stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-03
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 3: Anggaran Biaya Produksi: Bahan Baku, Pembelian, dan Tenaga Kerja Langsung
FEB UNDIP · Anggaran dan Perencanaan Bisnis

Anggaran Biaya Produksi

Pertemuan 3 · Bahan Baku, Pembelian, dan Tenaga Kerja Langsung

Dari rencana produksi menjadi daftar belanja bahan dan rencana upah — empat anggaran yang menjadi jantung biaya pabrik.

RPS Minggu 3 · Sub-CPMK 3 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan terampil menyusun anggaran biaya produksi, biaya bahan, pembelian bahan, dan tenaga kerja langsung (Sub-CPMK 3). Secara rinci:

Capaian 1 — Segitiga Biaya
3
Komponen
Menempatkan tiga komponen biaya produksi (bahan baku langsung, TKL, overhead) pada posisinya dengan benar.
Capaian 2 — Bahan Baku
2
Anggaran Bahan
Menyusun anggaran kebutuhan & pembelian bahan dari rencana produksi dan standar pemakaian.
Capaian 3 — Tenaga Kerja
JKL
Jam Kerja Langsung
Menyusun anggaran TKL dari jam kerja langsung (JKL) dan tarif upah per jam untuk kasus konkret.
Capaian 4 — Ke Rupiah & Kas
Rp
Konversi & Kas
Mengubah anggaran kuantitas menjadi rupiah dan mengaitkannya ke arus kas perusahaan.

Pesanan 500 Set Kursi — Berapa Kayu yang Harus Dibeli?

Sebuah bengkel mebel di Jepara dapat pesanan. Tukang bertanya ke manajer: "Pak, kita beli kayu berapa, dan butuh berapa tukang?" Itulah pertanyaan hari ini.

Yang Sudah Diketahui (dari P2)
Rencana Produksi
Unit yang harus diproduksi tiap triwulan — sudah memperhitungkan persediaan barang jadi. Ini adalah output Pertemuan 2.
Yang Belum Dijawab
?
Tiga Pertanyaan
Berapa kg kayu dibeli? Berapa jam kerja & upah? Berapa rupiah total biaya produksi?
Jawaban tidak boleh ditebak. Ada rumus dan biaya standar yang membuat daftar belanja & rencana upah dapat dihitung — itulah anggaran biaya produksi.
Bagian 1 dari 4
Segitiga Biaya Produksi & Biaya Standar
Tiga komponen biaya produksi, mana yang "langsung", dan mengapa biaya standar adalah fondasi semua anggaran biaya.
Bahan Tenaga Kerja Overhead

Tiga Komponen Biaya Produksi

Overhead Pabrik(listrik, penyusutan, mandor)Tenaga Kerja Langsung(upah tukang ukir)Bahan Baku Langsung(kayu jati pada kursi)PrimeCostConversion Cost
Bahan Baku Langsung
BBL
Material utama yang jadi bagian fisik produk — kayu jati untuk kursi. Fokus hari ini.
Tenaga Kerja Langsung
TKL
Upah pekerja yang langsung mengerjakan produk — tukang ukir. Fokus hari ini.
Overhead Pabrik
BOP
Biaya pabrik lain: listrik mesin, lem, paku, penyusutan, mandor. Pertemuan 4.
Prime Cost = BBL + TKL  |  Conversion Cost = TKL + BOP

Kata Kunci: "Langsung" vs "Tidak Langsung"

Sebuah biaya disebut langsung kalau bisa ditelusuri jelas dan ekonomis ke satu unit produk. Kalau tidak, ia masuk overhead.

Contoh Biaya Langsung
  • Kayu jati pada kursi — bahan baku langsung
  • Upah tukang ukir yang mengerjakan kursi itu — TKL
  • Rotan sandaran — bahan baku langsung ke-2

Uji: "Bisakah saya menempelkan biaya ini ke satu kursi?" → Bisa ✓

Contoh Tidak Langsung (→ Overhead)
→ BOP
  • Lem & paku — terlalu kecil untuk ditelusuri per unit
  • Gaji mandor & satpam — mendukung seluruh pabrik
  • Listrik & penyusutan mesin — tidak bisa per kursi

Uji: "Bisa ditempelkan ke satu kursi?" → Tidak praktis ✗

Uji cepat: "Bisakah saya menempelkan biaya ini ke satu kursi secara wajar?" Bisa → langsung. Tidak praktis → overhead.

Biaya Standar (Standard Cost): Patokan "Seharusnya"

Biaya standar = biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu unit, dalam kondisi efisien. Inilah angka yang dikalikan dengan rencana produksi.

Standar Kuantitas
Q
per unit
Berapa banyak bahan/jam per unit. Contoh: 1 kursi butuh 2 kg kayu & 3 jam kerja.
Standar Harga / Tarif
P
per kg / per jam
Berapa harga per kg bahan & tarif upah per jam. Contoh: kayu ~Rp 15.000/kg; upah ~Rp 12.000/jam.
Biaya standar/unit = (Std kuantitas × Harga bahan) + (Std jam × Tarif upah) + overhead
Anggaran biaya produksi = biaya standar per unit × jumlah unit yang direncanakan. Standar yang salah → seluruh anggaran salah.

Rantai Anggaran: Dari Penjualan ke Komponen Biaya

Anggaran biaya produksi tidak berdiri sendiri — ia bagian dari rantai master budget yang berurutan.

AnggaranPenjualanAnggaranProduksi (unit)① AnggaranBahan Baku① Anggaran Bahan② Anggaran TKL← Fokus hari ini③ AnggaranOverhead PabrikAnggaran BiayaProduksi TotalAnggaran Kas& L/R Proyeksi
Hari ini kita kerjakan dua cabang: ① Bahan Baku dan ② Tenaga Kerja Langsung. Input-nya = unit produksi dari Pertemuan 2.
Bagian 2 dari 4
Anggaran Bahan Baku
Tiga anggaran beruntun: kebutuhan bahan (dipakai), pembelian bahan, dan biaya bahan dalam rupiah — dengan rumus persediaan yang wajib Anda kuasai.
Pembelian = Pakai + Persediaan Akhir − Persediaan Awal

Langkah 1 — Anggaran Kebutuhan (Pemakaian) Bahan Baku

Pertanyaan: berapa kuantitas bahan yang akan dipakai produksi tiap triwulan? Jawabannya datang langsung dari rencana produksi.

Kebutuhan bahan (kg) = Unit produksi × Standar pemakaian bahan per unit
TriwulanUnit Produksi× Standar (kg/unit)Kebutuhan (kg)
TW-110.000220.000
TW-212.000224.000
TW-315.000230.000
TW-413.000226.000
Setahun50.0002100.000
Ini masih dalam kilogram, belum rupiah, dan ini pemakaian, belum pembelian. Dua pembedaan itu kunci di slide berikut.

Langkah 2 — Anggaran Pembelian Bahan Baku

Yang dibeli ≠ yang dipakai, karena ada persediaan gudang. Kita beli untuk menutup pemakaian dan menyiapkan stok akhir, dikurangi stok yang sudah ada.

Pembelian (kg) = Kebutuhan Pakai + Persediaan Akhir − Persediaan Awal
Rupiah Pembelian = Pembelian (kg) × Harga beli per kg
Analogi belanja dapur: Yang dibeli = yang akan dimasak + sisa yang ingin distok − yang masih ada di kulkas.
Persediaan akhir triwulan ini = persediaan awal triwulan berikutnya. Jangan dihitung dua kali.

Hitung dari Nol — HDN-1: Pembelian Kayu Jati TW-1

Produksi TW-1 = 10.000 kursi; standar 2 kg kayu/unit; persediaan awal 3.000 kg; persediaan akhir 5.000 kg; harga beli ~Rp 15.000/kg. Berapa rupiah pembelian?

LangkahPerhitunganNilai
Kebutuhan pakai10.000 unit × 2 kg20.000 kg
+ Persediaan akhir20.000 + 5.00025.000 kg
− Persediaan awal25.000 − 3.00022.000 kg dibeli
× Harga beli/kg22.000 kg × Rp 15.000Rp 330.000.000
Pembelian TW-1 ≈ Rp 330.000.000 untuk 22.000 kg.
Catat: dipakai 20.000 kg, tetapi dibeli 22.000 kg karena menambah stok pengaman 2.000 kg bersih.

Tiga Angka yang Sering Tertukar

Dalam anggaran bahan ada tiga angka rupiah yang berbeda. Bingung di sini = salah seluruh laporan.

① Biaya Bahan Dipakai
L/R
→ Biaya Produksi
Kebutuhan pakai × harga → masuk biaya produksi & HPP.
TW-1: 20.000 × Rp 15.000 = Rp 300.000.000
② Biaya Bahan Dibeli
Kas
→ Anggaran Kas
Pembelian × harga → masuk anggaran kas/utang.
TW-1: 22.000 × Rp 15.000 = Rp 330.000.000
③ Nilai Persediaan
Neraca
→ Aset Lancar
Stok akhir × harga → masuk neraca sebagai aset.
TW-1: 5.000 × Rp 15.000 = Rp 75.000.000
Yang masuk biaya produksi adalah bahan dipakai (①), bukan dibeli. Yang dibeli memengaruhi kas, bukan biaya periode.

Coba Sendiri: Jangan Sampai Tiga Angka Ini Tertukar

Ubah kebijakan persediaan bahan baku dan amati mana yang berubah: biaya dipakai (ke laba rugi), pembelian (ke kas), atau nilai persediaan (ke neraca).

Studi Kasus — Satu Produk, Dua Bahan Baku

Satu kursi butuh dua bahan baku langsung yang berbeda standar & harganya. Anggaran disusun per bahan, lalu dijumlahkan.

BahanStandar/unitKebutuhan (TW-1)Harga/satuanBiaya Dipakai
Kayu jati2 kg20.000 kg~Rp 15.000/kgRp 300.000.000
Rotan (sandaran)0,5 kg5.000 kg~Rp 40.000/kgRp 200.000.000
Total bahan dipakaiRp 500.000.000
Setiap bahan punya standar & harga sendiri. Susun terpisah, lalu jumlahkan — jangan dicampur rata-rata. Angka-angka di atas adalah ilustrasi metode (harga rotan bervariasi di pasar).

Hitung dari Nol — HDN-2: Biaya Bahan Dipakai Setahun (Gabungan)

Produksi setahun 50.000 kursi. Hitung total biaya bahan dipakai untuk kayu dan rotan.

LangkahPerhitunganNilai
Kayu — kebutuhan50.000 × 2 kg100.000 kg
Kayu — biaya dipakai100.000 kg × ~Rp 15.000Rp 1.500.000.000
Rotan — kebutuhan50.000 × 0,5 kg25.000 kg
Rotan — biaya dipakai25.000 kg × ~Rp 40.000Rp 1.000.000.000
Total bahan dipakai1.500.000.000 + 1.000.000.000Rp 2.500.000.000
Biaya bahan per unit2.500.000.000 ÷ 50.000Rp 50.000/kursi
Total biaya bahan dipakai setahun ≈ Rp 2,5 miliar, atau Rp 50.000 per kursi (Rp 30.000 kayu + Rp 20.000 rotan). Cek silang: 2 kg×15.000 + 0,5 kg×40.000 = 30.000 + 20.000 = 50.000 ✔
Bagian 3 dari 4
Anggaran Tenaga Kerja Langsung
Dua langkah saja: ubah unit produksi menjadi jam kerja langsung (JKL), lalu kalikan tarif upah per jam.
JKL = Unit × Std jam/unit   →   Biaya TKL = JKL × Tarif upah/jam

Anggaran TKL — Dua Langkah

Sama seperti bahan, tetapi tanpa persediaan. Ubah unit → jam → rupiah.

JKL (jam) = Unit produksi × Standar jam per unit
Biaya TKL (Rp) = JKL × Tarif upah per jam
Standar: 3 jam/kursi
Tarif: ~Rp 12.000/jam (ilustrasi)
TriwulanUnitJKL (jam)Biaya TKL
TW-110.00030.000Rp 360.000.000
TW-212.00036.000Rp 432.000.000
TW-315.00045.000Rp 540.000.000
TW-413.00039.000Rp 468.000.000
Setahun50.000150.000Rp 1.800.000.000

Dari Mana Tarif Upah per Jam?

Tarif upah per jam diturunkan dari kebijakan & UMP — dengan penyesuaian. Konteks kita: Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah.

Dari Upah Bulanan ke Per Jam
÷ 173
jam standar/bulan
Upah bulanan ÷ jam kerja sebulan ≈ tarif/jam.
173 jam = 40 jam/minggu × 52 minggu ÷ 12 bulan.
Komponen Tarif Anggaran
+
beban non-pokok
Upah pokok + tunjangan + beban pemberi kerja (BPJS, THR diamortisasi).
Tarif anggaran biasanya lebih tinggi dari upah pokok saja.
UMP Jawa Tengah ditetapkan tiap tahun oleh Gubernur dan berubah. Pakai angka resmi terbaru saat menyusun anggaran; angka di slide hanya ilustrasi metode, bukan UMP aktual.

Hitung dari Nol — HDN-3: Anggaran TKL Setahun

Produksi setahun 50.000 kursi; standar 3 jam/kursi; tarif upah ~Rp 12.000/jam. Susun anggaran TKL & biaya TKL per unit.

LangkahPerhitunganNilai
Total JKL50.000 unit × 3 jam150.000 jam
Biaya TKL setahun150.000 jam × ~Rp 12.000Rp 1.800.000.000
Biaya TKL per unit1.800.000.000 ÷ 50.000Rp 36.000/kursi
Cek silang per unit3 jam × Rp 12.000Rp 36.000 ✔
Anggaran TKL setahun ≈ Rp 1,8 miliar (150.000 jam), atau Rp 36.000 per kursi.
Cek silang (3 jam × Rp 12.000) cocok — tanda hitungan benar.

Dari Mana Angka "Standar Jam per Unit"?

Standar jam bukan tebakan. Ia ditetapkan dari pengukuran kerja agar adil dan dapat dikendalikan.

Studi Waktu & Gerak
Time & Motion Study
Mengamati & mengukur waktu nyata pekerja terampil membuat satu unit, lalu menambah kelonggaran wajar (istirahat, persiapan).
Data Historis
📊
Historical Records
Rata-rata jam aktual periode lalu dari catatan produksi, disesuaikan dengan perbaikan proses yang sudah dilakukan.
Standar terlalu longgar → anggaran kebesaran, pemborosan tak terdeteksi.
Terlalu ketat → pekerja stres, anggaran tak realistis.
Cari yang wajar-menantang.
Bagian 4 dari 4
Rangkuman, Kaitan ke Kas, & Latihan
Menutup empat anggaran, menjawab kapan kas benar-benar keluar, dan membongkar jebakan yang paling sering.
Kas Jebakan Latihan

Anggaran Biaya ≠ Anggaran Kas — Kapan Uang Keluar?

Biaya dicatat saat bahan dipakai / kerja dilakukan. Kas keluar saat dibayar — dan waktunya bisa berbeda.

Pembelian Bahan (Kredit)
t+1
bayar bulan berikut
Beli kayu TW-1 Rp 330 jt, termin 30 hari → kas keluar bulan berikutnya, bukan saat barang datang.
Muncul utang usaha dulu di neraca.
Upah TKL (Tunai Mingguan)
≈ t
nyaris bersamaan
Tukang dibayar tiap minggu/bulan → kas keluar hampir bersamaan dengan kerja dilakukan. Nyaris tanpa jeda.
Karena itu anggaran pembelian & TKL menjadi input anggaran kas dengan jadwal pembayaran masing-masing. Biaya & kas adalah dua hal berbeda.

Empat Jebakan yang Sering Bikin Anggaran Salah

1 Dipakai = Dibeli
Menyamakan bahan dipakai dengan dibeli. Ingat rumus persediaan: Beli = Pakai + Akhir − Awal.
2 Unit Jual = Unit Produksi
Memakai unit penjualan, bukan unit produksi. Unit produksi sudah memperhitungkan persediaan barang jadi dari Pertemuan 2.
3 Overhead Dicampur
Memasukkan lem, paku, listrik ke biaya bahan/TKL. Itu overhead — dibahas terpisah di Pertemuan 4.
4 Dobel Persediaan
Persediaan akhir TW dihitung lagi sebagai pembelian TW berikutnya. Padahal ia jadi persediaan awal periode berikut.
Tiga dari empat jebakan ini berakar pada satu hal: lupa peran persediaan. Selalu gambar alur masuk–pakai–sisa.

Cheat Sheet — Empat Anggaran dalam Empat Baris

AnggaranRumus IntiSatuan Hasil
Kebutuhan bahan (pakai)Unit produksi × Std pemakaian/unitkg / satuan bahan
Pembelian bahan(Pakai + Persediaan Akhir − Persediaan Awal) × Harga/kgRupiah (→ anggaran kas)
Biaya bahan dipakaiKebutuhan pakai × Harga/kgRupiah (→ biaya produksi)
Tenaga kerja langsung(Unit × Std jam/unit) × Tarif upah/jamRupiah (→ biaya produksi)
Pola yang sama berulang: kuantitas dulu, rupiah belakangan. Hanya pembelian yang menyelipkan unsur persediaan.
Biaya bahan dipakai → biaya produksi/HPP. Biaya bahan dibeli → anggaran kas. Jangan tertukar.

Latihan Kelas — Kerjakan Berpasangan (10 Menit)

Soal A — Bahan
Bahan
Produksi TW-2 = 12.000 unit; std 2 kg/unit; persediaan awal 5.000 kg; akhir diinginkan 4.000 kg; harga Rp 15.000/kg.

Hitung kg dibeli & rupiah pembelian.
Soal B — TKL
TKL
Produksi TW-2 = 12.000 unit; std 3 jam/unit; tarif Rp 12.000/jam.

Hitung JKL & biaya TKL. Lalu: biaya TKL per unit?
Diskusi: Jika pemasok menawarkan diskon bila beli 30.000 kg sekaligus, apa pertimbangan untung-rugi vs biaya simpan persediaan?
Kunci: A → 23.000 kg, Rp 345.000.000  |  B → 36.000 jam, Rp 432.000.000, Rp 36.000/unit

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 4

Hari Ini Anda Bisa
4
Capaian Sub-CPMK 3
  • Membaca segitiga biaya produksi (BBL, TKL, BOP)
  • Menyusun anggaran kebutuhan & pembelian bahan
  • Menyusun anggaran TKL (JKL → rupiah)
  • Membedakan biaya vs kas — kapan uang keluar
Pertemuan 4 — Overhead
BOP
Komponen Ketiga
Anggaran Biaya Overhead Pabrik (BOP) — tarif & alokasi — lalu menutup anggaran biaya produksi total. Segitiga biaya lengkap tiga lapisnya.
Bawa hasil HDN-1 sampai HDN-3 ke pertemuan depan — kita akan menambahkan overhead di atasnya untuk mendapat biaya produksi penuh per unit.

Anda kini punya dua dari tiga kantong biaya produksi. Satu kantong lagi, dan anggaran biaya produksi Anda lengkap.