‹ Daftar slidePertemuan 6: Anggaran Piutang dan Anggaran Kas
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Anggaran dan Perencanaan Bisnis
Anggaran Piutang & Anggaran Kas
Pertemuan 6 · Dari Penjualan Menjadi Kas
Bagaimana penjualan berubah menjadi kas — dan kapan perusahaan harus pinjam ke bank agar tidak kehabisan uang tunai.
RPS Minggu 6 · Sub-CPMK 6 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan dan menghitung Anggaran Piutang dan Anggaran Kas (Sub-CPMK 6). Secara rinci:
Capaian 1 — Piutang
01
Menyusun skedul penerimaan kas dari pola penagihan dan menghitung saldo piutang akhir periode.
Capaian 2 — Tak Tertagih
02
Mengestimasi piutang tak tertagih dan merekonsiliasi: penjualan kredit = penerimaan + piutang akhir + dihapus.
Capaian 3 — Anggaran Kas
03
Menyusun anggaran kas lengkap: penerimaan, pengeluaran, pembiayaan, dan saldo akhir untuk empat triwulan.
Capaian 4 — Analisis
04
Menilai dampak pengetatan kebijakan kredit terhadap saldo kas dan kebutuhan pinjaman KMK.
Untung di Atas Kertas, tapi Tak Punya Uang Tunai?
Sebuah toko mencatat laba Rp 200 juta tahun ini. Tapi pada bulan tertentu, ia tak bisa membayar gaji. Bagaimana mungkin?
Di Laporan Laba-Rugi
Rp 200 jt
Laba dicatat
Penjualan Rp 2 miliar, laba Rp 200 juta. Semua dicatat saat transaksi terjadi (dasar akrual), termasuk penjualan kredit yang belum dibayar pelanggan.
Di Rekening Bank
Rp 0?
Kas tidak ada
Banyak penjualan masih berbentuk piutang (belum jadi kas). Sementara gaji, sewa, dan pembelian harus dibayar tunai sekarang.
Laba ≠ Kas. Perusahaan yang untung pun bisa kehabisan kas jika piutang menumpuk. Anggaran kas adalah alat untuk melihat masalah ini sebelum terjadi.
Bagian 1 dari 4
Kas Bukan Laba
Tiga pos anggaran kas, siklus konversi kas, dan peta aliran dari anggaran penjualan sampai ke saldo kas akhir.
Tiga Pos Anggaran Kas & Siklus Konversi Kas
Pos (a) Penerimaan
Masuk
Penjualan tunai (langsung)
Penagihan piutang
Pinjaman, jual aset, bunga deposito
Pos (b) Pengeluaran
Keluar
Beli bahan/barang dagang
Upah, BOP tunai, operasi
Pajak, dividen, investasi
Pos (c) Pembiayaan
±
Pinjam saat kas kurang
Lunasi saat kas surplus
Jaga saldo minimum
Siklus konversi kas:Kas → Persediaan → Piutang → Kas. Makin panjang siklusnya, makin besar kas yang "terjebak" di piutang & persediaan, makin besar kebutuhan modal kerja.
Peta Aliran: Anggaran Penjualan → Anggaran Kas
Anggaran kas bukan dokumen berdiri sendiri. Ia adalah muara dari anggaran-anggaran lain yang mengalir ke dalamnya.
Aturan praktis: susun anggaran piutang & skedul penerimaan dulu, baru anggaran kas. Penerimaan adalah input, bukan tebakan.
Bagian 2 dari 4
Anggaran Piutang
Term kredit, pola penagihan, skedul penerimaan kas, saldo piutang akhir, dan estimasi piutang tak tertagih.
Pola penagihan = persentase penjualan kredit yang tertagih pada periode penjualan, periode berikutnya, dan seterusnya — sisanya tak tertagih.
Contoh: PT Sinar Niaga (distributor FMCG)
Tertagih pada
% dari penjualan kredit
Keterangan
Triwulan penjualan (TW ke-0)
60%
Bayar di periode yang sama
Triwulan berikutnya (TW +1)
35%
Tertunda satu triwulan
Tak tertagih (dihapus)
5%
Bad debt — dihapus dari buku
Total
100%
Harus tepat 100%
Pola ini berasal dari pengalaman historis & term kredit. Jumlah persentase tertagih + tak tertagih harus = 100%. (60% + 35% + 5% = 100% ✓)
Anatomi Anggaran Piutang — Tiga Angka Kunci
Penerimaant = Σ (pola% × penjualan kredit dari periode asalnya)
1 Saldo Piutang Akhir
Penjualan kredit dikurangi yang sudah tertagih dikurangi yang dihapus — bagian yang masih "hidup" menunggu tertagih.
2 Estimasi Tak Tertagih
= % bad debt × penjualan kredit. Ini cadangan yang akan dihapus dari pembukuan.
3 Rekonsiliasi (Wajib)
Penjualan kredit = Penerimaan + Piutang akhir + Dihapus. Harus seimbang — ini cek wajib.
Selalu uji rekonsiliasi di langkah terakhir. Jika tiga komponen di kanan tidak menjumlah ke penjualan kredit, ada langkah yang salah — jangan lanjut ke anggaran kas sebelum diperbaiki.
Hitung dari Nol — HDN-1: Skedul Penerimaan Penagihan
PT Sinar Niaga — distributor FMCG. Penjualan kredit: TW1 = Rp 400 jt · TW2 = Rp 500 jt · TW3 = Rp 700 jt · TW4 = Rp 600 jt. Pola: 60% (TW penjualan), 35% (TW +1), 5% tak tertagih.
Penagihan di
dari TW1 (400)
dari TW2 (500)
dari TW3 (700)
dari TW4 (600)
Total TW
TW1
240 (60%×400)
—
—
—
240
TW2
140 (35%×400)
300 (60%×500)
—
—
440
TW3
—
175 (35%×500)
420 (60%×700)
—
595
TW4
—
—
245 (35%×700)
360 (60%×600)
605
(semua dalam Rp juta) — Penerimaan dari penagihan: TW1 Rp 240 jt · TW2 Rp 440 jt · TW3 Rp 595 jt · TW4 Rp 605 jt. Total Rp 1.880 jt.
HDN-1 (lanjutan): Saldo Piutang Akhir & Tak Tertagih
Lanjutan PT Sinar Niaga. Total penjualan kredit setahun = 400 + 500 + 700 + 600 = Rp 2.200 jt.
Komponen
Perhitungan
Nilai (Rp jt)
Tertagih jadi kas (4 TW)
240 + 440 + 595 + 605
1.880
Saldo piutang akhir
35% × penjualan TW4 = 35% × 600
210
Piutang tak tertagih (dihapus)
5% × 2.200
110
Rekonsiliasi
1.880 + 210 + 110
2.200 ✓
Saldo piutang akhir = Rp 210 jt (penjualan TW4 yang baru tertagih TW1 tahun depan). Cadangan tak tertagih = Rp 110 jt. Rekonsiliasi seimbang dengan penjualan kredit Rp 2.200 jt ✓.
Menambah Penjualan Tunai ke Skedul Penerimaan
Di dunia nyata, sebagian penjualan tunai (langsung jadi kas) dan sebagian kredit (lewat piutang). Asumsi diperluas: total penjualan = 20% tunai + 80% kredit.
TW
Penjualan Total
Tunai (20%)
+ Penagihan piutang
= Penerimaan
TW1
500
100
240
340
TW2
625
125
440
565
TW3
875
175
595
770
TW4
750
150
605
755
Total
2.750
550
1.880
2.430
(Rp juta; kredit 80% = 400/500/700/600 — identik dengan HDN-1)
Penjualan tunai langsung masuk skedul penerimaan periode itu juga; penjualan kredit masuk lewat pola penagihan. Angka Penerimaan inilah yang dipakai sebagai Pos (a) di anggaran kas.
Coba Sendiri: Susun Skedul Penerimaan Kas Anda
Ubah penjualan kredit per triwulan dan pola penagihan (persentase tertagih TW ke-0, TW +1, tak tertagih), lalu amati bagaimana skedul penerimaan kas terbentuk.
Bagian 3 dari 4
Anggaran Kas (Cash Budget)
Format baku, saldo kas minimum, dan ketiga bagian: penerimaan, pengeluaran, dan pembiayaan.
Saldo awal + Penerimaan − Pengeluaran ± Pembiayaan = Saldo akhir
Format Baku Anggaran Kas
Saldo akhir = Saldo awal + Penerimaan − Pengeluaran ± Pembiayaan
1Saldo kas awal periode
2+ Total penerimaan (pos a) → menghasilkan kas tersedia
3− Total pengeluaran (pos b) → menghasilkan surplus/(defisit) sebelum pembiayaan
4Bandingkan dengan saldo kas minimum: di bawah → pinjam; surplus + ada pinjaman lama → lunasi
5= Saldo kas akhir (= saldo awal periode berikutnya)
Saldo kas minimum adalah batas aman yang ditetapkan manajemen (mis. Rp 80 jt) sebagai bantalan kejutan. Anggaran kas wajib menjaga saldo akhir ≥ batas ini.
Isi Pos (a) Penerimaan & Pos (b) Pengeluaran
Pos (a) Penerimaan Kas
Penjualan tunai (langsung)
Penagihan piutang (lewat pola)
Bunga deposito
Hasil penjualan aset
Penerimaan pinjaman / setoran modal
Pos (b) Pengeluaran Kas
Pembelian bahan / barang dagang
Upah & gaji
BOP tunai, beban operasi
Pajak (PPh Badan 22%)
Dividen & belanja modal (CapEx)
Hanya yang benar-benar tunai yang masuk anggaran kas. Penyusutan (depresiasi) TIDAK ditulis — ia beban non-kas, tidak ada uang yang keluar dari rekening.
Pos (c) Pembiayaan — Penyeimbang Kas
Pos ketiga inilah yang sering dilupakan. Fungsinya: menjaga saldo kas tidak pernah turun di bawah minimum.
Saat Kas Kurang → Pinjam
KMK
Kredit Modal Kerja
Tarik pinjaman bank secukupnya agar saldo kembali ke batas minimum. Sering dibulatkan ke kelipatan tertentu (mis. jutaan).
Saat Kas Surplus → Lunasi
Lunasi
+ Depositokan sisanya
Jika kas berlebih & ada utang KMK, lunasi lebih dulu untuk menghemat bunga. Sisa kas bisa didepositokan agar bekerja.
KMK = fasilitas pinjaman bank jangka pendek (mis. plafon Rp 500 jt) yang bisa ditarik & dilunasi berulang sesuai kebutuhan kas — persis untuk menambal defisit musiman.
Hitung dari Nol — HDN-2: Anggaran Kas Setahun Penuh
PT Sinar Niaga · Saldo awal TW1 = Rp 100 jt · Saldo minimum = Rp 80 jt · (semua dalam Rp juta)
Baris
TW1
TW2
TW3
TW4
Saldo kas awal
100
80
80
125
+ Penerimaan
340
565
770
755
− Pengeluaran
450
580
725
688
= Surplus / (Defisit)
(10)
65
125
192
+ Pinjaman KMK
90
15
0
0
= Saldo kas akhir
80
80
125
192
TW1 & TW2 defisit → tarik KMK total Rp 105 jt. TW3 & TW4 surplus. Saldo akhir tahun Rp 192 jt, selalu ≥ minimum Rp 80 jt. Anggaran kas berhasil menjaga likuiditas.
Coba Sendiri: Dari Pola Penagihan Sampai Saldo Kas Akhir
Ubah pola penagihan piutang (persen tunai vs kredit, kecepatan tertagih), lalu amati skedul penerimaan dan saldo kas tiap triwulan bergeser.
Membaca Anggaran Kas seperti Seorang Manajer
Angka di tabel HDN-2 bercerita. Tugas Anda bukan sekadar menghitung, tetapi membaca apa yang harus dilakukan.
Awal Tahun — Tekanan Kas (TW1–TW2)
Defisit
Penjualan besar belum tertagih; pengeluaran sudah jalan duluan. Tindakan: ajukan plafon KMK ≥ Rp 105 jt sebelum TW1 dimulai.
Akhir Tahun — Surplus (TW3–TW4)
Surplus
Kas melimpah (Rp 125 jt → Rp 192 jt). Tindakan: lunasi KMK lebih dulu, sisa kas depositokan agar tidak menganggur.
Anggaran kas mengubah Anda dari reaktif (kaget saat kas habis) menjadi proaktif (mengatur pinjaman & investasi jauh hari).
Bagian 4 dari 4
Analisis Kebijakan & Penutup
Dampak memperketat kredit terhadap kas, konteks modal kerja ritel Indonesia, jebakan umum, rangkuman, dan latihan.
Hitung dari Nol — HDN-3: Memperketat Kebijakan Kredit
Pola berubah dari 60/35/5 (longgar) menjadi 80/18/2 (ketat). Penjualan & pengeluaran sama. (Rp juta)
TW1
TW2
TW3
TW4
Total
Longgar (60/35/5)
340
565
770
755
2.430
Ketat (80/18/2)
420
597
825
756
2.598
Selisih
+80
+32
+55
+1
+168
Total KMK ditarik
Saldo akhir tahun
Tak tertagih
Longgar
Rp 105 jt
Rp 192 jt
Rp 110 jt
Ketat
Rp 10 jt
Rp 265 jt
Rp 44 jt
Pengetatan menaikkan penerimaan +Rp 168 jt, memangkas KMK dari Rp 105 jt jadi Rp 10 jt, dan menekan tak tertagih dari Rp 110 jt jadi Rp 44 jt (hemat Rp 66 jt). Trade-off: risiko kehilangan pelanggan ke pesaing.
Konteks Indonesia: Modal Kerja Ritel & Termin Pemasok
Mengapa peritel modern Indonesia bisa tumbuh cepat dengan kas terbatas? Rahasianya ada di termin pembayaran.
Peritel Modern — Jual Cepat, Bayar Belakangan
QRIS/Tunai
Menjual ke konsumen tunai/QRIS (kas masuk cepat), tetapi membayar pemasok dengan tempo 30–60 hari. Siklus konversi kas bisa negatif — kas masuk sebelum kas keluar. Contoh: jaringan minimarket di Indonesia.
Distributor FMCG — Kebalikannya
KMK Besar
Menjual kredit ke ribuan toko (kas masuk lambat), tetapi membayar prinsipal relatif cepat. Siklus konversi kas panjang → butuh KMK besar seperti kasus PT Sinar Niaga.
Posisi Anda dalam rantai pasok menentukan tekanan kas. Anggaran piutang + anggaran kas membuat tekanan ini terlihat dan terkelola, bukan kejutan.
Lima Jebakan yang Sering Bikin Anggaran Kas Salah
1
Mengakui penjualan = kas seketika — lupa bahwa penjualan kredit tertagih tertunda. Kesalahan paling fatal.
2
Memasukkan penyusutan — depresiasi itu beban non-kas; tidak ada uang keluar, jangan ditulis di anggaran kas.
3
Lupa pos pembiayaan — hanya menghitung penerimaan − pengeluaran, tanpa menjaga saldo minimum.
4
Saldo akhir tidak jadi saldo awal berikutnya — keempat periode harus tersambung.
5
Persentase pola penagihan tidak 100% — tertagih + tak tertagih harus pas 100%.
3 cek wajib sebelum menyerahkan: (1) total pola = 100%? (2) rekonsiliasi piutang seimbang? (3) saldo akhir tiap TW ≥ minimum?
Cheat Sheet — Anggaran Piutang & Anggaran Kas
Konsep
Rumus / Aturan
Untuk
Penerimaan periode-t
Σ (pola% × penj. kredit asal) + penj. tunait
Skedul penerimaan kas
Saldo piutang akhir
Penjualan kredit − tertagih − dihapus
Neraca / sisa tagihan
Tak tertagih
% bad debt × penjualan kredit
Cadangan kerugian piutang
Rekonsiliasi piutang
Kredit = tertagih + piutang akhir + dihapus
Cek kebenaran (wajib)
Anggaran kas (format)
Saldo awal + Penerimaan − Pengeluaran ± Pembiayaan = Saldo akhir
Format baku
Pembiayaan
Saldo < minimum → pinjam; surplus → lunasi
Jaga saldo kas minimum
Inti semuanya: penjualan ≠ kas. Anggaran piutang menerjemahkan penjualan menjadi penerimaan; anggaran kas menyusun penerimaan, pengeluaran, dan pembiayaan menjadi peta likuiditas.
Peta Konsep: Bagaimana Semua Terhubung
Anggaran kas adalah muara seluruh perencanaan operasional — semua keputusan operasi akhirnya bertemu di pertanyaan: cukupkah kasnya?
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — Piutang & Penerimaan
CV Berkah menjual kredit: Jan Rp 200 jt, Feb Rp 240 jt, Mar Rp 300 jt, Apr Rp 280 jt. Pola: 70% bulan penjualan, 25% bulan berikutnya, 5% tak tertagih.
Hitung: (a) penerimaan tiap bulan, (b) saldo piutang akhir April, (c) total tak tertagih, (d) rekonsiliasi.
Latihan 2 — Anggaran Kas
Lanjutkan Latihan 1. Saldo kas awal Jan Rp 50 jt, minimum Rp 40 jt. Pengeluaran: Jan Rp 200 jt, Feb Rp 210 jt, Mar Rp 250 jt, Apr Rp 240 jt.
Susun anggaran kas — tentukan kebutuhan pinjaman tiap bulan & saldo akhir tiap bulan.
Kerjakan 8 menit. Susun skedul penerimaan dulu, cek total pola = 100%, baru anggaran kas. Lalu kita bahas bersama.
Persiapan Pertemuan Berikutnya
Hari ini Anda belajar menerjemahkan penjualan menjadi kas lewat anggaran piutang & anggaran kas. Pertemuan depan: mengikat semuanya menjadi laporan keuangan proforma.
Pertemuan Berikutnya — Anggaran Proforma
Anggaran neraca & laba-rugi yang diproyeksikan
Saldo kas akhir & piutang akhir masuk ke neraca proforma
Analisis kelayakan rencana keuangan
Tugas Mandiri — Latih
HDN 1–3
Ulangi ketiga Hitung dari Nol hari ini dengan angka Anda sendiri (mis. usaha keluarga / UMKM). Bawa template tabel anggaran kas ke kelas berikutnya.
Kuasai tiga hitungan inti malam ini: skedul penerimaan, saldo piutang, anggaran kas. Sampai jumpa di Pertemuan 7 — Anggaran Laporan Keuangan Proforma.