‹ Daftar slidePertemuan 4: Proses Keputusan Pembelian Online: pencarian, evaluasi, pembelian, pasca-beli
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Analisis Perilaku Konsumen Digital
Pertemuan 4 — Proses Keputusan Pembelian Online
Membedah empat tahap perjalanan konsumen di layar: pencarian, evaluasi, pembelian, dan pasca-beli — dari niat mencari sepatu lari di Shopee sampai keputusan memberi bintang lima.
RPS minggu 4 • 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu memetakan dan menganalisis proses keputusan pembelian online konsumen Indonesia secara bertahap. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — KERANGKA
MODEL 4 TAHAP
Menjelaskan urutan pencarian, evaluasi, pembelian, dan pasca-beli sebagai satu siklus.
CAPAIAN 2 — PENYARINGAN
EVOKED SET
Menghitung bagaimana konsumen menyaring puluhan opsi menjadi beberapa kandidat akhir.
CAPAIAN 3 — EVALUASI
SKOR MULTI-ATRIBUT
Menerapkan model compensatory untuk membandingkan alternatif produk berbasis bobot kriteria.
CAPAIAN 4 — SIKLUS PENUH
DARI KLIK SAMPAI ULASAN
Menganalisis kasus e-commerce Indonesia dari trigger kebutuhan sampai perilaku pasca-beli.
Dari Notifikasi Sampai Bintang Lima
Setiap kali Anda membeli sesuatu di HP, otak Anda sebenarnya sedang menjalani proses keputusan yang bisa dipetakan secara sistematis.
SKENARIO NYATA
Sepatu Lari Rusak
Mahasiswa bisnis digital di Semarang melihat sol sepatu larinya sobek saat lari pagi di Simpang Lima — muncul kebutuhan mendadak untuk membeli sepatu baru.
PERJALANAN DIGITAL
Cari → Bandingkan → Beli
Ia membuka Shopee, mengetik "sepatu lari pria", membandingkan rating dan harga, lalu checkout memakai GoPay dalam waktu kurang dari 10 menit.
Proses yang tampak instan ini sebenarnya melewati empat tahap tersembunyi — dan setiap tahap adalah peluang bagi pemasar digital untuk memengaruhi keputusan konsumen.
Bagian 1 dari 3
Awal Perjalanan: Kebutuhan dan Pencarian
Sebelum membeli, konsumen menyadari sebuah kebutuhan lalu mencari informasi untuk menjawabnya.
Pengenalan KebutuhanPencarian Informasi
Tahap 1: Pengenalan Kebutuhan (Need Recognition)
Proses dimulai saat konsumen merasakan kesenjangan antara kondisi aktual dan kondisi yang diinginkan.
DUA JENIS PEMICU (TRIGGER) DI DUNIA DIGITAL
Pemicu internal: rasa lapar, sepatu rusak, baterai HP lemah → kebutuhan muncul dari dalam diri konsumen tanpa rangsangan luar.
Pemicu eksternal digital: notifikasi flash sale Shopee, story Instagram teman memakai produk baru, iklan TikTok yang lewat di beranda → kebutuhan "dibangkitkan" oleh rangsangan luar.
Bedanya dengan konsumen offline: pemicu eksternal digital jauh lebih sering dan lebih personal — algoritma tahu persis kapan harus mengingatkan Anda tentang keranjang belanja yang tertinggal.
Tahap 2: Pencarian Informasi (Information Search)
Setelah kebutuhan disadari, konsumen mencari informasi untuk menjawabnya — bisa dari dalam ingatan, bisa dari luar.
PENCARIAN INTERNAL
Ingatan & Pengalaman
Konsumen mengingat merek yang pernah dipakai atau direkomendasikan teman, tanpa perlu mencari lagi di internet.
PENCARIAN EKSTERNAL
Marketplace & Media Sosial
Mencari di kolom pencarian Shopee/Tokopedia, membaca ulasan, atau menonton video unboxing di TikTok.
Istilah evoked set (himpunan kandidat) merujuk pada sekumpulan kecil merek/produk yang benar-benar dipertimbangkan konsumen — hasil penyaringan dari puluhan bahkan ratusan opsi yang tersedia.
Hitung dari Nol: Menyaring Evoked Set
Kasus: mahasiswa dari Slide 3 mengetik "sepatu lari pria" di Shopee dan mendapat 60 hasil pencarian. Ia menyaring bertahap sampai ke kandidat akhir.
DIKETAHUI
Total hasil pencarian = 60 produk • Lolos filter rating ≥4,5 = 40% • Lolos filter harga ≤ budget = 50% • Lolos filter gratis ongkir = 25%
RUMUS
Sisa Produk = Jumlah Sebelumnya × Persentase Lolos Filter
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total hasil pencarian awal
diberikan langsung
60 produk
2. Setelah filter rating ≥4,5 bintang
60 × 40%
24 produk
3. Setelah filter harga sesuai budget
24 × 50%
12 produk
4. Setelah filter gratis ongkir & respon cepat
12 × 25%
3 produk (evoked set)
Dari 60 hasil pencarian, konsumen ini hanya benar-benar mempertimbangkan 3 produk — itulah evoked set-nya, sekitar 5% dari total opsi yang tersedia.
Bagian 2 dari 3
Titik Krusial: Evaluasi dan Pembelian
Dari evoked set yang tersisa, konsumen membandingkan kandidat lalu menjatuhkan pilihan final.
Evaluasi AlternatifKeputusan Pembelian
Tahap 3: Kriteria Evaluasi Alternatif
Konsumen membandingkan kandidat dalam evoked set menggunakan sejumlah kriteria (atribut) yang penting baginya.
HARGA
Nilai vs Budget
Dibandingkan dengan produk sejenis dan kemampuan bayar konsumen.
RATING & ULASAN
Bukti Sosial
Bintang, jumlah ulasan, dan foto pembeli lain sebagai sinyal kualitas.
PENGIRIMAN
Ongkir & Kecepatan
Gratis ongkir dan estimasi tiba menjadi penentu penting di Indonesia.
Setiap konsumen memberi bobot berbeda pada tiap kriteria — mahasiswa hemat mungkin memberi bobot besar pada harga, sementara pelari serius memberi bobot besar pada kualitas.
Dua Gaya Berpikir: Compensatory vs Non-Compensatory
Cara konsumen menggabungkan penilaian atas berbagai kriteria berbeda-beda tergantung tingkat keterlibatan (involvement) mereka.
COMPENSATORY (MENGIMBANGI)
Skor Total Menang
Kelemahan pada satu kriteria bisa "diimbangi" kelebihan pada kriteria lain — dipakai saat pembelian penting, misal laptop kuliah.
NON-COMPENSATORY (ELIMINASI)
Aturan Cepat & Ketat
Produk langsung dicoret jika gagal di satu kriteria minimum, tanpa peduli keunggulan lainnya — dipakai saat pembelian rutin murah.
Contoh non-compensatory: "rating di bawah 4,5 langsung skip" — sekeras apa pun harganya murah, produk tetap tersingkir tanpa dipertimbangkan lagi.
Hitung dari Nol: Skor Multi-Atribut (Compensatory)
Kasus: dari evoked set 3 produk (Slide 7), mahasiswa menilai Sepatu Merek X memakai bobot pribadinya untuk tiga kriteria.
Skor total Merek X = 8,10. Jika kandidat lain di evoked set hanya memperoleh skor 7,60, maka Merek X yang dipilih — meski harganya bukan yang termurah, keunggulan rating berhasil "mengimbangi" (compensate).
Coba Sendiri: Hitung Skor Multi-Atribut Produk Pilihan Anda
Ubah bobot kepentingan tiap kriteria dan skor tiap produk, lalu amati bagaimana skor total compensatory menentukan pemenang di antara alternatif yang bersaing.
Tahap 3 Lanjutan: Momen Keputusan Pembelian
Setelah pemenang evaluasi ditentukan, ada jeda antara "niat membeli" dan "benar-benar checkout" yang bisa gagal di tengah jalan.
PENDORONG KONVERSI
Diskon & Flash Sale
Batas waktu (countdown) dan stok terbatas menciptakan urgensi yang mempercepat keputusan.
PENGHAMBAT KONVERSI
Cart Abandonment
Konsumen memasukkan produk ke keranjang (cart) tapi tidak jadi checkout — sering dipicu ongkir mendadak atau ragu di detik akhir.
Kemudahan metode pembayaran (GoPay, ShopeePay, transfer BCA/QRIS) adalah salah satu penentu tersembunyi apakah niat beli berubah menjadi transaksi nyata.
Faktor Situasional yang Mengunci Keputusan
Selain skor evaluasi, faktor situasional di momen checkout ikut menentukan produk mana yang benar-benar dibeli.
TIGA FAKTOR SITUASIONAL PALING BERPENGARUH
Kepercayaan pada penjual: badge "Star Seller" atau "Mall" di Tokopedia/Shopee mengurangi rasa ragu konsumen.
Tekanan waktu: stok tinggal 2 unit atau promo berakhir 1 jam lagi mempercepat keputusan.
Kemudahan transaksi: metode bayar tersimpan (one-click checkout) menghilangkan gesekan terakhir.
Bahkan setelah skor evaluasi menunjukkan pemenang jelas, satu faktor situasional negatif — misalnya ulasan buruk terbaru — bisa membatalkan keputusan dalam hitungan detik.
Bagian 3 dari 3
Setelah Klik Beli: Perilaku Pasca-Pembelian
Proses tidak berhenti di checkout — kepuasan atau kekecewaan pasca-beli menentukan siklus berikutnya.
Kepuasan/DisonansiPerilaku Lanjutan
Tahap 4: Kepuasan vs Disonansi Kognitif
Setelah produk diterima, konsumen membandingkan ekspektasi dengan kenyataan — hasilnya menentukan kepuasan atau penyesalan.
KEPUASAN (SATISFACTION)
Kinerja ≥ Ekspektasi
Sepatu yang diterima nyaman dan sesuai foto → konsumen puas, cenderung memberi ulasan positif.
DISONANSI KOGNITIF
Keraguan Pasca-Beli
Ketidaknyamanan psikologis karena ragu apakah pilihannya sudah tepat — sering muncul pada pembelian mahal atau penting.
Disonansi kognitif (cognitive dissonance) adalah rasa tidak nyaman akibat konflik antara keyakinan dan tindakan — misalnya menyesal membeli laptop mahal setelah melihat model lebih murah dengan spesifikasi mirip.
Coba Sendiri: Ukur Magnitudo Disonansi Kognitif Anda
Atur faktor-faktor seperti harga pembelian dan ketersediaan alternatif lebih murah, lalu amati bagaimana intensitas disonansi kognitif yang dirasakan konsumen berubah.
Konsekuensi Perilaku Pasca-Beli
Apa yang dilakukan konsumen setelah menilai kepuasannya menentukan nilai jangka panjang bagi bisnis.
JIKA PUAS
Repeat Purchase
Membeli lagi, memberi rating tinggi, dan merekomendasikan ke teman (eWOM positif).
JIKA NETRAL
Pasif
Tidak memberi ulasan, tidak komplain, tapi juga tidak loyal — mudah pindah ke pesaing.
JIKA KECEWA
Komplain & eWOM Negatif
Mengajukan retur, memberi ulasan buruk, atau bahkan viral di media sosial.
Perilaku pasca-beli inilah yang menjadi input bagi konsumen LAIN di tahap pencarian informasi (Slide 6) — siklus proses keputusan pembelian terus berputar.
Peta Keseluruhan: Siklus Proses Keputusan Pembelian
Keempat tahap membentuk siklus yang berputar kembali, bukan garis lurus yang berhenti di pembelian.
Studi Kasus: Perjalanan Lengkap di Tokopedia
Ikuti bagaimana seorang konsumen di Semarang melewati keempat tahap dalam waktu kurang dari satu jam.
Tahap
Yang Terjadi
Titik Intervensi Bisnis
1. Kebutuhan
Melihat story teman memakai tas ransel baru untuk kuliah
Iklan bersponsor di media sosial
2. Pencarian
Ketik "tas ransel laptop" di Tokopedia, dapat 80 hasil, saring jadi 4 kandidat
Algoritma peringkat pencarian
3. Evaluasi & Beli
Bandingkan skor harga-rating-ongkir, pilih pemenang, checkout via GoPay
Badge Star Seller, one-click checkout
4. Pasca-Beli
Tas nyaman, sesuai foto → beri rating 5 & foto ulasan
Insentif ulasan (poin/cashback)
Perhatikan: setiap tahap punya "titik intervensi" berbeda yang bisa dioptimalkan pemasar — inilah nilai praktis mempelajari proses ini untuk karier di bidang digital marketing.
Latihan: Petakan Proses Keputusan Pembelian Anda
Kerjakan dalam kelompok kecil (3–4 orang), waktu 15 menit.
INSTRUKSI TUGAS
Ingat satu pembelian online Anda dalam sebulan terakhir (produk apa saja).
Identifikasi pemicu (trigger) kebutuhan awal — internal atau eksternal digital?
Sebutkan berapa kira-kira kandidat dalam evoked set Anda, dan kriteria apa yang paling berat bobotnya saat evaluasi.
Ceritakan hasil pasca-beli: puas, netral, atau mengalami disonansi kognitif? Apa yang Anda lakukan setelahnya?
Setiap kelompok akan berbagi satu contoh paling menarik secara singkat (2 menit) sebagai jembatan menuju Pertemuan 5 tentang pencarian informasi dan eWOM.
Takeaways Hari Ini
Tiga hal yang harus Anda bawa pulang dari pertemuan tentang proses keputusan pembelian online:
Empat tahap membentuk siklus, bukan garis lurus: pengenalan kebutuhan, pencarian, evaluasi/pembelian, dan pasca-beli saling terhubung — hasil pasca-beli menjadi input pencarian konsumen lain.
Penyaringan dan evaluasi bisa dihitung secara sistematis: evoked set terbentuk lewat filter bertahap, dan skor multi-atribut compensatory menjelaskan bagaimana kelebihan satu kriteria mengimbangi kekurangan lainnya.
Setiap tahap adalah titik intervensi bisnis: dari pemicu kebutuhan sampai insentif ulasan pasca-beli, pemasar digital punya peluang di setiap simpul proses ini.
Minggu depan (Pertemuan 5) kita akan memperdalam Tahap 2 — pencarian informasi dan eWOM — termasuk bagaimana ulasan dan rating online membentuk kepercayaan konsumen.