Bisakah angka di laporan keuangan meramalkan perusahaan akan bangkrut? Hari ini kita rakit satu angka — Z-Score — dari lima rasio, lalu kita uji keandalannya.
RPS Minggu 12 · Sub-CPMK 11 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan, menghitung, dan mengevaluasi Altman Z-Score (Sub-CPMK 11). Secara rinci:
Capaian 1 — Konsep
C1
Ide Diskriminan
Menjelaskan ide diskriminan & latar belakang Altman (1968): mengapa banyak rasio dirangkum jadi satu skor.
Capaian 2 — Hitung Rasio
C2
Lima Rasio X1–X5
Menghitung kelima rasio X1–X5 dari laporan keuangan contoh, dari nol tanpa kesalahan aritmetika.
Capaian 3 — Rakit & Klasifikasi
C3
Nilai Z & Zona
Merakit nilai Z (model asli & Z'') lalu menempatkannya di zona aman/grey/distress yang benar.
Capaian 4 — Evaluasi
C4
Lintas Industri
Menilai keandalan lintas industri — mengapa Z asli tak cocok untuk bank, jasa, dan non-manufaktur.
Bisakah Kebangkrutan Diramalkan Sebelum Terjadi?
Bayangkan Anda analis kredit sebuah bank. Sebuah perusahaan mengajukan pinjaman Rp 200 miliar. Laporan keuangannya tampak baik-baik saja. Berani memberi pinjaman?
Masalahnya
Satu Rasio Saja Bisa Menipu
Laba bisa positif tetapi perusahaan tetap bisa bangkrut tahun depan — karena likuiditas kering, utang menumpuk, atau modal tergerus. Satu rasio saja sering menyesatkan.
Solusi Altman (1968)
Gabungkan 5 Rasio
Gabungkan lima rasio kunci menjadi satu skor (Z). Pada riset aslinya, Z memprediksi kebangkrutan satu tahun ke depan dengan akurasi tinggi.
Inilah kekuatan Z-Score: mengubah halaman-halaman laporan keuangan menjadi satu sinyal dini — dan hari ini Anda belajar menghitungnya sendiri.
Bagian 1 dari 4
Mengapa Meramal Kebangkrutan, dan Ide Diskriminan
Apa itu kesulitan keuangan, mengapa kita perlu memprediksinya, dan gagasan jenius Altman: memisahkan yang sehat dari yang sakit dengan satu garis.
DistressDiskriminanSinyal Dini
Kesulitan Keuangan (Financial Distress) ≠ Rugi Biasa
Distress adalah kondisi perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban kepada kreditor — bukan sekadar laba turun. Ada gradasinya:
Gejala Distress
Sinyal Bahaya
Arus kas tak cukup bayar bunga
Utang jatuh tempo menumpuk
Modal kerja negatif
Ekuitas tergerus rugi beruntun
Bila berlanjut → gagal bayar (default)
Jalur Hukum di Indonesia
UU 37/2004
Bila benar gagal bayar, prosesnya diatur UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan & PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) — debitor/kreditor bisa ajukan ke Pengadilan Niaga.
Z-Score memprediksi risiko distress, bukan memvonis pailit. Putusan pailit adalah proses hukum (UU 37/2004); Z-Score hanya sinyal dini dari angka.
Ide Altman: Tarik Satu Garis Pemisah
Satu rasio saja sering tumpang-tindih antara perusahaan sehat dan sakit. Analisis diskriminan mencari kombinasi rasio terbaik agar kedua kelompok terpisah sejelas mungkin.
Z adalah penjumlahan tertimbang: tiap rasio dikalikan bobot (koefisien) yang ditemukan dari data, lalu dijumlahkan. Rasio yang lebih kuat memisahkan mendapat bobot lebih besar.
Dari Mana Angka 1,2 ; 1,4 ; 3,3 ; 0,6 ; 1,0 Berasal?
Bukan karangan. Altman (1968) menelitinya dari data nyata perusahaan manufaktur publik di AS.
Sampel
Data Nyata
Membandingkan kelompok perusahaan yang bangkrut vs yang sehat (manufaktur, tercatat publik) dalam rentang waktu serupa.
Metode
MDA
Multiple Discriminant Analysis
MDA — menyaring banyak rasio menjadi lima yang paling kuat memisahkan, sekaligus menemukan bobot optimalnya.
Hasil
Akurasi Tinggi
Akurasi prediksi tinggi untuk 1 tahun sebelum bangkrut; menurun untuk horizon lebih jauh (2–3 tahun).
Penting: model asli dikalibrasi untuk manufaktur publik AS, akhir 1960-an. Inilah akar semua keterbatasannya — konteks kalibrasi menentukan kapan model andal.
Sumber: Altman, E. I. (1968). Financial Ratios, Discriminant Analysis and the Prediction of Corporate Bankruptcy. Journal of Finance, 23(4), 589–609.
Bagian 2 dari 4
Lima Rasio Penyusun & Rumus Z
Mengenali X1 sampai X5 satu per satu, rumus Z asli, tiga zona cut-off, lalu data apa yang harus ditarik dari laporan keuangan.
Z = 1,2·X1 + 1,4·X2 + 3,3·X3 + 0,6·X4 + 1,0·X5
Lima Rasio Penyusun Z-Score (X1–X5)
Tiap rasio menangkap satu dimensi kesehatan: likuiditas, akumulasi laba, profitabilitas operasi, solvabilitas, dan efisiensi aset.
Rasio
Definisi
Menangkap
Bobot (Z asli)
X1
Modal Kerja ÷ Total Aset
Likuiditas / cadangan jangka pendek
1,2
X2
Laba Ditahan ÷ Total Aset
Akumulasi laba & kemandirian finansial
1,4
X3
EBIT ÷ Total Aset
Profitabilitas operasi (daya hasil aset)
3,3
X4
Nilai Pasar Ekuitas ÷ Total Liabilitas
Solvabilitas / bantalan terhadap utang
0,6
X5
Penjualan ÷ Total Aset
Efisiensi penggunaan aset (turnover)
1,0
X3 dapat bobot terbesar (3,3) — daya hasil aset operasi paling kuat memisahkan sehat vs bangkrut. Pada model Z' (privat), X4 memakai nilai buku ekuitas, bukan nilai pasar.
Rumus Z-Score Asli (Manufaktur Publik)
Kalikan tiap rasio dengan bobotnya, lalu jumlahkan. Ini model asli 1968 untuk perusahaan manufaktur yang sahamnya tercatat publik.
Z = 1,2·X1 + 1,4·X2 + 3,3·X3 + 0,6·X4 + 1,0·X5
Simbol
Kepanjangan
Sumber Data
X1 = WC/TA
Modal Kerja / Total Aset
Neraca
X2 = RE/TA
Laba Ditahan / Total Aset
Neraca
X3 = EBIT/TA
EBIT / Total Aset
Laba-Rugi & Neraca
X4 = MVE/TL
Nilai Pasar Ekuitas / Total Liabilitas
BEI × Neraca
X5 = Sales/TA
Penjualan / Total Aset
Laba-Rugi & Neraca
Catat: X4 memakai nilai pasar ekuitas (harga saham × jumlah saham) → model asli hanya bisa untuk perusahaan yang sahamnya diperdagangkan. Tak ada harga pasar → pakai varian Z' (Slide 16).
Membaca Skor: Tiga Zona (Model Z Asli)
Setelah Z dihitung, tempatkan di salah satu dari tiga zona. Ini ambang untuk model asli:
Zona Aman
Z > 2,99
Risiko kebangkrutan rendah. Perusahaan dinilai sehat secara finansial berdasarkan model ini.
Zona Abu-Abu (Grey)
1,81–2,99
Zona ketidakpastian. Tak bisa disimpulkan tegas; perlu analisis tambahan & pemantauan berkelanjutan.
Zona Distress
Z < 1,81
Risiko kebangkrutan tinggi. Sinyal bahaya kuat — tindakan segera diperlukan.
Grey area itu fitur, bukan bug. Model jujur mengakui ada wilayah abu-abu di mana satu angka tak cukup. Jangan paksa kesimpulan hitam-putih dari skor di zona ini.
Coba Sendiri: Geser Lima Rasio, Lihat Zona Berubah
Geser slider X1 sampai X5 satu per satu dan amati bagaimana skor Z bergerak melewati batas aman, abu-abu, dan distress.
Mengidentifikasi & Menarik Data dari Laporan Keuangan
Sebelum menghitung, tahu dulu tiap angka diambil dari mana. Tiga sumber: neraca, laba-rugi, dan pasar saham.
Dari Neraca
Neraca
Aset lancar & liabilitas lancar (→ Modal Kerja X1)
Total aset (penyebut X1, X2, X3, X5)
Laba ditahan (X2)
Total liabilitas (penyebut X4)
Dari Laba-Rugi
L/R
EBIT = laba sebelum bunga & pajak (X3)
Penjualan / pendapatan (X5)
Cek: EBIT = laba usaha sebelum "beban keuangan" & pajak
Dari Pasar Saham
BEI
Nilai pasar ekuitas = harga saham × jumlah saham beredar (X4 model asli)
Sumber: idx.co.id, situs emiten
Tips Indonesia: laporan keuangan emiten tersedia gratis di idx.co.id & situs perusahaan; harga saham & jumlah saham beredar juga dari BEI. EBIT = laba usaha sebelum "beban keuangan/bunga" dan pajak penghasilan.
Bagian 3 dari 4
Merakit Z dari Nol & Varian Model
Dua hitung-dari-nol: rakit Z asli untuk manufaktur tertekan, lalu bandingkan Z asli vs Z'' untuk perusahaan non-manufaktur — dan saksikan kesimpulannya bisa berubah.
Hitung dari Nol — HDN-1: Lima Rasio PT Manufaktur Tbk
PT Manufaktur Tbk (emiten, sedang tertekan). Data ilustratif (Rp miliar): TA 1.000 · Aset Lancar 380 · Liabilitas Lancar 420 · Laba Ditahan 50 · EBIT 40 · Penjualan 700 · Total Liabilitas 720 · Nilai Pasar Ekuitas 300. Hitung X1–X5.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Modal Kerja (WC)
Aset Lancar − Liabilitas Lancar = 380 − 420
−40(negatif!)
X1 = WC / TA
−40 ÷ 1.000
−0,0400
X2 = RE / TA
50 ÷ 1.000
0,0500
X3 = EBIT / TA
40 ÷ 1.000
0,0400
X4 = MVE / TL
300 ÷ 720
0,4167
X5 = Sales / TA
700 ÷ 1.000
0,7000
Modal kerja negatif (−40) sudah jadi tanda bahaya: liabilitas lancar melebihi aset lancar — perusahaan kesulitan menutup kewajiban jangka pendek. X1 negatif akan menyeret Z turun.
HDN-1 (lanjut): Rakit Z & Tentukan Zona
Kalikan tiap rasio dengan bobotnya, lalu jumlahkan:
Komponen
Perhitungan
Nilai
1,2 · X1
1,2 × (−0,0400)
−0,0480
1,4 · X2
1,4 × 0,0500
0,0700
3,3 · X3
3,3 × 0,0400
0,1320
0,6 · X4
0,6 × 0,4167
0,2500
1,0 · X5
1,0 × 0,7000
0,7000
Z (jumlahkan semua)
1,1040
Hasil Z
1,10
Z = 1,1040 < 1,81
ZONA DISTRESS Risiko kebangkrutan tinggi. Penyumbang terbesar kelemahan: X1 negatif & X3 rendah (profitabilitas operasi lemah).
X1 negatif menarik Z ke bawah. X5 (0,70) membantu tetapi tidak cukup mengangkat skor.
Varian 1 — Z' untuk Perusahaan Privat (Tak Tercatat)
Masalah model asli: X4 butuh nilai pasar ekuitas. Perusahaan privat tak punya harga saham. Solusi Altman: ganti X4 jadi nilai buku ekuitas, lalu kalibrasi ulang koefisien.
X5 ritel yang tinggi (2,80) mendongkrak Z asli sampai 2,80 poin sendirian — menyamarkan modal kerja yang sangat negatif (−250)! Z'' yang membuang X5 memberi gambaran jauh lebih jujur: −0,81 → DISTRESS, bukan aman.
Pelajaran HDN-2: Model yang Berbeda → Kesimpulan yang Berbeda
Menurut Z Asli
3,11
Z = 3,1060 > 2,99 → AMAN
Kesan: perusahaan sehat, tak perlu khawatir — padahal modal kerjanya sangat negatif (−250)!
Menurut Z'' (Non-Manuf., 4 variabel)
−0,81
Z'' = −0,8066 < 1,10 → DISTRESS
Risiko kebangkrutan tinggi — modal kerja negatif tertangkap karena X5 tidak lagi mendominasi skor.
Perusahaan yang sama, kesimpulan berlawanan — bukan karena hitungnya salah, tetapi karena modelnya beda. Z asli memberi bobot besar pada turnover (X5) yang menyesatkan untuk ritel. Z'' yang membuang X5 mengungkap distress sesungguhnya.
Aturan praktis: cocokkan model dengan jenis perusahaan — manufaktur publik → Z asli; privat → Z'; jasa/ritel/emerging → Z'' (tanpa X5, tanpa konstanta, cut-off 2,60/1,10). Salah model = salah kesimpulan.
Bagian 4 dari 4
Keandalan Lintas Industri & Konteks Indonesia
Mengapa Z asli gagal untuk bank, contoh emiten tertekan di BEI, keterbatasan model, dan cara memakainya secara bertanggung jawab.
Mengapa Z-Score Tak Cocok untuk Bank & Lembaga Keuangan
Model Altman dikalibrasi untuk perusahaan manufaktur. Struktur neraca bank sangat berbeda, sehingga rasionya kehilangan makna.
Struktur Neraca Berbeda
Leverage Tinggi = Normal
Bank wajar punya liabilitas (simpanan nasabah) jauh lebih besar dari ekuitas — leverage tinggi adalah model bisnisnya, bukan tanda sakit. X4 bank jadi sangat rendah & menyesatkan.
Rasio Tak Bermakna
X1 & X5 Tak Relevan
Konsep "modal kerja" (X1) & "penjualan" (X5) tak relevan untuk bank — pendapatan bank = bunga & fee, bukan "penjualan barang". X1, X5 jadi angka tanpa arti.
Untuk bank di Indonesia, gunakan kerangka yang tepat — mis. analisis berbasis CAMELS / RBBR (regulasi OJK), rasio kecukupan modal (CAR), NPL, dan likuiditas perbankan — bukan Altman Z-Score model manufaktur.
Konteks Indonesia: Z-Score & Emiten yang Pernah Tertekan
Sepanjang sejarah BEI, sejumlah emiten mengalami kesulitan keuangan berat hingga delisting atau masuk PKPU. Z-Score sering dipakai peneliti & analis untuk menelaah kasus-kasus ini — secara retrospektif (setelah fakta).
Pola yang Sering Terlihat
Sinyal Dini Bekerja
Pada emiten yang akhirnya tertekan, Z-Score (model yang sesuai) cenderung sudah berada di zona grey/distress beberapa periode sebelum masalah memuncak — bila modelnya tepat.
Tetapi Hati-Hati
Bukan Jaminan
Ada perusahaan distress yang akhirnya pulih, dan ada yang skornya "aman" tetapi jatuh karena fraud/peristiwa mendadak yang tak tertangkap rasio.
Catatan metode: angka Z emiten spesifik tidak ditampilkan di sini (nilai bergantung periode, model, & sumber data). Untuk riset nyata, tarik laporan keuangan dari idx.co.id, pilih model yang sesuai industri, lalu hitung sendiri.
Keterbatasan Model & Cara Memakainya dengan Benar
Jebakan 1 — Salah Model
Model ≠ Industri
Memakai koefisien/ambang model asli untuk perusahaan privat atau non-manufaktur. → Cocokkan model dengan industri.
Jebakan 2 — Data Salah
Definisi Keliru
Pakai laporan lama, atau X4 nilai buku padahal model asli minta nilai pasar. → Gunakan data terkini & definisi yang benar.
Jebakan 3 — Vonis Mutlak
Grey = Sinyal
Menyimpulkan "pasti bangkrut" dari satu skor grey. → Z = sinyal dini, bukan vonis; lengkapi dengan analisis lain.
Praktik baik: (1) pilih model sesuai industri & status (publik/privat); (2) hitung beberapa periode untuk lihat tren, bukan satu titik; (3) padukan dengan analisis rasio penuh, arus kas, & kualitas laba; (4) hormati zona grey.
Rasio (sama untuk semua): X1 = WC/TA · X2 = RE/TA · X3 = EBIT/TA · X4 = Ekuitas/TL · X5 = Sales/TA. Beda model = beda koefisien & ambang — jangan dicampur!
Sumber: Altman (1968), Journal of Finance 23(4); Muharram (2021), Modul Praktikum ALK.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan — Hitung Sendiri (L1)
Perusahaan manufaktur publik (Rp miliar): TA 500 · Aset Lancar 200 · Liab. Lancar 120 · Laba Ditahan 90 · EBIT 65 · Penjualan 450 · Total Liab. 240 · Nilai Pasar Ekuitas 360.
Hitung Modal Kerja (WC)
Hitung X1, X2, X3, X4, X5
Rakit Z asli
Tentukan zona & jelaskan artinya
Kunci: Z = 2,6730 → ZONA GREY. Kerjakan dulu sendiri!
Diskusi Kelas
2 Pertanyaan
D1. Mengapa zona "grey" justru menunjukkan kejujuran model, bukan kelemahannya?
D2. Atasan meminta Anda menilai sebuah bank dengan Z-Score model manufaktur — apa yang Anda katakan, dan kerangka apa yang Anda usulkan?
Bawa kalkulator. Kerjakan L1 dulu sendiri sebelum lihat kunci — keterampilan ini sering keluar di UAS.
Rangkuman & Langkah Berikutnya
Hari ini Anda belajar mengubah laporan keuangan menjadi satu sinyal dini kebangkrutan — sekaligus bersikap kritis terhadap keandalannya.
(2) Tiga zona: aman / grey / distress — hormati zona abu-abu
(3) Pilih model sesuai industri: asli (manuf. publik) · Z' (privat) · Z'' (non-manuf.)
Tugas Mandiri
Praktik Nyata
Ambil 1 emiten non-bank dari idx.co.id, tarik laporan keuangannya, pilih model yang tepat, hitung Z untuk 2 periode, lalu nilai trennya. Bawa hasilnya ke kelas.
Z-Score adalah alarm asap, bukan vonis hakim. Dipakai pada perusahaan & model yang tepat, ia salah satu alat paling berguna dalam analisis laporan keuangan.