‹ Daftar slidePertemuan 8: Target Costing dan Analisis Biaya untuk Pengambilan Keputusan Penetapan Harga Jual
Program Studi Manajemen • FEB
Akuntansi Manajemen
Pertemuan 8 — Target Costing dan Analisis Biaya untuk Pengambilan Keputusan Penetapan Harga Jual
Bagaimana perusahaan menentukan harga jual yang tepat — dari pendekatan lama biaya-plus-markup menuju pendekatan modern yang dimulai dari harga pasar: target costing.
RPS minggu 9 • 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Dua Cara Berpikir tentang Harga
Cost-plus pricing versus penetapan harga berbasis pasar — mengapa urutan berpikirnya bisa dibalik.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sesuai Sub-CPMK minggu ini, setelah pertemuan ini Anda diharapkan mampu menganalisis biaya untuk mendukung keputusan penetapan harga jual. Secara rinci:
Capaian 1
BANDINGKAN
Membandingkan logika cost-plus pricing dengan penetapan harga berbasis ekonomi mikro (permintaan-biaya).
Capaian 2
JELASKAN
Menjelaskan filosofi dan lima langkah proses target costing secara berurutan.
Capaian 3
HITUNG
Menghitung harga jual dengan markup dan target cost beserta cost gap dari data sederhana.
Capaian 4
TERAPKAN
Menerapkan value engineering dan kaizen costing untuk menutup cost gap pada kasus nyata.
Mengapa Harga Jual Bukan Sekadar "Biaya Ditambah Untung"?
Bayangkan sebuah perusahaan elektronik ingin meluncurkan speaker portabel baru. Tim akuntansi menghitung total biaya produksi Rp 230.000 per unit, lalu menambah markup 30% sehingga harga jual diusulkan Rp 299.000.
Masalahnya: di marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, produk sejenis dari kompetitor sudah dijual konsumen di kisaran Rp 250.000. Harga usulan tim akuntansi terlalu mahal untuk pasar — padahal biayanya sudah dihitung dengan teliti.
Persoalannya bukan hitungannya salah, melainkan titik awal berpikirnya keliru: perusahaan mulai dari biaya internal, bukan dari apa yang mau dibayar pasar. Ini yang akan kita perbaiki hari ini lewat target costing.
Pendekatan Lama: Cost-Plus Pricing
Cost-plus pricing (penetapan harga biaya-plus) menghitung harga jual dengan menjumlahkan biaya produksi/jasa dengan markup (persentase laba yang diinginkan di atas biaya).
Harga Jual = Biaya Penuh per Unit × (1 + % Markup)
Kelebihan
Sederhana dan mudah dihitung tim akuntansi.
Menjamin biaya tertutup dan ada margin laba di atas kertas.
Cocok untuk produk pesanan khusus (job order) tanpa pembanding pasar.
Kelemahan
Mengabaikan kesediaan konsumen membayar (willingness to pay).
Bisa menghasilkan harga terlalu mahal di pasar kompetitif.
Tidak mendorong efisiensi biaya sejak tahap desain produk.
Sudut Pandang Ekonomi: Harga yang Memaksimalkan Laba
Ilmu ekonomi mikro mengajarkan bahwa harga optimal (memaksimalkan laba) idealnya ditentukan oleh permintaan pasar, bukan hanya biaya rata-rata perusahaan. Dua konsep kunci:
Elastisitas harga permintaan — seberapa besar kuantitas yang diminta berubah ketika harga berubah. Produk dengan banyak substitusi (elastis) lebih sensitif terhadap kenaikan harga.
Pendapatan marjinal = biaya marjinal (marginal revenue = marginal cost) — kaidah teoretis harga yang memaksimalkan laba, dasar filosofis di balik target costing berbasis pasar.
Hitung dari Nol: Markup Pricing (Cost-Plus)
UMKM sepatu kulit lokal ingin menetapkan harga jual sepasang sepatu dengan markup 40% dari biaya penuh.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Biaya bahan baku (kulit, sol, benang)
diketahui
Rp 80.000
2. Biaya tenaga kerja langsung
diketahui
Rp 40.000
3. Overhead pabrik dibebankan
diketahui
Rp 30.000
4. Total biaya penuh per unit
80.000 + 40.000 + 30.000
Rp 150.000
5. Markup 40% dari biaya penuh
40% × 150.000
Rp 60.000
6. Harga jual
150.000 + 60.000
Rp 210.000
Harga Jual Diusulkan
Rp 210.000
per pasang sepatu
Bagian 2 dari 3
Target Costing: Membalik Urutan Berpikir
Mulai dari harga pasar, bekerja mundur ke biaya maksimum yang boleh dikeluarkan.
Apa Itu Target Costing?
Target costing adalah metode penetapan biaya yang dimulai dari harga jual yang ditentukan pasar, kemudian menghitung mundur berapa laba yang diinginkan dan berapa biaya maksimum yang boleh dikeluarkan agar produk tetap menguntungkan.
Cost-Plus Pricing (Lama)
Biaya → Markup → Harga Jual
Titik awal: biaya internal perusahaan.
Target Costing (Modern)
Harga Pasar → Laba → Biaya Maksimum
Titik awal: harga yang bersedia dibayar konsumen.
Karena pasar sudah kompetitif (banyak substitusi produk, konsumen mudah membandingkan harga daring), perusahaan tidak bisa lagi menentukan harga sesuka hati — harga adalah data, biayalah yang harus disesuaikan (price-led costing).
Lima Langkah Proses Target Costing
Proses ini dijalankan sejak tahap desain produk — bukan setelah produk selesai diproduksi — sehingga sebagian besar biaya (~80%) bisa dikendalikan sejak awal.
Hitung dari Nol: Target Cost dan Cost Gap
Produsen speaker portabel meriset harga kompetitor di marketplace dan menetapkan target profit 20% dari harga jual. Estimasi biaya saat ini Rp 230.000 per unit.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Target price (riset pasar/kompetitor)
diketahui
Rp 250.000
2. Target profit (20% dari harga jual)
20% × 250.000
Rp 50.000
3. Target cost
250.000 − 50.000
Rp 200.000
4. Biaya saat ini (estimasi tim engineering)
diketahui
Rp 230.000
5. Cost gap
230.000 − 200.000
Rp 30.000
6. Cost gap relatif terhadap biaya saat ini
30.000 ÷ 230.000
~13%
Cost Gap yang Harus Ditutup
Rp 30.000
~13% dari biaya saat ini — lewat value engineering
Coba Sendiri: Ubah Target Price, Lihat Cost Gap Bergerak
Geser target price, target profit, atau biaya estimasi saat ini, lalu amati langsung berapa besar cost gap yang harus ditutup.
Menutup Cost Gap: Value Engineering & Kaizen Costing
Dua teknik utama menutup cost gap Rp 30.000 pada kasus speaker portabel tanpa mengorbankan fungsi/mutu yang dihargai konsumen:
Value Engineering (VE)
Analisis sistematis sebelum produksi dimulai — sejak tahap desain — untuk mengurangi biaya tanpa mengurangi fungsi yang dihargai konsumen.
Ganti komponen mahal dengan alternatif setara fungsi.
Kurangi jumlah komponen (desain lebih sederhana).
Standardisasi part antar lini produk.
Kaizen Costing
Perbaikan biaya berkelanjutan setelah produksi berjalan — perbaikan kecil terus-menerus di lantai pabrik.
Kurangi limbah bahan baku (waste reduction).
Perbaiki efisiensi proses & tata letak pabrik.
Libatkan karyawan lini produksi memberi usulan.
Studi Kasus: Peluncuran Produk Baru UMKM Makanan Ringan
Sebuah UMKM di Semarang ingin meluncurkan keripik kemasan baru. Berikut alur keputusan penetapan harganya secara bertahap:
Tahap 1 — Riset pasar: Survei ke minimarket dan toko oleh-oleh menunjukkan keripik sejenis (kemasan 100g) dijual konsumen Rp 15.000. UMKM menetapkan target price yang sama agar kompetitif.
Tahap 2 — Target laba: Pemilik menginginkan margin 25% dari harga jual untuk menutup biaya distribusi dan tetap untung, sehingga target cost = 75% × Rp 15.000 = Rp 11.250.
Tahap 3 — Cek biaya saat ini: Estimasi biaya produksi awal (bahan baku, minyak goreng, kemasan, tenaga kerja) ternyata Rp 13.000 — di atas target cost.
Tahap 4 — Tutup gap: UMKM beralih ke kemasan lebih tipis (tetap food-grade) dan membeli bahan baku singkong langsung dari petani mitra — biaya turun ke Rp 11.000, di bawah target cost.
Cost-Plus Pricing vs Target Costing: Rangkuman Perbandingan
Aspek
Cost-Plus Pricing
Target Costing
Titik awal proses
Biaya internal perusahaan
Harga pasar/kompetitor
Arah perhitungan
Biaya → Harga
Harga → Biaya
Waktu penerapan
Setelah produk selesai dirancang
Sejak tahap desain produk
Fokus utama
Menutup biaya + margin tetap
Efisiensi biaya sejak awal
Paling cocok untuk
Produk pesanan khusus, jasa unik
Produk massal, pasar kompetitif
Banyak perusahaan modern (elektronik, otomotif, FMCG) memakai kombinasi keduanya: target costing untuk merancang produk baru, cost-plus untuk produk niche/pesanan khusus tanpa pembanding pasar.
Bagian 3 dari 3
Faktor Lain, Latihan, dan Rangkuman
Melengkapi analisis harga jual dengan faktor non-biaya, lalu berlatih menerapkannya.
Faktor Lain di Luar Biaya yang Memengaruhi Harga Jual
Perceived Value
NILAI
Persepsi nilai konsumen — merek premium (mis. iPhone) bisa menjual di atas biaya produksi karena citra dan pengalaman, bukan hanya fungsi.
Life Cycle Produk
SIKLUS
Harga peluncuran (skimming) bisa tinggi di tahap awal, lalu turun seiring produk memasuki tahap kedewasaan dan makin banyak kompetitor.
Reaksi Kompetitor
PASAR
Perang harga (price war) antar-kompetitor, misalnya di sektor e-commerce dan transportasi daring, bisa memaksa revisi harga meski biaya tetap.
Target costing tetap menjadi kerangka utama untuk memastikan biaya terkendali, tetapi keputusan harga final selalu mempertimbangkan ketiga faktor ini secara bersamaan.
Latihan Kelas: Identifikasi Jebakan Penetapan Harga
Diskusikan dalam kelompok kecil (5 menit), lalu satu kelompok mempresentasikan jawabannya:
Kasus
Sebuah perusahaan garmen menghitung biaya penuh kemeja Rp 90.000, menambah markup 50% menjadi Rp 135.000. Kompetitor di pasar (termasuk marketplace) menjual kemeja sejenis Rp 99.000. Manajer bersikeras tidak menurunkan harga karena "biaya sudah dihitung benar dan margin harus terjaga".
Pertanyaan 1: Jebakan berpikir apa yang dilakukan manajer ini? Kaitkan dengan konsep cost-plus vs target costing.
Pertanyaan 2: Sebutkan minimal 2 langkah value engineering yang bisa menurunkan biaya kemeja mendekati target cost.
Latihan Kelas: Hitung Target Cost Kasus Baru
Kerjakan mandiri (3 menit), lalu bandingkan jawaban dengan teman sebangku:
Data Kasus — Produsen Tas Ransel Lokal
Harga kompetitor di marketplace untuk tas sejenis: Rp 180.000
Target profit yang diinginkan perusahaan: 15% dari harga jual
Estimasi biaya produksi saat ini oleh tim desain: Rp 165.000
Hitung: (1) target profit, (2) target cost, (3) cost gap — apakah perusahaan sudah mencapai target cost atau masih perlu value engineering?
Rangkuman: Cheat Sheet Penetapan Harga Jual
Istilah
Rumus/Definisi Singkat
Harga jual (cost-plus)
Biaya penuh × (1 + % markup)
Target profit
% margin diinginkan × target price
Target cost
Target price − target profit
Cost gap
Biaya saat ini − target cost
Value engineering
Efisiensi biaya sejak tahap desain (sebelum produksi)
Kaizen costing
Efisiensi biaya berkelanjutan (setelah produksi berjalan)
Ingat urutan target costing: Target Price → Target Profit → Target Cost → Cost Gap → Value Engineering/Kaizen Costing.
Penutup: Tugas dan Persiapan Minggu Depan
Minggu Depan (Pertemuan 9)
Topik: Master Budgeting — anggaran induk dan responsibility accounting. Kita akan melihat bagaimana target cost yang dipelajari hari ini menjadi dasar penyusunan anggaran biaya produksi perusahaan.
Tugas Individu
TARGET COST
Cari 1 produk UMKM/bisnis di sekitar Anda, estimasikan biaya & harga kompetitornya, lalu hitung target profit, target cost, dan cost gap-nya. Kumpulkan minggu depan.
Baca ulang slide "Hitung dari Nol" hari ini sebelum mengerjakan tugas — pastikan Anda bisa menjelaskan mengapa urutan perhitungan target costing berbeda dari cost-plus pricing.