stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Pusat Investasi dan Transfer Pricing
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Akuntansi Manajemen

Pertemuan 12 — Pusat Investasi dan Transfer Pricing

Mengukur kinerja divisi yang mengendalikan modal sendiri, dan menetapkan harga transaksi antar-divisi agar keputusan manajer divisi selaras dengan kepentingan perusahaan.

RPS MINGGU 13 • 2×50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan dan menghitung alat ukur kinerja pusat investasi serta merancang harga transfer yang goal congruent (selaras tujuan). Secara rinci:

KONSEP
4
Pilar materi hari ini
Pusat investasi, ROI vs Residual Income vs EVA (Economic Value Added), goal congruence, dan metode transfer pricing.
KETERAMPILAN
2
Hitung dari nol
Menghitung EVA sebuah divisi, dan menentukan harga transfer optimal antar-divisi dengan tiga metode berbeda.
Bagian 1 dari 4
Pusat Investasi: Mengukur Kinerja Divisi Otonom
Kenapa laba saja tidak cukup untuk menilai manajer divisi yang mengendalikan modal besar?

Empat Jenis Pusat Pertanggungjawaban

Pusat investasi adalah bentuk paling kompleks — manajernya bertanggung jawab atas biaya, pendapatan, DAN investasi modal.

Pusat BiayaTanggung jawab: biaya sajacth: bagian produksiPusat PendapatanTanggung jawab: penjualancth: tim marketingPusat LabaTanggung jawab: biaya + pendapatancth: divisi produkPusat InvestasiTanggung jawab: laba + modalcth: unit bisnis strategis(fokus hari ini)Kompleksitas tanggung jawab manajer meningkat dari kiri ke kanan →

Alat Ukur #1 — Return on Investment (ROI)

ROI mengukur laba yang dihasilkan per rupiah modal yang diinvestasikan (aset operasi).

ROI = Laba Operasi ÷ Aset Operasi Rata-rata
Dekomposisi Du Pont: ROI = Margin Laba (Laba Operasi ÷ Penjualan) × Perputaran Aset (Penjualan ÷ Aset Operasi). Dekomposisi ini membantu manajer melihat APAKAH masalah ada di efisiensi biaya (margin) atau di pemanfaatan aset (perputaran).

Hitung dari Nol: ROI Divisi Ritel

Divisi Ritel PT Sumber Makmur mencatat penjualan Rp 8 miliar, laba operasi Rp 640 juta, dan aset operasi rata-rata Rp 3,2 miliar.

LangkahPerhitunganNilai
1. Margin labaRp 640 jt ÷ Rp 8.000 jt × 100%8%
2. Perputaran asetRp 8.000 jt ÷ Rp 3.200 jt2,5 kali
3. ROI (Du Pont)8% × 2,520%
4. Cek langsungRp 640 jt ÷ Rp 3.200 jt × 100%20%
HASIL AKHIR
ROI = 20%
Tiap Rp 1 aset operasi menghasilkan Rp 0,20 laba

Masalah ROI: Disinsentif Investasi Baik

Manajer divisi ber-ROI tinggi bisa menolak proyek yang sebenarnya menguntungkan perusahaan — karena proyek itu menurunkan ROI rata-rata divisinya.

Ilustrasi Konflik Kepentingan
  • Divisi X sudah ber-ROI 20%. Perusahaan menetapkan biaya modal (hurdle rate) minimum 12%.
  • Ada proyek baru dengan ROI 15% — di atas hurdle rate, jadi menguntungkan perusahaan.
  • Tapi ROI 15% lebih rendah dari ROI divisi (20%) → jika diterima, ROI rata-rata divisi X akan turun.
  • Manajer yang dinilai dari ROI cenderung menolak proyek 15% ini demi menjaga bonus — walau merugikan perusahaan secara keseluruhan.

Alat Ukur #2 — Residual Income (Laba Residu)

Residual Income (RI) mengatasi masalah ROI dengan mengukur laba setelah dikurangi "beban" atas modal yang dipakai.

RI = Laba Operasi − (Aset Operasi × Tarif Minimum Imbal Hasil)
Dengan RI, manajer akan MENERIMA proyek 15% pada contoh sebelumnya — karena proyek itu tetap menambah RI positif (15% > hurdle rate 12%), sekalipun ROI rata-rata divisi turun. RI mendorong goal congruence (keselarasan tujuan divisi dan perusahaan).

Alat Ukur #3 — Economic Value Added (EVA)

EVA adalah versi RI yang disempurnakan, memakai laba operasi setelah pajak dan biaya modal tertimbang (WACC — weighted average cost of capital).

EVA = NOPAT − (Modal yang Diinvestasikan × WACC)
NOPAT
Laba Bersih
Net Operating Profit After Tax
Laba operasi dikurangi pajak penghasilan (di Indonesia, PPh Badan 22%) — laba "murni" dari operasi inti, sebelum biaya pendanaan.
WACC
Biaya Modal
Weighted Average Cost of Capital
Rata-rata tertimbang biaya utang & ekuitas — mencerminkan ekspektasi imbal hasil investor & kreditor perusahaan.

Hitung dari Nol: EVA Divisi Manufaktur

Divisi Manufaktur PT Cipta Logam: laba operasi sebelum pajak Rp 1.200 juta, modal diinvestasikan Rp 5.000 juta, WACC ~10%. PPh Badan 22%.

LangkahPerhitunganNilai
1. Pajak penghasilanRp 1.200 jt × 22%Rp 264 jt
2. NOPATRp 1.200 jt − Rp 264 jtRp 936 jt
3. Beban modal (capital charge)Rp 5.000 jt × 10%Rp 500 jt
4. EVARp 936 jt − Rp 500 jtRp 436 jt
HASIL AKHIR
EVA = +Rp 436 jt
EVA positif → divisi menciptakan nilai tambah ekonomi

Coba Sendiri: Kalkulator EVA & NOPAT

Ganti angka laba operasi, tarif pajak, modal diinvestasikan, dan WACC Divisi Manufaktur tadi — amati bagaimana NOPAT dan EVA berubah, dan pada kondisi apa EVA bisa berbalik menjadi negatif.

Bagian 2 dari 4
Transfer Pricing: Harga Transaksi Antar-Divisi
Ketika satu divisi "menjual" produk atau jasa ke divisi lain dalam perusahaan yang sama — harga berapa yang dipakai?

Apa Itu Transfer Pricing?

Transfer pricing adalah harga yang dikenakan saat satu divisi/segmen perusahaan menjual barang atau jasa ke divisi/segmen lain dalam perusahaan yang sama.

Divisi Penjual(pusat investasi hulu)Divisi Pembeli(pusat investasi hilir)HARGA TRANSFER?Menjadi pendapatan divisi penjual & biaya divisi pembeli — memengaruhi ROI/EVA keduanya

Tujuan Sistem Transfer Pricing yang Baik

Sistem harga transfer yang baik harus mendorong goal congruence — keputusan yang baik bagi divisi juga baik bagi perusahaan.

1
Goal Congruence
Manajer divisi termotivasi mengambil keputusan yang memaksimalkan laba PERUSAHAAN, bukan hanya laba divisinya sendiri.
2
Otonomi Divisi
Manajer divisi tetap punya kebebasan mengambil keputusan (misalnya menolak transaksi internal) tanpa dipaksa dari pusat.
3
Penilaian Kinerja Adil
Laba yang dilaporkan tiap divisi mencerminkan kontribusi ekonomis riilnya, bukan hasil "manipulasi" harga transfer.

Tiga Metode Penetapan Harga Transfer

Tidak ada satu metode yang sempurna — pilihan bergantung pada ada-tidaknya pasar eksternal untuk produk yang ditransfer.

MetodeDasar PenentuanKapan Cocok
Harga PasarHarga jual produk sejenis di pasar eksternalAda pasar eksternal aktif & kompetitif untuk produk yang ditransfer
Harga Berbasis BiayaBiaya produksi (variabel/penuh) + markup tertentuTidak ada pasar eksternal, atau produk sangat khusus (custom)
Harga NegosiasiKesepakatan langsung antar-manajer divisiDivisi punya otonomi tinggi & kondisi pasar tidak sempurna

Walkthrough: Harga Transfer Berbasis Pasar

Divisi Kertas PT Nusantara Pulp memproduksi bubur kertas (pulp) yang bisa dijual bebas ke pabrik lain seharga Rp 4.500/kg.

TahapPenjelasanKeputusan
1. Cek pasar eksternalAda banyak pembeli pulp di luar, harga pasar stabilPasar eksternal aktif → layak dipakai
2. Tetapkan harga transferSamakan dengan harga jual eksternalHarga transfer = Rp 4.500/kg
3. Dampak Divisi Kertas (penjual)Mencatat pendapatan seolah menjual ke pihak luarLaba divisi wajar & terukur
4. Dampak Divisi Kemasan (pembeli)Mencatat biaya bahan baku sesuai harga pasarBiaya produksi wajar, tak "disubsidi"

Hitung dari Nol: Rentang Negosiasi Harga Transfer

Divisi Komponen (penjual) punya biaya variabel Rp 2.000/unit & kapasitas menganggur (tidak ada penjualan luar yang hilang). Divisi Perakitan (pembeli) bersedia membayar maksimal Rp 3.200/unit (harga beli dari pemasok luar).

LangkahPerhitunganNilai
1. Batas bawah (harga transfer minimum)Biaya variabel + biaya kesempatan (Rp 0, kapasitas menganggur)Rp 2.000/unit
2. Batas atas (harga transfer maksimum)Harga beli terbaik dari pemasok eksternalRp 3.200/unit
3. Rentang negosiasiRp 3.200 − Rp 2.000Rp 1.200/unit
4. Titik tengah (contoh kesepakatan wajar)(Rp 2.000 + Rp 3.200) ÷ 2Rp 2.600/unit
HASIL AKHIR
Rp 2.000 – Rp 3.200
Rentang harga transfer yang menguntungkan KEDUA divisi

Coba Sendiri: Geser Kapasitas & Harga Pasar, Amati Rentang Berubah

Ubah biaya variabel divisi penjual, harga pasar eksternal, dan status kapasitas menganggur, lalu amati bagaimana rentang negosiasi melebar atau menyempit.

Bagian 3 dari 4
Latihan: Diagnosis Kasus Transfer Pricing
Terapkan konsep EVA dan rentang negosiasi pada kasus baru

Latihan Kelas: Selesaikan dalam 8 Menit

Kasus A — EVA

Divisi Elektronik PT Sinar Abadi: laba operasi sebelum pajak Rp 800 juta, modal diinvestasikan Rp 4.000 juta, WACC ~9%, PPh Badan 22%.

Pertanyaan: Berapa EVA divisi ini? Apakah divisi menciptakan nilai tambah?

Kasus B — Rentang Negosiasi

Divisi Hulu (penjual): biaya variabel Rp 1.500/unit, TIDAK ada kapasitas menganggur — tiap unit yang dijual internal menghilangkan margin luar Rp 400/unit. Divisi Hilir (pembeli): harga pasar luar Rp 2.600/unit.

Pertanyaan: Berapa batas bawah & batas atas harga transfer?

Diskusikan dengan teman sebangku, lalu kita bahas bersama. Ingat: biaya kesempatan (opportunity cost) HARUS ditambahkan ke batas bawah kalau ada kapasitas terbatas.
Bagian 4 dari 4
Merangkum & Menyambung ke Pertemuan Depan
Dari kinerja divisi ke keputusan diferensial

Rangkuman & Tugas Minggu Depan

Cheat Sheet Hari Ini
  • ROI = Laba Operasi ÷ Aset Operasi — mudah tapi bisa hambat proyek bagus
  • RI = Laba − (Aset × Hurdle Rate) — dorong goal congruence
  • EVA = NOPAT − (Modal × WACC) — paling komprehensif, sudah pajak
  • Transfer pricing: pasar, biaya, atau negosiasi — batas bawah = biaya variabel + opportunity cost; batas atas = harga pasar luar
MINGGU DEPAN — P13
Analisis Diferensial
Relevant cost, make-or-buy, special order
Baca ulang materi CVP (P6) sebagai fondasi — analisis diferensial akan sering memakai konsep margin kontribusi.