‹ Daftar slidePertemuan 7: Analisis Aspek Manajemen dan Aspek Keuangan Debitur
FEB UNDIP · Analisis Kredit dan Pembiayaan
Analisis Kredit dan Pembiayaan
Pertemuan 7 · Analisis Aspek Manajemen dan Aspek Keuangan Debitur
Dari mengenal calon debitur (pemasaran, SDM, operasional) sampai membedah angkanya: laporan keuangan, empat kelompok rasio, arus kas, dan reputasi — untuk memutuskan layak atau tidak diberi kredit.
RPS Minggu 7 · Sub-CPMK 2.4 & 2.5 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis aspek manajemen dan aspek keuangan calon debitur (Sub-CPMK 2.4 & 2.5). Secara rinci:
Capaian 1 — Aspek Manajemen
A
Pemasaran · SDM · Operasional
Menganalisis pemasaran, SDM, dan operasional calon debitur sebagai sumber arus kas masa depan yang perlu divalidasi analis.
Capaian 2 — Laporan Keuangan
B
Neraca · L/R · Arus Kas
Membaca neraca, laba/rugi, dan arus kas serta tahu apa yang dicari analis di tiap laporan, termasuk format UMKM (SAK EMKM).
Menghitung & membaca delapan rasio keuangan kunci dari empat kelompok — langkah demi langkah dari satu set laporan keuangan.
Capaian 4 — Kas & Reputasi
D
DSCR · SLIK OJK
Menyusun proyeksi arus kas / DSCR dan menilai reputasi keuangan via riwayat bank & SLIK untuk menyimpulkan kelayakan bayar.
Usaha Untung Tapi Gagal Bayar — Bagaimana Bisa?
Dua usaha sama-sama laba Rp 100 juta setahun. Satu lancar membayar cicilan, satu lagi menunggak. Apa bedanya? Jawabannya bukan di laba.
Usaha A — Kas Lancar
✓
Laba Rp 100 jt
Penjualan tunai, persediaan cepat berputar. Setiap kali angsuran jatuh tempo, uangnya benar-benar ada di rekening — lancar membayar.
Usaha B — Kas Tersangkut
✗
Laba Rp 100 jt juga
Laba di atas kertas — uangnya "nyangkut" di piutang belum tertagih dan persediaan menumpuk. Saat cicilan jatuh tempo, kas kosong.
Laba adalah janji; arus kas adalah kenyataan. Analis kredit dibayar untuk membedakan keduanya — itulah inti pertemuan hari ini.
Blok 1 dari 4
Aspek Manajemen: Pemasaran, SDM, Operasional
Sebelum membaca angka, analis mengenal usahanya. Tiga aspek non-keuangan ini menentukan apakah arus kas masa depan benar-benar akan terjadi.
PemasaranSDMOperasional
Mengapa Analis Memeriksa Aspek Non-Keuangan?
Laporan keuangan menunjukkan apa yang sudah terjadi. Kredit dibayar dari apa yang akan terjadi. Aspek manajemen menjembatani keduanya.
Jembatan ke 5C
5C
Character · Capacity
Aspek manajemen memperkuat penilaian Character (integritas pengelola) dan Capacity (kemampuan menghasilkan) dalam kerangka 5C yang sudah Anda kenal.
Memvalidasi Proyeksi
→
Pasar · SDM · Operasi
Proyeksi penjualan & arus kas hanya kredibel jika didukung pasar yang nyata, SDM yang mampu, dan operasi yang efisien — bukan sekadar angka di spreadsheet.
Pertanyaan pemandu analis: "Dari mana sebenarnya uang untuk membayar cicilan ini berasal, dan seberapa pasti uang itu akan datang?"
Aspek Pemasaran — Membedah 4P Calon Debitur
Apakah produk debitur benar-benar laku dan akan terus laku? Analis memeriksa empat dimensi pemasaran (marketing mix / 4P).
Dimensi 4P
Apa yang Dicek Analis
Sinyal Bahaya
Produk (Product)
Mutu, keunikan, daya tahan permintaan; ada pesaing pengganti?
Tren sesaat, mudah digantikan
Harga (Price)
Wajar vs pesaing? Margin cukup? Sensitif terhadap perang harga?
Margin sangat tipis, perang harga
Distribusi (Place)
Jalur ke pelanggan lancar? Bergantung satu pembeli besar?
Satu pembeli dominan >70%
Promosi (Promotion)
Cara menjangkau pelanggan; loyalitas & pengulangan order
Tidak ada pelanggan loyal/repeat
Sinyal bahaya: penjualan bergantung pada satu pelanggan atau satu produk musiman — arus kas jadi rapuh saat pelanggan/musim itu hilang.
Aspek SDM — Struktur Organisasi & Kompetensi
Usaha dijalankan oleh orang. Analis menilai apakah organisasinya rapi dan orang-orangnya mampu menjaga arus kas tetap mengalir.
Struktur Organisasi
Org
Pembagian tugas & kontrol
Adakah pembagian tugas jelas (produksi, keuangan, penjualan)? Atau semua di satu orang (key-person risk)? Ada pencatatan & kontrol internal yang memadai?
Kompetensi SDM
+
Rekam jejak & regenerasi
Pengalaman & rekam jejak pemilik/pengelola di bidangnya; kemampuan tim kunci; regenerasi/penerus bila pemilik berhalangan atau tidak hadir.
Pada UMKM, risiko orang kunci adalah ancaman terbesar. Pertanyaan diagnostik: "Jika pemilik sakit sebulan, apakah usaha tetap jalan?" — kalau tidak, itu sinyal serius.
Aspek Operasional — Proses Produksi & Efisiensi
Apakah usaha bisa menghasilkan barang/jasa secara konsisten, tepat waktu, dan hemat biaya? Efisiensi operasional langsung menentukan margin — dan margin menentukan kas.
Proses Produksi / Jasa
⚙
Kapasitas · Rantai Pasok · Mutu
Kapasitas cukup vs permintaan? Rantai pasok bahan baku andal? Mutu konsisten? Bergantung satu pemasok? — pertanyaan ini menentukan kelancaran produksi.
Efisiensi Operasional
%
Waste · Kapasitas · Biaya/unit
Tingkat pemborosan/sisa (waste); pemanfaatan kapasitas; biaya per unit; ketepatan waktu pengiriman — semua menentukan margin yang tersisa untuk mencicil.
Operasi boros → biaya naik → margin tipis → arus kas mudah jebol saat penjualan sedikit turun. Efisiensi = bantalan keselamatan kredit.
Blok 2 dari 4
Membaca Laporan Keuangan Debitur
Tiga laporan inti — neraca, laba/rugi, arus kas — dan apa yang dicari analis di masing-masing. Plus format khas UMKM Indonesia (SAK EMKM / SAK ETAP).
NeracaLaba/RugiArus Kas
Tiga Laporan Inti & Apa yang Dicari Analis
Neraca (Balance Sheet)
A
Aset = Liabilitas + Ekuitas
Analis cari: komposisi aset (lancar vs tetap), beban utang, modal sendiri. Pertanyaan: seberapa berat utangnya, dan seberapa kuat modalnya?
Laba/Rugi (Income Statement)
L
Penjualan − Beban = Laba
Analis cari: tren penjualan, margin kotor & bersih, beban bunga. Pertanyaan: usahanya menghasilkan laba atau tidak, dan dari mana?
Arus Kas (Cash Flow)
K
Operasi · Investasi · Pendanaan
Analis cari: arus kas operasi positif & cukup. Pertanyaan: ada uang riil untuk mencicil? (Ini lebih penting dari laba.)
Urutan baca analis: L/R (apakah untung?) → Neraca (seberapa kuat & berutang?) → Arus Kas (ada kas untuk bayar?). Ketiganya harus dibaca bersama.
Laporan Keuangan UMKM: SAK EMKM & SAK ETAP
Calon debitur Indonesia mayoritas UMKM. Laporannya lebih sederhana — dan kadang tidak ada sama sekali. Analis harus menyesuaikan.
Standar yang Dipakai
SAK
EMKM · ETAP
SAK EMKM (Entitas Mikro, Kecil, Menengah) — paling sederhana: 3 laporan ringkas. SAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik Signifikan) — untuk usaha yang lebih besar dan kompleks.
Jika Tak Ada Laporan Formal
OTS
On-the-Spot · Rekonstruksi
Analis menyusun ulang dari catatan kas/buku penjualan, mutasi rekening, nota — lalu lakukan kunjungan lapangan (on-the-spot) untuk memverifikasi kondisi nyata usaha.
Konteks kebijakan: perbankan diarahkan menyalurkan ≥30% kredit ke UMKM (kebijakan inklusi keuangan BI/OJK) — maka kemampuan menganalisis debitur tanpa laporan rapi adalah keterampilan wajib.
Data Kasus: UMKM "Maju Jaya" (Toko Bahan Bangunan)
Calon debitur mengajukan kredit modal kerja. Berikut neraca akhir tahun dan laba/rugi setahun (Rp ribu). Data ini dipakai untuk semua perhitungan berikutnya.
Neraca (Rp ribu)
Kas
15.000
Piutang usaha
45.000
Persediaan
60.000
Beban dibayar di muka
5.000
Aset Lancar
125.000
Aset tetap (neto)
175.000
TOTAL ASET
300.000
Utang lancar
50.000
Utang jangka panjang
70.000
Total Liabilitas
120.000
Ekuitas
180.000
Laba/Rugi Setahun (Rp ribu)
Penjualan
500.000
(−) HPP
(350.000)
Laba Kotor
150.000
(−) Beban Operasi
(90.000)
Laba Operasi
60.000
(−) Beban Bunga
(12.000)
Laba sebelum pajak
48.000
(−) PPh Badan 22%
(10.560)
Laba Bersih
37.440
Cek keseimbangan neraca: Aset 300.000 = Liabilitas 120.000 + Ekuitas 180.000. ✓ Semua perhitungan rasio (Slide berikutnya) memakai angka ini.
Blok 3 dari 4
Empat Kelompok Rasio Keuangan
Likuiditas, Solvabilitas, Aktivitas, Profitabilitas — empat sudut untuk mengukur kesehatan debitur. Pelajari rumusnya, lalu hitung semuanya dari nol.
LikuiditasSolvabilitasAktivitasProfitabilitas
Peta Empat Kelompok Rasio — Apa yang Diukur
Likuiditas
💧
Current Ratio · Quick Ratio
Mampu bayar kewajiban jangka pendek? Inilah napas harian debitur yang paling langsung terasa saat angsuran jatuh tempo.
Solvabilitas / Leverage
⚖
DER · Debt Ratio
Seberapa berat utang vs modal sendiri? Menilai daya tahan saat krisis dan ruang untuk meminjam lebih. Semakin tinggi DER, semakin rapuh.
Aktivitas
🔄
Perputaran Piutang · Persediaan
Seberapa cepat aset berputar jadi penjualan & kas? Perputaran lambat = uang macet = daya bayar berkurang walau usaha untung.
Profitabilitas
📈
GPM · NPM · ROA · ROE
Seberapa untung usahanya? Inilah "mesin" pengembalian kredit — profitabilitas yang kuat jadi sumber daya bayar jangka panjang.
Keempatnya harus dibaca bersama: untung (profitabilitas) tapi tak likuid tetap bisa gagal bayar. Satu kelompok rasio saja tidak cukup untuk menyimpulkan kelayakan.
Rasio Likuiditas — Current Ratio & Quick Ratio
Mengukur kemampuan membayar utang jangka pendek dengan aset lancar yang dimiliki saat ini.
Rule of thumb klasik: Current Ratio ≈ 2x, Quick Ratio ≈ 1x dianggap sehat — tetapi bervariasi per sektor. Quick Ratio membuang persediaan karena ia paling lambat jadi kas.
Hati-hati: Current Ratio tinggi bisa menipu bila disebabkan persediaan menumpuk yang tak laku. Selalu cek Quick Ratio sebagai konfirmasi — jangan baca satu saja.
Rasio Solvabilitas / Leverage — DER & Debt Ratio
Mengukur seberapa besar usaha dibiayai utang dibanding modal sendiri. Semakin tinggi, semakin berisiko bagi pemberi kredit baru.
DER (Debt-to-Equity Ratio) = Total Liabilitas ÷ Ekuitas
Debt Ratio = Total Liabilitas ÷ Total Aset
DER = 1 berarti utang setara modal sendiri. DER tinggi → beban bunga berat → arus kas lebih rapuh → bantalan saat rugi makin tipis. Semakin tinggi DER, semakin kecil margin keamanan kreditur.
Untuk analis: kredit baru menambah utang. Selalu hitung DER setelah kredit yang diajukan, bukan hanya kondisi sekarang — karena itulah kondisi yang akan dihadapi debitur jika kredit disetujui.
Rasio Aktivitas — Perputaran Piutang, Persediaan, Aset
Mengukur seberapa cepat aset berubah menjadi penjualan dan kas. Perputaran lambat = uang macet.
DSO = rata-rata hari menagih piutang; DIO = rata-rata hari persediaan tersimpan sebelum terjual. Makin pendek keduanya, makin cepat kas kembali — bagus untuk daya bayar angsuran.
Rasio Profitabilitas — GPM, NPM, ROA, ROE
Mengukur kemampuan usaha menghasilkan laba. Inilah "mesin" yang nantinya mengembalikan kredit.
GPM (Gross Profit Margin) = Laba Kotor ÷ Penjualan NPM (Net Profit Margin) = Laba Bersih ÷ Penjualan ROA (Return on Assets) = Laba Bersih ÷ Total Aset ROE (Return on Equity) = Laba Bersih ÷ Ekuitas
GPM & NPM ukur margin dari penjualan; ROA ukur imbal hasil atas aset; ROE ukur imbal hasil atas modal pemilik. Satu angka tidak berarti tanpa pembanding — bandingkan dengan tren sendiri & emiten BEI sektor sejenis.
Hitung dari Nol — HDN-1: Delapan Rasio Kunci "Maju Jaya"
Pakai data Slide 12 (Rp ribu). Ikuti tiap langkah dengan kalkulator.
Delapan rasio selesai. Selanjutnya yang lebih sulit: membacanya — apakah angka-angka ini menandakan debitur layak diberi kredit?
Coba Sendiri: Ubah Angka Laporan, Amati Empat Rasio
Geser komponen laporan keuangan UMKM dan lihat rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan profitabilitas berubah bersamaan.
Membaca Hasil: Layak atau Tidak?
Rasio mentah tak berarti tanpa pembanding. Kita letakkan hasil Maju Jaya di samping ambang sehat klasik & catatan sektor.
Rasio
Maju Jaya
Ambang Sehat (indikatif)
Bacaan
Current Ratio
2,50x
≈ 2x
✓ Likuiditas memadai
Quick Ratio
1,20x
≈ 1x
✓ Sehat tanpa andalkan persediaan
DER
0,67x
< 1–2x
✓ Utang masih di bawah modal
DSO
32,9 hari
Makin pendek makin baik
✓ Tagihan relatif cepat
DIO
62,6 hari
Sektor ritel material agak panjang
⚠ Cek perputaran stok
NPM
7,49%
Bandingkan sektor
✓ Wajar untuk usaha dagang
ROA / ROE
12,5% / 20,8%
Bandingkan emiten BEI sejenis
✓ Imbal hasil sehat
Kesimpulan awal: profil keuangan cenderung layak, satu catatan (persediaan ~63 hari) untuk diklarifikasi. Tapi keputusan belum final — kita masih harus uji arus kasnya (Blok 4).
Blok 4 dari 4
Arus Kas, Daya Bayar & Reputasi
Ujian terakhir kelayakan: apakah arus kas operasi cukup menutup angsuran (DSCR)? Lalu, bagaimana rekam jejak debitur membayar — reputasi keuangan & SLIK OJK.
Arus Kas OperasiDSCRReputasi / SLIK OJK
Laba ≠ Arus Kas — Mengapa Analis Memilih Kas
Cicilan dibayar dengan uang tunai, bukan dengan angka laba. Inilah mengapa daya bayar diuji dari arus kas, bukan laba/rugi.
Laba (Laporan L/R)
≠
Janji akuntansi
Memasukkan penjualan kredit yang belum tertagih dan beban non-tunai (misal: penyusutan). Bisa mencatat untung besar padahal tidak ada uang di rekening.
Arus Kas Operasi
✓
Uang nyata
Hanya menghitung kas yang benar-benar masuk & keluar dari kegiatan usaha. Inilah satu-satunya uang nyata yang bisa dipakai membayar cicilan bank.
Jembatan penting: laba bisa tinggi sementara kas rendah bila piutang & persediaan membengkak. Daya bayar diukur dari arus kas operasi, lalu dibandingkan dengan angsuran lewat DSCR.
Hitung dari Nol — HDN-2: Arus Kas 12 Bulan & DSCR
Maju Jaya minta kredit modal kerja Rp 100 juta, tenor 12 bulan, bunga flat ~18%/tahun (ilustrasi). Apakah arus kas operasi bulanan cukup menutup angsuran?
Kemampuan membayar (kas) harus didampingi kemauan membayar. Reputasi keuangan mengukur rekam jejak — apakah debitur selama ini menepati kewajibannya.
Riwayat Hubungan Bank
Hist
Rekam jejak internal
Pernah meminjam? Lancar atau menunggak? Berapa lama jadi nasabah? Saldo & mutasi rekening konsisten dengan klaim usaha yang diajukan kepada analis?
SLIK OJK (eks BI Checking)
SLIK
Basis data kredit nasional
Tampilkan kolektibilitas debitur di semua bank: Lancar (Kol-1) … Macet (Kol-5). Riwayat tunggakan di seluruh lembaga keuangan terlihat di sini.
Kaitkan ke Pertemuan 4: SLIK menunjukkan kolektibilitas historis. Kol-2 ke atas (pernah menunggak) = sinyal kuat pada penilaian Character (5C). Kemampuan tinggi + kemauan rendah = tetap berisiko.
Peta Konsep: Dari Aspek ke Keputusan Kredit
Aspek manajemen meyakinkan arus kas akan terjadi; rasio menunjukkan usaha sehat; arus kas/DSCR membuktikan ada uang untuk bayar; reputasi memastikan kemauan bayar. Empatnya → keputusan.
Rangkuman — Cheat-Sheet Pertemuan 7
Konsep / Alat
Inti yang Harus Anda Ingat
Aspek Manajemen
Pemasaran (4P) + SDM (key-person risk) + Operasional (efisiensi) = sumber arus kas masa depan
Tiga Laporan
L/R (untung?) → Neraca (beratnya utang?) → Arus Kas (ada kas nyata?) — baca bersama, urut
SAK EMKM / ETAP
Standar UMKM Indonesia; jika tak ada laporan → rekonstruksi + kunjungan lapangan (OTS)
Likuiditas
Current Ratio ≈2x; Quick Ratio ≈1x; jangan percaya CR tinggi tanpa cek QR
Solvabilitas
DER = Liabilitas ÷ Ekuitas; hitung ulang DER setelah kredit baru ditambahkan
Aktivitas
DSO & DIO makin pendek = kas makin cepat kembali; perputaran lambat → uang macet
Profitabilitas
GPM/NPM/ROA/ROE — satu angka tak berarti tanpa benchmark tren & sektor (BEI)
DSCR
Arus kas op ÷ Angsuran; harus ≥1 (idealnya ≥1,2); selalu uji stres skenario buruk
Laba adalah janji; arus kas adalah kenyataan. Kredit dibayar dari kas, bukan laba.
Latihan & Diskusi Kelas
Data UMKM "Berkah Tani" tersedia (Lampiran B). Kerjakan 10 menit, lalu kita bahas bersama.
Latihan 1 — Rasio Keuangan
1
Neraca & L/R Berkah Tani
Dari neraca & laba/rugi Berkah Tani (Lampiran B), hitung: current ratio, quick ratio, DER, DSO, NPM, ROA. Apakah likuiditas & solvabilitasnya sehat? Beri satu kalimat kesimpulan.
Latihan 2 — Arus Kas & DSCR
2
Penjualan/pembelian/biaya Berkah Tani
Dari data arus kas bulanan Berkah Tani, susun arus kas operasi/bln dan hitung DSCR terhadap angsuran Rp 6 jt/bln. Putuskan: layak / layak-bersyarat / tolak — serta alasannya.
Ingat prinsip utama: bayar cicilan pakai kas, bukan laba. Hitung DSCR-nya terlebih dulu, baru putuskan — jangan tergiur laba yang terlihat positif di laba/rugi. Kunci jawaban ada di Lampiran B.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan 8
Hari ini Anda belajar menganalisis calon debitur dari dua sisi — manajemen & keuangan — sampai sebuah keputusan. Pertemuan depan: menuangkannya ke proposal/usulan kredit dan keputusan formal.
Inti Hari Ini
Aspek manajemen (pasar/SDM/operasi) → validasi arus kas masa depan
Tiga laporan → 4 kelompok rasio → delapan angka kunci
Proyeksi arus kas → DSCR (uji base + stres)
Reputasi / SLIK → kemauan bayar (Character 5C)
Kunci: kas, bukan laba
Tugas Mandiri
P8
Sebelum pertemuan berikutnya
Ulangi HDN-1 & HDN-2 dengan angka Anda sendiri tanpa melihat catatan
Cari satu emiten BEI sektor ritel (misal: ACES, MAPI, RALS), hitung 4 rasio profitabilitasnya sebagai benchmark sektor
Ingat satu kalimat dari pertemuan ini: "Usaha bisa untung di kertas tetapi gagal bayar di kas." Sampai jumpa di Pertemuan 8 — Penyusunan Usulan Kredit.