. Verifikasi ke SK Menteri ESDM terbaru + peraturan pajak DTP (Ditanggung Pemerintah) sebelum dipakai dalam studi kelayakan nyata. Angka 10% di sini adalah asumsi ilustrasi.
Penyusutan fiskal: modul surya → Kelompok II PMK-96/2009 (Peraturan Menteri Keuangan No. 96/PMK.03/2009) → masa manfaat fiskal 8 tahun → tarif garis lurus 12,5%/thn. EBT = Energi Baru Terbarukan.
BLOK 3 dari 4
Operational Cash Flow (OCF): Tiga Metode
Arus kas yang dihasilkan proyek setiap tahun selama umur operasinya — ada tiga cara menghitung, hasilnya selalu sama.
1 Metode EBIT2 Metode Net Income3 Revenue–Cost (Tax Shield)✓ Verifikasi aljabar
OCF Metode 1 — EBIT Approach
Dimulai dari EBIT (earnings before interest & taxes — laba sebelum bunga dan pajak) di laporan laba rugi.
OCF = EBIT + Penyusutan − Pajak
di mana: EBIT = Penjualan − Biaya Operasional − Penyusutan Pajak = EBIT × t (t = tarif PPh Badan = 22%)
Intuisi: EBIT adalah laba operasi akuntansi. Kita tambah penyusutan karena penyusutan bukan pengeluaran tunai. Kita kurangi pajak yang benar-benar dibayar tunai ke kas negara. Metode ini paling intuitif jika Anda mulai dari laporan laba rugi.
Mengapa bunga tidak dimasukkan? Dalam capital budgeting, kita menganalisis proyek terlepas dari cara pembiayaannya. Efek bunga/pembiayaan ditangani di tahap diskonto melalui WACC (Weighted Average Cost of Capital — biaya modal rata-rata tertimbang), yang dibahas di Pertemuan 13.
OCF Metode 2 — Net Income Approach
Dimulai dari laba bersih (net income — laba setelah semua beban termasuk pajak; diasumsikan tanpa beban bunga). Formula paling populer di praktisi.
OCF = Laba Bersih + Penyusutan
di mana: Laba Bersih = EBIT × (1 − t) = EBIT − (EBIT × t) = EBIT − Pajak
Sehingga: OCF = [EBIT − Pajak] + Penyusutan = EBIT + Penyusutan − Pajak ← sama dengan Metode 1 ✓
Intuisi: Laba bersih + penyusutan adalah rumus yang paling sering dipakai oleh praktisi akuntansi dan analis perbankan karena angka laba bersih langsung tersedia di laporan L/R.
OCF Metode 3 — Revenue–Cost Approach (Tax Shield View)
Komponen I : (Penjualan − Biaya Tunai)(1 − t) → arus kas tunai (cash costs: biaya yang benar-benar dikeluarkan tunai) setelah pajak
Komponen II: Penyusutan × t → tax shield penyusutan (perisai pajak: penyusutan mengurangi penghasilan kena pajak, mengurangi pajak yang dibayar)
Tax shield penyusutan pada contoh proyek mesin (D = Rp 80 jt, t = 22%): Tax shield = Rp 80 jt × 22% = Rp 17,6 jt/tahun — ini uang nyata yang "diselamatkan" dari pembayaran pajak, meskipun penyusutan sendiri bukan pengeluaran tunai.
HDN-2 — Hitung dari Nol: OCF Tiga Metode, Satu Jawaban
Diketahui: EBIT = Rp 200 jt • Penyusutan (D) = Rp 80 jt • PPh Badan t = 22%. | Turunan: Penjualan − Biaya Tunai = EBIT + D = 200 + 80 = Rp 280 jt.
Langkah
Metode 1 (EBIT)
Metode 2 (Net Income)
Metode 3 (Rev–Cost)
a
EBIT = 200
Laba bersih = 200×0,78 = 156
(S−C) = 280; ×0,78 = 218,4
b
(+) Penyusutan = +80
(+) Penyusutan = +80
(+) Tax shield = 80×22% = +17,6
c
(−) Pajak = 200×22% = −44
—
—
OCF
200+80−44 = 236
156+80 = 236
218,4+17,6 = 236
Ketiga metode menghasilkan OCF = Rp 236 jt/tahun ✓
Bukti Aljabar: Ketiga Metode Identik
Notasi: S = penjualan; C = biaya tunai; D = penyusutan; t = tarif pajak. Kesamaan berlaku umum untuk semua nilai S, C, D, t.
Dari Metode 1: OCF = EBIT + D − t·EBIT = (S−C−D) + D − t(S−C−D) = S − C − D + D − t(S−C−D) = (S−C)(1−t) + D·t ← ini = Metode 3 ✓
Dari Metode 2: OCF = NI + D = EBIT(1−t) + D = (S−C−D)(1−t) + D = (S−C)(1−t) − D(1−t) + D = (S−C)(1−t) + D·t ← ini = Metode 3 ✓
Implikasi praktis: dalam soal ujian maupun studi kelayakan, Anda bebas memilih metode yang paling sesuai dengan data yang tersedia. Jika diberikan EBIT → Metode 1. Jika diberikan laba bersih → Metode 2. Jika diberikan breakdown penjualan dan biaya → Metode 3. Semua menghasilkan jawaban yang sama.
BLOK 4 dari 4
Terminal Cash Flow (TCF) & Konsolidasi
Arus kas di akhir umur proyek (tₙ, titik waktu n — tahun terakhir proyek) — nilai residu dan recovery modal kerja.
1 Komponen TCF2 Tiga skenario nilai residu3 HDN-3 + Konsolidasi
Formula TCF — Terminal Cash Flow
NRBP (nilai residu bersih setelah pajak): harga jual aset di akhir proyek setelah dikurangi/ditambah dampak pajak. Ditambah recovery modal kerja yang diinvestasikan di ICF.
TCF = NRBP + Recovery Modal Kerja (ΔWC dikembalikan penuh)
NRBP — tiga kondisi: Jika PLₙ > NBₙ (gain): NRBP = PLₙ − (PLₙ − NBₙ) × t Jika PLₙ < NBₙ (loss): NRBP = PLₙ + (NBₙ − PLₙ) × t Jika PLₙ = NBₙ (atau keduanya nol): NRBP = PLₙ
Analisis pajak di TCF identik dengan Slide 9 — bedanya, sekarang kita menghitung di akhir umur proyek, bukan di awal.
Recovery modal kerja = ΔWC yang diinvestasikan di ICF dikembalikan penuh di tₙ. Umumnya tidak terkena pajak (pengembalian modal, bukan penghasilan).
Tiga Skenario Nilai Residu dan Pajaknya (di tₙ)
Tarif PPh Badan 22% berlaku di semua skenario. PL = harga jual akhir; NB = nilai buku akhir.
Skenario
Kondisi di tₙ
Perhitungan NRBP
Contoh (Rp juta)
A — NB = 0
Sudah habis disusutkan; jual Rp 150 jt
150 − 150×22% = 150×0,78
117
B — NB = 50
Belum habis disusutkan; jual Rp 150 jt
150 − (150−50)×22% = 150−22
128
C — NB = 200
Harga jual turun di bawah NB; jual Rp 150 jt
150 + (200−150)×22% = 150+11
161
Skenario C terjadi jika aset belum habis disusutkan saat dijual — tax saving dari loss justru menambah TCF. Skenario A paling umum: NB sudah nol, semua harga jual = gain, NRBP = 78% dari harga jual.
HDN-3 — Hitung dari Nol: Arus Kas Lengkap Proyek PLTS (Bonus)
Asumsi proyek PLTS hipotetis: Total installed cost = Rp 3.680 jt • Modal kerja = Rp 80 jt • Umur 8 tahun • Penyusutan garis lurus: 3.680/8 = Rp 460 jt/thn • EBIT/thn = Rp 520 jt • t = 22% • Nilai residu t₈ = Rp 200 jt; NB t₈ = 0.
Langkah
Perhitungan
Nilai (Rp juta)
ICF (t₀) — installed cost
Diberikan
−3.680
ICF (t₀) — modal kerja (ΔWC)
Diberikan
−80
ICF Total (t₀)
3.680 + 80
−3.760
OCF (t₁–t₈) — Metode 2
NI = 520×0,78 = 405,6; + D 460
865,6 jt/thn
TCF (t₈) — NRBP
200×0,78 = 156 (NB=0, gain penuh)
+156
TCF (t₈) — Recovery ΔWC
Kembali penuh
+80
TCF Total (t₈)
156 + 80
+236
Total arus kas masuk di t₈: OCF + TCF = 865,6 + 236 = Rp 1.101,6 jt. Verifikasi OCF Metode 1: 520 + 460 − 520×0,22 = 520+460−114,4 = 865,6 ✓
Konsolidasi Arus Kas Proyek — Tabel Per Tahun (Rp juta)
Proyek mesin baru (dari HDN-1): Installed cost Rp 850 jt • Umur 5 tahun • D = 850/5 = Rp 170 jt/thn • EBIT = Rp 200 jt/thn • t = 22% • Nilai residu t₅ = Rp 50 jt; NB = 0 • Modal kerja = Rp 100 jt.
Tabel ini siap dimasukkan ke formula NPV: Σ [CFₙ / (1+r)ⁿ] dari t=0 sampai t=5. ΔWC = modal kerja neto (identik dengan ΔMK dalam beberapa buku teks Indonesia).
Penyusutan Fiskal (PMK-96/2009) vs Penyusutan Akuntansi
Aspek
Penyusutan Akuntansi
Penyusutan Fiskal (PMK-96/2009)
Dasar hukum
PSAK 16 (Aset Tetap) — estimasi manajemen
PMK-96/2009 — kelompok harta ditetapkan DJP
Metode
Garis lurus / saldo menurun (PSAK 16)
Garis lurus atau saldo menurun ganda
Kelompok I
Estimasi manajemen
4 tahun
Kelompok II
Estimasi manajemen
8 tahun
Kelompok III
Estimasi manajemen
16 tahun
Kelompok IV
Estimasi manajemen
20 tahun
Tujuan
Pelaporan keuangan (PSAK/IFRS)
Penghitungan PPh — DJP/Kemenkeu
Relevansi untuk OCF: gunakan penyusutan fiskal untuk menghitung pajak aktual yang dibayar ke DJP (Direktorat Jenderal Pajak). Perbedaan akuntansi-fiskal menghasilkan deferred tax (pajak tangguhan) dalam laporan keuangan. Untuk ujian sederhana, biasanya satu angka penyusutan digunakan tanpa dibedakan.
Peta Konsep: ICF → OCF → TCF
Coba Sendiri: ICF, OCF Tiga Metode, TCF — Satu Alur
Ubah angka investasi, pendapatan, dan nilai residu, lalu amati ICF, ketiga metode OCF, dan TCF selalu bermuara ke jawaban yang sama.
Diskusi Kelas & Soal Mini
💬 Diskusi 1 — Sunk Cost
PT Maju Jaya ingin membeli mesin pengolah sawit Rp 1,2 M. Mereka sudah mengeluarkan Rp 150 jt untuk survei pasar tahun lalu. Apakah Rp 150 jt masuk ICF? Jelaskan!
Petunjuk: ingat definisi sunk cost.
💬 Diskusi 2 — Opportunity Cost
Gudang milik perusahaan (nilai buku Rp 500 jt) akan dipakai proyek baru. Jika gudang bisa disewakan Rp 80 jt/thn, apa implikasinya untuk OCF?
Petunjuk: apakah opportunity cost dimasukkan?
🧮 Soal Mini A — OCF
Hitung OCF jika EBIT = Rp 150 jt, D = Rp 60 jt, t = 22%. Verifikasi dengan Metode 2.
Jawaban: M1: 150+60−33 = 177; M2: 117+60 = 177 ✓
🧮 Soal Mini B — TCF
Mesin dijual di akhir proyek Rp 120 jt; NB = Rp 0. Modal kerja direcovery Rp 50 jt. Hitung TCF!
Jawaban: NRBP = 120×0,78 = 93,6; TCF = 93,6 + 50 = Rp 143,6 jt
Ringkasan & Persiapan Pertemuan 13
✓ Yang Anda Kuasai Hari Ini
ICF = investasi awal + modal kerja ± pajak aset lama (HDN-1: −Rp 878,3 jt)
OCF = tiga metode, satu jawaban (HDN-2: Rp 236 jt; proyek mesin: Rp 326 jt)
TCF = nilai residu bersih + recovery modal kerja (PLTS HDN-3: Rp 236 jt)
Sunk cost diabaikan; opportunity cost dimasukkan
OCF ≠ laba bersih (selisih = penyusutan; PPh Badan 22%)
📆 Persiapan Pertemuan 13 — Capital Budgeting Decisions
📖 Baca: Brigham & Houston (2018), bab NPV, IRR, MIRR (modified internal rate of return), Payback