stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-11
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 11: Kebutuhan Dana, Sumber Dana & Biaya Modal

Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Anggaran dan Perencanaan Bisnis

Pertemuan 11 — Kebutuhan Dana, Sumber Dana & Biaya Modal

Berapa dana yang dibutuhkan? Dari mana sumbernya? Berapa harganya? Tiga pertanyaan ini harus terjawab sebelum rencana bisnis layak disebut lengkap.

RPS MINGGU 12 • SUB-CPMK 12 • DURASI 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mengestimasi kebutuhan & sumber dana serta biaya modal (Sub-CPMK 12). Secara rinci:

Capaian 1 — Kebutuhan Dana
Menghitung kebutuhan modal kerja (siklus operasi × biaya harian) dan menyusun neraca awal proyek.
Capaian 2 — Sumber Dana
Membedakan ekuitas vs utang; mengenal instrumen Indonesia: KUR (Kredit Usaha Rakyat), LPDB, obligasi korporasi, IPO/rights issue BEI (Bursa Efek Indonesia).
Capaian 3 — Biaya Modal
Menghitung Kd(1−t) (cost of debt setelah pajak), Ke via CAPM/Gordon, dan WACC (Weighted Average Cost of Capital — biaya modal rata-rata tertimbang) dengan benar.
Capaian 4 — Struktur Dana
Menyusun tabel sources & uses of funds dan menentukan debt-equity ratio (rasio utang terhadap ekuitas) yang wajar.

Sebelum Bisnis Jalan: Dari Mana Uangnya?

Ide bagus tidak cukup. Investor, bankir, dan mitra bisnis selalu bertanya dua hal: berapa yang dibutuhkan, dan dari mana sumbernya?

Skenario A — Tanpa Perencanaan Dana
Usaha kuliner mulai beroperasi tanpa menghitung modal kerja. Bulan ke-3 kas habis untuk gaji dan bahan baku, padahal piutang (tagihan kepada pelanggan yang belum dibayar) dari restoran mitra belum cair. Bisnis berhenti bukan karena tidak laku, tetapi karena salah atur dana.
Skenario B — Dengan Perencanaan Dana
Wirausahawan menghitung siklus operasi 30 hari dan kebutuhan modal kerja Rp 240 juta. Mengajukan KUR Mikro Rp 100 juta, sisanya modal sendiri. WACC 9,8%. Bisnis berjalan tanpa krisis kas.
Kegagalan bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah — sesuai UU 20/2008 jo. PP 7/2021) sering bukan karena produk yang buruk, melainkan karena kekurangan modal kerja yang tidak terencana.
Bagian 1 dari 4
Estimasi Kebutuhan Investasi

Dua komponen utama: aktiva tetap untuk kapasitas jangka panjang, dan modal kerja untuk operasi harian — keduanya harus direncanakan sebelum mencari sumber dana.

Aktiva Tetap Modal Kerja

Total Kebutuhan Dana = Aktiva Tetap + Modal Kerja

Aktiva Tetap (Fixed Assets)
Investasi sekali di awal — jangka panjang. Contoh: tanah, bangunan pabrik/toko, mesin produksi, kendaraan, peralatan TI, perizinan. Sifat: tidak habis dalam satu siklus operasi; disusutkan (depreciated — alokasi biaya aktiva tetap secara periodik ke laporan laba rugi) setiap tahun.
Modal Kerja (Working Capital)
Investasi yang berputar terus selama bisnis beroperasi. Contoh: kas minimum, persediaan (inventory — stok bahan/produk belum dijual) bahan baku, barang jadi, piutang usaha (accounts receivable). Sifat: terikat dalam siklus operasi; kembali jadi kas ketika produk terjual & piutang tertagih.
Total Investasi = Aktiva Tetap + Modal Kerja Bersih Awal
Modal kerja bukan pengeluaran habis — ia berputar. Tetapi perputarannya tidak instan: selama masa tunggu itulah diperlukan pendanaan.

Estimasi Aktiva Tetap — Rincian Investasi Awal

Aktiva tetap dirinci dari daftar semua aset yang dibutuhkan. Tidak ada angka yang boleh dikira-kira tanpa dasar.

KomponenDasar EstimasiNilai (Rp)
Tanah (200 m²)Harga pasar / NJOP (Nilai Jual Objek Pajak — dasar PBB)400.000.000
Bangunan pabrik (150 m²)RAB (Rencana Anggaran Biaya) @Rp 3 jt/m²450.000.000
Mesin produksi (2 unit)Penawaran resmi supplier300.000.000
Kendaraan operasionalNJKB (Nilai Jual Kendaraan Bermotor — dasar pajak kendaraan)250.000.000
Peralatan kantor & TIKebutuhan administratif50.000.000
Sub-total Aktiva Tetap1.450.000.000
Biaya pra-operasi (izin, studi, dll)Estimasi anggaran40.000.000
Total Aktiva Tetap + Pra-operasi1.490.000.000
Setiap baris harus punya dasar estimasi (penawaran, NJOP, RAB) — studi kelayakan serius tidak boleh hanya "kira-kira". Biaya pra-operasi dicatat terpisah sebagai aktiva tak berwujud/biaya ditangguhkan.

Modal Kerja = Siklus Operasi × Biaya Operasi Harian

Semakin panjang siklus operasi (operating cycle — total waktu dari pembelian bahan baku hingga penerimaan kas), semakin besar dana yang tertahan dan harus dibiayai.

BeliBahan Bakut = 0ProsesProduksi+ Pb hariJual →Piutang+ Pp hariKasKembali+ Pr hariSiklus Operasi = Pb + Pp + Pr hari — seluruh periode ini butuh pendanaan
Kebutuhan Modal Kerja = Siklus Operasi (hari) × Biaya Operasi Harian
Contoh cepat: Siklus operasi 45 hari, biaya operasi harian Rp 8 juta → Modal kerja = 45 × Rp 8 jt = Rp 360 juta.

Hitung dari Nol — HDN-1: Modal Kerja & WACC Sederhana

Usaha makanan: siklus operasi 45 hari, biaya operasi harian Rp 8.000.000. Dana: 60% ekuitas + 40% utang bank @11%/thn; PPh Badan 22%.

Langkah A — Kebutuhan Modal Kerja

LangkahPerhitunganNilai
Data siklus operasiDiberikan45 hari
Biaya operasi harianDiberikanRp 8.000.000/hari
Kebutuhan modal kerja45 × Rp 8.000.000Rp 360.000.000

Langkah B — WACC (pratinjau; derivasi penuh di Slide 18–22)

KomponenBobot (W)Biaya Setelah PajakW × Biaya
Utang — Kd(1−t)0,4011% × (1−0,22) = 8,58%3,432%
Ekuitas — Ke0,60Asumsi Ke = 14%8,400%
WACC11,832%
Modal kerja = Rp 360 juta. WACC ≈ 11,83% — batas minimum imbal hasil proyek agar layak secara finansial.

Proyeksi Neraca Awal — Total Kebutuhan Dana

Neraca awal (opening balance sheet — laporan posisi keuangan saat proyek mulai) merangkum semua kebutuhan dana di sisi aktiva, dan rencana sumber di sisi pasiva.

AKTIVARpPASIVA & EKUITASRp
Aktiva TetapUtang Jangka Panjang
Aktiva tetap (net)1.500.000.000Pinjaman bank744.000.000
Aktiva Lancar (Modal Kerja)Ekuitas
Kas minimum60.000.000Modal disetor (paid-in capital)1.116.000.000
Persediaan180.000.000
Piutang120.000.000
Total Aktiva1.860.000.000Total Pasiva + Ekuitas1.860.000.000
Total aktiva = total kebutuhan dana. Sisi pasiva = rencana sumber: utang 40% dan ekuitas 60% dari total Rp 1,86 miliar. Neraca ini mencatat aktiva tetap & modal kerja sebelum biaya pra-operasi — sehingga total Rp 1,86 miliar dan pecahan utang/ekuitas = Rp 744 jt / Rp 1.116 jt. Di HDN-3 (Slide 23), biaya pra-operasi Rp 40 jt dimasukkan, total naik ke Rp 1,9 miliar — kedua tabel konsisten.
Bagian 2 dari 4
Sumber Pembiayaan

Dari mana uang datang? Pilihan ekuitas (modal sendiri) vs utang (modal luar), instrumen spesifik Indonesia, dan bagaimana memilih yang tepat.

Ekuitas Utang

Dua Sumber Besar: Ekuitas dan Utang

Ekuitas (Modal Sendiri)
Dana dari pemilik atau investor saham. Tidak ada kewajiban membayar bunga atau cicilan. Biayanya berupa imbal hasil yang diharapkan pemilik (Ke). Contoh: setoran modal pendiri, laba ditahan (retained earnings — laba tidak dibagikan sebagai dividen), IPO/rights issue. Sifat: tidak ada jatuh tempo; pemilik menanggung risiko paling tinggi.
Utang (Modal Luar / Leverage)
Dana dari kreditor (bank, pemegang obligasi, lessor). Ada kewajiban membayar bunga dan pokok sesuai jadwal. Biayanya adalah suku bunga × (1 − pajak). Contoh: kredit bank, obligasi korporasi, leasing. Sifat: ada jatuh tempo; namun ada keuntungan pajak (tax shield).
Tax shield: bunga utang boleh dikurangkan dari laba kena pajak → pemerintah ikut menanggung sebagian biaya utang. Ini yang membuat Kd(1−t) < Ke umumnya. Konsep ini diformalkan oleh Modigliani & Miller (1963).

Instrumen Utang: Tiga Jalur Utama

1. Kredit Bank
Pinjaman langsung dari bank. Fleksibel (jangka pendek/menengah/panjang). Bunga tetap atau mengambang. Memerlukan agunan/jaminan (collateral — aset yang dijaminkan). Cocok untuk modal kerja maupun aktiva tetap.
2. Obligasi Korporasi
Surat utang jangka menengah–panjang dijual ke publik/investor institusi. Di Indonesia diperingkat Pefindo (PT Pemeringkat Efek Indonesia); tercatat di KSEI (PT Kustodian Sentral Efek Indonesia). Cocok perusahaan besar. Contoh: obligasi TLKM, BBCA, PT SMI.
3. Leasing (PSAK 116)
Sewa-guna-usaha — menggunakan aset (mesin, kendaraan) tanpa membeli langsung. Pembayaran periodik ke lessor. Sejak PSAK 116 (eks PSAK 73, efektif 2020; penomoran baru SAK Indonesia 1 Jan 2024): sewa jangka panjang dicatat sebagai aset hak guna (right-of-use asset) & liabilitas sewa di neraca.
Leasing bukan "tidak berutang" — PSAK 116 (eks PSAK 73) mewajibkan pengakuan di neraca. Ini memengaruhi rasio leverage (penggunaan utang) perusahaan.

Sumber Dana Khusus Indonesia — UMKM & Korporasi

InstrumenPengelolaPlafon & SyaratSuku Bunga 2025
KUR Super MikroBank penyalur (BRI, BNI, Mandiri, dll)Maks Rp 10 juta; tanpa agunan6% p.a. bersubsidi
KUR MikroBank penyalurRp 10 jt – Rp 100 jt; usaha mikro produktif6% p.a. bersubsidi
KUR KecilBank penyalurRp 100 jt – Rp 500 jt; usaha kecil; agunan6% p.a. bersubsidi
LPDB-KUMKMKemenkop UKMKoperasi & UKM; pinjaman/pembiayaan3–6% p.a. (misi pemerintah)
Obligasi KorporasiBEI / Pasar ModalKorporasi besar; jangka 2–7 tahunSesuai peringkat & kondisi pasar
KUR (Kredit Usaha Rakyat — program kredit bersubsidi pemerintah Indonesia melalui bank penyalur) adalah alternatif utang bersubsidi untuk UMKM. Dengan bunga hanya 6% p.a. (jauh di bawah kredit komersial ~10–12%), Kd(1−t) KUR menjadi sangat rendah. LPDB-KUMKM (Lembaga Pengelola Dana Bergulir KUMKM) menyediakan pembiayaan 3–6% khusus koperasi & UKM.

Ekuitas Publik: IPO & Rights Issue di BEI

Perusahaan yang sudah cukup besar bisa menghimpun ekuitas dari publik melalui pasar modal Indonesia.

PersiapanInternalApprovalOJKRoad-showCatatdi BEIPublik
IPO (Initial Public Offering)
Penawaran saham perdana ke publik. Proses: persiapan → approval OJK (Otoritas Jasa Keuangan — regulator pasar modal Indonesia) → roadshow → catat di BEI/IDX. Contoh: IPO Bukalapak (BUKA) 2021 ~Rp 21,9 triliun; IPO PGEO 2023. Dana masuk sebagai ekuitas — tidak ada kewajiban membayar kembali.
Rights Issue (HMETD)
Penerbitan saham baru untuk pemegang saham lama (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu). Lebih cepat & murah dari IPO. Contoh: rights issue BBRI, BMRI untuk perkuat CAR (Capital Adequacy Ratio — rasio kecukupan modal). Dana masuk sebagai ekuitas; tidak ada bunga.
Meski tidak ada bunga, ekuitas tidak gratis — pemegang saham mengharapkan imbal hasil (Ke) yang biasanya lebih tinggi dari Kd(1−t). Lalai memberi return → harga saham jatuh.

Struktur Modal Target — Berapa Idealnya Debt-Equity Ratio?

Tidak ada rumus ajaib untuk struktur modal (capital structure — kombinasi ekuitas dan utang) terbaik, tetapi ada prinsip-prinsip yang memandu.

FaktorMendorong Lebih Banyak UtangMendorong Lebih Banyak Ekuitas
Arus kasStabil & dapat diprediksiTidak pasti / musiman
AsetBanyak aset berwujud (jaminan)Aset tak berwujud (merek, paten)
PajakTarif pajak tinggi (tax shield bernilai)Tarif pajak rendah
Ukuran bisnisPerusahaan besar (akses kredit murah)Startup/UMKM
Risiko bisnisRisiko operasi rendahRisiko operasi tinggi
DER (Debt-Equity Ratio) = Total Utang ÷ Total Ekuitas
Trade-off klasik: utang lebih banyak → tax shield besar tapi risiko finansial (financial risk — risiko tidak mampu bayar kewajiban) naik. Titik optimal = di mana WACC minimum. — Modigliani & Miller (1958, 1963)

Studi Kasus: Pak Arif & Kedai Kopi Nusantara

Total kebutuhan dana Rp 500 juta. Dua alternatif pembiayaan (angka Ke = asumsi ilustrasi; derivasi penuh di Slide 19–20):

Alternatif A — Dominan Utang (70:30)
Utang KUR Kecil Rp 350 juta @6%; Ekuitas Rp 150 juta.
Kd(1−t) = 6% × (1−0,22) = 4,68%
Ke (asumsi) = 18%
WACC = 0,70×4,68% + 0,30×18% = 3,276% + 5,4% = 8,676%
Cicilan KUR bulanan memberatkan arus kas tahun pertama.
Alternatif B — Berimbang (40:60)
Utang KUR Rp 200 juta @6%; Ekuitas Rp 300 juta.
Kd(1−t) = 4,68% (sama)
Ke (asumsi) = 16%
WACC = 0,40×4,68% + 0,60×16% = 1,872% + 9,6% = 11,472%
Lebih aman — tanpa cicilan tetap yang berat.
Paradoks: Alternatif A punya WACC lebih rendah tetapi risiko arus kas lebih tinggi — cicilan wajib dibayar meski penjualan belum stabil. Pilihan bergantung pada keyakinan atas proyeksi pendapatan.
Bagian 3 dari 4
Biaya Modal

Berapa "harga" setiap rupiah dana yang dipakai? Cost of debt, cost of equity (CAPM & Gordon), dan WACC — angka yang menentukan ambang batas kelayakan investasi.

Kd(1−t) Ke WACC

Cost of Debt — Kd(1−t): Biaya Utang Setelah Pajak

Bunga utang mengurangi laba kena pajak → pemerintah ikut menanggung sebagian biaya via penghematan pajak (tax shield).

Kd(1−t) = Suku Bunga × (1 − Tarif PPh Badan)
Sumber UtangSuku Bunga (Kd)Tax ShieldKd Setelah Pajak
KUR Kecil (Kemenkeu 2025)6,0%× (1−0,22)4,68%
Kredit investasi bank komersial11,0%× (1−0,22)8,58%
Obligasi korporasi (investment grade)9,5%× (1−0,22)7,41%
PPh Badan (Pajak Penghasilan Badan) = 22% — tarif berlaku (UU PPh diamendemen UU CiptaKerja 2020). Jangan pakai 25% (tarif lama sebelum 2020) — bedanya signifikan pada hasil WACC.

Cost of Equity (Ke) — Metode CAPM

Pemegang saham menanggung risiko lebih tinggi dari pemberi pinjaman → mereka menuntut imbal hasil lebih tinggi, yang kita hitung dengan CAPM (Capital Asset Pricing Model — Sharpe, 1964).

Ke = Rf + β × (Rm − Rf)
ParameterKeteranganNilai Ilustrasi
Rf (risk-free rate)SUN (Surat Utang Negara) 10 thn Indonesia — imbal hasil aset tanpa risiko~6,8% (medio 2026; verifikasi BI/DJPPR)
β (beta)Risiko sistematis: β=1 se-volatil pasar; β>1 lebih volatil; β<1 lebih stabil1,2 (ilustrasi)
ERP (Rm−Rf)Equity Risk Premium — imbal hasil ekstra pasar di atas risk-free (Damodaran, Indonesia)~6% (estimasi; cek pages.stern.nyu.edu/~adamodar)
Contoh: Rf=6,8%; β=1,2; ERP=6% → Ke = 6,8% + 1,2 × 6% = 6,8% + 7,2% = 14,0%. Bisnis non-publik: gunakan β rata-rata industri dari data Damodaran, lalu levered sesuai DER.

Cost of Equity (Ke) — Alternatif: Gordon Growth Model

Untuk perusahaan yang sudah membayar dividen dan tumbuh stabil, Ke bisa diestimasi dari harga pasar saham dan pertumbuhan dividen (Gordon, 1959).

Ke = (D1 ÷ P0) + g
ParameterKeteranganContoh (emiten fiktif — ilustrasi)
D0Dividen per saham yang baru dibayarkanRp 200/saham
gLaju pertumbuhan dividen berkelanjutan5%
D1D0 × (1 + g)Rp 200 × 1,05 = Rp 210
P0Harga saham saat iniRp 4.000/saham
Ke(D1 ÷ P0) + g(Rp 210 ÷ Rp 4.000) + 5% = 5,25% + 5% = 10,25%
Gordon Growth hanya valid jika g stabil dan g < Ke. Jangan pakai untuk startup atau perusahaan yang tidak membayar dividen — gunakan CAPM. Catatan: tarif PPh atas dividen bersifat kontekstual; angka Ke di sini adalah ilustrasi historis.

WACC — Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang

WACC menggabungkan biaya setiap sumber dana dengan bobotnya (proporsi dalam struktur modal).

WACC = Wd × Kd(1−t) + We × Ke
SimbolMaknaCatatan
WdProporsi/bobot utang dalam total pendanaanWd + We = 1
WeProporsi/bobot ekuitas dalam total pendanaan
Kd(1−t)Biaya utang setelah pajak (Slide 18)Suku bunga × (1 − tarif pajak)
KeBiaya ekuitas (CAPM/Gordon — Slide 19–20)Imbal hasil minimum pemilik

Perluasan jika ada saham preferen:

WACC = Wd × Kd(1−t) + Wps × Kps + We × Ke
WACC = hurdle rate: setiap investasi yang IRR (Internal Rate of Return — tingkat diskonto NPV=0) > WACC → layak (menciptakan nilai). IRR < WACC → tolak. Ini jembatan antara keputusan pendanaan & investasi.

Hitung dari Nol — HDN-2: WACC Lengkap

PT Nusantara Maju: 40% utang bank @11%/thn + 60% ekuitas (Rf=6,8%; β=1,2; ERP=6%). PPh Badan 22%. Hitung WACC.

Langkah 1 — Kd(1−t)

ItemPerhitunganNilai
Kd (suku bunga)11%0,1100
(1 − t)1 − 0,220,7800
Kd(1−t)11% × 0,788,58%

Langkah 2 — Ke (CAPM)

ItemPerhitunganNilai
RfSUN 10 thn6,80%
β × ERP1,2 × 6%7,20%
Ke6,80% + 7,20%14,00%

Langkah 3 — WACC

KomponenBobot (W)BiayaW × Biaya
Utang0,408,58%3,432%
Ekuitas0,6014,00%8,400%
WACC11,832%
WACC ≈ 11,83% — setiap proyek PT Nusantara Maju harus menghasilkan > 11,83% agar layak menciptakan nilai.

Coba Sendiri: Rakit WACC dari Kd, Ke, dan Bobotnya

Geser suku bunga utang, beta, ERP, dan struktur modal, lalu amati Kd(1-t), Ke CAPM, dan WACC terhitung ulang otomatis.

Hitung dari Nol — HDN-3: Tabel Sources & Uses of Funds

Dari proyeksi investasi awal, susun rencana pendanaan yang seimbang (total uses = total sources). Data: Aktiva tetap Rp 1.500.000.000 · Modal kerja Rp 360.000.000 · Biaya pra-operasi Rp 40.000.000 · Struktur modal 60% ekuitas / 40% utang.

USES OF FUNDS (Penggunaan)RpSOURCES OF FUNDS (Sumber)Rp
Aktiva Tetap1.500.000.000Modal Sendiri — Ekuitas (60%)1.140.000.000
Modal Kerja360.000.000Pinjaman Bank — Utang (40%)760.000.000
Biaya Pra-Operasi40.000.000
Total Uses1.900.000.000Total Sources1.900.000.000
Verifikasi proporsi: 1.140.000.000 ÷ 1.900.000.000 = 60% ✓  |  760.000.000 ÷ 1.900.000.000 = 40% ✓
Total uses = total sources = Rp 1,9 miliar. Tabel ini membuktikan pendanaan cukup dan struktur modal sesuai target 60:40. Kalau sisi kiri ≠ sisi kanan, ada komponen yang terlewat atau terhitung ganda.

Empat Jebakan yang Sering Muncul

1 Lupa Tax Shield pada Kd
Kd dalam WACC adalah Kd × (1−t), bukan Kd mentah. Kesalahan ini membuat WACC terlalu tinggi → proyek yang sebenarnya layak terlihat tidak layak.
2 Pakai Tarif Pajak Salah
PPh Badan Indonesia = 22% (sejak UU CiptaKerja 2020), bukan 25% (tarif lama). Perbedaan 3 poin persen mengubah Kd(1−t) secara signifikan dan bisa membalik kesimpulan kelayakan.
3 Modal Kerja Bukan Investasi
Modal kerja bukan biaya habis di laba rugi — ia adalah investasi yang harus muncul di uses of funds dan dibiayai seperti aktiva tetap. Sering terlewat dalam proposal pemula.
4 Utang Murah = Pilihan Terbaik
WACC rendah karena banyak utang murah berbahaya jika arus kas proyeksi tidak mampu menutup cicilan wajib di tahun-tahun awal. Evaluasi selalu dari profil arus kas juga — bukan WACC semata.
Checklist sebelum finalisasi WACC: (1) Kd sudah dikali (1−t)? (2) Tarif pajak 22%? (3) Modal kerja masuk uses of funds? (4) Simulasi arus kas skenario pesimis (pessimistic scenario — asumsi kondisi terburuk)?

Peta Konsep: Kebutuhan & Biaya Modal — Semuanya Terhubung

Rencana PendanaanBisnisKEBUTUHANAktiva Tetap+ Modal Kerja→ Neraca AwalSUMBER DANAEkuitas (IPO/rights)Utang (KUR/bank/obligasi/leasing)BIAYA MODALKd(1−t) + Ke (CAPM/Gordon)→ WACC → Hurdle RateSources & UsesSources & UsesNPV / IRR Proyek(Pertemuan 12)
WACC bukan sekadar angka administratif — ia adalah jembatan antara keputusan pendanaan dan keputusan investasi. — Brigham & Houston (2018)

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 12

Tiga Takeaway Hari Ini
  1. Kebutuhan dana = aktiva tetap + modal kerja (siklus operasi × biaya harian).
  2. Sumber dana = ekuitas (mahal secara implisit, aman) vs utang (murah via tax shield, tapi ada kewajiban cicilan). Indonesia: KUR 6%, IPO/rights issue BEI.
  3. WACC = Wd×Kd(1−t) + We×Ke — batas minimum imbal hasil proyek.
Persiapan Pertemuan 12
  • Bawa kalkulator — siap menghitung NPV dan IRR proyek.
  • Review: present value (PV) dari pertemuan TVM — WACC akan jadi discount rate.
  • Baca: Murdifin Haming & Salim Basmalah, Bab Penilaian Proyek.
  • Latihan: susun sources & uses of funds bisnis yang Anda rencanakan (tugas individu).
Pertanyaan refleksi: Jika WACC proyek Anda 12% dan IRR hanya 9% — apa keputusan Anda, dan mengapa?

📖 Baca juga: Wacc — penjelasan mendalam dan contoh numerik.