‹ Daftar slidePertemuan 10: Penyusunan Memorandum/Proposal Kredit Investasi
FEB UNDIP · Analisis Kredit dan Pembiayaan
Analisis Kredit dan Pembiayaan
Pertemuan 10 · Penyusunan Memorandum/Proposal Kredit Investasi
Bagaimana analis kredit membuktikan dengan angka bahwa sebuah investasi layak dibiayai — NPV, IRR, Payback, PI, proyeksi arus kas, dan DSCR dalam satu dokumen.
RPS Minggu 11 · Sub-CPMK 3.3 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menyusun memorandum/proposal kredit investasi (Sub-CPMK 3.3). Secara rinci:
Capaian 1 — Kelayakan
NPV
IRR · Payback · PI
Menghitung NPV, IRR, Payback Period, dan Profitability Index satu proyek investasi dan memutuskan layak atau tidak secara konsisten antar-kriteria.
Capaian 2 — Arus Kas
FCF
after-tax · jangka panjang
Menyusun proyeksi arus kas bebas proyek jangka panjang yang realistis — dengan asumsi pertumbuhan, diskonto, dan pajak badan 22%.
Capaian 3 — DSCR
1,2×
per tahun · grace period
Menghitung DSCR tahunan terhadap ambang minimal 1,2× dan merancang grace period bila tahun awal belum aman.
Capaian 4 — Proposal
MKI
struktur · argumentasi
Menyusun struktur memorandum kredit investasi yang lengkap — tenor, grace, jadwal angsuran — beserta argumentasi kelayakannya.
Tiga Surat di Meja Seorang Analis Kredit
Anda analis kredit di bank BUMN. Pagi ini sebuah CV pengolah kopi mengajukan kredit investasi. Tiga pertanyaan harus Anda jawab sebelum berani merekomendasikan:
Pertanyaan 1 — Untungkah?
NPV
Kelayakan investasi
Proyek mesin sangrai Rp 1 miliar menjanjikan arus kas Rp 300 juta/tahun, 5 tahun. Menambah nilai atau tidak?
Pertanyaan 2 — Mampu Bayar?
DSCR
≥ 1,2× tiap tahun
Arus kas proyek cukup membayar pokok + bunga kredit tiap tahun tanpa gagal bayar di awal?
Pertanyaan 3 — Strukturnya?
MKI
Tenor · Grace · Angsuran
Berapa tenor-nya, perlukah grace period agar tahun-tahun awal yang masih ramp-up tetap aman?
Ketiga pertanyaan itu adalah inti memorandum kredit investasi — dan tepat itulah yang kita kuasai hari ini.
Bagian 1 dari 4
Kredit Investasi & Isi Memorandum
Apa beda kredit investasi dari kredit modal kerja, dan apa saja yang harus ada di sebuah memorandum kredit yang meyakinkan komite kredit.
Jangka PanjangAset ProduktifArus Kas Proyek
Kredit Investasi (KI) vs Kredit Modal Kerja (KMK)
Kredit Investasi (KI)
Aset Tetap
Mesin · Pabrik · Bangunan
Membiayai aset jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas produksi
Tenor panjang: 3–10+ tahun
Sumber bayar: arus kas proyek di masa depan
Sering ada grace period di awal
Analisis: NPV/IRR + DSCR
Kredit Modal Kerja (KMK)
Operasi
Bahan Baku · Piutang · Persediaan
Membiayai siklus operasi harian — beli bahan baku, talangi piutang
Tenor pendek: ≤ 1 tahun, sering revolving
Sumber bayar: perputaran modal kerja yang berulang cepat
Tanpa grace — bisa langsung lunas satu siklus
Analisis: rasio likuiditas + perputaran
Karena KI dibayar dari arus kas masa depan proyek yang belum terjadi, analisisnya wajib memproyeksikan arus kas jangka panjang dan mengujinya dengan NPV/IRR + DSCR — itulah fokus hari ini.
Anatomi Sebuah Memorandum Kredit Investasi
Memorandum kredit adalah dokumen yang meyakinkan komite kredit. Struktur lazimnya:
1
Profil debitur & usaha Legalitas, manajemen, rekam jejak usaha
2
Tujuan & objek kredit Aset apa yang dibiayai, berapa nilainya
3
Analisis 5C Character · Capacity · Capital · Collateral · Condition
4
Proyeksi arus kas & laba Jangka panjang, asumsi eksplisit
5
Analisis kelayakan NPV, IRR, Payback Period, PI
6
Kemampuan bayar DSCR per tahun + skenario stres
7
Struktur & jaminan Plafon, tenor, grace, angsuran, agunan
8
Rekomendasi & syarat (covenant) Setujui/tolak + syarat yang harus dipenuhi
Inti kuantitatif memorandum ada di butir 4 – 6 — dan tepat itulah yang kita hitung hari ini.
Dari Prinsip 5C ke Angka Proyeksi
5C adalah kerangka kualitatif; tetapi keputusan kredit investasi berdiri di atas satu pilar yang harus diangkakan: Capacity (kemampuan bayar).
Tingkat diskonto r mencerminkan biaya modal/peluang. Fondasi: yield SUN 10 tahun (~6,8% medio 2026, verifikasi saat dipakai) + premi risiko proyek. Untuk kasus mesin UMKM kita pakai r = 12%.
Hitung dari Nol — HDN-1a: NPV Proyek Mesin
Investasi awal Rp 1 miliar · arus kas bersih Rp 300 juta/tahun selama 5 tahun · diskonto 12%. Berapa NPV-nya?
Tahun (t)
Arus Kas (CFₜ)
Faktor Diskon (1,12)⁻ᵗ
Nilai Sekarang (PV)
1
Rp 300.000.000
0,892857
Rp 267.857.143
2
Rp 300.000.000
0,797194
Rp 239.158.163
3
Rp 300.000.000
0,711780
Rp 213.534.074
4
Rp 300.000.000
0,635518
Rp 190.655.424
5
Rp 300.000.000
0,567427
Rp 170.228.057
Σ PV arus masuk
PVIFA(12%, 5 thn) = 3,604776
Rp 1.081.432.861
(−) Investasi awal
(Rp 1.000.000.000)
NPV ≈ Rp 81.432.861 (> 0) → PROYEK LAYAK. Proyek menambah kekayaan ~Rp 81,4 juta dalam nilai hari ini, setelah biaya modal 12% sepenuhnya dikembalikan.
Internal Rate of Return (IRR) — Tingkat Hasil Internal
IRR adalah tingkat diskonto yang membuat NPV = 0. Ia menjawab: "berapa persen sebenarnya imbal hasil proyek ini?"
0 = Σₜ₌₀ⁿ CFₜ ÷ (1 + IRR)ᵗ
IRR > biaya modal (r) → LAYAK Proyek menghasilkan lebih dari yang dituntut investor.
IRR < r → TOLAK Proyek tidak mencukupi imbal hasil minimum.
Hubungan dengan NPV: jika IRR > r, otomatis NPV > 0. Keduanya biasanya sepakat untuk proyek tunggal konvensional. IRR tidak dihitung langsung — dicari lewat trial-and-error/interpolasi (atau fungsi IRR di Excel).
Hati-hati: bila tanda arus kas berganti lebih dari sekali (non-conventional), IRR bisa lebih dari satu (multiple IRR). Saat itu andalkan NPV, bukan IRR.
Hitung dari Nol — HDN-1b: IRR via Interpolasi
Proyek yang sama. Kita cari IRR dengan menghitung NPV di dua tingkat diskonto, lalu interpolasi di antara keduanya.
IRR ≈ 15,24% > biaya modal 12% → LAYAK. Konsisten dengan NPV positif. Interpolasi memberi ~15,28%; nilai presisi 15,24% (selisih kecil karena kurva NPV sedikit cembung, bukan garis lurus sempurna).
Payback Period & Profitability Index (PI)
Payback Period — Masa Pengembalian
Berapa lama investasi awal kembali dari arus kas yang masuk?
Payback = Investasi ÷ CF/tahun
(Untuk arus kas seragam. Arus kas tidak seragam: hitung kumulatif tahun demi tahun.)
Kelemahan: mengabaikan nilai waktu uang & arus kas setelah balik modal. Pelengkap, bukan kriteria utama.
Profitability Index (PI) — Efisiensi per Rupiah
Nilai sekarang arus masuk per rupiah yang diinvestasikan.
PI = PV arus masuk ÷ Investasi awal
Aturan: PI > 1 → LAYAK (setara NPV > 0). Berguna untuk memeringkat proyek saat dana terbatas.
PI = 1 + (NPV ÷ Investasi). Sudah memperhitungkan nilai waktu uang.
Payback menjawab seberapa cepat balik modal; PI menjawab seberapa efisien per rupiah — keduanya melengkapi NPV/IRR, bukan menggantikannya.
Hitung dari Nol — HDN-1c: Payback, PI & Keputusan
Proyek yang sama (investasi Rp 1.000 jt · CF Rp 300 jt/tahun · r = 12%). Lengkapi dua kriteria terakhir, lalu putuskan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Payback (arus kas seragam)
1.000 jt ÷ 300 jt/tahun
3,33 tahun (~3 thn 4 bln)
Cek kumulatif kas
Akhir thn 3 = 900 jt (< 1.000); akhir thn 4 = 1.200 jt (> 1.000)
Coba Sendiri: Geser Arus Kas, Amati NPV & IRR Bergerak
Ubah investasi awal, arus kas tahunan, dan biaya modal untuk melihat NPV, IRR, payback, dan PI berubah serentak.
Empat Kriteria: Kapan Sepakat, Kapan Bertentangan?
Kriteria
Mengukur
Aturan Layak
Nilai Waktu?
Catatan
NPV
Nilai tambah (Rp)
NPV > 0
Ya ✓
Paling andal — pakai sebagai penengah
IRR
Tingkat hasil (%)
IRR > r
Ya ✓
Komunikatif; awas multiple IRR & skala
Payback
Kecepatan balik modal
< umur / batas
Tidak ✗
Pelengkap risiko likuiditas
PI
Efisiensi per Rp
PI > 1
Ya ✓
Bagus untuk ranking dana terbatas
Saat memilih di antara beberapa proyek yang saling meniadakan (mutually exclusive), IRR & PI bisa berkonflik dengan NPV karena perbedaan skala. Aturan emas: ikuti NPV terbesar.
Mengapa NPV unggul? Proyek kecil bisa ber-IRR tinggi tetapi menambah kekayaan Rp kecil. Proyek besar ber-IRR sedang bisa menambah Rp jauh lebih besar. Tujuan bank & perusahaan: maksimalkan nilai rupiah.
Bagian 3 dari 4
Proyeksi Arus Kas & DSCR
Dari proyek yang "layak secara NPV" ke proyek yang "bankable" — apakah arus kasnya cukup membayar cicilan tiap tahun?
DSCR = Arus Kas Tersedia ÷ (Pokok + Bunga)
Proyeksi Arus Kas yang Realistis (Bukan Optimis)
Penyebab nomor satu kredit investasi macet adalah proyeksi yang terlalu optimis. Disiplin asumsi adalah kunci.
Asumsi yang Wajib Eksplisit dalam Proyeksi
Pertumbuhan pendapatan (g) — berbasis kapasitas nyata, bukan tebakan; perhatikan masa ramp-up (utilisasi belum penuh di tahun awal)
Margin & struktur biaya — wajar & terverifikasi vs data industri
Pajak badan 22% (PPh Badan) atas laba operasi — wajib diperhitungkan
Tingkat diskonto (r) — konsisten dengan risiko proyek; fondasi SUN ~6,8% + premi
Belanja modal pemeliharaan (maintenance capex) — mesin perlu perawatan agar tetap produktif
Perubahan modal kerja — kenaikan = kas keluar, sering dilupakan
Uji skenario stres: turunkan pendapatan 10–20%, lihat apakah proyek & DSCR masih bertahan. Bank tidak menilai skenario terbaik, melainkan skenario yang masuk akal dan tertekan.
Free Cash Flow Proyek (Setelah Pajak)
Arus kas yang relevan untuk menilai proyek bukan laba akuntansi, melainkan arus kas bebas setelah pajak.
EBIT = laba sebelum bunga & pajak · 22% = PPh Badan · Penyusutan ditambah balik (non-kas) · Belanja modal & tambahan modal kerja = kas keluar
Mengapa EBIT × (1−T), bukan laba bersih? Agar penilaian proyek bebas dari efek pendanaan (bunga) — keputusan "layak proyek" dipisah dari "cara mendanai". Bunga masuk belakangan, di DSCR.
Tiga kesalahan klasik yang harus dihindari:
Lupa menambah balik penyusutan (beban non-kas)
Memakai laba bersih yang sudah terpotong bunga → bunga terhitung dua kali
Salah tanda Δ modal kerja — kenaikan modal kerja = kas keluar
DSCR — Debt Service Coverage Ratio
DSCR mengukur: untuk setiap rupiah kewajiban (pokok + bunga) tahun ini, berapa rupiah arus kas tersedia untuk membayarnya?
DSCRₜ = CFADSₜ ÷ (Angsuran Pokokₜ + Bungaₜ)
CFADS = Cash Flow Available for Debt Service ≈ EBITDA − pajak kas − Δ modal kerja − capex pemeliharaan
≥ 1,2×
Aman — standar lazim bank Indonesia untuk kredit investasi
≈ 1,0×
Pas-pasan, rawan — tidak ada bantalan bila meleset
< 1,0×
Gagal — arus kas tidak cukup bayar cicilan
DSCR dihitung per tahun, bukan rata-rata. Satu tahun di bawah 1,2× sudah menjadi lampu merah — terutama tahun-tahun awal saat proyek masih ramp-up.
Hitung dari Nol — HDN-2a: DSCR Tanpa Grace Period
Kredit Rp 1 miliar · bunga 11%/tahun atas saldo · tenor 5 tahun · pokok rata Rp 200 jt/tahun. CFADS naik bertahap (ramp-up). Cek DSCR tiap tahun:
Thn
Saldo Awal
Bunga 11%
Pokok
Debt Service
CFADS
DSCR
1
1.000 jt
110 jt
200 jt
310 jt
150 jt
0,48 ✗
2
800 jt
88 jt
200 jt
288 jt
280 jt
0,97 ✗
3
600 jt
66 jt
200 jt
266 jt
380 jt
1,43 ✓
4
400 jt
44 jt
200 jt
244 jt
430 jt
1,76 ✓
5
200 jt
22 jt
200 jt
222 jt
470 jt
2,12 ✓
Tahun 1–2 GAGAL (DSCR 0,48 dan 0,97 < 1,2×). Arus kas yang masih kecil di awal tidak cukup menutup cicilan pokok + bunga yang berat. Struktur ini tidak bankable — padahal proyeknya NPV-positif!
Hitung dari Nol — HDN-2b: DSCR dengan Grace Period
Solusi: perpanjang tenor jadi 7 tahun + grace pokok 2 tahun (thn 1–2 bayar bunga saja) + pokok step-up mengikuti arus kas. Cek lagi:
Thn
Saldo Awal
Bunga 11%
Pokok
Debt Service
CFADS
DSCR
1
1.000 jt
110 jt
0 (grace)
110 jt
150 jt
1,36 ✓
2
1.000 jt
110 jt
0 (grace)
110 jt
280 jt
2,55 ✓
3
1.000 jt
110 jt
120 jt
230 jt
380 jt
1,65 ✓
4
880 jt
96,8 jt
180 jt
276,8 jt
430 jt
1,55 ✓
5
700 jt
77 jt
220 jt
297 jt
470 jt
1,58 ✓
6
480 jt
52,8 jt
240 jt
292,8 jt
500 jt
1,71 ✓
7
240 jt
26,4 jt
240 jt
266,4 jt
520 jt
1,95 ✓
Semua tahun DSCR ≥ 1,2× → STRUKTUR BANKABLE. Grace pokok menyelaraskan beban bayar dengan kurva arus kas: ringan saat ramp-up, berat saat sudah matang. Proyek yang sama — struktur yang tepat.
Grace Period & Pola Jadwal Angsuran
Tiga pola angsuran lazim untuk kredit investasi — pilih yang paling cocok dengan kurva arus kas proyek:
Pokok Rata
Flat
Pokok tetap · bunga menurun
Beban total berat di awal, makin ringan di akhir. Cocok bila arus kas proyek sudah tinggi sejak tahun pertama.
Anuitas
Tetap
Total cicilan sama tiap periode
Pokok kecil di awal, membesar di akhir. Cocok untuk proyek dengan arus kas stabil — seperti cicilan KPR.
Grace + Step-Up ← Kasus Kita
Naik
Bunga dulu · pokok bertahap
Thn awal: bunga saja. Pokok naik bertahap. Paling cocok untuk proyek ramp-up yang arus kasnya kecil di awal.
Grace period = masa tenggang pokok di awal (umum 6 bln–2 thn untuk KI). Bukan menghapus utang — hanya menggeser jadwal angsuran pokok agar DSCR tahun awal aman. Bunga tetap berjalan selama masa grace.
Coba Sendiri: Geser Masa Grace, Amati DSCR Tiap Tahun
Ubah panjang masa grace period dan lihat jadwal angsuran serta DSCR tiap tahun proyek bergeser dari berisiko menjadi aman.
Bagian 4 dari 4
Struktur Proposal & Argumentasi Kelayakan
Merangkai semua angka menjadi satu memorandum yang meyakinkan komite kredit — dan kapan harus berani merekomendasikan penolakan.
Struktur Proposal Kredit Investasi yang Standar
Bagian "usulan struktur" dalam memorandum harus menjawab pertanyaan komite secara lengkap:
Elemen Struktur
Isi (Contoh Kasus Mesin CV Kopi)
Plafon
Rp 1.000.000.000 (maks 70–80% nilai proyek; sisanya self-financing ≥ 20%)
Tujuan kredit
Pembelian mesin sangrai kopi (aset produktif, bukan konsumsi)
Tenor
7 tahun
Grace period
2 tahun (pokok); bunga tetap berjalan selama masa grace
Suku bunga
11%/tahun atas saldo (ilustrasi; verifikasi tarif riil saat dipakai)
Pola angsuran
Grace + step-up pokok tahun 3–7 (120/180/220/240/240 jt)
Jaminan
Mesin yang dibiayai + agunan tambahan
Covenant
Menjaga DSCR ≥ 1,2×; laporan keuangan berkala; batasan utang baru
Self-financing: bank jarang membiayai 100%; porsi modal sendiri debitur (equity) menunjukkan komitmen dan menurunkan risiko bank.
Studi Kasus: Merangkai Argumentasi Kelayakan
Berdasarkan seluruh analisis hari ini, susun rekomendasi untuk komite kredit CV pengolah kopi.
Argumen Mendukung (Layak)
SETUJU
NPV +Rp 81,4 juta — proyek menambah nilai
IRR 15,24% — melampaui biaya modal 12%
PI 1,081 — efisien per rupiah investasi
DSCR semua thn ≥ 1,2× dengan grace 2 thn + step-up
Syarat & Mitigasi Risiko
Bersyarat
Self-financing ≥ 20% dari nilai proyek
Covenant DSCR ≥ 1,2× dijaga tiap tahun
Uji stres pendapatan −15% harus tetap lolos DSCR
Agunan mesin + agunan tambahan
REKOMENDASI: SETUJUI dengan struktur tenor 7 thn, grace pokok 2 thn, dan covenant DSCR ≥ 1,2×. Proyek layak (NPV+) dan bankable (DSCR aman).
Kapan TOLAK? Bila NPV negatif, atau DSCR tetap < 1,2× walau struktur sudah dioptimalkan, atau proyeksi tidak lolos uji stres. Analis yang baik berani berkata "tidak".
Cheat Sheet — Kelayakan Investasi & Kemampuan Bayar
Konsep
Rumus
Aturan / Ambang
NPV
Σ CFₜ / (1+r)ᵗ − Investasi Awal
NPV > 0 → layak; NPV = nilai tambah Rp
IRR
Tingkat r yang membuat NPV = 0 (interpolasi / Excel)
Dua pertanyaan inti analis kredit: (1) Apakah proyek menambah nilai? → NPV / IRR / PI. (2) Apakah arus kasnya cukup bayar cicilan? → DSCR. Layak + Bankable = Disetujui.
Latihan Mandiri & Penutup
Latihan 1 — Kelayakan
NPV?
IRR · Payback · PI
Proyek butuh investasi Rp 800 juta, arus kas bersih Rp 250 juta/tahun selama 5 tahun, diskonto 12%. Hitung NPV, IRR (interpolasi), Payback, dan PI. Layak atau tidak? (Kunci: NPV ≈ +Rp 101,2 jt; IRR ≈ 16,99%; PI ≈ 1,127)
Latihan 2 — DSCR & Grace
DSCR?
Rancang grace period
Kredit Rp 600 jt, bunga 11%, CFADS thn 1–4 = 80 / 200 / 260 / 300 jt. Dengan pokok rata 4 thn tanpa grace, tahun mana yang gagal (< 1,2×)? Rancang struktur agar aman. (Petunjuk: kombinasikan perpanjang tenor + grace + step-up)
Kerjakan dengan disiplin: gambar arus kas dulu, hitung kriteria kelayakan, lalu uji DSCR per tahun. Bawa kalkulator/spreadsheet ke pertemuan berikutnya.
Hari ini Anda belajar menyusun memorandum kredit investasi — dari menilai kelayakan (NPV/IRR/Payback/PI) sampai menguji kemampuan bayar (DSCR) dan menata struktur (grace + step-up). Layak + Bankable = Disetujui.
📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.