‹ Daftar slidePertemuan 7: Variable Costing vs Absorption Costing dan Segment Reporting
Prodi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Akuntansi Bisnis
Pertemuan 7 — Variable Costing vs Absorption Costing dan Segment Reporting
Dua cara menghitung Harga Pokok Produksi yang bisa menghasilkan laba berbeda dari data penjualan yang sama persis. Bagaimana bisa? Dan bagaimana melihat kesehatan tiap lini bisnis (segmen) secara jujur?
RPS MINGGU 7 • 2X50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu membedakan dan menghitung dua pendekatan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP), serta membaca laporan segmen. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — KONSEP
DUA PENDEKATAN HPP
Membedakan Variable Costing dan Absorption Costing dari sisi komponen biaya yang dibebankan ke produk.
CAPAIAN 2 — PERHITUNGAN
LAPORAN LABA-RUGI GANDA
Menyusun laporan laba-rugi contribution margin (variable costing) dan laporan laba-rugi tradisional (absorption costing) dari data yang sama.
CAPAIAN 3 — REKONSILIASI
SELISIH LABA & PERSEDIAAN
Menjelaskan mengapa laba kedua metode berbeda saat produksi ≠ penjualan, dan merekonsiliasi selisihnya.
CAPAIAN 4 — SEGMEN
SEGMENT REPORTING
Menyusun laporan segmen berjenjang dengan traceable fixed cost vs common fixed cost untuk menilai kinerja per lini bisnis.
Laba Naik Padahal Penjualan Sama? Kok Bisa?
Bayangkan Anda Chief Financial Officer sebuah UMKM sepatu di Cibaduyut, Bandung.
BULAN JANUARI
Produksi = Penjualan
Produksi 1.000 pasang, terjual 1.000 pasang. Laba dilaporkan Rp 15.000.000, sama di kedua metode akuntansi.
BULAN FEBRUARI
Produksi > Penjualan
Produksi naik jadi 1.500 pasang (sisa masuk gudang), penjualan tetap 1.000 pasang. Salah satu metode melaporkan laba lebih tinggi dari Januari—padahal penjualan identik!
Ini bukan manipulasi. Ini konsekuensi logis dari cara biaya overhead pabrik tetap diperlakukan di neraca (persediaan) vs laporan laba-rugi. Hari ini kita bongkar mekanismenya.
Bagian 1 dari 4
Dua Cara Memandang Biaya Overhead Pabrik Tetap
Akar dari semua perbedaan: apakah Fixed Manufacturing Overhead menjadi bagian dari harga pokok produk, atau langsung menjadi beban periode?
Mengingat Kembali: Komponen Biaya Produksi
Sebelum membedah dua metode, kita perlu sepakat dulu empat komponen biaya yang membentuk sebuah produk manufaktur.
EMPAT KOMPONEN BIAYA PRODUKSI
Bahan Baku Langsung (Direct Material) — selalu variabel.
Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor) — umumnya variabel.
Overhead Pabrik Variabel (Variable Manufacturing Overhead/VMOH) — naik-turun mengikuti volume produksi.
Overhead Pabrik Tetap (Fixed Manufacturing Overhead/FMOH) — jumlahnya tetap berapa pun unit diproduksi, mis. penyusutan mesin, sewa pabrik.
TITIK PERBEDAAN
Hanya FMOH
Tiga komponen pertama selalu dibebankan ke produk di kedua metode. Yang jadi bahan perdebatan hanya Overhead Pabrik Tetap—apakah ia melekat pada produk, atau beban periode saja.
Variable Costing (Direct Costing)
Hanya biaya produksi variabel yang dibebankan sebagai biaya produk (melekat pada persediaan). FMOH diperlakukan sebagai beban periode, langsung ke laporan laba-rugi bulan itu juga.
Biaya Produk = Bahan Baku + Tenaga Kerja Langsung + VMOH (FMOH → beban periode)
UNTUK SIAPA
Keputusan Internal
Dipakai manajemen untuk analisis CVP, penetapan harga, dan keputusan jangka pendek. Tidak diakui untuk pelaporan eksternal (bukan sesuai PSAK).
DAMPAK PERSEDIAAN
Lebih Ramping
Nilai persediaan akhir per unit lebih rendah, karena FMOH tidak ikut menempel di produk yang belum terjual.
Absorption Costing (Full Costing)
Seluruh biaya produksi—variabel maupun tetap—dibebankan sebagai biaya produk. FMOH ikut "diserap" (absorbed) ke dalam harga pokok tiap unit yang diproduksi.
Biaya Produk = Bahan Baku + Tenaga Kerja Langsung + VMOH + FMOH per unit
UNTUK SIAPA
Pelaporan Eksternal
Wajib digunakan untuk laporan keuangan sesuai PSAK 14 (Persediaan) dan pelaporan pajak. Ini standar resmi yang diaudit.
DAMPAK PERSEDIAAN
Membawa FMOH
Unit yang belum terjual "membawa" sebagian FMOH ke periode berikutnya sebagai bagian dari nilai persediaan di neraca.
Peta Perbandingan: Ke Mana FMOH Mengalir?
Perhatikan kotak putus-putus di sisi kiri: itulah "jalur pintas" FMOH menuju laporan laba-rugi tanpa singgah ke persediaan—sumber utama perbedaan laba kedua metode.
Bagian 2 dari 4
Menyusun Laporan Laba-Rugi: Dua Format
Contribution margin format untuk manajemen internal, format tradisional untuk pelaporan eksternal. Kita hitung dari nol.
Dua Format Laporan Laba-Rugi
FORMAT CONTRIBUTION MARGIN (Variable Costing)
Penjualan − Biaya Variabel (Produksi + Non-Produksi)
= Margin Kontribusi
− Biaya Tetap (FMOH + Non-Produksi Tetap)
= Laba Operasi
FORMAT TRADISIONAL (Absorption Costing)
Penjualan − Harga Pokok Penjualan (HPP, termasuk FMOH per unit)
Perhatikan urutan pengurangannya berbeda: format kontribusi memisahkan dulu berdasarkan perilaku biaya (variabel vs tetap); format tradisional memisahkan dulu berdasarkan fungsi (produksi vs non-produksi).
Hitung dari Nol — HDN-1: Laporan Variable Costing
UMKM Kopi Kemasan "Nadja Roasters" di Yogyakarta bulan ini: Produksi 10.000 kantong, terjual 8.000 kantong @Rp 25.000. Biaya variabel produksi Rp 9.000/kantong, biaya variabel penjualan Rp 1.000/kantong terjual. Total FMOH Rp 30.000.000, Beban Tetap Non-Produksi Rp 12.000.000.
LAPORAN LABA-RUGI — FORMAT CONTRIBUTION MARGIN
Langkah
Perhitungan
Nilai
Penjualan
8.000 × Rp 25.000
Rp 200.000.000
Biaya Variabel Produksi (HPP Var.)
8.000 × Rp 9.000
Rp 72.000.000
Biaya Variabel Penjualan
8.000 × Rp 1.000
Rp 8.000.000
Margin Kontribusi
200jt − 72jt − 8jt
Rp 120.000.000
Biaya Tetap (FMOH + Non-Produksi)
Rp 30.000.000 + Rp 12.000.000
Rp 42.000.000
Laba Operasi (Variable Costing)
120jt − 42jt
Rp 78.000.000
Hitung dari Nol — HDN-2: Laporan Absorption Costing
Data sama seperti HDN-1. FMOH per unit = Rp 30.000.000 ÷ 10.000 unit produksi = Rp 3.000/unit. HPP per unit absorption = Rp 9.000 + Rp 3.000 = Rp 12.000.
LAPORAN LABA-RUGI — FORMAT TRADISIONAL
Langkah
Perhitungan
Nilai
Penjualan
8.000 × Rp 25.000
Rp 200.000.000
HPP (Harga Pokok Penjualan)
8.000 × Rp 12.000
Rp 96.000.000
Laba Kotor
200jt − 96jt
Rp 104.000.000
Beban Penjualan & Adm. (variabel)
8.000 × Rp 1.000
Rp 8.000.000
Beban Penjualan & Adm. (tetap)
—
Rp 12.000.000
Laba Operasi (Absorption Costing)
104jt − 8jt − 12jt
Rp 84.000.000
Laba Absorption (Rp 84.000.000) lebih besar Rp 6.000.000 dari Laba Variable Costing (Rp 78.000.000). Kenapa persis Rp 6 juta? Kita bongkar di slide berikutnya.
Mengapa Laba Berbeda? Kunci: FMOH yang "Tertahan" di Persediaan
Selisih laba selalu sama dengan FMOH per unit × perubahan unit persediaan (produksi − penjualan).
Selisih Laba = FMOH per Unit × (Unit Diproduksi − Unit Terjual)
VERIFIKASI HDN-1 & HDN-2
Rp 3.000 × 2.000
FMOH/unit Rp 3.000 × (10.000 − 8.000 unit tersisa di gudang) = Rp 6.000.000. Persis sama dengan selisih laba di HDN-2!
TIGA SKENARIO ARAH LABA
Produksi > Penjualan: Laba Absorption > Laba Variable (FMOH "tertahan" di persediaan).
Produksi < Penjualan: Laba Absorption < Laba Variable (FMOH periode lalu "keluar" dari persediaan).
Produksi = Penjualan: Laba kedua metode identik.
Perdebatan: Mana yang "Lebih Baik"?
Ini bukan soal benar-salah, tapi soal tujuan pelaporan. Berikut argumen dari masing-masing sisi.
ARGUMEN PENDUKUNG VARIABLE COSTING
Sesuai Perilaku Biaya
Laba tidak bisa "dinaikkan" hanya dengan memproduksi lebih banyak tanpa menjual. Lebih relevan untuk analisis CVP dan keputusan pricing jangka pendek.
ARGUMEN PENDUKUNG ABSORPTION COSTING
Sesuai Matching Principle
FMOH adalah bagian tak terpisahkan dari proses menghasilkan produk, sehingga wajar melekat pada persediaan sampai produk itu terjual—sesuai PSAK 14.
Risiko manajerial absorption costing: manajer bisa "menggembungkan" laba jangka pendek dengan memproduksi berlebihan (overproduction) untuk menyerap FMOH ke persediaan—praktik yang perlu diwaspadai dalam evaluasi kinerja.
Bagian 3 dari 4
Segment Reporting: Melihat Kinerja per Lini Bisnis
Perusahaan dengan banyak produk, divisi, atau wilayah butuh cara menilai profitabilitas tiap bagian secara adil dan jujur.
Apa Itu Segmen dan Mengapa Perlu Dipisah?
Segmen adalah bagian atau aktivitas organisasi yang manajer ingin ketahui data biaya, pendapatan, dan labanya secara terpisah—bisa berupa lini produk, wilayah penjualan, atau divisi.
CONTOH SEGMEN
Marketplace Digital
Tokopedia bisa membagi segmen berdasarkan kategori: Fashion, Elektronik, Groceries—masing-masing dinilai profitabilitasnya sendiri.
TUJUAN ANALISIS
Keputusan Alokasi
Segmen mana yang layak diperluas, dipertahankan, atau ditutup? Keputusan ini butuh laporan yang tidak asal membagi rata biaya bersama.
Kesalahan paling umum: membagi biaya tetap bersama secara merata ke semua segmen, sehingga segmen kecil yang sehat terlihat rugi padahal sebenarnya menguntungkan.
Traceable Fixed Cost vs Common Fixed Cost
Inti laporan segmen yang jujur ada pada bagaimana kita memperlakukan biaya tetap.
TRACEABLE FIXED COST
Biaya Tetap Langsung
Muncul karena keberadaan segmen tersebut dan akan hilang jika segmen ditutup. Mis. gaji manajer toko cabang, sewa gudang khusus lini produk. Dikurangkan langsung dari segmen bersangkutan.
COMMON FIXED COST
Biaya Tetap Bersama
Mendukung lebih dari satu segmen dan tetap ada meski satu segmen ditutup. Mis. gaji CEO, sewa kantor pusat. Tidak boleh dialokasikan ke segmen individual—hanya dikurangkan di level total perusahaan.
Hitung dari Nol — HDN-3: Laporan Segmen Berjenjang
Toko online "Batik Nusantara" punya 2 segmen: Batik Cap dan Batik Tulis. Batik Cap: Penjualan Rp 80jt, Biaya Variabel Rp 50jt, Traceable Fixed Rp 15jt. Batik Tulis: Penjualan Rp 60jt, Biaya Variabel Rp 30jt, Traceable Fixed Rp 20jt. Common Fixed Cost perusahaan Rp 8jt.
LAPORAN SEGMEN BERJENJANG
Langkah
Batik Cap
Batik Tulis
Total
Penjualan
80.000.000
60.000.000
140.000.000
Biaya Variabel
50.000.000
30.000.000
80.000.000
Margin Kontribusi
30.000.000
30.000.000
60.000.000
Traceable Fixed Cost
15.000.000
20.000.000
35.000.000
Margin Segmen
15.000.000
10.000.000
25.000.000
Common Fixed Cost (tak dialokasi)
—
—
8.000.000
Laba Operasi Perusahaan
—
17.000.000
Batik Cap dan Batik Tulis sama-sama Margin Segmen positif (15jt dan 10jt)—keduanya layak dipertahankan. Common Fixed Cost sengaja TIDAK dipecah ke keduanya karena akan menyesatkan penilaian.
Jebakan Umum: Alokasi Common Fixed Cost secara Sembarangan
Bayangkan seorang akuntan pemula "iseng" membagi Common Fixed Cost Rp 8.000.000 secara merata (50:50) ke kedua segmen di HDN-3.
JIKA DIPAKSA DIBAGI RATA
Batik Tulis Rp 4jt
Margin Segmen Batik Tulis (Rp 10jt) − Rp 4jt alokasi = Rp 6jt. Masih untung, tapi angkanya jadi artifisial, tergantung metode alokasi yang dipilih—bisa proporsi penjualan, luas gudang, atau jumlah karyawan, hasilnya beda-beda.
PRINSIP YANG BENAR
Jangan Dialokasikan
Common Fixed Cost hanya dikurangkan di level total perusahaan. Ini menjaga laporan segmen tetap objektif dan tidak bisa "diakali" untuk membuat segmen tertentu terlihat lebih/kurang menguntungkan.
Semakin banyak dasar alokasi yang tersedia (penjualan, luas lantai, jam kerja), semakin besar peluang manipulasi angka. Aturan segmen reporting yang baik: traceable = kurangkan; common = jangan sentuh (kecuali di level total).
Latihan Mandiri: Kerjakan Sebelum Pertemuan 8
PT Kriya Digital memiliki 2 segmen: Web Development dan Digital Marketing. Data bulan ini:
DATA SOAL
Web Dev: Penjualan Rp 120jt, Biaya Variabel Rp 70jt, Traceable Fixed Rp 25jt
Digital Marketing: Penjualan Rp 90jt, Biaya Variabel Rp 45jt, Traceable Fixed Rp 18jt
Common Fixed Cost perusahaan: Rp 12jt
Produksi vs jual: perusahaan jasa (tidak ada persediaan fisik)
Tugas: (1) Susun laporan segmen berjenjang seperti HDN-3, hitung Margin Kontribusi, Margin Segmen, dan Laba Operasi Total. (2) Segmen mana yang secara persentase margin segmen terhadap penjualan lebih sehat? (3) Jika Digital Marketing ditutup, berapa penurunan laba perusahaan? Kumpulkan sebelum Pertemuan 8 dimulai.