‹ Daftar slidePertemuan 5: Analisis 5C — Character dan Capacity
FEB UNDIP · Analisis Kredit dan Pembiayaan
Analisis Kredit dan Pembiayaan
Pertemuan 5 · Analisis 5C: Character dan Capacity
Dua pilar pertama penilaian kredit — niat membayar (Character) dan kemampuan membayar (Capacity) — plus dilema etika yang menyertainya.
RPS Minggu 5 · Sub-CPMK 2.1 & 5.1 · 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menerapkan analisis Character dan Capacity calon debitur serta mengidentifikasi dilema etika dalam analisis kredit (Sub-CPMK 2.1 & 5.1). Secara rinci:
Capaian 1 — Character
C
Niat & integritas
Menilai niat & integritas calon debitur dari SLIK, trade checking, dan investigasi karakter — berbasis bukti, bukan kesan.
Capaian 2 — Capacity
C
Kemampuan membayar
Menghitung kapasitas membayar bersih & DSCR calon debitur UMKM serta menentukan plafon aman berbasis arus kas.
Capaian 3 — Tiga Dimensi
3D
Manajerial · Teknis · Keuangan
Membedakan kemampuan manajerial, teknis, dan keuangan dalam menilai Capacity untuk satu kasus debitur konkret.
Capaian 4 — Etika
E
Dilema & respons
Mengidentifikasi dilema etika (tekanan, konflik kepentingan, penggelembungan) & cara merespons sesuai Kode Etik Bankir Indonesia.
Tiga Berkas di Meja Account Officer
Anda baru ditunjuk sebagai Account Officer (AO) kredit UMKM di sebuah bank. Pagi ini tiga berkas pengajuan menunggu di meja Anda:
Berkas 1 — Bu Sari
Rp 50 jt
Warung sembako · SLIK bersih
Catatan kredit bersih, tetapi usahanya baru 8 bulan berjalan. Mampu bayar? — ranah Capacity.
Berkas 2 — Pak Budi
Rp 100 jt
Bengkel · Arus kas kuat
Arus kas usaha kuat, tetapi SLIK menunjukkan pernah menunggak 3 bulan di bank lain. Mau bayar? — ranah Character.
Berkas 3 — Kerabat Pejabat
?
Data pas-pasan · Ada tekanan
Pengajuan kerabat pejabat daerah, datanya pas-pasan, tapi atasan berpesan "tolong dibantu". Apa yang Anda lakukan? — ranah Etika.
Ketiga berkas ini adalah inti pekerjaan AO: menilai kemampuan (Capacity — Berkas 1), niat (Character — Berkas 2), dan menjaga integritas (etika — Berkas 3). Hari ini kita kupas ketiganya.
Bagian 1 dari 4
Mengapa 5C, dan Di Mana Character–Capacity?
Kerangka 5C sebagai standar baku penilaian kredit, lalu memposisikan dua pilar terpenting: niat membayar dan kemampuan membayar.
5CCharacterCapacity
Prinsip 5C — Standar Baku Penilaian Kredit
Setiap calon debitur dinilai pada lima dimensi. Masing-masing menjawab pertanyaan risiko yang berbeda.
C
Arti
Pertanyaan Inti
Character
Watak / niat
Mau-kah ia membayar? (integritas, reputasi)
Capacity
Kemampuan
Mampu-kah ia membayar? (arus kas usaha)
Capital
Modal sendiri
Berapa "kulit sendiri" yang ia tanamkan?
Collateral
Agunan / jaminan
Apa jaring pengaman jika gagal bayar?
Condition
Kondisi eksternal
Bagaimana ekonomi/industri ke depan?
Catatan: Rose & Hudgins menambahkan C keenam — Control (kesesuaian dengan regulasi/kebijakan bank). Hari ini fokus pada dua C pertama; Capital, Collateral, Condition dibahas di Pertemuan 6.
Dua Pilar Utama: Niat dan Kemampuan
Sebuah kredit dilunasi hanya jika dua syarat terpenuhi sekaligus: debitur mau membayar danmampu membayar.
Pilar 1 — Character
Niat
Integritas membayar
Niat & integritas membayar. Tanpa niat, arus kas sekuat apa pun bisa tidak dipakai untuk membayar. Dinilai dari rekam jejak, bukan kesan.
Pilar 2 — Capacity
Mampu
Arus kas usaha
Kemampuan membayar dari arus kas usaha. Tanpa kemampuan, niat sebaik apa pun tidak cukup. Dinilai dari hitungan, bukan harapan.
Kunci: Character × Capacity. Keduanya seperti dua sayap — satu saja lemah, kredit berisiko. Agunan (Collateral) hanyalah pengaman terakhir, bukan alasan utama memberi kredit.
Bagian 2 dari 4
Character — Menilai Niat Membayar
Dari kesan subjektif menjadi bukti objektif: rekam jejak SLIK, trade checking, dan character investigation.
SLIKTrade CheckingInvestigasi
Apa yang Dinilai dari Character?
Character = watak, integritas, dan komitmen membayar. Dinilai dari tiga sumber bukti:
1 — Rekam Jejak Kredit
1
Riwayat pinjaman terdahulu
Apakah pinjaman terdahulu selalu lancar atau pernah menunggak? Alat utama: SLIK OJK.
2 — Reputasi Bisnis
2
Kepercayaan rekan dagang
Apakah ia membayar pemasok tepat waktu dan dipercaya rekan bisnisnya? Alat: trade checking.
3 — Integritas Pribadi
3
Konsistensi & kejujuran
Kejujuran, konsistensi cerita, gaya hidup vs penghasilan. Alat: wawancara & investigasi.
Prinsip: niat membayar tercermin dari perilaku masa lalu. Orang yang konsisten memenuhi janji finansial cenderung melanjutkannya.
SLIK OJK — Pengganti BI Checking
SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) adalah sistem OJK yang merekam riwayat kredit setiap orang/badan di seluruh lembaga keuangan. Sejak 2018 menggantikan BI Checking (SID) milik Bank Indonesia.
Kolektibilitas
Status
Keterlambatan
1
Lancar
0 hari (tepat waktu)
2
Dalam Perhatian Khusus (DPK)
1–90 hari
3
Kurang Lancar
91–120 hari
4
Diragukan
121–180 hari
5
Macet
> 180 hari
Kol. 1–2 = relatif aman; Kol. 3–5 = bermasalah (NPL). Banyak bank menolak otomatis jika ada riwayat Kol. 3–5 yang belum lunas. Tunggakan yang sudah lunas pun tetap terekam dan memengaruhi penilaian.
Membaca Ringkasan SLIK — Apa yang Dicari?
Sebuah laporan SLIK memuat banyak baris fasilitas kredit. Fokus analis pada tiga hal:
Fasilitas
Baki Debet
Kol. Saat Ini
Riwayat 12 Bln
KUR Bank A
Rp 15 jt
1 (Lancar)
1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1
Kartu kredit B
Rp 4 jt
2 (DPK)
1-1-2-2-1-1-1-2-2-1-1-2
KTA Bank C
Rp 0 (lunas)
1 (Lunas)
pernah 3 → kini lunas
Tiga Fokus Analis
(1) Kolektibilitas saat ini — adakah yang Kol. 3–5 aktif?
(2) Tren riwayat — membaik (3→2→1) atau memburuk (1→2→3)?
(3) Total baki debet — sudah terlalu banyak utang (over-leverage)?
Pola membaik (3→2→1) lebih dimaafkan daripada memburuk (1→2→3). Lihat arah, bukan hanya titik.
Trade Checking & Character Investigation
SLIK hanya merekam jejak di lembaga keuangan. Untuk UMKM yang banyak bertransaksi tunai, kita lengkapi dengan dua teknik lapangan:
Trade Checking
TC
Cek reputasi ke pemasok & pembeli
Tanya langsung: apakah ia membayar pemasok tepat waktu? Apakah pelanggannya loyal? Mengungkap perilaku bayar yang tak terlihat di SLIK.
Character Investigation
CI
Verifikasi lapangan
Kunjungan usaha, cek lingkungan/tetangga, konsistensi cerita, gaya hidup vs penghasilan. Mendeteksi pemalsuan & manipulasi.
Banyak debitur UMKM belum punya jejak SLIK (belum pernah kredit formal). Maka trade checking & investigasi lapangan menjadi sumber Character utama — jangan andalkan SLIK saja.
Studi Kasus: Lolos, Marginal, atau Ditolak?
Tiga calon debitur, tiga ringkasan SLIK. Putuskan status Character masing-masing dan beri alasan.
Debitur
Ringkasan SLIK
Keputusan Character
A — Bu Sari
Semua Kol. 1, baki debet kecil, tren stabil
LOLOS — rekam jejak bersih
B — Pak Budi
Pernah Kol. 3 (menunggak 3 bln) tapi lunas & 12 bln terakhir Kol. 1
MARGINAL — tren membaik, perlu klarifikasi sebab tunggakan
C — Pak Doni
Ada Kol. 5 (Macet) belum lunas di bank lain
DITOLAK — masih bermasalah aktif
Kunci penalaran: bukan sekadar "pernah menunggak = tolak". Lihat apakah sudah lunas dan arah tren. Tunggakan lunas + tren membaik = bisa marginal; tunggakan aktif = ditolak.
Bagian 3 dari 4
Capacity — Menilai Kemampuan Membayar
Tiga dimensi kemampuan — manajerial, teknis, keuangan — dan cara menghitung kapasitas membayar dari arus kas usaha.
Kapasitas Bersih = Arus Kas Usaha − Biaya Hidup − Kewajiban Lain
Tiga Dimensi Capacity
Kemampuan membayar tidak hanya soal uang. Ada tiga dimensi yang menentukan apakah usaha akan terus menghasilkan arus kas:
1 — Manajerial
M
Kemampuan mengelola usaha
Pengalaman, kepemimpinan, pengaturan SDM & keuangan. Usaha bisa untung tapi bangkrut karena salah kelola.
2 — Teknis
T
Kemampuan jalankan produksi
Keahlian, teknologi, kontrol mutu. Tukang yang terampil ≠ pengelola yang baik — keduanya berbeda dimensi.
3 — Keuangan
K
Kemampuan bayar dari arus kas
Inilah yang kita hitung: kapasitas membayar bersih & DSCR. Dimensi paling terukur dari ketiganya.
Dimensi keuangan paling mudah diangka-kan, tetapi dua dimensi lain menentukan apakah arus kas itu berkelanjutan. Nilai ketiganya.
Sumber Pembayaran: Arus Kas, Bukan Laba
Angsuran dibayar dengan uang tunai yang benar-benar ada, bukan dengan "laba di atas kertas". Inilah inti Capacity keuangan.
Laba (di kertas)
Laba
Buku catatan
Bisa besar tapi uangnya terikat di piutang & persediaan. Laba ≠ kas di tangan. Penjualan kredit belum tertagih masuk laba, tetapi bukan kas.
Arus Kas (di tangan)
Kas
Dompet nyata
Uang nyata masuk dikurangi keluar. Inilah yang dipakai membayar angsuran. Dari sinilah kapasitas membayar dihitung.
Debitur bisa mengaku laba besar padahal kasnya kosong (piutang macet, stok menumpuk). Selalu telusuri arus kas riil, bukan sekadar pengakuan laba.
Rumus: Kapasitas Membayar Bersih & DSCR
Dua alat ukur kunci untuk mengangka-kan Capacity keuangan:
Kapasitas Bersih = Arus Kas Usaha − Biaya Hidup Pemilik − Angsuran Kewajiban Lain
DSCR = Arus Kas Tersedia untuk Angsuran ÷ Total Angsuran
Interpretasi DSCR
DSCR > 1 — arus kas lebih besar dari angsuran (ada cadangan)
DSCR = 1 — pas-pasan, tidak ada bantalan; berbahaya
Standar bank umum: DSCR ≥ 1,2 – 1,5 sebagai margin pengaman
Dari kapasitas bersih, bank biasanya hanya mengizinkan sebagian (mis. ≤ 75%) menjadi angsuran kredit baru, menyisakan bantalan untuk hal tak terduga. Lalu plafon dihitung dari angsuran maksimum itu.
Hitung dari Nol — HDN-1: Kapasitas & Plafon UMKM
Bu Sari (warung sembako): arus kas usaha Rp 12 juta/bln, biaya hidup Rp 5 juta/bln, angsuran lain Rp 2 juta/bln. Tenor 36 bulan, bunga 18% p.a. Berapa kapasitas, angsuran maksimum, dan plafon?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Arus kas usaha
(diketahui)
Rp 12.000.000
(−) Biaya hidup
− 5.000.000
Rp 7.000.000
(−) Angsuran lain
− 2.000.000
Rp 5.000.000 (kapasitas bersih)
Angsuran maks aman (75%)
0,75 × 5.000.000
Rp 3.750.000
Bunga per bulan
18% ÷ 12
1,5% (0,015)
Faktor PVIFA(1,5%, 36 bln)
[1 − (1,015)⁻³⁶] ÷ 0,015
27,660684
Plafon kredit
3.750.000 × 27,660684
≈ Rp 103.727.566
Kapasitas bersih Rp 5 jt; angsuran aman Rp 3,75 jt; plafon ≈ Rp 103,7 jt. Pengajuan Rp 50 jt jelas masuk akal — bahkan masih ada ruang. Capacity Bu Sari: Lolos.
Hitung dari Nol — HDN-2: DSCR & Angsuran Maksimum
Bank Bu Sari mensyaratkan DSCR minimal 1,25 atas seluruh angsuran. Arus kas tersedia (laba − biaya hidup) = Rp 7 jt, angsuran lama Rp 2 jt. Tenor 36 bln, 18% p.a.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Arus kas tersedia untuk angsuran
12.000.000 − 5.000.000
Rp 7.000.000
Total angsuran maks (DSCR 1,25)
7.000.000 ÷ 1,25
Rp 5.600.000
(−) Angsuran lama
− 2.000.000
Rp 3.600.000 (angsuran baru maks)
Faktor PVIFA(1,5%, 36 bln)
(sama HDN-1)
27,660684
Plafon kredit
3.600.000 × 27,660684
≈ Rp 99.578.464
DSCR 1,25 → angsuran baru maks Rp 3,6 jt → plafon ≈ Rp 99,6 jt. Bandingkan HDN-1 (margin 75% → Rp 103,7 jt): metode DSCR sedikit lebih konservatif. Keduanya jauh di atas pengajuan Rp 50 jt.
Coba Sendiri: Geser Arus Kas & Angsuran, Amati DSCR
Ubah arus kas tersedia dan total angsuran untuk melihat DSCR bergerak naik-turun terhadap ambang aman 1,2–1,5.
Studi Kasus Capacity: Layak Berapa Plafon?
Pak Budi (bengkel) ajukan Rp 100 juta. Data: arus kas usaha Rp 15 jt/bln, biaya hidup Rp 6 jt/bln, angsuran lain Rp 1 jt/bln. Margin 75%, tenor 36 bln, 18% p.a.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Kapasitas bersih
15.000.000 − 6.000.000 − 1.000.000
Rp 8.000.000
Angsuran maks (75%)
0,75 × 8.000.000
Rp 6.000.000
Plafon kredit
6.000.000 × 27,660684
≈ Rp 165.964.105
Plafon aman ≈ Rp 166 jt > pengajuan Rp 100 jt. Dari sisi Capacity, Pak Budi layak. Tetapi ingat Slide 12: SLIK-nya pernah Kol. 3 → gabungkan Character (marginal) + Capacity (kuat) sebelum putuskan.
Coba Sendiri: Hitung Kapasitas Bayar Debitur Anda Sendiri
Kita baru dua kali menghitung kapasitas bersih dan plafon secara manual (Bu Sari, Pak Budi). Sekarang masukkan angka arus kas, biaya hidup, dan angsuran lain milik profil debitur pilihan Anda sendiri — widget ini langsung menghitung kapasitas bersih, RPC (repayment capacity), dan DSR (debt service ratio).
Bagian 4 dari 4
Dilema Etika, Rangkuman & Latihan
Tekanan, konflik kepentingan, dan penggelembungan — saat angka & integritas berbenturan, lalu cara merespons sesuai Kode Etik Bankir.
TekananKonflik KepentinganPenggelembungan
Dilema Etika dalam Penilaian Character
Penilaian Character bersifat sebagian subjektif, sehingga rawan ditekan dan dibengkokkan. Dua dilema tersering:
Dilema 1 — Tekanan Meloloskan
!
SLIK buruk + tekanan atasan
Atasan/relasi minta meloloskan debitur ber-SLIK buruk: "tutup mata sedikit". Menyerah = melanggar prinsip kehati-hatian & merugikan bank jangka panjang.
Dilema 2 — Konflik Kepentingan
KK
Debitur kerabat/relasi pejabat
AO cenderung memperhalus penilaian Character untuk kerabat/relasi. Objektivitas terancam, padahal tanggung jawab tetap ada.
Tanda bahaya: ketika alasan menyetujui lebih banyak soal siapa debiturnya daripada rekam jejaknya. Character harus dinilai dari bukti, bukan relasi.
Dilema Etika dalam Penilaian Capacity
Angka Capacity tampak objektif, tetapi asumsi di baliknya bisa dimanipulasi agar pengajuan "kelihatan layak". Dua dilema tersering:
Dilema 1 — Penggelembungan Proyeksi
↑?
Omzet/arus kas dibesar-besarkan
Membesar-besarkan proyeksi omzet/arus kas agar DSCR & plafon "cukup". Angka indah di kertas, tak nyata di lapangan.
Dilema 2 — Mengecilkan Biaya/Kewajiban
↓?
Biaya hidup/angsuran sengaja dihilangkan
Sengaja melupakan biaya hidup wajar atau angsuran lain agar kapasitas bersih terlihat besar. DSCR jadi semu.
Manipulasi Capacity sering tampak "teknis & sah" karena hanya mengubah asumsi. Tetapi efeknya sama: kredit cair untuk debitur yang sebenarnya tak mampu → potensi macet & debitur terjerat utang.
Kode Etik Bankir & Cara Merespons Tekanan
Saat integritas berbenturan dengan tekanan, Kode Etik Bankir Indonesia (IBI) memberi pegangan. Empat respons profesional:
Empat Respons — Berdasarkan Kode Etik Bankir IBI
1Sandarkan pada data, bukan relasi — putuskan dari SLIK, arus kas, DSCR terverifikasi; minta semua dasar tertulis.
2Ungkap konflik kepentingan — jika debitur kerabat/relasi, deklarasikan & minta analis lain menilai.
3Tolak menggelembungkan asumsi — proyeksi harus berbasis bukti (mutasi rekening, nota penjualan), bukan harapan.
4Eskalasi tertulis — jika ditekan, sampaikan keberatan secara tertulis ke jenjang yang tepat; jangan menanggung sendiri keputusan yang Anda yakini salah.
Berkas 3 (kerabat pejabat): ungkap konflik kepentingan, minta penilaian independen, putuskan dari data. Meloloskan karena tekanan = pelanggaran etika + risiko hukum & reputasi.
Lima Jebakan Analisis Character–Capacity
Waspadai Sebelum Menandatangani Usulan Kredit
1Mengandalkan agunan, lupakan niat & kemampuan — Collateral hanya pengaman terakhir, bukan dasar utama pemberian kredit.
2Menilai Character dari kesan, bukan bukti — pakai SLIK & trade checking, bukan "firasat" atau raut wajah.
3Menyamakan laba dengan kas — angsuran dibayar dari arus kas riil, bukan laba di kertas yang bisa terikat piutang/stok.
4Lupa biaya hidup & kewajiban lain — kapasitas bersih ≠ seluruh arus kas usaha; kurangi biaya hidup & angsuran lain lebih dulu.
5Tunduk pada tekanan/relasi — ungkap konflik kepentingan; putuskan selalu dari data, bukan dari siapa yang menekan.
Sebelum menandatangani usulan kredit, cek tiga hal: bukti Character (SLIK/trade checking), arus kas riil (bukan laba), dan independensi keputusan Anda (bebas tekanan).
Cheat Sheet — Character & Capacity
Aspek
Yang Dinilai
Alat / Rumus
Character
Niat & integritas membayar
SLIK (Kol. 1–5), trade checking, investigasi lapangan
Capacity — Manajerial
Kemampuan mengelola usaha
Pengalaman, track record, SDM
Capacity — Teknis
Kemampuan jalankan produksi/jasa
Keahlian, sertifikasi, kontrol mutu
Capacity — Keuangan
Kemampuan bayar dari arus kas
Kapasitas bersih; DSCR = AK ÷ Angsuran
Plafon aman
Batas kredit dari angsuran maks
Plafon = Angsuran Maks × PVIFA(i, n)
Etika
Integritas penilaian
Kode Etik Bankir IBI: data > relasi; eskalasi tertulis
Inti yang harus melekat: kredit lunas hanya jika debitur mau (Character) DAN mampu (Capacity) membayar — dinilai dari bukti & angka, bukan kesan & tekanan.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — Capacity & Plafon
Rp ?
Pak Anton · Toko Kelontong
Arus kas usaha Rp 10 jt/bln, biaya hidup Rp 4 jt, tanpa angsuran lain. Margin 75%, tenor 24 bln, 18% p.a. Hitung: kapasitas bersih, angsuran maks, dan plafon. Petunjuk: PVIFA(1,5%, 24 bln) = 20,030405
Latihan 2 — Character & Etika
Kol 4
SLIK: Diragukan belum lunas
Ringkasan SLIK: Kol. 1, lalu Kol. 4 (Diragukan) belum lunas. (a) Putuskan status Character & beri alasan. (b) Jika debitur kerabat atasan yang menekan meloloskan, apa respons Anda sesuai Kode Etik Bankir?
Kerjakan 7 menit. Latihan 1: hitung kapasitas bersih → angsuran aman → plafon. Latihan 2: putuskan dari bukti SLIK, lalu jawab dilema etikanya. Bahas bersama setelah selesai (kunci: Lampiran B).
Persiapan Pertemuan 6
Hari ini Anda menguasai dua pilar pertama 5C: Character (niat) & Capacity (kemampuan), plus dilema etikanya. Pertemuan depan: tiga C sisanya — Capital, Collateral, Condition.
Pertemuan 6 — Capital, Collateral, Condition
Menilai modal sendiri (Capital) yang dipertaruhkan debitur
Jenis & pengikatan agunan: hak tanggungan, fidusia
Analisis kondisi industri/ekonomi (Condition) ke depan
Integrasi lengkap 5C dalam satu keputusan kredit
Tugas Mandiri
UMKM
Profil riil atau asumsi
Ambil satu profil UMKM (riil atau asumsi), latih logika SLIK-nya, dan hitung kapasitas + plafon-nya sampai langkahnya otomatis. Bawa ke kelas berikutnya.
Kuasai Character & Capacity malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 6 — Capital, Collateral, dan Condition.