stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-02
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 2: Analisis Common-Size (Ukuran Umum)
FEB UNDIP · Analisis Laporan Keuangan

Analisis Laporan Keuangan

Pertemuan 2 · Analisis Common-Size (Ukuran Umum)

Mengubah laporan keuangan dari rupiah menjadi persentase — agar perusahaan besar dan kecil bisa dibandingkan setara, dan pergeseran struktur yang tersembunyi di balik angka mentah menjadi terlihat jelas.

RPS Minggu 2 · Sub-CPMK 2 · 2 × 50 Menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung dan melakukan analisis common-size atas laporan keuangan (Sub-CPMK 2). Secara rinci:

Capaian 1 — Neraca
1
Neraca Common-Size
Menyusun neraca common-size — setiap pos dibagi total aset, kolom sisi aset dan pasiva masing-masing berjumlah 100%.
Capaian 2 — Laba Rugi
2
Laba Rugi Common-Size
Menyusun laba rugi common-size — setiap pos dibagi penjualan, menjadi persen dari penjualan. Margin kotor/usaha/bersih muncul otomatis.
Capaian 3 — Membaca
3
Interpretasi Struktur
Menafsirkan struktur aset, struktur modal, dan struktur margin dari tabel common-size yang sudah jadi.
Capaian 4 — Beda & Kegunaan
4
Common-Size vs Rasio
Membedakan common-size vs analisis rasio dan kapan ia mengungkap pergeseran yang nilai absolut sembunyikan.

Dua Perusahaan, Angka Mentah Tak Bisa Diadu

Mana yang persediaannya "lebih berat" dalam struktur asetnya? Jangan jawab dari angka rupiah.

Perusahaan A — Raksasa
Rp 35 T
Persediaan dari total aset Rp 250 T
Angka persediaan terlihat sangat besar. Tapi berapa porsinya terhadap total aset? 35 ÷ 250 = 14% aset.
Perusahaan B — Kecil
Rp 600 jt
Persediaan dari total aset Rp 2 M
Angka persediaan terlihat kecil. Tapi berapa porsinya? 0,6 ÷ 2,0 = 30% aset. B jauh lebih bertumpu persediaan.
Angka rupiah menipu skala. Persediaan A (Rp 35 T) jauh lebih besar dari B (Rp 600 jt) secara absolut — tapi secara struktur, B justru lebih bergantung pada persediaan (30% vs 14%). Tanpa common-size, intuisi Anda tertipu.
Bagian 1 dari 4
Apa & Mengapa Common-Size?
Definisi analisis vertikal, tujuannya, dan bagaimana ia berbeda dari analisis horizontal dan analisis rasio — plus dua penyebut yang wajib Anda hafal.

Apa Itu Analisis Common-Size?

Analisis common-size menyatakan setiap pos dalam sebuah laporan keuangan sebagai persentase dari satu basis tunggal pada periode yang sama — sehingga laporan "di-skala-ulang" menjadi struktur 100%.
Tujuan 1 — Bandingkan Lintas Ukuran
%
Setarakan perusahaan besar & kecil
Rp tak sebanding; % bisa diadu langsung. Indofood vs pabrik roti lokal bisa dibandingkan strukturnya secara adil (benchmarking sektor).
Tujuan 2 — Lihat Struktur & Pergeseran
Soroti komposisi & perubahan
Menyoroti komposisi (porsi tiap pos) dan perubahan komposisi antar-waktu yang sering disembunyikan angka absolut yang terus membesar.
Karena membandingkan pos-pos dalam satu laporan terhadap satu basis, common-size disebut juga analisis vertikal.

Coba Sendiri: Seragamkan Dua Perusahaan Beda Ukuran

Masukkan angka neraca dua perusahaan dengan skala berbeda jauh dan lihat bagaimana common-size menyetarakan keduanya ke basis 100%.

Common-Size di Antara Teknik Lain

Tiga teknik analisis sering tertukar. Bedakan dengan satu pertanyaan: dibandingkan dengan apa?

TeknikMembandingkanHasilContoh
Vertikal (common-size)Tiap pos ÷ satu basis (periode sama)% dari total aset / penjualanPersediaan = 14% aset
Horizontal (tren)Pos sama, antar-periode% perubahan / indeksPenjualan naik 12% YoY
RasioDua pos berbeda dibagiAngka rasio (kali / %)Current ratio = AL ÷ Utang Lancar
Jangan campur: common-size selalu dalam satu laporan, satu basis. Bila Anda membagi dua pos yang berbeda jenis (mis. aset lancar ÷ utang lancar), itu rasio, bukan common-size.

Dua Penyebut yang Tak Boleh Tertukar

Seluruh perhitungan hari ini berakar pada dua penyebut. Hafalkan keduanya.

Neraca → Basis = Total Aset
÷TA
Setiap pos neraca
Kas, piutang, persediaan, aset tetap, utang, ekuitas — semuanya dibagi total aset. Sisi aset = 100%; sisi pasiva (liabilitas + ekuitas) juga = 100%.
Laba Rugi → Basis = Penjualan
÷PJ
Setiap baris laba rugi
HPP, beban operasi, bunga, pajak, laba — semuanya dibagi penjualan (revenue). Penjualan sendiri = 100%.
% pos = (Nilai pos ÷ Basis) × 100%
Penyebut salah = analisis salah total. Pos neraca tidak dibagi penjualan; pos laba rugi tidak dibagi total aset.
Bagian 2 dari 4
Neraca Common-Size
Basis = total aset. Kita susun dari nol, lalu baca apa arti struktur aset dan struktur modalnya.
% pos neraca = pos ÷ total aset × 100%

Cara Menghitung Neraca Common-Size

Satu langkah saja per pos: bagi nilai pos dengan total aset, lalu kali 100%.

% pos = (Nilai pos ÷ Total Aset) × 100%

Total aset = baris "JUMLAH ASET" di neraca · semua pos pakai basis yang sama · sisi aset dan sisi pasiva sama-sama berbasis total aset.

PosNilai (Rp miliar)Perhitungan%
Kas & setara kas18.00018.000 ÷ 250.0007,20%
Persediaan35.00035.000 ÷ 250.00014,00%
Aset tetap (net)150.000150.000 ÷ 250.00060,00%
Ekuitas140.000140.000 ÷ 250.00056,00%
Karena semua dibagi angka yang sama (total aset), menyusunnya cepat — di Excel cukup satu rumus ditarik ke bawah (lihat Slide 21).

Hitung dari Nol — HDN-1: Neraca Common-Size Lengkap

Neraca PT Ilustratif (Rp miliar). Total aset = Rp 250.000. Ubah setiap pos menjadi % dari total aset.

Pos — Sisi AsetNilai (Rp)Perhitungan%
Kas & setara kas18.00018.000 ÷ 250.0007,20%
Piutang usaha22.00022.000 ÷ 250.0008,80%
Persediaan35.00035.000 ÷ 250.00014,00%
Aset lancar lain5.0005.000 ÷ 250.0002,00%
Aset tetap (net)150.000150.000 ÷ 250.00060,00%
Aset tak berwujud & lain20.00020.000 ÷ 250.0008,00%
JUMLAH ASET250.000basis100,00%
Pos — Sisi Pasiva%
Utang usaha12,00%
Utang jk pendek lain8,00%
Utang jk panjang24,00%
Ekuitas56,00%
JUMLAH PASIVA100,00%
Struktur terbaca: aset didominasi aset tetap (60%) → padat-modal. Pendanaan 56% ekuitas vs 44% utang → relatif konservatif.

Membaca Hasilnya: Apa Arti Angka-Angka Ini?

Struktur Aset (Sisi Kiri)
AT
Komposisi aset
  • Aset tetap besar → padat-modal (manufaktur, telekomunikasi)
  • Aset lancar besar (kas/piutang/persediaan) → padat-operasi/dagang
  • Persediaan besar → ritel/manufaktur
  • Piutang besar → banyak penjualan kredit
Struktur Modal (Sisi Kanan)
DER
Komposisi pendanaan
  • Utang besar → agresif/berisiko (beban bunga & gagal bayar naik)
  • Ekuitas besar → konservatif/aman
  • Bandingkan dengan rata-rata industri, bukan angka tunggal
Tidak ada angka "benar" universal. 60% aset tetap normal untuk pabrik, tapi aneh untuk bank. Baca selalu dalam konteks sektor.

Studi Kasus: Bank vs Manufaktur — Struktur Aset Berbeda Total

Common-size membuktikan model bisnis lewat komposisi aset. Bandingkan pola tipikalnya.

Bank (mis. tipe BBRI)
~3%
Aset tetap dari total aset
  • Kas & giro BI ~8%
  • Surat berharga ~18%
  • Kredit yang diberikan (net) ~62%
  • Aset tetap ~3%
  • Aset lain ~9%
Aset = aset keuangan; aset tetap mungil.
Manufaktur (mis. tipe ICBP)
~60%
Aset tetap dari total aset
  • Kas ~7%
  • Piutang ~9%
  • Persediaan ~14%
  • Aset tetap (net) ~60%
  • Aset lain ~10%
Aset = pabrik & barang; tak ada kredit yang diberikan.
Bank: aset tetap ~3%, didominasi kredit. Manufaktur: aset tetap ~60%. Struktur common-size langsung mengungkap model bisnis — tanpa membaca catatan kaki. (Pola ilustratif; verifikasi dari laporan tahunan IDX.)
Bagian 3 dari 4
Laba Rugi Common-Size
Basis berganti: penjualan. Setiap baris menjadi "berapa sen dari setiap Rp 1 penjualan" — dan struktur margin pun terbaca.
% pos L/R = pos ÷ penjualan × 100%

Cara Menghitung Laba Rugi Common-Size

Sama mekanisnya dengan neraca, hanya beda basis: bagi tiap pos dengan penjualan.

% pos = (Nilai pos ÷ Penjualan) × 100%

Penjualan (baris teratas) = 100% · setiap baris di bawahnya dibagi penjualan · baris margin (laba kotor, laba usaha, laba bersih) otomatis ikut jadi persen → langsung jadi rasio margin.

Tafsiran intuitif: tiap baris = "berapa sen dari setiap Rp 1 penjualan." HPP 65% → Rp 650 dari tiap Rp 1.000 penjualan habis untuk biaya pokok.
Bonus: baris laba di laba rugi common-size otomatis = margin kotor, margin usaha, margin bersih — tanpa rumus rasio terpisah.

Hitung dari Nol — HDN-2: Laba Rugi Common-Size Lengkap

Laba rugi PT Ilustratif (Rp miliar). Penjualan = Rp 200.000. Basis = penjualan. PPh Badan 22%.

PosNilai (Rp)Perhitungan% dari Penjualan
Penjualan (revenue)200.000basis100,00%
(−) Beban pokok penjualan (HPP)(130.000)130.000 ÷ 200.00065,00%
= Laba kotor70.00070.000 ÷ 200.00035,00%
(−) Beban penjualan & administrasi(35.000)35.000 ÷ 200.00017,50%
= Laba usaha (operasi)35.00035.000 ÷ 200.00017,50%
(−) Beban bunga(8.000)8.000 ÷ 200.0004,00%
= Laba sebelum pajak27.00027.000 ÷ 200.00013,50%
(−) PPh Badan 22% × 27.000(5.940)5.940 ÷ 200.0002,97%
= Laba bersih21.06021.060 ÷ 200.00010,53%
Margin terbaca: kotor 35% · usaha 17,5% · bersih 10,53%. Dari tiap Rp 1.000 penjualan, ~Rp 105 jadi laba bersih.

Membaca Struktur Margin: Di Mana Uang "Bocor"?

Margin Kotor (35%)
35%
Efisiensi produksi & harga
Cerminan efisiensi produksi & daya tawar harga. Turun → HPP membengkak (bahan baku naik) atau harga jual tertekan persaingan.
Margin Usaha (17,5%)
17,5%
Efisiensi operasi inti
Cerminan efisiensi operasi inti. Selisih dari margin kotor = beban penjualan & administrasi. Beban ini gemuk → operasi boros.
Margin Bersih (10,53%)
10,5%
Profitabilitas akhir
Cerminan profitabilitas akhir setelah bunga & pajak. Bunga besar → beban utang berat (kaitkan ke struktur modal di neraca).
Common-size mengubah laba rugi jadi diagnosis: tunjuk di mana margin "bocor" — produksi (HPP), operasi (beban admin), atau pendanaan (bunga)?

Studi Kasus: Margin Berbeda Antar-Model Bisnis

Margin common-size berbicara tentang model bisnis. Bandingkan dua pola tipikal (ilustratif).

Consumer Goods (mis. tipe ICBP)
Tebal
Margin kotor relatif tinggi
  • Merek kuat → daya tawar harga
  • Beban iklan/pemasaran besar
  • Margin bersih sehat dari volume + merek
  • Model: untung per unit, tapi juga volume
Ritel / Distribusi (pola perdagangan)
Tipis
Margin kotor rendah
  • Jual cepat, harga bersaing
  • Untung dari perputaran tinggi, bukan margin per unit
  • Margin bersih kecil tapi volume raksasa
  • Model: sedikit per unit × banyak unit
Pelajaran: margin tipis ≠ buruk. Ritel sengaja bermargin tipis tapi berputar cepat. Baca margin bersama model bisnis, bukan sebagai vonis tunggal.
Bagian 4 dari 4
Membaca, Membandingkan, Merangkum
Kapan common-size mengungkap yang absolut sembunyikan, di mana batasnya, cara membuatnya di Excel, dan rangkuman akhir.

Kekuatan Inti: Melihat yang Disembunyikan Angka Mentah

Penjualan naik 50%, laba usaha tetap Rp 15.000. Kabar baik? Common-size berkata lain.

PosTh-1 (Rp)%Th-2 (Rp)%
Penjualan100.000100,0%150.000100,0%
HPP60.00060,0%99.00066,0%
Laba kotor40.00040,0%51.00034,0%
Beban operasi25.00025,0%36.00024,0%
Laba usaha15.00015,0%15.00010,0%
Absolut menipu: laba usaha "aman" di Rp 15.000 & penjualan melonjak. Common-size membongkar: margin usaha jatuh 15% → 10% karena HPP naik 60% → 66%. Pertumbuhan menutupi erosi margin.

Batas & Jebakan Common-Size

Jebakan 1
%
Persentase menyembunyikan skala
Struktur % bisa stabil walau nilai Rp meledak atau anjlok. Padukan dengan analisis horizontal (tren absolut) agar gambaran lengkap.
Jebakan 2
≈100
Jumlah kolom ≈ 100%
Jumlah kolom bisa 99,9% atau 100,1% akibat pembulatan — itu wajar. Jangan dipaksakan pas 100,00%; itu tanda ada angka yang dimanipulasi.
Jebakan 3
!
Basis menyimpang → distorsi
Bila penjualan/total aset satu periode tak normal (mis. penjualan aset besar), semua persen ikut terdistorsi dan menyesatkan.
Jebakan 4
?
Tidak ada "benar" universal
Wajib dibaca per sektor & dibandingkan rata-rata industri. Jangan vonis angka tunggal tanpa konteks.
Common-size melengkapi, bukan menggantikan: padukan dengan horizontal (tren), rasio (likuiditas/solvabilitas), dan konteks sektor untuk gambaran utuh.

Praktik: Membuat Tabel Common-Size di Excel

Di dunia kerja Anda tak menghitung manual. Satu rumus, ditarik ke bawah — selesai untuk ratusan baris.

=B2/$B$11   → format sel sebagai Persentase
LangkahTindakan
1Susun dataKolom A = nama pos; Kolom B = nilai (Rp). Letakkan total aset / penjualan di satu sel acuan (mis. B11).
2Tulis rumusDi C2 ketik =B2/$B$11. Tanda $ mengunci basis agar tak bergeser saat disalin (absolute reference).
3Salin ke bawahTarik C2 ke bawah (C3, C4, …). Basis tetap B11; pembilang berubah otomatis mengikuti baris.
4FormatBlok kolom C → format Persentase (Ctrl+Shift+%) → tampil 7,20%, 14,00%, dst.
Inti trik: kunci penyebut dengan $B$11. Tanpa $, rumus menggeser basis dan hasilnya kacau. Untuk laba rugi, ganti acuan ke sel penjualan.

Latihan Nyata: Common-Size Emiten IDX (ICBP / INDF)

Cara mengubah teori jadi keterampilan: ambil laporan tahunan riil, susun, lalu baca polanya.

Langkah Mengambil Data
  • 1. Buka idx.co.id → cari emiten (ICBP Indofood CBP atau INDF Indofood Sukses Makmur)
  • 2. Unduh laporan keuangan / laporan tahunan terbaru
  • 3. Salin neraca & laba rugi ke Excel
  • 4. Terapkan trik rumus $B$11 yang baru saja dipelajari
Yang Dicari Saat Membaca
  • Porsi aset tetap — padat-modal?
  • Porsi utang vs ekuitas — struktur modal
  • Margin kotor / usaha / bersih — efisiensi
  • Bandingkan ICBP vs INDF, atau vs tahun lalu
Kenapa INDF vs ICBP menarik? INDF adalah induk yang juga punya bisnis agribisnis & distribusi; ICBP fokus consumer goods. Struktur common-size keduanya akan berbeda — itulah yang Anda telusuri & jelaskan. Angka tidak dicantumkan di sini karena berubah tiap tahun — ambil dari laporan resmi IDX.

Cheat Sheet — Common-Size dalam Satu Layar

HalNeracaLaba Rugi
Basis (penyebut)Total asetPenjualan (revenue)
Rumuspos ÷ total aset × 100%pos ÷ penjualan × 100%
Jumlah kolomSisi aset = 100%; pasiva = 100%Penjualan = 100%
Yang terbacaStruktur aset & struktur modalStruktur margin & beban
BonusPorsi utang vs ekuitasMargin kotor/usaha/bersih otomatis
Nama lainAnalisis vertikal (satu laporan, satu basis)
Beda dari horizontalHorizontal = pos sama, antar-periode (tren %)
Beda dari rasioRasio = dua pos berbeda dibagi (kali/angka)
Tiga ingatan emas: (1) common-size = vertikal (satu laporan, satu basis); (2) neraca ÷ total aset, L/R ÷ penjualan — jangan tertukar; (3) ia mengungkap struktur & pergeseran yang absolut sembunyikan.

Peta Konsep: Bagaimana Semua Terhubung

COMMON-SIZE(Analisis Vertikal)% pos = pos ÷ basis × 100%NERACABasis: Total AsetTerbaca: Str. Aset & ModalStruktur AsetStruktur ModalLABA RUGIBasis: PenjualanTerbaca: Str. Margin & BebanStruktur MarginMargin Kotor/Usaha/Bersihvs Horizontal (tren antar-periode)vs Rasio (dua pos berbeda ÷)→ P3: Laporan per Jenis Usaha→ P4–5: Rasio & DuPontBEDA DARI:(garis putus)
Common-size bukan akhir — ia pembuka: struktur yang Anda lihat hari ini menjadi dasar membaca rasio (P4–5) dan menafsir laporan tiap jenis usaha (P3).

Latihan & Diskusi Kelas

Latihan 1 — Neraca Common-Size
L1
Total aset = Rp 400.000
Susun common-size sisi aset:
Kas 40.000 · Piutang 60.000 · Persediaan 100.000 · Aset tetap 180.000 · Aset lain 20.000

Petunjuk: bagi masing-masing dengan total aset. Jumlah kolom harus ≈ 100%.
Latihan 2 — Laba Rugi Common-Size
L2
Penjualan = Rp 500.000
Data: HPP 350.000 · Beban operasi 90.000 · Beban bunga 10.000
Pajak = PPh Badan 22% dari laba sebelum pajak.

Hitung margin kotor, margin usaha, dan margin bersih.
Kerjakan 7 menit. Disiplin: tentukan laporan apa → basis apa → baru hitung. Kunci jawaban: L1 (kas 10% · piutang 15% · persediaan 25% · aset tetap 45% · lain 5%) · L2 (margin kotor 30% · usaha 12% · bersih 7,80%).

Persiapan Pertemuan 3

Hari ini Anda belajar menyusun & membaca common-size. Pertemuan depan kita pakai keterampilan ini untuk membaca laporan keuangan tiap jenis usaha.

Pertemuan 3 — Laporan per Jenis Usaha
  • Membaca & membandingkan struktur laporan keuangan manufaktur, jasa, dan bank
  • Strukturnya (sudah Anda intip di Slide 12) memang berbeda total
  • Common-size hari ini = bekal utama untuk membacanya
Tugas Mandiri — Praktik Riil
IDX
Laporan tahunan satu emiten pilihan Anda
Unduh laporan tahunan ICBP / INDF / BBRI atau emiten pilihan dari idx.co.id, susun neraca & laba rugi common-size di Excel, bawa kesimpulan strukturnya ke kelas berikutnya.
Kuasai dua penyebut & trik Excel malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 3 — Laporan Keuangan per Jenis Usaha.