‹ Daftar slidePertemuan 7: Anggaran Harga Pokok Produksi/Penjualan dan Anggaran Laba Rugi📥 Excel
FEB UNDIP · Anggaran dan Perencanaan Bisnis
Anggaran dan Perencanaan Bisnis
Pertemuan 7 · Anggaran Harga Pokok & Laba Rugi
Mengompilasi semua sub-anggaran (P2–P6) menjadi dua laporan puncak anggaran operasional: harga pokok dan laba rugi yang direncanakan.
RPS Minggu 7 · SUB-CPMK 7 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menyusun Anggaran Harga Pokok dan Laba Rugi (Sub-CPMK 7). Secara rinci:
Capaian 1 — HPP Produksi
1
Menyusun anggaran harga pokok produksi (COGM) dari bahan baku, TKL, BOP, dan penyesuaian WIP (barang dalam proses).
Capaian 2 — HPP Penjualan
2
Menyusun anggaran harga pokok penjualan (COGS) dan menghitung harga pokok per unit dari kasus konkret.
Capaian 3 — Laba Rugi
3
Menyusun anggaran laba rugi penuh — penjualan hingga laba bersih, dengan beban usaha, bunga, dan PPh Badan 22%.
Capaian 4 — Margin
4
Menghitung & menafsirkan margin laba (kotor/operasi/bersih) serta membandingkannya dengan target manajemen.
Penjualan Direncanakan Rp 765 Juta — Untungnya Berapa?
Pemilik bertanya hal sederhana. Tapi jawabannya butuh enam lapis pengurangan. Tebak dulu sebelum kita hitung.
Yang Mudah Dilihat
Rp 765 jt
Penjualan Direncanakan
Angka ini selalu paling menonjol di benak orang — terdengar besar dan menjanjikan bagi pemilik.
Yang Sering Terlupa
− HPP − Beban − Bunga − Pajak
Dari Rp 765 juta itu masih harus dikurangi harga pokok, beban pemasaran, beban admin, bunga, dan pajak — baru ketemu laba bersih.
Setelah semua dikurangi, laba bersih anggaran hanya Rp 78.390.000 (≈ 10% dari penjualan). Hari ini kita belajar menelusuri setiap lapis pengurangan itu secara persis — dari baris penjualan sampai laba bersih.
Bagian 1 dari 4
Posisi Anggaran HPP & Laba Rugi dalam Master Budget
Sebelum menghitung, pahami dulu dari mana data datang dan ke mana ia bermuara — serta tiga jenis persediaan yang menentukan aliran biaya.
Dari Anggaran Penjualan (P2) sampai Anggaran Laba Rugi (P7)
Anggaran laba rugi adalah hilir. Hampir semua angkanya berasal dari sub-anggaran yang sudah Anda susun.
Tugas P7 bukan menciptakan angka baru, melainkan mengompilasi angka yang sudah ada ke dalam dua laporan: harga pokok dan laba rugi.
Tiga Jenis Persediaan — Kunci Aliran Biaya di Pabrik
Biaya tidak langsung jadi beban. Ia mengalir lewat tiga "kolam" persediaan sebelum diakui sebagai harga pokok penjualan.
1 — Bahan Baku
BB
Belum Dipakai
Kayu, paku, lem yang belum masuk produksi. Saat dipakai → masuk biaya produksi.
2 — Barang Dalam Proses
WIP
Setengah Jadi
Produk setengah jadi di lantai pabrik. Saat selesai → keluar sebagai barang jadi.
3 — Barang Jadi
BJ
Siap Dijual
Produk siap dijual di gudang. Saat terjual → baru menjadi harga pokok penjualan.
Aturan emas: biaya baru menjadi beban (HPP penjualan) saat produknya TERJUAL, bukan saat dibuat. Sisanya menumpuk di persediaan sebagai aset.
Bagian 2 dari 4
Anggaran Harga Pokok: Produksi → Penjualan
Dua langkah berurutan: hitung biaya membuat barang (COGM), lalu sesuaikan persediaan barang jadi untuk dapat biaya barang terjual (COGS).
COGM → (± persediaan barang jadi) → COGS
Anggaran Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured)
Menjawab: berapa total biaya barang yang selesai diproduksi periode ini?
HPP Produksi = (Bahan Baku Dipakai + TKL + BOP) + WIP Awal − WIP Akhir
Baris
Keterangan
Bahan baku dipakai
Bahan masuk produksi (dari anggaran bahan baku P3) — bukan yang dibeli
+ Tenaga kerja langsung (TKL)
Upah pekerja yang langsung mengerjakan produk (P3)
+ BOP dibebankan
Overhead pabrik: listrik mesin, penyusutan peralatan, dll (P4)
= Total biaya produksi
Jumlah tiga komponen di atas
+ WIP awal − WIP akhir
Penyesuaian barang dalam proses (setengah jadi)
= HPP PRODUKSI
Biaya barang yang benar-benar selesai diproduksi
Tiga komponen biaya (bahan + TKL + BOP) disebut biaya produksi. Tambah WIP awal, kurangi WIP akhir → barulah jadi harga pokok produksi.
Hitung dari Nol — HDN-1: Anggaran HPP Produksi PT Sentosa Mebel
Data: Bahan baku dipakai Rp 240 jt, TKL Rp 150 jt, BOP Rp 110 jt. WIP awal Rp 15 jt, WIP akhir Rp 20 jt. Produksi selesai 10.000 unit kursi.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Bahan baku dipakai
(dari anggaran P3)
Rp 240.000.000
+ Tenaga kerja langsung
(dari anggaran P3)
Rp 150.000.000
+ BOP dibebankan
(dari anggaran P4)
Rp 110.000.000
= Total biaya produksi
240 + 150 + 110 jt
Rp 500.000.000
+ WIP awal
Rp 15.000.000
− WIP akhir
(Rp 20.000.000)
= HPP PRODUKSI
500 + 15 − 20 jt
Rp 495.000.000
HPP produksi per unit
495.000.000 ÷ 10.000
Rp 49.500/unit
HPP produksi = Rp 495.000.000 untuk 10.000 kursi, atau Rp 49.500 per kursi. Angka per unit ini dipakai untuk menilai persediaan barang jadi.
Anggaran Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold)
Menjawab pertanyaan berbeda: berapa biaya barang yang benar-benar TERJUAL? Tinggal sesuaikan persediaan barang jadi.
HPP Penjualan = HPP Produksi + Barang Jadi Awal − Barang Jadi Akhir
Baris
Keterangan
HPP Produksi
(dari Slide sebelumnya — biaya semua barang selesai diproduksi)
+ Persediaan barang jadi awal
Stok siap jual dari periode lalu
= Barang tersedia untuk dijual
HPP produksi + stok awal
− Persediaan barang jadi akhir
Stok yang belum terjual → masuk neraca sebagai aset
= HPP PENJUALAN
Biaya barang yang benar-benar terjual periode ini
Pola penyesuaiannya identik dengan COGM, tetapi kali ini persediaannya barang jadi, bukan barang dalam proses. Selalu: + awal, − akhir.
Hitung dari Nol — HDN-1 (Lanjutan): HPP Penjualan
Lanjut PT Sentosa: HPP produksi Rp 495 jt. Barang jadi awal Rp 30 jt, barang jadi akhir Rp 49,5 jt (= 1.000 unit × Rp 49.500). Penjualan direncanakan 9.000 unit.
Langkah
Perhitungan
Nilai
HPP Produksi
(dari HDN-1)
Rp 495.000.000
+ Barang jadi awal
Rp 30.000.000
= Barang tersedia dijual
495 + 30 jt
Rp 525.000.000
− Barang jadi akhir
1.000 unit × Rp 49.500
(Rp 49.500.000)
= HPP PENJUALAN
525 − 49,5 jt
Rp 475.500.000
HPP penjualan per unit
475.500.000 ÷ 9.000
± Rp 52.833/unit
HPP penjualan = Rp 475.500.000 untuk 9.000 kursi terjual. Per unit ± Rp 52.833 (lebih tinggi dari biaya produksi karena memuat stok awal berbiaya berbeda — wajar dalam akuntansi biaya).
Total biaya semua kursi yang selesai diproduksi. Ada yang langsung dijual, ada yang masuk gudang.
HPP Penjualan — Apa yang Terjual
9.000
unit benar-benar terjual
Hanya biaya kursi yang laku dijual. Biaya 1.000 kursi sisa ditahan di persediaan (neraca), belum jadi beban.
Selisih Rp 19,5 jt = biaya 1.000 kursi yang belum terjual. Ia bukan hilang — ia "parkir" di persediaan barang jadi (aset di neraca), menunggu terjual di periode berikutnya.
Bagian 3 dari 4
Anggaran Laba Rugi: Penjualan → Laba Bersih
Puncak anggaran operasional. Lima garis berurutan, enam pengurangan, satu jawaban: laba bersih yang direncanakan.
Penjualan − HPP − Beban Usaha − Bunga − Pajak = Laba Bersih
Anatomi Laba Rugi: Lima Garis Laba yang Wajib Dikenali
Laporan laba rugi punya lima "garis laba" bertingkat. Tiap garis menjawab pertanyaan berbeda.
Struktur bertingkat ini selaras PSAK 1 (penyajian laporan laba rugi). Tiap garis = satu pertanyaan manajerial yang berbeda dan penting untuk diketahui secara terpisah.
Garis 1–2: Penjualan, HPP Penjualan, dan Laba Kotor
Dua baris pertama anggaran laba rugi — keduanya sudah Anda hitung di sub-anggaran sebelumnya.
Penjualan (dari P2)
Rp 765 jt
9.000 unit × Rp 85.000
Baris teratas laporan laba rugi. Selalu dari anggaran penjualan.
− HPP Penjualan
(Rp 475,5 jt)
Dari HDN-1 lanjutan
Biaya barang yang benar-benar terjual. Dikurangkan dari penjualan.
= Laba Kotor
Rp 289,5 jt
765 − 475,5 jt
Untung "mentah" dari produk, sebelum beban operasi dipotong.
Laba Kotor = Penjualan − HPP Penjualan
Laba kotor Rp 289,5 jt = bantalan awal untuk menutup semua beban berikutnya. Semakin besar laba kotor, semakin besar ruang untuk beban operasi dan tetap menghasilkan laba bersih yang sehat.
Garis 3: Beban Usaha → Laba Operasi (EBIT)
Beban usaha = biaya menjalankan bisnis di luar pabrik. Dua kelompok besar:
Beban Pemasaran
Rp 95 jt
PT Sentosa Mebel
Iklan, komisi sales, ongkos kirim, promosi produk ke pasar. Datang dari anggaran beban usaha P4.
Laba Operasi (EBIT) = Laba Kotor − Beban Usaha → Rp 289,5 jt − Rp 165 jt = Rp 124.500.000
Beban usaha ≠ biaya produksi. Biaya produksi sudah masuk HPP; beban usaha adalah biaya menjual & mengelola, langsung jadi beban periode (period cost).
Garis 4–5: Beban Bunga, Pajak, dan Laba Bersih
Dua pengurangan terakhir: biaya utang, lalu pajak penghasilan badan.
Baris
Perhitungan
Nilai
Laba Operasi (EBIT)
(dari Slide 16)
Rp 124.500.000
− Beban bunga
Pinjaman Rp 200 jt × 12%/th (dari P6)
(Rp 24.000.000)
= Laba Sebelum Pajak (EBT)
124,5 − 24 jt
Rp 100.500.000
− PPh Badan 22%
Rp 100,5 jt × 22%
(Rp 22.110.000)
= LABA BERSIH
100,5 − 22,11 jt
Rp 78.390.000
PPh Badan = Laba Sebelum Pajak (EBT) × 22% — UU 7/2021 (UU HPP)
Pajak dihitung dari laba sebelum pajak (EBT), BUKAN dari penjualan dan BUKAN dari laba kotor. Beban bunga mengurangi dasar pengenaan pajak.
Hitung dari Nol — HDN-2: Anggaran Laba Rugi Penuh PT Sentosa Mebel
Susun seluruh anggaran laba rugi, dari penjualan sampai laba bersih, dalam satu tabel utuh. Ikuti setiap baris dengan kalkulator.
Baris (Sesuai PSAK 1)
Perhitungan
Nilai
Penjualan
9.000 × Rp 85.000
Rp 765.000.000
− HPP Penjualan
(dari HDN-1 lanjutan)
(Rp 475.500.000)
= Laba Kotor
765 − 475,5 jt
Rp 289.500.000
− Beban pemasaran
(dari anggaran P4)
(Rp 95.000.000)
− Beban adm. & umum
(dari anggaran P4)
(Rp 70.000.000)
= Laba Operasi (EBIT)
289,5 − 165 jt
Rp 124.500.000
− Beban bunga
Rp 200 jt × 12%
(Rp 24.000.000)
= Laba Sebelum Pajak (EBT)
124,5 − 24 jt
Rp 100.500.000
− PPh Badan 22%
Rp 100,5 jt × 22%
(Rp 22.110.000)
= LABA BERSIH
100,5 − 22,11 jt
Rp 78.390.000
Laba bersih anggaran = Rp 78.390.000. Inilah jawaban untuk pemilik: jika rencana berjalan, perusahaan untung ± Rp 78,39 juta tahun depan.
Membaca Anggaran: Tiga Margin Laba
Angka laba mentah belum cukup. Ubah ke persentase dari penjualan agar bisa dinilai dan dibandingkan.
Margin
Rumus
Hitung
Hasil
Margin Laba Kotor
Laba Kotor ÷ Penjualan
289,5 ÷ 765 jt
37,84%
Margin Laba Operasi
EBIT ÷ Penjualan
124,5 ÷ 765 jt
16,27%
Margin Laba Bersih
Laba Bersih ÷ Penjualan
78,39 ÷ 765 jt
10,25%
Target manajemen ilustratif: margin bersih minimal 5%. Anggaran PT Sentosa 10,25% → di atas target. Kalau di bawah, manajemen merevisi harga, biaya, atau volume sebelum tahun berjalan.
Studi Kasus: Margin PT Sentosa vs Emiten Manufaktur Indonesia
Apakah margin bersih ≈ 10% itu bagus? Mari bandingkan dengan orientasi emiten konsumen di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Sentosa (Anggaran)
10,25%
Margin Laba Bersih Anggaran
Cukup sehat untuk UMKM manufaktur furnitur. Di atas target manajemen ≥ 5%.
Orientasi Emiten BEI
INDF / ICBP
Grup Indofood — kode saham BEI
Historis kerap mencatat margin bersih ~1 digit tinggi sampai belasan persen — bervariasi per tahun & segmen produk.
Angka emiten = orientasi historis yang berfluktuasi. Verifikasi ke laporan keuangan terbaru di idx.co.id sebelum dikutip resmi. Tujuan: melatih kebiasaan benchmarking, bukan klaim angka pasti.
Anggaran Neraca — Pelengkap Penutup Master Budget
Setelah anggaran laba rugi, master budget ditutup oleh anggaran neraca (budgeted balance sheet) — gambaran posisi keuangan akhir periode jika rencana terwujud.
Dari Mana Datanya?
Multi-sumber
Saldo kas (anggaran kas P6), persediaan akhir (barang jadi Rp 49,5 jt + WIP + bahan baku), piutang, aset tetap, utang, dan laba ditahan dari laba bersih anggaran.
Bukti Keterhubungan
Laba Bersih
→ Laba Ditahan (Neraca)
Rp 78,39 jt laba bersih anggaran menambah ekuitas/laba ditahan di neraca — inilah jembatan laba rugi → neraca.
Anggaran neraca bukan fokus penilaian hari ini, tetapi penting Anda tahu posisinya: ia menutup lingkaran master budget dan membuktikan semua anggaran saling konsisten.
Lima Jebakan Saat Menyusun Anggaran HPP & Laba Rugi
#
Jebakan
Yang Benar
1
Bahan dibeli dipakai untuk HPP
HPP produksi = bahan yang dipakai, bukan dibeli
2
WIP dan barang jadi tertukar
HPP produksi sesuaikan WIP; HPP penjualan sesuaikan barang jadi
3
HPP produksi dianggap sama dengan HPP penjualan
Keduanya beda karena penyesuaian persediaan barang jadi
4
Pajak dihitung dari laba kotor / penjualan
PPh Badan selalu dari laba sebelum pajak (EBT) × 22%
5
Biaya produksi dicampur beban usaha
Produksi → HPP; pemasaran & admin → beban usaha (period cost)
Tiga cek cepat sebelum menutup anggaran: (1) dipakai bukan dibeli · (2) jenis persediaan benar · (3) pajak dari EBT. Tiga cek ini menutup mayoritas kesalahan.
Bagian 4 dari 4
Rangkuman & Latihan
Cheat sheet rumus inti, peta konsep keterhubungan, latihan kelas, dan persiapan pertemuan berikutnya.
Cheat Sheet — Rumus Inti Pertemuan 7
Konsep
Rumus
Untuk
HPP Produksi (COGM)
(Bahan dipakai + TKL + BOP) + WIP awal − WIP akhir
Biaya barang selesai diproduksi
HPP Penjualan (COGS)
HPP Produksi + BJ awal − BJ akhir
Biaya barang yang terjual
Harga pokok per unit
HPP ÷ jumlah unit
Penilaian persediaan
Laba Kotor
Penjualan − HPP Penjualan
Untung dari produk
Laba Operasi (EBIT)
Laba Kotor − Beban Usaha
Untung dari operasi inti
Laba Sebelum Pajak (EBT)
EBIT − Beban Bunga
Untung setelah biaya utang
Laba Bersih
EBT − (EBT × 22%)
Laba milik pemilik
Margin laba
Laba ÷ Penjualan × 100%
Menilai & membandingkan kinerja
BJ = barang jadi. Pola kunci: persediaan selalu + awal − akhir. Pajak selalu dari EBT × 22% (PPh Badan, UU HPP 2021).
Peta Konsep: Semua Sub-Anggaran Bermuara di Sini
Anggaran HPP & laba rugi adalah simpul pengikat seluruh anggaran operasional — bukti bahwa anggaran adalah sistem yang saling terhubung, bukan tabel-tabel terpisah.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — HPP Penjualan
PT Cahaya
HPP produksi Rp 440 jt, barang jadi awal Rp 0, barang jadi akhir Rp 44 jt. Unit terjual 8.000.
Hitung: HPP penjualan total & per unit terjual.
Petunjuk: HPP produksi + BJ awal − BJ akhir
Latihan 2 — Laba Bersih & Margin
PT Cahaya
Penjualan Rp 600 jt, HPP penjualan Rp 390 jt, beban usaha Rp 90 jt, beban bunga Rp 15 jt. PPh Badan 22%.
Hitung: laba bersih & margin bersih.
Petunjuk: susun dari atas ke bawah, pajak dari EBT
Kerjakan 7 menit. Susun dari atas ke bawah (penjualan → laba bersih), pakai pola + awal − akhir untuk persediaan, dan hitung pajak dari EBT. Lalu kita bahas bersama.
Persiapan Pertemuan 8
Hari ini Anda menyatukan semua sub-anggaran menjadi anggaran HPP & laba rugi. Pertemuan depan kita lanjut ke aspek berikutnya dalam perencanaan bisnis & pengendalian anggaran.
Pertemuan 8 — Lanjutan
Penganggaran lanjutan / analisis anggaran sesuai RPS
Anggaran neraca penuh & pengendalian/varian
Cek RPS minggu ke-8 untuk topik spesifik
Tugas Mandiri — Latih
HDN-1 & HDN-2
dengan angka sendiri
Ulangi kedua Hitung dari Nol dengan data UMKM yang Anda kenal. Bawa kalkulator/spreadsheet ke kelas berikutnya.
Kuasai alur sub-anggaran → HPP → laba rugi → margin malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 8.