‹ Daftar slidePertemuan 11: Perbandingan Jenis Kredit dan Evaluasi Sistem Penilaian Kredit
FEB UNDIP · Analisis Kredit dan Pembiayaan
Analisis Kredit dan Pembiayaan
Pertemuan 11 · Perbandingan Jenis Kredit & Evaluasi Sistem Penilaian
Mengapa tiga jenis kredit dianalisis dengan cara berbeda, dan bagaimana menilai apakah sistem penilaian — dari 5C manual sampai credit scoring statistik — benar-benar efektif.
RPS Minggu 12 · Sub-CPMK 1.6 & 3.4 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis perbedaan tiga jenis kredit dan mengevaluasi efektivitas sistem penilaian kredit (Sub-CPMK 1.6 & 3.4). Secara rinci:
Capaian 1 & 2 — Jenis Kredit
3C
Tiga Jenis Kredit
Membandingkan kredit konsumsi, modal kerja, dan investasi lewat tujuan, tenor, sumber pelunasan, fokus 5C, dan profil risiko. Lalu mengklasifikasikan kasus pengajuan ke jenis yang tepat dengan justifikasi.
Capaian 3 — Hitung Skor
∑
Scorecard Berbobot
Menghitung skor kredit satu pemohon dengan scorecard berbobot dan membandingkannya terhadap cut-off — tanpa kesalahan aritmetika.
Capaian 4 — Evaluasi Sistem
4
Kriteria Efektivitas
Mengevaluasi sistem penilaian berdasarkan akurasi, objektivitas, efisiensi, dan kemampuan prediksi, serta menganalisis trade-off Type I / Type II error saat cut-off digeser.
Daftar Periksa Anda
✓
Sub-CPMK 1.6 & 3.4
Di akhir kelas, cek sendiri: bisa jelaskan empat poin ini dengan kalimat sendiri? Kalau ya, Anda menguasai pertemuan ini.
Tiga Pemohon, Tiga Dunia yang Berbeda
Tiga orang masuk ke bank yang sama hari ini. Apakah analis menilai mereka dengan kacamata yang sama? Tidak.
Beli mesin baru. Yang ditanya: proyeknya untung? arus kas 5 tahun ke depan?
Kata kunci: bayar dari arus kas proyek.
Tiga pemohon, tiga jenis kredit (konsumsi, modal kerja, investasi), dan tiga fokus analisis yang sama sekali berbeda. Menyamakan ketiganya = resep salah menilai.
Bagian 1 dari 4
Tiga Jenis Kredit — Bukan Sekadar Nama Berbeda
Kredit konsumsi, modal kerja, dan investasi dibedakan oleh tujuan, sumber pelunasan, tenor, fokus 5C, dan profil risiko. Lalu kita uji dengan lima kasus nyata.
KonsumsiModal KerjaInvestasi
Kredit Konsumsi — Membeli, Bukan Memutar
Kredit untuk membeli barang/jasa konsumtif yang tidak langsung menghasilkan pendapatan. Pelunasan berasal dari penghasilan tetap peminjam, bukan dari objek yang dibeli.
Ciri Utama
Gaji
Sumber pelunasan
Tujuan = konsumsi (rumah, mobil, gadget, pendidikan)
Sumber pelunasan = gaji/penghasilan rutin
Tenor: pendek–panjang (KPR ≤ 15–20 tahun)
Dana tidak memutar usaha
Fokus Analisis 5C
C + C
Character & Capacity
Character: riwayat SLIK bersih, rekam jejak bayar
Capacity: rasio angsuran/penghasilan (DBR) sehat
Agunan sering = objek yang dibeli (rumah/mobil)
Yang dinilai: kemampuan bayar dari gaji
Contoh produk: KPR, KKB (Kredit Kendaraan Bermotor), kartu kredit, kredit multiguna. Kunci: bank tidak ingin menyita rumah Anda — bank ingin Anda membayar dari gaji.
Kredit Modal Kerja — Memutar Roda Operasi
Kredit untuk membiayai kebutuhan operasional jangka pendek: membeli bahan baku, stok dagangan, menalangi piutang. Pelunasan berasal dari perputaran usaha itu sendiri.
Ciri Utama
Perputaran
Sumber pelunasan
Tujuan = membiayai siklus kas: beli stok → jual → tertagih → bayar kredit
Sumber pelunasan = hasil penjualan/perputaran
Tenor: pendek (umumnya ≤ 1 tahun, sering revolving)
Fokus Analisis 5C
C + C
Capacity & Condition
Kecepatan perputaran persediaan & piutang
Margin usaha dan kondisi pasar/musiman
Apakah siklus kas cukup cepat menutup kredit?
Dana ikut berputar dalam usaha — bukan dari gaji
Contoh produk: KMK, kredit rekening koran, anjak piutang, pembiayaan persediaan. Kunci: siklus kas berputar = sumber bayarnya.
Kredit Investasi — Membangun Masa Depan
Kredit untuk membeli/membangun aset tetap produktif: mesin, pabrik, gedung, perluasan kapasitas. Pelunasan berasal dari arus kas yang dihasilkan proyek dalam jangka panjang.
Ciri Utama
Arus Kas
Sumber pelunasan
Tujuan = pembelian aset tetap & ekspansi
Sumber pelunasan = arus kas proyek yang baru terbentuk setelah investasi jalan
Tenor: panjang (3–10+ tahun), sering ada grace period
Fokus Analisis 5C
C + C
Capacity (proyeksi) & Capital
Kelayakan proyek & proyeksi arus kas jangka panjang
Kontribusi modal sendiri pemohon (bantalan risiko)
Ketahanan terhadap perubahan asumsi
Risiko & ketidakpastian paling tinggi
Contoh produk: KI (Kredit Investasi), pembiayaan proyek. Kunci: yang dinilai adalah masa depan — apakah proyek menghasilkan arus kas cukup bertahun-tahun ke depan.
Matriks Pembanding Tiga Jenis Kredit
Kerangka pembanding yang wajib Anda kuasai — sering keluar di ujian dan jadi alat klasifikasi di slide berikutnya.
Aspek
Konsumsi
Modal Kerja
Investasi
Tujuan
Beli barang/jasa konsumtif
Biayai operasi harian
Beli aset tetap/ekspansi
Tenor tipikal
Pendek–panjang (KPR ≤ 15–20 thn)
Pendek (≤ 1 thn, revolving)
Panjang (3–10+ thn)
Sumber pelunasan
Gaji/penghasilan rutin
Perputaran usaha (kas operasi)
Arus kas proyek (masa depan)
Fokus 5C utama
Character & Capacity
Capacity & Condition
Capacity (proyeksi) & Capital
Profil risiko
Rendah–sedang (gaji stabil)
Sedang (peka musiman/pasar)
Tinggi (asumsi jangka panjang)
Contoh produk
KPR, KKB, kartu kredit
KMK, rekening koran, factoring
KI, pembiayaan proyek
Aturan praktis klasifikasi: tanyakan "dananya untuk apa, dan dari mana bayarnya?" — jawaban itu langsung menunjuk jenis kreditnya.
Latihan 1 — Klasifikasikan Lima Pengajuan
Pakai aturan "untuk apa & bayar dari mana". Klasifikasikan tiap kasus + beri justifikasi singkat.
#
Pengajuan
Jenis
Justifikasi kunci
1
Guru PNS minta Rp 300 jt beli rumah, bayar dari gaji bulanan
Konsumsi
Objek konsumtif; pelunasan dari gaji
2
Toko bangunan minta Rp 250 jt tambah stok semen jelang musim bangun
Modal Kerja
Biayai siklus stok→jual→kas; tenor pendek
3
Pabrik tahu beli mesin penggiling Rp 800 jt, untung dari produksi naik
Investasi
Aset tetap; bayar dari arus kas proyek
4
Kontraktor minta Rp 1 M talangi gaji & material proyek yang piutangnya belum cair
Modal Kerja
Menalangi operasi/piutang; jangka pendek
5
Dokter minta Rp 500 jt beli mobil pribadi, bayar dari praktik
Konsumsi
Mobil pribadi = konsumtif; pelunasan penghasilan
Jebakan #4: "proyek" belum tentu kredit investasi! Talangan gaji & material = operasi jangka pendek = modal kerja. Yang membuat investasi adalah aset tetap berumur panjang.
Bagian 2 dari 4
Dua Mazhab Penilaian Kredit
Penilaian judgmental berbasis keahlian manusia (5C / expert system) versus credit scoring berbasis model statistik. Mana yang lebih baik — dan kapan?
Judgmental (5C)Statistik (Scoring)
Pendekatan Judgmental — Expert System Berbasis 5C
Analis berpengalaman menimbang 5C secara holistik lalu memutuskan. Tidak ada rumus tunggal — keputusan lahir dari pertimbangan menyeluruh.
Cara Kerja
5C
Character · Capacity · Capital · Collateral · Condition
Analis kumpulkan data → nilai kelima C → bobotnya tergantung konteks & pengalaman → keputusan + catatan kualitatif. Tidak ada formula baku — pertimbangan menyeluruh.
Kekuatan Utama
Fleksibel
& Kontekstual
Bisa menangkap hal yang tak ada di data — reputasi, niat baik, situasi khusus
Ideal untuk kredit besar/kompleks (korporasi, proyek)
Analis bisa minta klarifikasi & kunjungan lapangan
Kelemahan inti: subjektif & tidak konsisten — dua analis bisa beda keputusan untuk pemohon yang sama; lambat; dan bisa terselip bias pribadi (suka/tidak suka). Inilah yang mendorong lahirnya credit scoring.
Pendekatan Statistik — Credit Scoring
Mesin menghitung skor angka dari atribut pemohon, berdasarkan pola data ribuan nasabah masa lalu. Skor → di atas/di bawah cut-off → setuju/tolak.
Cara Kerja
Data → Skor
Otomatis & Konsisten
Ambil data pemohon (usia kredit, penghasilan, DBR, riwayat SLIK) → masukkan ke model (scorecard/regresi/analisis diskriminan) → keluar skor → bandingkan dengan cut-off. Proses: detik.
Akar Ilmiah
Altman
1968 · Journal of Finance
Berakar pada analisis diskriminan (Altman, 1968, Z-Score prediksi kebangkrutan)
Logika: cari kombinasi variabel yang paling membedakan nasabah baik vs gagal bayar
Fondasi kredit massal & bank digital
Kekuatan: objektif, konsisten, sangat cepat (bisa otomatis dalam detik). Kelemahan: lemah pada kasus tak lazim dan rentan bias data historis — dibahas di slide berikutnya.
Menimbang Dua Pendekatan secara Jujur
Tidak ada pemenang mutlak. Masing-masing unggul di medan yang berbeda.
Aspek
Judgmental (5C)
Credit Scoring
Objektivitas
Rendah (subjektif)
Tinggi (rumus sama untuk semua)
Konsistensi
Rendah (antar-analis beda)
Tinggi (hasil dapat direplikasi)
Kecepatan
Lambat
Sangat cepat (otomatis)
Biaya per keputusan
Mahal (butuh analis)
Murah (skala besar)
Kasus kompleks/tak lazim
Unggul (fleksibel)
Lemah (di luar pola data)
Risiko bias
Bias pribadi analis
Bias data historis (bisa diskriminatif)
Cocok untuk
Kredit besar/korporasi/proyek
Kredit massal/ritel/digital
Pesan kunci: scoring bukan otomatis lebih baik. Ia memindahkan masalah — dari bias manusia ke bias data. Sistem terbaik sering hybrid: scoring menyaring, analis meninjau yang batas.
Bagian 3 dari 4
Membongkar Mesin Credit Scoring
Dari dalam: scorecard berbobot, cut-off score, dua jenis kesalahan (Type I & II), dan trade-off yang muncul saat garis batas digeser.
Skor Total = Σ (poin tiap atribut)
Anatomi Scorecard — Atribut → Bobot → Poin
Scorecard memecah kelayakan menjadi beberapa atribut, masing-masing diberi bobot poin maksimum. Total semua bobot = 100.
Atribut
Poin maks
Logika penilaian
Riwayat SLIK (kolektibilitas)
30
Rekam jejak bayar = prediktor terkuat gagal bayar
Rasio angsuran/penghasilan (DBR)
25
Kemampuan menanggung cicilan secara finansial
Penghasilan bulanan
20
Kapasitas dasar peminjam membayar
Lama bekerja / stabilitas
15
Keberlanjutan penghasilan di masa depan
Kelompok usia
10
Korelasi statistik dengan profil risiko historis
TOTAL
100
Skor maksimum yang bisa diraih pemohon
Bobot mencerminkan kekuatan prediksi tiap atribut. SLIK diberi bobot terbesar (30) karena riwayat bayar masa lalu = prediktor gagal bayar paling kuat. Scorecard ini ilustratif pengajaran — bukan kartu skor resmi bank tertentu.
Hitung dari Nol — HDN-1: Skor Kredit Pak Andi
Andi, 32 tahun, penghasilan Rp 8 juta/bulan, DBR 35%, lama kerja 4 tahun, SLIK Kol-1 (Lancar). Berapa skornya, dan disetujui dengan cut-off 65?
Atribut
Kondisi Andi
Poin maks
Poin diraih
Riwayat SLIK
Kol-1 Lancar, tanpa tunggakan
30
30
Rasio angsuran (DBR)
35% (band 30–40%)
25
15
Penghasilan bulanan
Rp 8 jt (band 5–10 jt)
20
14
Lama bekerja
4 tahun (band 3–5 thn)
15
12
Kelompok usia
32 tahun (band 26–35)
10
10
TOTAL SKOR
30 + 15 + 14 + 12 + 10
100
81
Skor Andi = 81. Cut-off = 65 → 81 ≥ 65 → DISETUJUI, dengan margin nyaman 16 poin di atas batas. SLIK bersih menyumbang poin penuh dan menyelamatkan skornya meski DBR-nya sedang.
Cut-off Score — Garis Pemisah Setuju / Tolak
Setelah skor dihitung, bank menarik satu garis batas (cut-off). Skor ≥ cut-off → disetujui; di bawahnya → ditolak. Tapi di mana garisnya ditarik?
Masalahnya: kedua kelompok tumpang tindih. Di mana pun cut-off ditarik, selalu ada nasabah baik yang skornya rendah (ikut tertolak) dan nasabah gagal bayar yang skornya tinggi (ikut lolos). Tidak ada garis sempurna.
Dua Jenis Kesalahan: Type I & Type II
Setiap keputusan kredit bisa salah dengan dua cara berbeda, dengan akibat berbeda pula.
Realita: BAIK (akan lancar)
Realita: BURUK (akan gagal bayar)
Keputusan: SETUJU
✓ Benar — untung bunga & fee
✗ Type II Error Bad lolos → NPL / rugi pokok
Keputusan: TOLAK
✗ Type I Error Good ditolak → kehilangan laba
✓ Benar — terhindar rugi
Type I (Good Ditolak): biaya = laba yang hilang (opportunity cost) — sakit tapi tak terlihat di laporan. Bank tidak pernah tahu nasabah itu sebenarnya akan lancar.
Type II (Bad Lolos): biaya = rugi pokok & NPL — terlihat jelas & sangat mahal. Bank cenderung lebih takut ini, tapi terlalu takut → Type I meledak.
Hitung dari Nol — HDN-2: Konsekuensi Menggeser Cut-off
Portofolio 1.000 pemohon, total 126 akan gagal bayar (tersebar). Lihat apa yang terjadi pada approval rate, NPL, Type I & II saat cut-off digeser.
Cut-off
Disetujui
Approval rate
NPL portofolio
Type II (bad lolos)
Type I (good ditolak)
70 (ketat)
450
45,0%
3,1%
14
438 ↑
65 (acuan)
600
60,0%
4,3%
26
300
55 (longgar)
800
80,0%
7,0% ↑
56 ↑
130
Trade-off jelas: perketat (70) → NPL turun ke 3,1% tetapi tolak 438 nasabah baik. Longgarkan (55) → approval 80% tetapi NPL 7,0% melewati ambang 5% OJK & Type II naik. Cut-off optimal = keseimbangan, bukan ekstrem mana pun.
Coba Sendiri: Geser Cut-off, Amati Type I vs Type II
Geser garis cut-off score dan lihat approval rate, NPL portofolio, serta jumlah error Type I dan Type II berubah seketika.
Credit Scoring di Bank Digital & Fintech Indonesia
Di sinilah teori hari ini hidup. Tanpa scoring otomatis, mustahil menilai ratusan ribu pemohon ritel dalam hitungan menit.
Bank Digital & Fintech
Otomatis
Cepat, Massal, Tanpa Tatap Muka
Bank Jago, Allo Bank, SeaBank — bank digital berbasis aplikasi
Penyelenggara P2P lending anggota AFPI
Menilai kelayakan lewat scoring otomatis
Proses dari menit hingga detik tanpa tatap muka
Input Scoring
SLIK +
SLIK OJK & Alternative Data
SLIK OJK = riwayat kredit formal (input utama)
Sebagian memakai alternative data: pola transaksi, perilaku digital
Skor → cut-off → keputusan otomatis dalam menit
Kontras: bank umum konvensional tetap menilai kredit korporasi besar secara judgmental (5C mendalam, kunjungan lapangan). Scoring untuk massal/ritel, judgmental untuk besar/kompleks — keduanya hidup berdampingan.
Bagian 4 dari 4
Mengevaluasi Sistem & Merangkum
Empat kriteria sistem penilaian yang efektif, janji dan bahaya alternative data, lalu peta konsep & latihan penutup.
AkurasiObjektivitasEfisiensiKemampuan Prediksi
Empat Kriteria Sistem Penilaian Kredit yang Efektif
Apa pun pendekatannya (judgmental atau scoring), inilah tolok ukur untuk mengevaluasi apakah sistemnya layak dipakai:
Kriteria 1
Akurasi
Seberapa tepat memisahkan?
Seberapa tepat sistem memisahkan calon lancar dari calon gagal bayar. Diukur dari tingkat Type I & II yang rendah pada data uji.
Kriteria 2
Objektif
Konsisten & bebas bias pribadi
Pemohon sama → keputusan sama, siapa pun penilainya. Tidak ada variasi antar-analis berdasarkan preferensi personal.
Kriteria 3
Efisien
Cepat & murah per keputusan
Seberapa cepat & murah biaya per keputusan. Penting untuk kredit massal; tidak boleh memperlambat layanan nasabah.
Kriteria 4 — paling sering dilupakan
Prediksi
Ramal masa depan, bukan deskripsi masa lalu
Skor harus benar-benar memprediksi gagal bayar di masa depan, diuji pada data nasabah baru yang belum dipakai membangun model.
Jangan tanya "judgmental atau scoring?" — tanya "akurat, objektif, efisien, dan benar-benar memprediksi?" Sistem otomatis yang buruk tetaplah buruk.
Pendalaman — Alternative Data: Janji & Bahayanya
Banyak orang Indonesia unbanked/underbanked — tak punya riwayat SLIK. Alternative data menjanjikan akses kredit untuk mereka, tapi membawa risiko baru.
Janji (Upside)
Inklusi
Keuangan untuk semua
Menilai pemohon tanpa riwayat kredit formal
Lewat pola transaksi, tagihan, jejak digital
Membuka akses bagi yang dulu otomatis ditolak
Mendukung inklusi keuangan nasional
Bahaya (Downside)
Risiko
Bias, Privasi, Proxy
Risiko bias & diskriminasi (data bisa tidak adil)
Privasi: data pribadi dipakai tanpa pemahaman penuh
Proxy menyesatkan: korelasi ≠ kausalitas
Harus tunduk pada regulasi OJK
Prinsip analis kritis: korelasi bukan kausalitas. Sebuah pola mungkin berkorelasi dengan gagal bayar tanpa benar-benar menyebabkannya — model bisa salah & tidak adil. Evaluasi alternative data dengan empat kriteria slide 22, plus etika & kepatuhan OJK.
Peta Konsep — Jenis Kredit & Sistem Penilaian
Benang merah: kenali jenis kredit (untuk apa & bayar dari mana) → pilih/evaluasi sistem penilaian → sadari setiap cut-off membawa trade-off. Tidak ada penilaian sempurna; ada penilaian yang sadar konsekuensi.
Cheat-Sheet — Konsep Inti Pertemuan 11
Konsep
Inti / Cara ingat
Kredit Konsumsi
Dana beli barang konsumtif; bayar dari gaji; fokus 5C: Character & Capacity
Kredit Modal Kerja
Dana putar operasi; bayar dari perputaran usaha; fokus: Capacity & Condition; tenor ≤ 1 tahun
Kredit Investasi
Dana beli aset tetap; bayar dari arus kas proyek; fokus: Capacity (proyeksi) & Capital; tenor 3–10+ tahun
Judgmental
5C secara holistik oleh analis; fleksibel tapi subjektif; unggul di kredit korporasi/proyek kompleks
Credit Scoring
Skor = Σ poin scorecard; objektif & cepat tapi rentan bias data; unggul di ritel/massal/bank digital
Cut-off Score
Garis batas setuju/tolak; tidak ada yang sempurna karena distribusi tumpang tindih
Type I Error
Good ditolak → opportunity cost (laba hilang, tak terlihat di laporan keuangan)
Type II Error
Bad lolos → NPL & rugi pokok (terlihat jelas, sangat mahal)
4 Kriteria Sistem Efektif
Akurasi · Objektivitas · Efisiensi · Kemampuan Prediksi
Diskusi & Latihan Kelas
Latihan — Hitung Skor Ibu Sari
Cut-off 65?
Hitung dari nol, lalu putuskan
Profil Ibu Sari (isi tabel, jumlahkan):
SLIK pernah Kol-2/DPK → ? dari 30
DBR 45% (band 40–50%) → ? dari 25
Penghasilan Rp 4 jt (band 3–5 jt) → ? dari 20
Lama kerja 2 thn (band 1–3 thn) → ? dari 15
Usia 28 (band 26–35) → ? dari 10
Total = ? → SETUJU / TOLAK?
Diskusi
2 Pertanyaan
Hubungkan ke teori hari ini
1Nasabah lama jujur, skor 62 (cut-off 65). Sebagai analis hybrid, apa yang Anda lakukan? Apa risikonya?
2Mengapa bank tidak menetapkan cut-off setinggi mungkin agar NPL nol? Jelaskan dengan Type I/II & trade-off.
Kerjakan latihan 5 menit lalu bahas bersama. Untuk diskusi: hubungkan ke Type I/II, judgmental vs scoring, dan trade-off cut-off yang sudah kita pelajari.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikut
Yang Sudah Anda Kuasai Hari Ini
4 ✓
Sub-CPMK 1.6 & 3.4 tercapai
Membedakan 3 jenis kredit lewat 5 pembeda & mengklasifikasikan kasus nyata
Membandingkan judgmental vs scoring secara jujur — kekuatan & kelemahan
Menghitung skor dari scorecard berbobot & memutuskan dengan cut-off
Mengevaluasi sistem dengan 4 kriteria & trade-off Type I/II
Cek topik pertemuan berikutnya pada RPS resmi mata kuliah
Pesan penutup: seorang analis hebat bukan yang punya sistem paling canggih, melainkan yang paham keterbatasan sistemnya — tahu kapan percaya pada skor, dan kapan percaya pada pertimbangan manusia.