‹ Daftar slidePertemuan 8: Target Costing dan Analisis Biaya untuk Keputusan Penetapan Harga Jual
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Akuntansi Bisnis
Pertemuan 8 — Target Costing dan Analisis Biaya untuk Keputusan Penetapan Harga Jual
Ketika pasar yang menentukan harga, bagaimana perusahaan tetap untung? Kita balik logika penetapan harga: dari harga pasar, mundur ke biaya yang boleh dikeluarkan.
RPS minggu 9 • 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Dari Harga Pasar ke Biaya Target
Mengapa logika lama "biaya + markup = harga" gagal di pasar yang kompetitif, dan bagaimana target costing membalikkannya.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sesuai Sub-CPMK minggu ini, setelah pertemuan ini Anda diharapkan mampu:
Konsep
Memahami & Menghitung
Menjelaskan filosofi target costing, menghitung target cost dan cost gap dari data harga pasar dan margin laba yang diinginkan.
Aplikasi
Menutup Cost Gap
Menerapkan value engineering untuk menutup selisih biaya, serta membandingkan target costing dengan cost-plus pricing pada konteks bisnis yang berbeda.
Fokus praktik: kasus UMKM manufaktur (tas kulit), produk konsumer lokal (skincare), dan jasa digital — semua konteks yang relevan untuk prodi Bisnis Digital.
Realitas UMKM Digital: Harga Ditentukan Pasar, Bukan Kita
Coba buka Tokopedia atau Shopee dan cari "tas kulit wanita" — puluhan penjual menjual produk sejenis di kisaran harga yang hampir sama. Anda tidak bebas memasang harga sesuka hati.
Price-Taker
Ikut Harga Pasar
Perusahaan yang bersaing di pasar ramai (UMKM, produk konsumer, jasa digital umum) harus menerima harga yang sudah terbentuk dari persaingan — menaikkan harga sepihak berarti kehilangan pembeli.
Price-Maker
Menentukan Harga
Perusahaan dengan produk unik, hak paten, atau proyek pemerintah (misal kontraktor tol) punya ruang lebih besar menentukan harga sendiri berbasis biaya ditambah margin.
Masalahnya: kalau harga jual sudah "given" dari pasar, rumus lama Harga = Biaya + Markup bisa membuat harga produk Anda jadi terlalu mahal dan kalah bersaing.
Dua Filosofi Penetapan Harga Jual
Cost-plus pricing menghitung maju dari biaya ke harga. Target costing menghitung mundur dari harga ke biaya.
Cost-Plus Pricing (Cara Lama)
Harga Jual = Biaya + Markup
Cocok saat perusahaan punya kendali atas harga (proyek pemerintah, produk unik/paten). Markup = persentase tambahan di atas biaya sebagai keuntungan.
Target Costing (Topik Hari Ini)
Biaya Target = Harga Jual − Laba Target
Cocok saat pasar kompetitif menentukan harga lebih dulu (UMKM, produk konsumer, marketplace). Biaya harus "dipaksa" muat di bawah harga pasar.
Apa Itu Target Costing?
Definisi
Target costing adalah metode manajemen biaya yang menentukan biaya maksimum yang boleh dikeluarkan untuk sebuah produk, dihitung mundur dari harga jual yang ditetapkan pasar dikurangi laba yang diinginkan perusahaan — dilakukan sebelum produk diproduksi, bukan sesudahnya.
Target Cost = Harga Jual Target − Laba Target
Kunci: target costing dimulai dari riset pasar (harga yang bersedia dibayar konsumen), bukan dari laporan biaya akuntansi.
Hitung dari Nol #1 — Target Cost Tas Kulit "Kalyca"
UMKM "Kalyca" ingin meluncurkan tas kulit sintetis untuk dijual di marketplace. Riset harga kompetitor sejenis di Shopee/Tokopedia rata-rata Rp350.000. Pemilik ingin margin laba 20% dari harga jual.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga jual target (riset pasar marketplace)
rata-rata harga kompetitor
Rp 350.000
2. Laba target (margin 20% pemilik usaha)
20% × Rp 350.000
Rp 70.000
3. Target cost (biaya maksimum diizinkan)
Rp 350.000 − Rp 70.000
Rp 280.000
4. Estimasi biaya produksi saat ini
Rp180rb bahan + Rp70rb TK + Rp60rb OH
Rp 310.000
Cost Gap yang Harus Ditutup
Rp 30.000
Rp 310.000 (biaya saat ini) − Rp 280.000 (target cost)
Menutup Cost Gap dengan Value Engineering
Cost gap tidak boleh ditutup dengan menurunkan kualitas produk secara sembarangan. Solusinya: value engineering (VE) — analisis sistematis untuk menemukan cara mengurangi biaya tanpa mengorbankan fungsi dan nilai bagi konsumen.
Empat Arah Value Engineering
Ganti bahan baku dengan alternatif yang lebih murah namun kualitas setara (misal pemasok kulit sintetis lokal)
Sederhanakan desain/proses produksi agar waktu tenaga kerja lebih efisien
Negosiasi ulang harga dengan pemasok (bahan baku, kemasan, ongkos kirim)
Hilangkan fitur/komponen yang tidak dihargai konsumen (misal kemasan berlebihan)
Bagian 2 dari 3
Siklus & Studi Kasus Target Costing
Bagaimana proses target costing berjalan dari riset pasar hingga produk diproduksi — dan bagaimana pengendalian biaya berlanjut setelahnya.
Siklus 5 Langkah Target Costing
Studi Kasus: Peluncuran Skincare Lokal "Glowia"
Tahap 1 — Riset Pasar & Target Cost
Brand skincare lokal "Glowia" meriset harga serum wajah kompetitor sejenis di e-commerce: rata-rata Rp120.000. Target laba perusahaan 25% dari harga jual. Target laba = Rp30.000, sehingga target cost = Rp90.000 per unit.
Tahap 2 — Ternyata Biaya Lebih Tinggi
Estimasi awal tim R&D: bahan aktif premium + kemasan kaca eksklusif = Rp108.000. Tim mengusulkan VE: ganti kemasan kaca dengan botol plastik daur ulang premium dan turunkan konsentrasi kemasan sekunder, biaya turun menjadi Rp89.500 — target cost tercapai.
Pelajaran: target costing memaksa tim R&D dan pemasaran berdiskusi sejak tahap desain — bukan menunggu produk jadi baru menghitung biaya.
Hitung dari Nol #2 — Menutup Cost Gap Kalyca via Value Engineering
Kembali ke kasus Kalyca: cost gap Rp30.000 harus ditutup. Tim mengusulkan tiga langkah value engineering berikut.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Bahan baku — ganti pemasok kulit sintetis lokal
Rp180.000 → Rp165.000
hemat Rp15.000
2. Tenaga kerja — sederhanakan pola jahit
Rp70.000 → Rp65.000
hemat Rp5.000
3. Overhead — kemasan box karton → pouch kain
Rp60.000 → Rp50.000
hemat Rp10.000
4. Total biaya setelah value engineering
Rp165.000 + Rp65.000 + Rp50.000
Rp 280.000
Cost Gap Tertutup
Rp 30.000
Rp15.000 + Rp5.000 + Rp10.000 — biaya kini sama dengan target cost Rp280.000
Kaizen Costing: Setelah Produksi Dimulai, Biaya Tetap Ditekan
Target costing bekerja sebelum produksi. Kaizen costing ("perbaikan berkelanjutan") mengambil alih setelah produksi berjalan — target penurunan biaya kecil namun terus-menerus.
Target Costing vs Kaizen Costing
Aspek
Target Costing
Kaizen Costing
Kapan diterapkan
Sebelum produksi (tahap desain)
Setelah produksi berjalan
Fokus
Menentukan biaya maksimum produk baru
Menurunkan biaya produk yang sudah ada
Besaran perubahan
Sekali besar (menutup cost gap awal)
Kecil, bertahap, terus-menerus
Pelaku utama
Tim desain, R&D, pemasaran
Tim produksi & operasional
Keduanya saling melengkapi dalam satu siklus manajemen biaya produk — bukan pilih salah satu.
Bagian 3 dari 3
Memilih Metode Penetapan Harga yang Tepat
Target costing bukan satu-satunya alat. Kita tutup pertemuan dengan membandingkan konteks penggunaan cost-plus pricing dan jebakan umum penetapan harga.
Hitung dari Nol #3 — Cost-Plus Pricing Jasa Digital Marketing
Agensi digital marketing UMKM mengerjakan proyek kampanye media sosial untuk klien. Karena jasa ini unik (custom brief), agensi berperan sebagai price-maker dan memakai cost-plus pricing.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total biaya proyek (SDM + iklan + tools)
estimasi langsung tim
Rp 8.000.000
2. Markup yang diinginkan agensi
25% × Rp 8.000.000
Rp 2.000.000
3. Harga jual ke klien (cost-plus)
Rp 8.000.000 + Rp 2.000.000
Rp 10.000.000
Margin Laba atas Harga Jual
20%
Rp 2.000.000 ÷ Rp 10.000.000 × 100%
Kapan Memilih Target Costing, Kapan Cost-Plus?
Pakai Target Costing
Pasar Kompetitif
Produk konsumer massal, banyak kompetitor sejenis, pembeli sensitif harga (UMKM di marketplace, elektronik konsumer, FMCG).
Pakai Cost-Plus Pricing
Produk/Jasa Unik
Proyek custom, kontrak pemerintah/BUMN (misal proyek konstruksi tol), jasa profesional dengan brief spesifik per klien.
Banyak perusahaan digital memakai keduanya sekaligus: produk utama (aplikasi/langganan) via target costing, jasa kustomisasi/konsultasi via cost-plus.
Jebakan Umum Menetapkan Harga Jual
Mengabaikan riset pasar — menghitung biaya dulu baru "menebak" harga jual, padahal pasar sudah punya standar harga sendiri
Menutup cost gap dengan menurunkan kualitas sembarangan — merusak reputasi brand jangka panjang demi laba jangka pendek
Lupa memperhitungkan pajak & biaya tersembunyi — misalnya PPN efektif 11% (PMK 131/2024) dan biaya platform marketplace 3–5% belum masuk perhitungan
Berhenti setelah produk diluncurkan — tidak melanjutkan kaizen costing sehingga margin tergerus inflasi biaya bahan baku
Latihan Kelas: Diskusi Kelompok
Kasus: Sebuah startup makanan sehat "Segari Snack" ingin meluncurkan granola bar. Riset pasar menunjukkan harga kompetitor sejenis rata-rata Rp15.000. Manajemen menargetkan margin laba 30% dari harga jual. Estimasi biaya produksi awal (bahan, kemasan, tenaga kerja) adalah Rp12.000 per unit.
Tugas 1
Hitung target cost dan cost gap Segari Snack (5 menit, kerja berpasangan).
Tugas 2
Usulkan 2 langkah value engineering konkret untuk menutup gap tersebut.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Yang Sudah Kita Pelajari
Target Cost = Harga Jual Target − Laba Target
Cost gap ditutup lewat value engineering, bukan menurunkan kualitas
Kaizen costing melanjutkan efisiensi setelah produksi berjalan
Cost-plus pricing tetap relevan untuk produk/jasa unik & proyek pemerintah
Minggu Depan — Pertemuan 9
Master Budgeting
Anggaran induk perusahaan. Tugas: bawa hasil perhitungan latihan Segari Snack hari ini dalam bentuk tertulis rapi.