Akuntansi Biaya
Pertemuan 12 — Inventory Management, JIT, & Simplified Costing
Bagaimana mengelola biaya persediaan (EOQ), beralih ke filosofi Just-in-Time (JIT), dan menyederhanakan akuntansi melalui Backflush Costing.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu memahami dan menghitung terkait manajemen persediaan dan metode costing modern. Secara rinci:
Mengapa Persediaan Menjadi Dilema Besar?
Persediaan sering kali menyumbang persentase aset terbesar di neraca. Manajemen terjebak di antara dua ketakutan.
5 Kategori Biaya Terkait Persediaan
Untuk mengoptimalkan biaya, kita harus memahami tipe-tipe biaya persediaan dalam perusahaan ritel atau manufaktur.
| Kategori Biaya | Deskripsi Singkat | Contoh |
|---|---|---|
| Purchasing Costs | Biaya perolehan barang dari pemasok. | Harga beli, ongkos kirim awal. |
| Ordering Costs | Biaya untuk memproses pesanan / PO. | Telepon, administrasi pembelian, proses penerimaan. |
| Carrying Costs | Biaya untuk menyimpan persediaan. | Sewa gudang, asuransi, keusangan, opportunity cost modal. |
| Stockout Costs | Biaya karena kehabisan persediaan. | Kehilangan penjualan, pengiriman kilat, mesin berhenti. |
| Quality Costs | Biaya terkait kualitas barang tidak sesuai. | Pemeriksaan QC, biaya retur, pengerjaan ulang (rework). |
Economic Order Quantity (EOQ)
EOQ adalah jumlah pemesanan optimal yang meminimalkan Total Relevan Cost (TRC), yaitu jumlah dari Ordering Costs dan Carrying Costs.
- Permintaan (D) diketahui pasti & konstan.
- Ordering cost per order (P) diketahui pasti.
- Carrying cost per unit (C) diketahui pasti.
- Harga pembelian tidak memengaruhi EOQ (tidak ada diskon kuantitas).
Jika pesan sedikit tiap kali:
- Carrying Cost Turun
- Ordering Cost Naik (sering pesan)
Jika pesan banyak tiap kali:
- Carrying Cost Naik (butuh gudang)
- Ordering Cost Turun (jarang pesan)
Rumus Dasar EOQ
Kuantitas Pemesanan Ekonomis (EOQ) dicapai saat Total Biaya Pemesanan = Total Biaya Penyimpanan.
D = Demand (Kebutuhan tahunan dalam unit)
P = Ordering cost (Biaya per satu kali pesan)
C = Carrying cost (Biaya penyimpanan per unit per tahun)
- Total Ordering Cost = (D / Q) × P
- Total Carrying Cost = (Q / 2) × C
- Total Relevan Cost (TRC) = Total Ordering + Total Carrying
*Q = Jumlah Pesanan (Jika pesanan = EOQ, TRC akan paling rendah)
Coba Sendiri: Cari Titik EOQ Paling Ekonomis
Geser jumlah pesanan dan amati bagaimana biaya pemesanan dan biaya penyimpanan berpotongan di titik EOQ.
Hitung dari Nol — HDN-1: Kasus EOQ
PT ABC butuh 10.000 unit bahan baku per tahun. Biaya pesan Rp 200.000 per order. Biaya simpan Rp 4.000 per unit per tahun.
| Langkah | Perhitungan | Nilai |
|---|---|---|
| Identifikasi | D=10k, P=200k, C=4k | — |
| Pembilang | 2 × 10.000 × 200.000 | 4.000.000.000 |
| Dibagi C | 4.000.000.000 ÷ 4.000 | 1.000.000 |
| Akar kuadrat (√) | √1.000.000 | 1.000 unit |
10.000 / 1.000 = 10 kali.
TRC = (10 × 200k) + (500 × 4k) = Rp 4.000.000 per tahun.
Reorder Point & Safety Stock
Setelah tahu berapa banyak harus memesan (EOQ), pertanyaan selanjutnya: kapan harus memesan kembali?
- Lead Time: Waktu tunggu barang sejak dipesan hingga tiba.
- Daily Demand: Tingkat pemakaian barang per hari.
ROP = (4 × 50) + 100 = 300 unit. Saat stok di gudang sisa 300, segera buat pesanan.
Apa itu JIT (Just-in-Time)?
JIT Production (atau Lean Manufacturing) memproduksi komponen / barang hanya saat dibutuhkan untuk operasi selanjutnya, didorong oleh permintaan konsumen (pull approach).
| Karakteristik | Tradisional (Push System) | JIT (Pull System) |
|---|---|---|
| Dasar Produksi | Ramalan / Prakiraan (Forecast) | Permintaan Aktual Pelanggan |
| Fokus Inventory | Aset untuk antisipasi masalah | Beban / Pemborosan (Waste) |
| Ukuran Batch | Besar (meminimalkan setup cost) | Kecil (fleksibel) |
| Mentalitas | "Just-in-Case" | "Just-in-Time" |
Karakteristik & Fitur Sistem JIT
Sistem JIT tidak bisa berjalan hanya dengan membuang stok. Dibutuhkan infrastruktur pabrik yang mendukung.
Manfaat vs Risiko Pelaksanaan JIT
- Penurunan Modal Kerja: Uang tidak mandek di gudang (WIP & FG mendekati nol).
- Hemat Ruang: Mengurangi kebutuhan sewa gudang.
- Kualitas Meningkat: Karena stok sedikit, jika ada cacat langsung terdeteksi seketika.
- Lead Time Singkat: Merespon pesanan pelanggan jauh lebih cepat.
- Sangat Rentan Gangguan: Jika satu supplier terlambat / mogok jalan, seluruh pabrik berhenti.
- Kehilangan Penjualan: Kesulitan memenuhi lonjakan permintaan pasar yang mendadak.
- Biaya Transaksi Naik: Jumlah frekuensi order logistik naik drastis.
Perubahan Metrik Evaluasi Kinerja
Karena JIT mengubah cara kerja pabrik secara fundamental, ukuran kinerja manajemen (KPI) juga harus diubah.
| Aspek Evaluasi | Contoh Pengukuran Kinerja di Era JIT |
|---|---|
| Kualitas | Jumlah cacat (Defect rate), tingkat retur, kepuasan pelanggan. |
| Waktu (Time) | Manufacturing lead time, Setup time pabrik. |
| Efisiensi Inventori | Tingkat perputaran persediaan (Inventory Turnover Ratio). |
| Kinerja Pemasok | Persentase pengiriman on-time, persentase material cacat dari supplier. |
Apa itu Backflush Costing?
Backflush Costing adalah sistem biaya yang menunda pencatatan ayat jurnal hingga setelah produk selesai atau terjual.
1. Beli Bahan (Raw Materials)
2. Masuk Pabrik (WIP)
3. Selesai (Finished Goods)
4. Terjual (COGS)
Begitu barang selesai/terjual, sistem akan melihat Bill of Materials dan "menyiram balik" (flush back) alokasi biaya secara otomatis ke COGS/FG.
Perubahan Struktur Akun (Simplifikasi)
Untuk menyederhanakan pembukuan, Backflush costing umumnya menggabungkan akun bahan baku dan WIP yang sangat sedikit.
- Alih-alih punya akun "Materials" dan "Work-In-Process" terpisah.
- Keduanya dilebur menjadi akun tunggal: Inventory: Raw and In-Process (RIP) Control.
- Semua bahan baku dan sedikit barang setengah jadi tertampung di akun sementara ini.
- Biaya konversi (Direct Labor & Factory Overhead) sering digabung menjadi satu akun: Conversion Costs Control.
Kerugian: Kehilangan audit trail (jejak audit) rinci pada setiap tahapan produksi.
Titik Pemicu Jurnal (Trigger Points)
Kapan akuntansi baru akan mencatat biaya? Tergantung pada variasi sistem Backflush yang dianut perusahaan. Ada 3 titik utama (Trigger points):
Sistem paling ekstrem (ultra-JIT) hanya punya 2 trigger point: (A) Pembelian material dan (C) Penjualan barang jadi. FG di-by pass sepenuhnya.
Hitung dari Nol — HDN-2: Jurnal Backflush
Kasus: Beli Bahan 100jt. Biaya Konversi actual 60jt. Barang Selesai senilai 150jt (Material 100jt + Alokasi Konversi 50jt).
| Kejadian | Jurnal Tradisional (Sequential) | Jurnal Backflush Costing |
|---|---|---|
| 1. Beli Bahan Baku | Materials Ctrl 100 AP / Cash 100 | RIP Control 100 AP / Cash 100 |
| 2. Biaya Konversi Terjadi | WIP Control 60 Berbagai Akun Kredit 60 | Conversion Costs Ctrl 60 Berbagai Akun Kredit 60 |
| 3. Bahan Masuk Produksi | WIP Control 100 Materials Ctrl 100 | [TIDAK ADA JURNAL / DI-LEWATI] |
| 4. Barang Jadi Selesai | Finished Goods 150 WIP Control 150 | Finished Goods 150 RIP Control 100 Conversion Costs Allocated 50 |
Perhatikan di kejadian no 3: Backflush tidak membuang waktu mencatat transfer bahan ke WIP.
Ringkasan Pembelajaran Pertemuan 12
Perkembangan teknologi dan persaingan menuntut operasi manufaktur yang lebih "lean" dan efisien.
📖 Baca juga: Dcf Valuation — penjelasan mendalam dan contoh numerik.