‹ Daftar slidePertemuan 2: Perubahan Peran Akuntansi Manajemen dalam Lingkungan Bisnis yang Dinamik
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Akuntansi Manajemen
Pertemuan 2 — Perubahan Peran Akuntansi Manajemen dalam Lingkungan Bisnis yang Dinamik
Mengapa manajer masa kini butuh informasi yang berbeda dari sepuluh tahun lalu: dari rantai nilai (value chain), nilai bagi pelanggan, tema manajemen kontemporer, sampai etika di tengah tekanan bisnis yang serba cepat.
RPS MINGGU 2 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan bagaimana lingkungan bisnis yang dinamik mengubah peran akuntansi manajemen. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — PEMICU PERUBAHAN
FAKTOR LINGKUNGAN BISNIS DINAMIK
Mengidentifikasi faktor globalisasi, digitalisasi, dan orientasi pelanggan yang mengubah kebutuhan informasi manajer.
CAPAIAN 2 — VALUE CHAIN
RANTAI NILAI & NILAI PELANGGAN
Menjelaskan konsep value chain, aktivitas bernilai tambah, serta menghitung customer value secara sederhana.
CAPAIAN 3 — TEMA KONTEMPORER
TQM, JIT, DAN ABM
Mengenali tema manajemen kontemporer yang menjadi rujukan bagi akuntansi manajemen modern.
CAPAIAN 4 — ETIKA
ETIKA DI ERA BISNIS DINAMIK
Menganalisis mengapa integritas manajer makin diuji ketika tekanan target & kecepatan bisnis meningkat.
Bagian 1 dari 3
Lingkungan Bisnis yang Berubah
Mengapa manajer masa kini menghadapi tuntutan yang sangat berbeda dari satu dekade lalu?
GlobalisasiDigitalisasiOrientasi Pelanggan
Mengapa Lingkungan Bisnis Berubah?
Akuntansi manajemen bukan ilmu statis — ia terus bergeser mengikuti cara perusahaan bersaing dan melayani pelanggan. Tiga dekade terakhir, tiga kekuatan besar mengubah lanskap ini secara fundamental.
TIGA KEKUATAN PENDORONG UTAMA
Persaingan global: produk & jasa kini bersaing lintas negara, bukan hanya sesama pemain lokal.
Kemajuan teknologi & digitalisasi: e-commerce, otomasi, dan data besar mengubah cara perusahaan beroperasi.
Pergeseran daya tawar ke pelanggan: pelanggan kini punya akses informasi & pilihan yang jauh lebih luas.
Akibatnya, manajer butuh informasi yang lebih cepat, lebih rinci, dan lebih berorientasi pelanggan dibanding sepuluh tahun lalu — inilah alasan akuntansi manajemen terus berevolusi.
Tiga Wajah Perubahan dalam Praktik
Bagaimana ketiga kekuatan tadi terlihat konkret dalam operasional perusahaan Indonesia sehari-hari?
GLOBALISASI
PASAR TANPA BATAS
Produk lokal seperti kopi Gayo bersaing dengan kopi impor di rak minimarket & e-commerce yang sama.
DIGITALISASI
DATA REAL-TIME
Aplikasi kasir & ERP menyajikan data penjualan & biaya harian, bukan lagi laporan bulanan yang lambat.
ORIENTASI PELANGGAN
SUARA PELANGGAN
Rating & ulasan di Gojek atau Grab langsung memengaruhi keputusan produksi & harga esok hari.
Dari "Push" ke "Pull": Berorientasi Pelanggan
Perusahaan tradisional memproduksi lebih dulu lalu mendorong penjualan (push). Perusahaan modern menyusun operasinya berdasarkan permintaan & nilai yang diinginkan pelanggan (pull).
MODEL LAMA — PUSH
Produksi massal ditentukan dari perkiraan internal perusahaan.
Fokus efisiensi produksi & penghematan biaya semata.
Informasi akuntansi manajemen berorientasi biaya historis.
MODEL BARU — PULL
Produksi & layanan mengikuti data permintaan & preferensi pelanggan.
Fokus pada nilai yang benar-benar dirasakan pelanggan (customer value).
Informasi akuntansi manajemen berorientasi masa depan & fleksibel.
Pergeseran inilah yang melahirkan konsep value chain dan customer value yang akan kita bahas di bagian berikutnya.
Studi Kasus: Warung Bu Sari Merespons Perubahan
Warung kelontong Bu Sari di pinggir kota mulai kehilangan pelanggan karena banyak yang beralih belanja online. Ikuti bagaimana Bu Sari beradaptasi, langkah demi langkah.
Langkah Berpikir
Yang Dilakukan Bu Sari
1. Menyadari perubahan
Mengamati pelanggan lebih sering memesan lewat WhatsApp & aplikasi ojek daring ketimbang datang langsung.
2. Menata ulang rantai nilai
Menambah aktivitas baru — pengemasan rapi & pengantaran — sebagai bagian dari layanan yang bernilai bagi pelanggan.
3. Mengadopsi teknologi sederhana
Memasang QRIS agar transaksi lebih cepat & mencatat penjualan otomatis lewat aplikasi kasir gratis.
4. Mendengarkan data pelanggan
Menata ulang stok berdasarkan produk yang paling sering dipesan online, bukan sekadar kebiasaan lama.
Bu Sari tidak mengubah produk dagangannya — ia mengubah cara nilai disampaikan ke pelanggan. Inilah inti dari lingkungan bisnis yang dinamik.
Bagian 2 dari 3
Value Chain & Nilai Pelanggan
Bagaimana rangkaian aktivitas perusahaan menciptakan nilai, dan bagaimana nilai itu diukur dari sudut pandang pelanggan.
Value ChainCustomer ValueHitung Sendiri
Apa itu Value Chain (Rantai Nilai)?
Rangkaian aktivitas yang diperlukan untuk merancang, memproduksi, memasarkan, mengantarkan, dan melayani produk atau jasa — dari ide awal sampai produk sampai ke tangan pelanggan.
Tujuan analisis value chain: menemukan aktivitas mana yang benar-benar menambah nilai, dan mana yang bisa dikurangi atau dihilangkan tanpa mengorbankan kepuasan pelanggan.
Aktivitas Bernilai Tambah vs Tidak Bernilai Tambah
Tidak semua aktivitas dalam rantai nilai layak dipertahankan — inilah pembedaan paling penting dalam analisis value chain.
BERNILAI TAMBAH (VALUE-ADDED)
MENINGKATKAN NILAI BAGI PELANGGAN
Contoh: menyablon desain pada kaos, meracik kopi sesuai pesanan, mengemas produk dengan rapi.
TIDAK BERNILAI TAMBAH (NON-VALUE-ADDED)
TIDAK MENAMBAH NILAI, HANYA BIAYA
Contoh: barang menunggu di gudang, perpindahan bahan bolak-balik, pengerjaan ulang karena cacat produksi.
Prinsip manajemen kontemporer: pertahankan & optimalkan aktivitas bernilai tambah, kurangi atau hilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah.
Hitung dari Nol: Customer Value Kedai Kopi "Nikmat Pagi"
Customer value = total realisasi (manfaat yang diterima pelanggan) dikurangi total pengorbanan (apa yang harus dikeluarkan pelanggan).
Customer Value = Total Realisasi − Total Pengorbanan
Langkah
Perhitungan
Nilai
Nilai produk (rasa & kualitas kopi) — realisasi
Diketahui (persepsi pelanggan)
Rp 30.000
Nilai layanan + nilai citra (kecepatan, keramahan, suasana)
8.000 + 5.000
Rp 13.000
Total realisasi (nilai yang diterima pelanggan)
30.000 + 13.000
Rp 43.000
Total pengorbanan (harga + perjalanan + antre)
25.000 + 3.000 + 2.000
Rp 30.000
CUSTOMER VALUE
Rp 13.000
43.000 − 30.000 per cangkir kopi
Memperluas Value Chain: Dari Internal ke Industri
Value chain tidak berhenti di dalam satu perusahaan — ia terhubung dengan pemasok di hulu dan pelanggan akhir di hilir dalam satu rantai nilai industri.
HULU
PEMASOK BAHAN BAKU
Petani kopi, produsen kain, distributor bahan baku yang menyuplai kebutuhan produksi.
TENGAH
PERUSAHAAN (VALUE CHAIN INTERNAL)
Riset, produksi, pemasaran, distribusi, dan layanan yang kita bahas di slide sebelumnya.
HILIR
PELANGGAN AKHIR
Konsumen yang menerima produk/jasa & menjadi sumber nilai (customer value) yang kita hitung tadi.
Manajer modern harus melihat seluruh rantai, bukan hanya aktivitas internal perusahaannya — karena pemborosan di pemasok tetap membebani biaya akhir yang dibayar pelanggan.
Hitung dari Nol: Biaya Pemborosan UMKM "Kaos Kita"
Setiap kaos sablon di UMKM "Kaos Kita" memakan 40 menit waktu produksi. Berapa besar biaya yang terbuang dari aktivitas yang tidak bernilai tambah?
Waktu tidak bernilai tambah (antre & pindah bahan & cek ulang)
40 − 30
10 menit
Biaya tenaga kerja per menit (Rp 60.000/jam ÷ 60)
60.000 ÷ 60
Rp 1.000
Biaya pemborosan per kaos
10 × Rp 1.000
Rp 10.000
POTENSI PEMBOROSAN PER BULAN (500 KAOS)
Rp 5.000.000
10.000 × 500 kaos
Tema Manajemen Kontemporer yang Menyertai Value Chain
Beberapa filosofi manajemen populer lahir dari semangat yang sama: memaksimalkan nilai, meminimalkan pemborosan.
TQM
TOTAL QUALITY MANAGEMENT
Perbaikan kualitas berkelanjutan di setiap tahap, melibatkan seluruh karyawan, bukan hanya bagian produksi.
JIT
JUST-IN-TIME
Bahan baku & produk hanya disediakan saat dibutuhkan — menekan biaya persediaan & pemborosan gudang.
TOC
THEORY OF CONSTRAINTS
Fokus mengatasi titik hambatan (bottleneck) yang paling membatasi kecepatan seluruh rantai produksi.
Ketiganya akan sering muncul kembali sepanjang semester — terutama saat kita membahas ABC/ABM (Pertemuan 5) dan anggaran fleksibel (Pertemuan 10).
Manajemen Berbasis Aktivitas (ABM) — Sekilas Pengantar
Activity-Based Management (ABM) adalah pendekatan yang mengelola perusahaan berdasarkan aktivitas, sejalan dengan pemetaan value chain yang baru kita pelajari.
GAGASAN INTI ABM
Setiap biaya perusahaan berasal dari aktivitas yang dilakukan, bukan sekadar produk jadi.
Menelusuri aktivitas mana yang memakan biaya besar tapi nilai tambahnya kecil.
Menjadi dasar teknik Activity-Based Costing (ABC) yang akan kita pelajari mendalam nanti.
CONTOH PENERAPAN
MENELUSURI AKTIVITAS "SETUP MESIN"
Pabrik konveksi menelusuri biaya penggantian jarum & benang tiap ganti desain — aktivitas yang jarang disadari sebagai sumber biaya besar.
Bagian 3 dari 3
Etika dalam Lingkungan Bisnis Dinamik
Ketika tekanan target & kecepatan bisnis meningkat, integritas manajer justru diuji lebih keras.
Tekanan BaruStudi KasusRefleksi
Mengapa Etika Makin Krusial di Era Bisnis Dinamik?
Kecepatan & tekanan kompetisi yang tinggi bisa mendorong manajer mengambil jalan pintas yang melanggar prinsip etika akuntan manajemen.
TEKANAN BARU DI ERA DINAMIK
Target kuartalan yang makin agresif akibat persaingan global.
Data pelanggan sensitif yang harus dijaga kerahasiaannya di era digital.
Tekanan memangkas biaya secepat mungkin demi bertahan bersaing.
RISIKO KALAU DIABAIKAN
KEPUTUSAN JANGKA PENDEK YANG MERUGIKAN
Memangkas biaya kualitas atau lingkungan demi laba sesaat bisa merusak reputasi & keberlanjutan jangka panjang.
Studi Kasus: Dilema Manajer PT Sejahtera Tekstil
Direksi menuntut penurunan biaya produksi 15% dalam sebulan. Bagaimana manajer produksi menghadapi tekanan ini tanpa mengorbankan etika?
Langkah Berpikir
Yang Dihadapi & Dilakukan Manajer
1. Tekanan target muncul
Direksi menuntut penurunan biaya produksi 15% dalam sebulan demi menjaga margin laba.
2. Muncul opsi berisiko
Salah satu opsi tercepat: mengurangi pengolahan limbah pewarna kain untuk menghemat biaya operasional.
3. Merujuk prinsip etika
Manajer menilai opsi itu melanggar prinsip kredibilitas & integritas — menyembunyikan risiko lingkungan demi laba sesaat.
4. Mencari alternatif sah
Manajer mengusulkan efisiensi dari aktivitas tidak bernilai tambah (seperti Studi Kasus "Kaos Kita") — bukan memotong tanggung jawab lingkungan.
Prinsip yang sama akan kita perdalam di Pertemuan 14: Biaya Kualitas, Biaya Lingkungan, dan Sustainability.
Menghubungkan ke Pertemuan Berikutnya
Hari ini kita memahami mengapa akuntansi manajemen berubah. Pertemuan berikutnya kita mulai masuk ke bagaimana biayanya dihitung secara teknis.
HARI INI (P2)
MENGAPA BERUBAH
Lingkungan bisnis dinamik, value chain, customer value, tema kontemporer, & etika.
MINGGU DEPAN (P3)
KONSEP BIAYA
Klasifikasi biaya manufaktur & jasa, objek biaya, dan perilaku biaya — fondasi teknis satu semester.
Ingat aktivitas bernilai tambah vs tidak bernilai tambah hari ini — konsep ini akan menjadi dasar mengklasifikasikan biaya pada Pertemuan 3.
Ringkasan Pertemuan 2
YANG SUDAH KITA PELAJARI
Lingkungan bisnis berubah karena globalisasi, digitalisasi, & orientasi pelanggan.
Value chain memetakan aktivitas yang bernilai tambah vs tidak bernilai tambah.
Customer value = total realisasi − total pengorbanan pelanggan.
TQM, JIT, TOC, & ABM adalah tema kontemporer yang menyertai value chain.
Tekanan bisnis yang tinggi menuntut integritas manajer yang makin kuat, bukan makin longgar.
PERTANYAAN REFLEKSI
AKTIVITAS APA DI SEKITAR ANDA YANG TIDAK BERNILAI TAMBAH?
Amati satu proses bisnis di sekitar Anda (warung, kampus, organisasi) — identifikasi satu aktivitas yang bisa dihilangkan tanpa mengurangi nilai bagi penerimanya.
Sampai jumpa di Pertemuan 3: Akuntansi Manajemen dan Konsep Biaya — kita mulai membedah klasifikasi biaya secara teknis.