stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Variable Costing and Segment Reporting: Tools for Management
Program Studi Manajemen • FEB

Akuntansi Manajemen

Pertemuan 7 — Variable Costing and Segment Reporting: Tools for Management

Dua cara menghitung biaya produk yang bisa menghasilkan laba berbeda untuk perusahaan yang sama — dan bagaimana laporan per segmen membantu manajer menilai kinerja tiap divisi secara adil.

RPS MINGGU 7 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Dua Cara Menghitung Biaya Produk: Variable vs Absorption Costing
Perbedaannya sederhana — hanya satu unsur biaya yang diperlakukan berbeda — tapi dampaknya pada laba yang dilaporkan bisa signifikan.

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu membandingkan dua metode penetapan biaya produk dan menyusun laporan kinerja per segmen. Secara rinci:

CAPAIAN 1
KOMPONEN BIAYA
Membedakan komponen biaya produk pada variable costing vs absorption costing.
CAPAIAN 2
FORMAT LAPORAN
Menyusun laporan laba rugi format kontribusi dan format tradisional.
CAPAIAN 3
REKONSILIASI LABA
Menghitung & merekonsiliasi selisih laba kedua metode saat produksi ≠ penjualan.
CAPAIAN 4
LAPORAN SEGMEN
Menyusun laporan segmen & membedakan biaya traceable vs common.

Mengapa Dua Metode Bisa Hasilkan Laba Berbeda untuk Perusahaan yang Sama?

Banyak manajer terkejut saat mengetahui bahwa laba yang dilaporkan bisa berbeda tanpa perubahan apa pun pada penjualan, harga, atau biaya tunai — hanya karena metode penetapan biaya produk yang dipakai berbeda.

JEBAKAN 1
LABA SEMU
Produksi berlebih → laba absorption costing terlihat naik, padahal penjualan tidak berubah.
JEBAKAN 2
SATU METODE UNTUK SEMUA
Absorption costing wajib untuk pelaporan eksternal, tapi menyesatkan untuk keputusan internal harian.
JEBAKAN 3
ALOKASI SEMBARANGAN
Biaya bersama antar-segmen dialokasikan asal → kinerja divisi dinilai keliru, keputusan tutup lini jadi salah.
Inti masalahnya: tanpa memahami bagaimana biaya tetap "berpindah" ke dalam persediaan, manajer bisa salah membaca sinyal laba — dan tanpa memisahkan biaya bersama, manajer bisa salah menilai divisi mana yang sebenarnya menguntungkan.

Recap: Biaya Overhead Pabrik Tetap vs Variabel

Kunci perbedaan variable costing dan absorption costing terletak pada satu unsur biaya saja: bagaimana biaya overhead pabrik tetap (fixed manufacturing overhead) diperlakukan.

OVERHEAD PABRIK VARIABEL
  • Berubah proporsional dengan jumlah unit diproduksi
  • Contoh: listrik mesin, bahan penolong, lembur per unit
  • Selalu dianggap biaya produk di kedua metode
OVERHEAD PABRIK TETAP
  • Tidak berubah meski jumlah unit diproduksi naik/turun
  • Contoh: penyusutan mesin pabrik, gaji supervisor produksi
  • Perlakuannya berbeda di kedua metode — inilah sumber semua selisih hari ini
Ingat dari Pertemuan 3–4: biaya tetap total tidak berubah dalam rentang relevan, tapi biaya tetap per unit mengecil saat produksi naik — sifat inilah yang nanti membuat unit cost absorption costing bergantung pada volume produksi.

Variable Costing vs Absorption Costing: Apa yang Masuk Biaya Produk?

Variable costing hanya memasukkan biaya produksi variabel ke biaya produk; absorption costing (disebut juga full costing, wajib untuk pelaporan eksternal) memasukkan semua biaya produksi, termasuk overhead tetap.

KOMPONEN BIAYA PRODUK
VARIABLE COSTINGBahan Baku Langsung (BBL)Tenaga Kerja Langsung (TKL)Overhead Pabrik VariabelOverhead Pabrik Tetap → biaya periode (langsung ke laba rugi)ABSORPTION COSTINGBahan Baku Langsung (BBL)Tenaga Kerja Langsung (TKL)Overhead Pabrik VariabelOverhead Pabrik Tetap → biaya produkSatu-satunya perbedaan: ke mana overhead pabrik tetap "pergi" — ke laporan laba rugi langsung, atau menempel ke persediaan.

Hitung dari Nol — HDN-1: Biaya Produk per Unit

PT Meubel Kayu Jati memproduksi 3.000 unit kursi bulan ini. Biaya per unit: BBL Rp150.000, TKL Rp100.000, overhead variabel Rp50.000. Overhead pabrik tetap total Rp60.000.000. Berapa biaya produk per unit di kedua metode?

LANGKAH DEMI LANGKAH
LangkahPerhitunganNilai
OH tetap/unit60.000.000 ÷ 3.000 unitRp 20.000
Unit cost Variable Costing150.000 + 100.000 + 50.000Rp 300.000
Unit cost Absorption Costing300.000 + 20.000Rp 320.000
Selisih per unit320.000 − 300.000Rp 20.000
SELISIH BIAYA PRODUK
Rp 20.000/unit
= overhead pabrik tetap per unit
Setiap unit yang belum terjual di absorption costing "membawa" Rp20.000 overhead tetap ke dalam nilai persediaan — inilah yang akan memengaruhi laba di slide berikutnya.

Format Laporan Laba Rugi: Kontribusi vs Tradisional

Kedua metode juga menyusun laporan laba rugi dengan urutan berbeda — variable costing memakai format kontribusi, absorption costing memakai format fungsional/tradisional.

VARIABLE COSTING — FORMAT KONTRIBUSI
  • Penjualan − Beban Variabel (HPP variabel + S&A variabel) = Margin Kontribusi
  • Margin Kontribusi − Beban Tetap (OH tetap + S&A tetap) = Laba Bersih
ABSORPTION COSTING — FORMAT TRADISIONAL
  • Penjualan − HPP (termasuk OH tetap) = Laba Kotor
  • Laba Kotor − Beban Operasi (S&A variabel + tetap) = Laba Bersih
Format kontribusi lebih disukai manajer internal karena langsung menunjukkan perilaku biaya — cocok dipakai kembali untuk analisis CVP dari Pertemuan 6. Format tradisional adalah yang wajib dipakai untuk laporan keuangan yang diaudit.
Bagian 2 dari 3
Dampak Produksi vs Penjualan terhadap Laba yang Dilaporkan
Sekarang kita hitung dari nol bagaimana laba absorption costing dan variable costing bisa berbeda — dan bagaimana merekonsiliasi selisihnya.

Tiga Skenario: Hubungan Produksi, Penjualan, dan Arah Laba

Arah selisih laba antara kedua metode ditentukan sepenuhnya oleh apakah persediaan bertambah atau berkurang selama periode berjalan.

PRODUKSI = PENJUALAN
LABA SAMA
Persediaan tidak berubah → tidak ada overhead tetap yang "tertahan" atau "terlepas" dari persediaan.
PRODUKSI > PENJUALAN
ABSORPTION LEBIH TINGGI
Persediaan naik → sebagian OH tetap periode ini "tertahan" di neraca, belum dibebankan.
PRODUKSI < PENJUALAN
ABSORPTION LEBIH RENDAH
Persediaan turun → OH tetap dari periode lalu (persediaan awal) ikut dibebankan sekarang.
Variable costing selalu membebankan seluruh overhead tetap periode berjalan sebagai biaya periode, berapa pun unit yang terjual — itu sebabnya labanya tidak dipengaruhi keputusan berapa banyak memproduksi.

Hitung dari Nol — HDN-2: Bandingkan Laba Bersih Kedua Metode

Dari 3.000 unit yang diproduksi, PT Meubel Kayu Jati menjual 2.500 unit @Rp500.000. Beban S&A: variabel Rp30.000/unit, tetap Rp40.000.000. Overhead tetap total tetap Rp60.000.000 (dari HDN-1).

LANGKAH DEMI LANGKAH
LangkahPerhitunganNilai
Penjualan2.500 × 500.000Rp 1.250.000.000
Margin kontribusi (VC)1.250jt − (2.500×300rb) − (2.500×30rb)Rp 425.000.000
Laba bersih Variable Costing425jt − (60jt + 40jt)Rp 325.000.000
Laba bersih Absorption Costing325jt + (500 unit × 20.000)Rp 335.000.000
SELISIH LABA BERSIH
Rp 10.000.000
Absorption > Variable Costing
500 unit belum terjual (3.000 produksi − 2.500 jual) × Rp20.000 OH tetap/unit (dari HDN-1) = persis Rp10.000.000.

Rumus Rekonsiliasi: Memprediksi Selisih Laba Tanpa Menyusun Ulang Laporan

Anda tidak perlu menyusun dua laporan laba rugi lengkap setiap kali — selisihnya bisa langsung dihitung dari perubahan overhead tetap di persediaan.

Laba Absorption − Laba Variable Costing = (OH Tetap di Persediaan Akhir) − (OH Tetap di Persediaan Awal)
Verifikasi kasus kita: OH tetap di persediaan akhir = 500 unit × Rp20.000 = Rp10.000.000; OH tetap di persediaan awal = Rp0 (asumsi bulan pertama beroperasi) → selisih = Rp10.000.000 — persis sama dengan HDN-2.
Kalau persediaan akhir lebih kecil dari persediaan awal (unit terjual dari stok lama), selisihnya menjadi negatif — laba absorption costing justru lebih rendah dari variable costing periode itu.

Coba Sendiri: Rekonsiliasi Laba Dua Metode Costing

Ubah unit diproduksi & unit terjual, lalu amati bagaimana selisih laba absorption vs variable costing berubah mengikuti overhead tetap di persediaan.

Kapan Pakai yang Mana? Kegunaan Manajerial vs Kewajiban Pelaporan

VARIABLE COSTING
UNTUK KEPUTUSAN INTERNAL
Analisis CVP & titik impas (Pertemuan 6), keputusan harga jangka pendek, evaluasi kinerja manajer produksi tanpa terdistorsi keputusan produksi.
ABSORPTION COSTING
UNTUK PELAPORAN EKSTERNAL
Wajib untuk laporan keuangan yang diaudit sesuai standar akuntansi keuangan, dan menjadi dasar perhitungan pajak penghasilan badan.
Risiko: manajer produksi bisa "memainkan laba" dengan memproduksi berlebih di akhir periode kalau kinerjanya dinilai memakai laba absorption costing — inilah alasan banyak perusahaan tetap memakai variable costing untuk evaluasi internal.
Bagian 3 dari 3
Laporan Laba Rugi per Segmen: Menilai Kinerja Tiap Divisi secara Adil
Perusahaan dengan banyak divisi atau lini produk butuh cara membedah laba total menjadi kontribusi tiap segmen — tanpa terjebak alokasi biaya yang sembarangan.

Biaya Tetap Tertelusur (Traceable) vs Biaya Tetap Bersama (Common)

Kunci laporan segmen yang benar adalah memisahkan biaya tetap yang hilang jika segmen ditutup dari biaya tetap yang tetap ada apa pun keputusan atas segmen tersebut.

BIAYA TETAP BERSAMA (COMMON) — gaji direksi, sewa kantor pusat, audit tahunanMenopang & tetap ada untuk seluruh segmen — JANGAN dialokasikan sembaranganDivisi A: gaji manajer A, penyusutan mesin ADivisi B: gaji manajer B, penyusutan mesin B
Traceable: hilang jika segmen ditutup → masuk pengurang segment margin segmen tsb.
Common: tetap ada walau satu segmen ditutup → hanya dikurangkan di level total perusahaan, tidak dialokasikan ke segmen mana pun.

Contoh Laporan Segmen: PT Sepatu Nusantara

Dua divisi — Sepatu Pria dan Sepatu Wanita — disusun berdampingan memakai format kontribusi, ditambah satu kolom biaya bersama di level total.

PosDivisi PriaDivisi WanitaTotal Perusahaan
PenjualanRp 600.000.000Rp 400.000.000Rp 1.000.000.000
Beban variabelRp 360.000.000Rp 280.000.000Rp 640.000.000
Margin kontribusiRp 240.000.000Rp 120.000.000Rp 360.000.000
Biaya tetap tertelusurRp 90.000.000Rp 70.000.000Rp 160.000.000
Segment marginRp 150.000.000Rp 50.000.000Rp 200.000.000
Biaya tetap bersamaRp 80.000.000
Laba bersih perusahaanRp 120.000.000

Kesalahan Umum: Mengalokasikan Biaya Bersama ke Segmen

Godaan terbesar dalam menyusun laporan segmen adalah membagi rata biaya bersama ke tiap divisi supaya "laporan terlihat lengkap" — padahal ini justru merusak keakuratan penilaian kinerja.

PRAKTIK KELIRU
ALOKASI % PENJUALAN
Biaya bersama Rp80.000.000 dibagi berdasar proporsi penjualan → Divisi Pria pikul Rp48.000.000, Divisi Wanita Rp32.000.000.
AKIBATNYA
DIVISI WANITA "RUGI"
Segment margin Rp50 juta − alokasi Rp32 juta = laba semu Rp18 juta — terlihat kecil, memicu usulan keliru "tutup saja divisi ini".
Padahal biaya bersama Rp80.000.000 tidak berkurang sama sekali jika Divisi Wanita ditutup — alokasi ini hanya ilusi akuntansi, bukan penghematan nyata.

Studi Kasus: Apakah Divisi Wanita Sebaiknya Ditutup?

Menggunakan data segment margin yang benar (tanpa alokasi biaya bersama), mari kita jawab pertanyaan ini langkah demi langkah.

LangkahAnalisisKesimpulan
1. Data diketahuiSegment margin Divisi Wanita = Rp50.000.000; biaya tetap bersama Rp80.000.000 tidak berubah jika Divisi Wanita ditutup
2. Simulasikan jika ditutupLaba perusahaan baru = Rp120.000.000 − Rp50.000.000 (segment margin yang hilang)Rp70.000.000
Kesimpulan: laba perusahaan justru turun dari Rp120 juta menjadi Rp70 juta jika Divisi Wanita ditutup — selama segment margin masih positif, segmen tersebut layak dipertahankan.

Latihan Kelas: Susun Laporan Segmen Sederhana

INSTRUKSI (KERJAKAN BERKELOMPOK, 15 MENIT)
  • Pilih satu UMKM/bisnis dengan ≥ 2 lini produk yang Anda kenal (mis. warung dengan menu makanan & minuman, toko dengan produk grosir & eceran).
  • Langkah 1: perkirakan (estimasi wajar) penjualan & beban variabel tiap lini → hitung margin kontribusi.
  • Langkah 2: identifikasi biaya tetap tertelusur tiap lini (hilang jika lini itu dihentikan) → hitung segment margin.
  • Langkah 3: identifikasi biaya tetap bersama (tetap ada apa pun keputusannya) — JANGAN dialokasikan ke lini mana pun.
  • Langkah 4: simpulkan — apakah kedua lini layak dipertahankan? Gunakan logika Slide 18.
Satu kelompok akan diminta mempresentasikan hasilnya secara singkat — siapkan angka Anda!

Rangkuman & Persiapan UTS

CHEAT SHEET HARI INI
  • Variable costing: BBL+TKL+OH variabel; OH tetap = biaya periode.
  • Absorption costing: BBL+TKL+OH variabel+OH tetap; wajib untuk pelaporan eksternal.
  • Rekonsiliasi: Selisih laba = OH tetap di persediaan akhir − awal.
  • Segment margin: Margin kontribusi − biaya tetap tertelusur (bukan biaya bersama).
  • Aturan emas: jangan alokasikan biaya bersama ke segmen mana pun.
SETELAH UTS — PERTEMUAN 8
TARGET COSTING & PENETAPAN HARGA
Materi Pertemuan 1–7 (termasuk hari ini) menjadi cakupan UTS minggu depan. Setelah UTS, kita bahas target costing dan strategi penetapan harga jual.