‹ Daftar slidePertemuan 2: Forecast Penjualan, Anggaran Penjualan, dan Anggaran Produksi
FEB UNDIP · Anggaran dan Perencanaan Bisnis
Anggaran dan Perencanaan Bisnis
Pertemuan 2 · Forecast Penjualan, Anggaran Penjualan & Produksi
Bagaimana perusahaan menebak penjualan tahun depan, mengubahnya menjadi target rupiah, lalu memutuskan berapa banyak harus diproduksi tiap triwulan.
RPS Minggu 2 · Sub-CPMK 2 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan terampil menyusun peramalan penjualan, anggaran penjualan, dan anggaran produksi (Sub-CPMK 2). Secara rinci:
Capaian 1 — Metode Ramal
01
Membedakan & Memilih Metode
Membedakan dan memilih metode peramalan kualitatif vs kuantitatif sesuai situasi bisnis konkret.
Capaian 2 — Hitung Trend
02
Trend Least-Square + Musiman
Menghitung forecast dengan trend least-square dan menyebarkannya ke triwulan via indeks musiman.
Capaian 3 — Anggaran Jual
03
Unit → Rupiah
Menyusun anggaran penjualan multi-dimensi (unit → rupiah, per produk/daerah/triwulan).
Capaian 4 — Anggaran Produksi
04
Penjualan + Akhir − Awal
Menyusun anggaran produksi dengan rumus Penjualan + Persediaan Akhir − Persediaan Awal.
Kenapa Pabrik Sirup Sudah Sibuk Berbulan Sebelum Lebaran?
Permintaan sirup, biskuit, dan minuman melonjak menjelang Ramadan–Idulfitri. Pabrik tidak bisa menunggu lonjakan itu datang — mereka harus meramal dan memproduksi lebih dulu.
Kalau Meramal Tepat
✓
Stok pas saat permintaan puncak → penjualan maksimal, tidak kehabisan barang, tidak ada gudang menumpuk. Modal berputar efisien.
Kalau Meramal Meleset
✗
Produksi kurang → kehilangan penjualan saat momen emas; atau produksi lebih → gudang penuh, modal terkunci, barang berisiko rusak/kedaluwarsa.
Inti pekerjaan hari ini: mengubah 'tebakan' menjadi ramalan yang terstruktur, lalu menerjemahkannya jadi berapa unit diproduksi tiap triwulan.
Bagian 1 dari 4
Dari Ramalan ke Anggaran
Membedakan forecast (ramalan) dari budget (anggaran), dan melihat posisi keduanya dalam rantai anggaran induk.
ForecastAnggaranMaster Budget
Forecast vs Anggaran — Jangan Tertukar
Forecast (Ramalan)
Ramal
Perkiraan Netral
Perkiraan apa yang akan terjadi berdasarkan data & analisis. Sifatnya netral — apa adanya.
Contoh: "Diperkirakan terjual 200 ribu unit."
Anggaran (Budget)
Target
Komitmen Manajemen
Komitmen/target yang ingin dicapai, hasil keputusan manajemen atas dasar forecast + strategi.
Contoh: "Ditargetkan menjual 210 ribu unit dengan tambahan promosi."
Alurnya satu arah: Forecast → (keputusan manajemen) → Anggaran. Forecast adalah bahan baku; anggaran adalah keputusan jadi. Anggaran bisa lebih tinggi/rendah dari forecast karena ada target strategi.
Anggaran Penjualan = Titik Awal Seluruh Anggaran
Anggaran perusahaan adalah satu rangkaian yang saling terhubung — disebut anggaran induk (master budget). Semua bermula dari anggaran penjualan.
Karena semuanya bergantung pada angka penjualan, kesalahan di forecast penjualan menjalar ke seluruh anggaran. Itulah mengapa kita habiskan pertemuan ini untuk meramal dengan benar.
Bagian 2 dari 4
Metode Peramalan Penjualan
Dua keluarga besar — kualitatif (berbasis pendapat) dan kuantitatif (berbasis data) — lalu fokus pada trend least-square, moving average, dan indeks musiman.
KualitatifKuantitatif
Dua Keluarga Metode Peramalan
Kualitatif (Berbasis Pendapat)
Opini
Tidak pakai rumus angka
Judgment manajer berpengalaman
Survei niat beli konsumen
Pendapat pakar — metode Delphi (panel pakar, konvergen berulang)
Sales force — masukan tenaga penjual yang dekat pasar
Cocok: produk baru, data historis sedikit/tidak relevan.
Kuantitatif (Berbasis Data)
Data
Berbasis data historis + rumus
Trend — garis lurus least-square (Y = a + bX)
Moving average — rata-rata bergerak
Trend + indeks musiman — gabungan tren + pola musim
Regresi — variabel lebih dari waktu saja
Cocok: data masa lalu cukup & pola terulang.
Praktik terbaik: gabungkan. Hitung dulu secara kuantitatif (objektif), lalu sesuaikan dengan judgment (mis. ada rencana ekspansi/pesaing baru yang belum tercermin di data).
Tiga Metode Kuantitatif yang Akan Kita Pakai
Metode 1
Trend
Least-Square (Garis Lurus)
Menarik garis lurus terbaik menembus titik-titik data penjualan tahunan. Menangkap arah jangka panjang (naik/turun). Rumus: Y = a + bX.
Metode 2
MA
Moving Average
Rata-rata beberapa periode terakhir, "bergerak" tiap periode. Menghaluskan fluktuasi acak. Cocok data berfluktuasi tanpa tren kuat.
Metode 3
S-I
Trend + Indeks Musiman
Garis tren memberi angka tahunan; indeks musiman menyebarkannya ke triwulan/bulan sesuai pola musim (mis. puncak Lebaran).
Hari ini fokus utama: trend least-square (menentukan angka tahunan) + indeks musiman (memecahnya ke triwulan). Moving average kita kenalkan sebagai pelengkap.
Trend Least-Square (Garis Lurus)
Kita cari persamaan garis Y = a + bX yang paling pas dengan data penjualan historis. Trik klasik: kode X sehingga ΣX = 0 agar rumusnya simpel.
Y = a + bX · a = ΣY ÷ n · b = ΣXY ÷ ΣX²
Y = penjualan (yang diramalkan) ·
X = kode waktu (tahun) ·
n = jumlah data ·
a = nilai tengah garis (titik X=0) ·
b = kemiringan (tambahan penjualan per tahun)
Pengkodean X (ΣX = 0): Data ganjil (mis. 5 tahun): titik tengah = 0, lalu …−2, −1, 0, 1, 2… Data genap (mis. 4 tahun): pakai loncatan 2 — …−3, −1, +1, +3… (ΣX tetap = 0) Dengan ΣX = 0, rumus a dan b menjadi sangat ringkas.
Hitung dari Nol — HDN-1: Tabel Kerja Least-Square
PT Sari Rasa mencatat penjualan 5 tahun (dalam ribu unit). Langkah 1: buat tabel kerja untuk mencari ΣY, ΣXY, dan ΣX².
Tahun
X (kode)
Y (ribu unit)
XY
X²
2021
−2
125
−250
4
2022
−1
140
−140
1
2023
0 (titik tengah)
155
0
0
2024
+1
170
+170
1
2025
+2
185
+370
4
Σ
0 ✓
775
150
10
Cek: ΣX = 0 ✓ — syarat agar rumus a dan b berlaku ringkas. Data ini tumbuh 15 ribu unit/tahun secara konsisten (sengaja dibuat linear agar mekanik jelas; data nyata lebih bergelombang).
Hitung dari Nol — HDN-1 (lanjut): a, b, dan Forecast 2026
Dari tabel kerja (ΣY=775, ΣXY=150, ΣX²=10, n=5), kita hitung a, b, lalu proyeksikan 2026.
Langkah
Perhitungan
Nilai
a = ΣY ÷ n
775 ÷ 5
155
b = ΣXY ÷ ΣX²
150 ÷ 10
15
Persamaan trend
Y = 155 + 15X
—
Forecast 2026 (X = 3)
155 + 15 × 3 = 155 + 45
200 ribu unit
Hasil Forecast
200
ribu unit (2026)
Kode X=3 karena tahun 2026 melanjutkan urutan …1, 2, 3. Garis trend tumbuh 15 ribu unit/tahun (nilai b).
Forecast 2026 ≈ 200 ribu unit. Ini adalah angka tahunan — belum dipecah ke triwulan. Langkah selanjutnya: sebar dengan indeks musiman.
Pelengkap: Moving Average & Cara Menghitung Indeks Musiman
Moving Average (3-Periode)
MA
Rata-rata bergerak
Forecast = rata-rata 3 periode terakhir.
Contoh: bulan terakhir = 130, 125, 140 → forecast = (130+125+140) ÷ 3 = 131,67.
"Bergerak": tiap bulan baru, buang yang terlama.
Indeks Musiman — Dari Mana?
I
Rata-rata musim ÷ rata-rata umum
Bila rata-rata TW2 = 70 dan rata-rata semua TW = 50 → indeks TW2 = 70 ÷ 50 = 1,40 (penjualan TW2 = 140% dari rata-rata).
Indeks > 1 = musim ramai. Indeks < 1 = musim sepi.
Patokan wajib: karena ada 4 triwulan dan rata-rata indeks harus 1, maka jumlah seluruh indeks triwulanan = 4,00. Kalau bukan 4, ada yang salah.
Coba Sendiri: Sebar Forecast Tahunan ke 4 Triwulan
Ubah pola musiman (puncak di triwulan mana) dan lihat indeks tiap triwulan otomatis menyesuaikan, sambil total tetap terjaga 4,00.
Hitung dari Nol — HDN-1 (lanjut): Sebar 200 Ribu Unit ke 4 Triwulan
Forecast tahunan 2026 = 200 ribu unit. Rata-rata per triwulan = 200 ÷ 4 = 50 ribu unit. Kalikan dengan indeks musiman PT Sari Rasa (puncak TW2 = Lebaran).
Triwulan
Indeks Musiman
Perhitungan (50 × indeks)
Penjualan (ribu unit)
TW1 (Jan–Mar)
0,80
50 × 0,80
40
TW2 (Apr–Jun, Lebaran)
1,40
50 × 1,40
70
TW3 (Jul–Sep)
0,90
50 × 0,90
45
TW4 (Okt–Des)
0,90
50 × 0,90
45
Σ
4,00 ✓
—
200 ✓
Hasil: TW1=40, TW2=70, TW3=45, TW4=45 (total 200). TW2 melonjak ke 70 ribu unit — efek Ramadan/Lebaran. Tanpa indeks musiman, kita keliru membagi rata 50 tiap triwulan.
Bagian 3 dari 4
Anggaran Penjualan
Mengubah forecast unit menjadi rencana penjualan dalam rupiah — dan menyusunnya multi-dimensi: per produk, per daerah, per triwulan.
Anggaran Penjualan (Rp) = Unit × Harga Jual
Dari Forecast Unit ke Anggaran Penjualan Rupiah
Rumusnya satu baris, tetapi inilah jembatan dari 'ramalan' ke 'angka uang' yang dipakai seluruh anggaran lain.
Anggaran Penjualan (Rp) = Kuantitas Terjual (unit) × Harga Jual per Unit
Contoh Satu Triwulan
Rp 350 jt
TW2 (Lebaran)
70.000 unit × Rp 5.000 = Rp 350.000.000. Angka rupiah ini masuk ke laporan laba rugi proforma dan anggaran kas.
Kenapa Penting
Rp
Bahasa manajemen
Unit saja tidak cukup. Anggaran rupiah yang masuk ke laporan laba rugi proforma dan menentukan kapan uang benar-benar masuk (anggaran kas).
Harga jual bisa berbeda antar-produk & antar-periode. Kalau begitu, hitung tiap baris terpisah lalu jumlahkan — jangan pukul rata satu harga.
Anggaran Penjualan Multi-Dimensi (Produk × Daerah × Triwulan)
Dunia nyata: satu perusahaan punya banyak produk dan banyak wilayah. Contoh PT Sari Rasa untuk TW1 (40 ribu unit):
Produk
Jateng (unit)
Jatim (unit)
Total Unit
Harga/unit
Nilai (Rp)
Reguler
18.000
12.000
30.000
Rp 5.000
Rp 150.000.000
Premium
6.000
4.000
10.000
Rp 8.000
Rp 80.000.000
Total TW1
24.000
16.000
40.000 ✓
—
Rp 230.000.000
Total unit TW1 = 40 ribu (cocok dengan HDN-1 ✓). Total rupiah TW1 = Rp 230 jt — lebih besar dari 40 ribu × Rp 5.000 = Rp 200 jt, karena produk Premium berharga lebih tinggi. Multi-dimensi membuat tiap tim wilayah punya target yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hitung dari Nol — HDN-2a: Anggaran Penjualan Rupiah 4 Triwulan
Pakai forecast unit dari HDN-1 dan harga jual rata-rata Rp 5.000/unit. Susun anggaran penjualan rupiah setahun.
Triwulan
Unit (ribu)
Perhitungan (unit × Rp 5.000)
Anggaran Penjualan (Rp)
TW1 (Jan–Mar)
40
40.000 × 5.000
Rp 200.000.000
TW2 (Apr–Jun, Lebaran)
70
70.000 × 5.000
Rp 350.000.000
TW3 (Jul–Sep)
45
45.000 × 5.000
Rp 225.000.000
TW4 (Okt–Des)
45
45.000 × 5.000
Rp 225.000.000
Total
200
—
Rp 1.000.000.000
Total anggaran penjualan setahun = Rp 1 miliar. TW2 menyumbang Rp 350 jt (35% setahun) — momen Lebaran adalah triwulan paling menentukan bagi perusahaan ini.
Bagian 4 dari 4
Anggaran Produksi & Persediaan
Berapa unit harus diproduksi? Bukan sama dengan penjualan — tergantung kebijakan persediaan. Satu rumus inti, dua pilihan kebijakan.
Produksi = Penjualan + Persediaan Akhir − Persediaan Awal
Rumus Inti Anggaran Produksi
Logikanya sederhana: barang yang dibutuhkan = untuk dijual + untuk stok akhir; dikurangi stok yang sudah ada di awal.
Produksi = Penjualan + Persediaan Akhir (diinginkan) − Persediaan Awal
Penjualan = unit yang akan dijual ·
Persediaan Akhir = stok yang ingin tersisa di akhir periode ·
Persediaan Awal = stok tersisa dari periode sebelumnya
Logika "keranjang": yang harus tersedia = barang untuk dijual + barang untuk disimpan. Sebagian sudah ada (persediaan awal), sisanya harus diproduksi. → Produksi = (Jual + Stok Akhir) − Stok Awal
Kritis: Persediaan akhir TWn = persediaan awal TWn+1. Inilah yang menyambung tabel antar-triwulan — jangan sampai terputus.
Dua Kebijakan Persediaan — Sebuah Trade-Off
Karena penjualan naik-turun musiman, perusahaan harus memilih: jaga produksi tetap rata, atau jaga persediaan tetap rata? Tidak bisa keduanya sekaligus.
Produksi Stabil (Stable Production)
= 50
Produksi sama tiap triwulan
+ Mesin & TK efisien, tidak lembur/menganggur
−Persediaan membengkak saat sepi & menipis saat ramai
Butuh gudang besar untuk menampung surplus musim sepi
Persediaan Stabil (Stable Inventory)
= 20
Persediaan dijaga tetap; produksi mengikuti penjualan
+ Gudang & modal persediaan minimal
−Produksi naik-turun tajam — lembur saat ramai, menganggur saat sepi
Biaya tenaga kerja tidak efisien
Ini trade-off klasik: meratakan yang satu memaksa yang lain bergejolak. Perusahaan nyata biasanya memilih jalan tengah.
Coba Sendiri: Uji Kebijakan Produksi vs Persediaan
Geser kebijakan persediaan akhir dan lihat bagaimana angka produksi tiap triwulan ikut naik-turun atau justru mendatar.
Hitung dari Nol — HDN-2b: Anggaran Produksi 4 Triwulan
Kebijakan: persediaan akhir = 20% penjualan triwulan berikutnya. Persediaan awal TW1 = 8 ribu unit. Penjualan TW1-2027 diasumsikan 50 ribu unit (untuk stok akhir TW4).
Keterangan
TW1
TW2
TW3
TW4
Setahun
Penjualan
40
70
45
45
200
(+) Persediaan Akhir (20% TW berikut)
14
9
9
10
10
= Kebutuhan
54
79
54
55
210
(−) Persediaan Awal
8
14
9
9
8
= Produksi
46
65
45
46
202
Total produksi = 202 ribu unit (vs penjualan 200 — selisih 2 = kenaikan stok akhir 10 − awal 8). Penjualan berayun 40→70 (range 30), tetapi produksi hanya 45→65 (range 20) — anggaran produksi otomatis menghaluskan beban pabrik.
Studi Kasus: Produksi Stabil vs Persediaan Stabil — Dampaknya
Penjualan PT Sari Rasa: 40, 70, 45, 45 (total 200 ribu unit). Persediaan awal tahun = 20 ribu. Bandingkan dua kebijakan ekstrem (total produksi tahunan = 200).
Triwulan
Penjualan
A: Produksi Stabil (50/TW) → Persediaan akhir
B: Persediaan Stabil (tetap 20) → Produksi
TW1
40
20+50−40 = 30
40
TW2 (Lebaran)
70
30+50−70 = 10
70
TW3
45
10+50−45 = 15
45
TW4
45
15+50−45 = 20
45
Rentang ayun
40–70 (30)
Persediaan: 10–30 (ayun 20)
Produksi: 40–70 (ayun 30)
A (produksi rata 50): produksi tenang, persediaan berayun 10–30 (butuh gudang besar). B (persediaan rata 20): gudang kecil, produksi berayun 40–70 (lembur saat Lebaran). Trade-off-nya nyata dan terukur.
Lima Jebakan dalam Menyusun Anggaran Penjualan & Produksi
1
Forecast disamakan dengan anggaran — lupa bahwa anggaran adalah keputusan manajemen di atas forecast.
2
Salah kode X — untuk data genap, lupa pakai loncatan 2 (ΣX harus = 0); kalau kode salah, a dan b ikut salah.
3
Mengabaikan musim — membagi forecast tahunan rata ke 4 triwulan, padahal pola Lebaran membuat TW tertentu jauh lebih besar.
4
Lupa menyambung persediaan — persediaan akhir TWn TIDAK dijadikan persediaan awal TWn+1.
5
Mengira produksi = penjualan — abai kebijakan persediaan; produksi selalu = penjualan + akhir − awal.
Sebelum serahkan jawaban, cek: (a) ΣX = 0 · (b) Σ indeks = 4 · (c) rantai persediaan tersambung · (d) total produksi ≈ penjualan ± perubahan stok. Empat cek ini menutup mayoritas kesalahan.
Cheat Sheet & Peta Konsep
Konsep
Rumus
Untuk
Trend least-square
Y = a + bX; a = ΣY÷n; b = ΣXY÷ΣX²
Forecast tahunan (ΣX=0)
Indeks musiman
rata-rata musim ÷ rata-rata umum (Σ = 4)
Sebar forecast ke triwulan
Moving average
rata-rata n periode terakhir
Haluskan data fluktuatif
Anggaran penjualan (Rp)
Unit × Harga jual per unit
Unit → rupiah
Anggaran produksi
Penjualan + Persed. Akhir − Persed. Awal
Berapa unit diproduksi
Satu benang merah: semua bermula dari angka penjualan. Ramalkan benar → anggaran penjualan benar → anggaran produksi benar → seluruh anggaran induk benar.
Kode X: −1, 0, +1. Hitung a dan b, lalu ramalkan penjualan 2026.
Petunjuk: ΣX = 0 ✓. Buat tabel X, Y, XY, X² terlebih dulu.
Latihan 2 — Produksi
L2
Rumus Anggaran Produksi
Satu triwulan: Penjualan = 500 ribu unit Persediaan akhir diinginkan = 80 ribu unit Persediaan awal = 60 ribu unit
Berapa unit harus diproduksi? Petunjuk: tulis rumus lengkap dulu, baru masukkan angka.
Kerjakan 5–7 menit secara mandiri. Kunci: Latihan 1 → 160 ribu unit (a=120, b=20, X=2). Latihan 2 → 520 ribu unit. Kita bahas bersama setelah waktu selesai.
Persiapan Pertemuan 3
Hari ini Anda belajar meramal penjualan dan menyusun anggaran penjualan & produksi. Pertemuan depan kita lanjut ke anggaran biaya produksi — bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.
Pertemuan 3 — Anggaran Biaya Produksi
Dari unit produksi (hasil hari ini) → kebutuhan & pembelian bahan baku
Anggaran tenaga kerja langsung (jam × tarif)
Anggaran overhead pabrik (tetap + variabel)
Semua bertumpu pada angka produksi yang kita hitung hari ini
Tugas Mandiri — Latih
PR
Sebelum Pertemuan 3
Ulangi HDN-1 dan HDN-2 dengan data Anda sendiri (mis. penjualan usaha keluarga/UMKM yang Anda kenal). Bawa kalkulator ke kelas berikutnya.
Kuasai rumus least-square & anggaran produksi malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 3 — Anggaran Biaya Produksi.