Mempelajari siklus perencanaan komprehensif melalui Anggaran Induk (Operasional & Keuangan) serta evaluasi kinerja dengan Akuntansi Pertanggungjawaban.
RPS MINGGU 9 • SUB-CPMK 9 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menyusun dan memahami:
CAPAIAN 1 — KONSEP ANGGARAN
PERAN MASTER BUDGET
Memahami peran penting penganggaran dalam perencanaan dan pengendalian manajemen.
CAPAIAN 2 — OPERATING BUDGET
ANGGARAN OPERASIONAL
Menyusun serangkaian anggaran mulai dari penjualan, produksi, hingga Laba Rugi Pro Forma.
CAPAIAN 3 — FINANCIAL BUDGET
ANGGARAN KEUANGAN
Menyusun anggaran kas dan Neraca Pro Forma untuk memprediksi posisi keuangan.
CAPAIAN 4 — RESPONSIBILITY
AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN
Membedakan pusat-pusat pertanggungjawaban dan mengevaluasi kinerja manajerial.
Apa itu Master Budget?
Master Budget (Anggaran Induk) adalah rencana keuangan komprehensif untuk keseluruhan organisasi yang terdiri dari berbagai anggaran parsial yang saling terkait.
FUNGSI UTAMA
Perencanaan: Memaksa manajer melihat ke masa depan dan menetapkan target.
Koordinasi: Menyelaraskan tujuan antar departemen (misal: produksi & penjualan).
Komunikasi: Mengomunikasikan rencana manajemen puncak ke seluruh level.
Pengendalian: Menjadi tolok ukur (benchmark) evaluasi kinerja.
DUA KOMPONEN UTAMA
1. Anggaran Operasional Berfokus pada aktivitas penghasil pendapatan (penjualan, produksi, biaya) → Berujung pada Laba Rugi Pro Forma.
2. Anggaran Keuangan Berfokus pada aliran dana (kas, belanja modal) → Berujung pada Neraca Pro Forma dan Arus Kas.
Bagian 1 dari 3
Anggaran Operasional
Membangun fondasi laba rugi, dimulai dari unit yang akan dijual hingga menghitung laba bersih yang diproyeksikan.
PenjualanProduksiBiaya Pabrikasi
Alur Penyusunan Anggaran Operasional
Urutan penyusunan sangat krusial. Anda tidak bisa menyusun anggaran produksi sebelum mengetahui anggaran penjualan.
SEKUENS PENYUSUNAN (MANUFAKTUR)
1. Penjualan
→
2. Produksi
→
3. Bahan Baku, TKL, Overhead
→
4. Persediaan Akhir & HPP
→
5. Laba Rugi Pro Forma
*Anggaran Beban Penjualan & Adm disusun bersamaan dengan langkah 3 atau 4.
Jika Prediksi Penjualan meleset tajam, maka seluruh anggaran lain akan kehilangan validitasnya. Penjualan adalah "mesin penggerak" master budget.
1. Anggaran Penjualan (Sales Budget)
Titik tolak dari seluruh master budget. Didasarkan pada prediksi pasar, tren historis, dan kapasitas ekonomi.
Total Penjualan = Unit Terjual × Harga Jual per Unit
ILUSTRASI PT ATLAS (KUARTAL 1-2)
Kuartal
1
2
Estimasi Penjualan (Unit)
10.000
12.000
Harga Jual per Unit
Rp 50.000
Rp 50.000
Total Penjualan
Rp 500 Juta
Rp 600 Juta
JADWAL PENERIMAAN KAS
Sering dibuat bersamaan dengan anggaran penjualan. Misal: 70% kas diterima di kuartal penjualan, 30% di kuartal berikutnya.
Penerimaan Kas K1 = 70% × Rp 500Jt = Rp 350 Juta. (Sisa Rp 150Jt jadi Piutang Usaha).
2. Anggaran Produksi (Production Budget)
Berapa unit yang harus diproduksi? Tidak sama dengan unit terjual, karena perusahaan harus menjaga persediaan akhir sebagai penyangga.
Unit Penjualan + Target Persediaan Akhir = Total Kebutuhan Total Kebutuhan − Persediaan Awal = Unit yang Harus Diproduksi
Dikurangi: Persediaan Awal (Misal akhir Q4 tahun lalu)
− 2.000 unit
Unit yang Harus Diproduksi
10.400 unit
3a. Anggaran Bahan Baku Langsung (Direct Materials)
Berapa banyak bahan baku yang harus dibeli? Logikanya sama persis dengan anggaran produksi, diterapkan pada bahan baku.
LANGKAH 1: KEBUTUHAN PRODUKSI
Unit Produksi × Kebutuhan BB per unit. Misal: 10.400 unit × 3 kg = 31.200 kg.
LANGKAH 2: PEMBELIAN
Kebutuhan Produksi + Target BB Akhir − BB Awal. Misal: 31.200 + 4.000 − 3.000 = 32.200 kg dibeli.
NILAI PEMBELIAN DALAM RUPIAH
Nilai Pembelian = Kuantitas Dibeli × Harga per kg (Misal Rp 2.000/kg) → 32.200 kg × Rp 2.000 = Rp 64.400.000.
Jadwal Pengeluaran Kas untuk Pembelian BB juga biasanya disusun setelah ini.
3b & 3c. Anggaran TKL dan Overhead Pabrik
TENAGA KERJA LANGSUNG (TKL)
Dihitung dari total unit yang diproduksi.
Rumus: Unit Produksi × Jam TKL per Unit × Tarif Upah per Jam.
Misal: 10.400 unit × 0,5 jam = 5.200 jam kerja. 5.200 jam × Rp 10.000/jam = Rp 52.000.000.
OVERHEAD PABRIK (MOH)
Dipisahkan antara biaya variabel dan tetap.
MOH Variabel: Jam TKL × Tarif Variabel (Misal 5.200 jam × Rp 2.000 = Rp 10.400.000) MOH Tetap: Depresiasi, Asuransi, Supervisor (Misal Rp 30.000.000) Total MOH:Rp 40.400.000.
Penting untuk Anggaran Kas: Depresiasi yang termasuk dalam MOH Tetap TIDAK MENGELUARKAN KAS, sehingga kelak harus dikurangkan saat menyusun pengeluaran kas.
4. Anggaran Harga Pokok Penjualan (COGS)
Menyatukan seluruh biaya pabrikasi (BB, TKL, Overhead) untuk menghitung biaya per unit dan total Harga Pokok Penjualan.
MENGHITUNG BIAYA PRODUKSI PER UNIT (Misal Metode Absorption)
Bahan Baku: 3 kg × Rp 2.000 = Rp 6.000
Tenaga Kerja Langsung: 0,5 jam × Rp 10.000 = Rp 5.000
Overhead (Total): Misal tarif overhead total Rp 3.885/unit
Total Biaya per Unit = Rp 14.885
HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)
HPP = Unit Terjual × Biaya per Unit HPP = 10.000 unit × Rp 14.885 = Rp 148.850.000
5. Laporan Laba Rugi Pro Forma
Puncak dari seluruh anggaran operasional. Laporan ini menunjukkan proyeksi profitabilitas jika seluruh rencana berjalan mulus.
LABA RUGI PRO FORMA (KUARTAL 1)
Pendapatan Penjualan
Rp 500.000.000
Harga Pokok Penjualan (HPP)
(Rp 148.850.000)
Laba Kotor (Gross Margin)
Rp 351.150.000
Beban Penjualan & Administrasi
(Rp 100.000.000)
Laba Operasional Bersih
Rp 251.150.000
Beban Bunga (Bila ada)
(Rp 5.000.000)
Laba Bersih
Rp 246.150.000
Bagian 2 dari 3
Anggaran Keuangan
Memastikan perusahaan memiliki Kas yang cukup untuk beroperasi dan memproyeksikan posisi harta serta utang (Neraca).
Anggaran KasNeraca Pro Forma
Anggaran Kas (Cash Budget)
Buku harian masa depan untuk uang tunai. Memastikan perusahaan tahu kapan kas akan defisit sehingga bisa meminjam dana tepat waktu.
FORMAT STANDAR ANGGARAN KAS
Saldo Kas Awal
Rp 50.000
(+) Penerimaan Kas (dari penjualan tunai & tagihan piutang)
Rp 350.000
Total Kas Tersedia
Rp 400.000
(−) Pengeluaran Kas (Beli BB, bayar upah, beli mesin, dll)
(Rp 320.000)
Kelebihan / (Kekurangan) Kas
Rp 80.000
Pendanaan (Pinjaman bank jika defisit / pelunasan jika lebih)
Rp 0
Saldo Kas Akhir
Rp 80.000
Ingat: Pengeluaran non-kas (seperti Depresiasi) dan penjualan non-kas (Piutang yang belum tertagih) TIDAK BOLEH dimasukkan ke Anggaran Kas.
Neraca Pro Forma (Pro Forma Balance Sheet)
Dokumen paling akhir dari Master Budget. Menunjukkan posisi aset, kewajiban, dan ekuitas di akhir periode proyeksi.
ASET
• Kas: dari Anggaran Kas • Piutang: Sisa penjualan kredit • Persediaan: Anggaran Persediaan Akhir • Aset Tetap: Netto setelah depresiasi tahun terkait
KEWAJIBAN
• Utang Usaha: Pembelian bahan baku yang belum dibayar • Utang Bank: Dari seksi pendanaan Anggaran Kas
EKUITAS
• Modal Saham: (awal + terbitan baru) • Laba Ditahan: Laba ditahan awal + Laba Bersih Pro Forma − Dividen
Neraca Pro Forma mengintegrasikan seluruh dokumen. Jika Aset = Kewajiban + Ekuitas, maka Master Budget Anda sudah sinkron.
Bagian 3 dari 3
Akuntansi Pertanggungjawaban
Setelah anggaran disusun, bagaimana kita mengevaluasi kinerja manajer yang melaksanakannya?
Pusat BiayaPusat LabaAspek Perilaku
Konsep Akuntansi Pertanggungjawaban
Sistem yang mengukur hasil aktual setiap manajer terhadap anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. Prinsip utama: Kemampuan Mengendalikan (Controllability).
PRINSIP CONTROLLABILITY
Manajer hanya boleh dievaluasi berdasarkan biaya atau pendapatan yang berada di bawah kendali langsung mereka (Bisa dipengaruhi oleh keputusan mereka secara signifikan).
CONTOH KASUS
Seorang manajer pabrik (produksi) dapat mengendalikan efisiensi pemakaian bahan baku. Namun ia tidak bisa mengendalikan harga sewa gedung pabrik yang ditetapkan Direksi. Maka sewa pabrik tidak masuk laporannya.
Tujuan sistem ini bukan untuk menghukum, melainkan memberikan informasi spesifik di mana perbaikan diperlukan dan siapa yang memiliki wewenang memperbaikinya.
Tipe Pusat Pertanggungjawaban (1/2)
Setiap departemen diklasifikasikan ke dalam tipe "Pusat" (Center) berdasarkan rentang wewenangnya.
1. PUSAT BIAYA (COST CENTER)
Wewenang: Hanya Biaya
Manajer hanya bertanggung jawab mengendalikan biaya tanpa memikirkan pendapatan.
Tugas: Meminimalkan varians biaya yang tidak menguntungkan. Contoh: Departemen Produksi, IT Support, HRD, Akuntansi.
2. PUSAT PENDAPATAN (REVENUE CENTER)
Wewenang: Penjualan
Manajer bertanggung jawab murni pada penciptaan pendapatan, bukan laba secara keseluruhan.
Tugas: Mencapai kuota penjualan. Contoh: Departemen Penjualan Regional, Call Center Telemarketing.
Tipe Pusat Pertanggungjawaban (2/2)
Level wewenang yang lebih tinggi, mengelola baik biaya maupun pendapatan secara simultan.
3. PUSAT LABA (PROFIT CENTER)
Wewenang: Biaya & Pendapatan
Manajer mengendalikan penetapan harga dan biaya sekaligus, sehingga diukur dari capaian Laba.
Tertinggi. Selain laba, manajer juga mengendalikan keputusan investasi aset (misal: beli pabrik baru).
Evaluasi: ROI (Return on Investment) & EVA. Contoh: CEO anak perusahaan, VP Divisi Regional.
Evaluasi Kinerja: Laporan Kinerja
Inti dari akuntansi pertanggungjawaban adalah Laporan Kinerja, yang membandingkan Anggaran vs Aktual, lalu memunculkan Varians.
LAPORAN KINERJA PUSAT BIAYA (DEPT. PERAKITAN)
Pos Biaya Terkendali
Anggaran
Aktual
Varians
Bahan Baku Langsung
Rp 50.000.000
Rp 52.000.000
Rp 2.000.000 U
Tenaga Kerja Langsung
Rp 30.000.000
Rp 28.500.000
Rp 1.500.000 F
Perlengkapan Variabel
Rp 5.000.000
Rp 5.200.000
Rp 200.000 U
Total Biaya Terkendali
Rp 85.000.000
Rp 85.700.000
Rp 700.000 U
Keterangan: F (Favorable/Menguntungkan) = Aktual < Anggaran. U (Unfavorable/Merugikan) = Aktual > Anggaran.
Konsep Management by Exception: Manajer tingkat atas hanya akan fokus menginvestigasi varians (U atau F) yang jumlahnya material/signifikan secara persentase, mengabaikan penyimpangan kecil.
Aspek Keperilakuan dalam Penganggaran
Anggaran bukan sekadar deretan angka. Anggaran sangat memengaruhi perilaku dan psikologi manusia di dalam organisasi.
BUDGETARY SLACK (KESENJANGAN)
Kecenderungan manajer untuk secara sengaja merendahkan estimasi pendapatan atau meninggikan estimasi biaya.
Tujuan: Agar target mudah dicapai dan bonus kinerja aman.
PARTICIPATIVE BUDGETING
Anggaran disusun secara bottom-up, melibatkan manajer level bawah yang terjun di lapangan.
Manfaat: Meningkatkan motivasi dan rasa kepemilikan manajer terhadap target tersebut.
Top-Down vs Bottom-Up: Jika target dipaksakan dari direksi ke bawah (Top-down) tanpa musyawarah, manajer cenderung resisten dan kurang termotivasi karena target dinilai tidak realistis.