‹ Daftar slidePertemuan 04: Sistem Biaya Proses - Part 2 (Spoilage, Rework, Scrap)
Program Studi Akuntansi • FEB
Akuntansi Biaya
Pertemuan 04 — Sistem Biaya Proses (Part 2)
Mempelajari perlakuan akuntansi untuk ketidakefisienan produksi: Spoilage (Barang Rusak), Rework (Pengerjaan Ulang), dan Scrap (Barang Sisa).
RPS MINGGU 4 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu memahami dan mencatat tiga hal krusial dalam produksi:
CAPAIAN 1
SPOILAGE
Membedakan dan menjurnal Normal vs Abnormal Spoilage serta dampaknya pada harga pokok produksi.
CAPAIAN 2
REWORK
Mencatat biaya pengerjaan ulang (Rework) baik yang bersifat normal maupun abnormal.
CAPAIAN 3
SCRAP
Membedakan pengakuan pendapatan dari penjualan barang sisa (Scrap) sebagai pengurang biaya atau pendapatan lain.
Realita Pabrik: Tidak Ada Produksi 100% Sempurna
Dalam industri manufaktur mana pun, kerugian produksi adalah suatu kepastian. Mengapa akuntan harus peduli?
SUDUT PANDANG MANAJEMEN
KONTROL BIAYA
Jika semua kerugian digabung begitu saja ke Harga Pokok Produksi, manajer tidak tahu bahwa pabrik beroperasi secara tidak efisien.
SUDUT PANDANG AKUNTAN
PEMISAHAN BEBAN
Akuntan harus memisahkan mana kerugian yang "wajar" (Product Cost) dan mana kerugian murni karena kesalahan yang harus jadi "beban periode" (Period Cost).
Tugas kita: Memastikan biaya produksi unit yang "baik" (good units) dihitung secara wajar, tanpa dibebani oleh inefisiensi yang bisa dihindari.
Bagian 1 dari 4
Spoilage (Barang Rusak)
Unit yang tidak memenuhi standar kualitas dan tidak layak secara ekonomis untuk diperbaiki.
DefinisiNormal vs AbnormalJurnal Akuntansi
Apa itu Spoilage?
Spoilage adalah unit produksi yang tidak memenuhi kriteria kualitas pelanggan dan tidak dapat diperbaiki karena biaya perbaikannya tidak rasional secara ekonomi.
ILUSTRASI SPOILAGE DI PABRIK
Pabrik Keramik: Piring yang retak atau pecah saat proses pembakaran di dalam oven. Piring pecah tidak bisa dilem ulang.
Pabrik Roti: Roti yang gosong karena mesin pemanggang terlalu panas. Roti gosong tidak bisa diubah jadi roti putih lagi.
Pakaian: Baju yang salah potong secara fatal sehingga tidak bisa dijahit sama sekali.
Nasib Spoilage: Biasanya langsung dibuang (discarded) atau dijual dengan harga sangat murah sebagai barang afkir (salvage value / disposal value).
Klasifikasi: Normal vs Abnormal
Aturan emas Akuntansi Biaya: Pisahkan kerugian ke dalam dua ember yang berbeda.
NORMAL SPOILAGE
WAJAR & BISA DITEBAK
Terjadi pada kondisi operasi efisien. Memang "inheren" dalam proses.
Perlakuan: Biayanya diserap oleh unit yang bagus (Product Cost).
ABNORMAL SPOILAGE
KECELAKAAN / KESALAHAN
Melebihi taksiran normal. Terjadi karena mesin rusak, mati listrik, atau operator keliru.
Perlakuan: Dicatat sebagai kerugian langsung (Period Loss).
Mengapa dibedakan? Agar manajemen tahu persis berapa biaya inefisiensi yang seharusnya bisa dihindari.
Pencatatan Akuntansi: Normal Spoilage
Biaya dari normal spoilage tetap berada di dalam akun Work in Process (WIP) dan pada akhirnya dialokasikan ke Finished Goods.
SKENARIO 1: NORMAL SPOILAGE DI PROCESS COSTING
Dalam Process Costing, jika tidak ada nilai sisa (salvage value), kita tidak perlu membuat jurnal khusus. Biaya barang rusak otomatis meningkatkan biaya per ekuivalen unit (Cost per Equivalent Unit) untuk barang yang bagus.
SKENARIO 2: JIKA ADA NILAI SISA (SALVAGE VALUE)
Misal: Barang rusak normal nilainya Rp 500.000 bisa diloak.
Akun
Debit
Kredit
Spoiled Goods Inventory (Persediaan Barang Afkir)
500.000
Work in Process (Barang dalam Proses)
500.000
Pencatatan Akuntansi: Abnormal Spoilage
Berbeda dengan normal, abnormal spoilage harus dikeluarkan dari beban pabrik dan dibuang ke Laporan Laba/Rugi secara langsung.
SKENARIO: ABNORMAL SPOILAGE KARENA MESIN RUSAK
Biaya total barang rusak abnormal adalah Rp 2.000.000. Barang rusak ini bisa dijual kiloan seharga Rp 200.000.
Akun
Debit
Kredit
Spoiled Goods Inventory (Nilai sisa/jual)
200.000
Loss from Abnormal Spoilage (Kerugian)
1.800.000
Work in Process (Total Biaya Terserap)
2.000.000
Akun "Loss from Abnormal Spoilage" muncul di Laporan Laba Rugi di bawah Laba Kotor (Gross Profit) sebagai beban/kerugian terpisah.
Bagian 2 dari 4
Rework (Pengerjaan Ulang)
Barang cacat yang belum mati! Masih bisa diperbaiki untuk menjadi produk normal.
DefinisiKlasifikasi ReworkJurnal Tambahan
Apa itu Rework?
Rework adalah unit yang gagal saat inspeksi, namun dikembalikan ke lantai produksi untuk diperbaiki sehingga menjadi Barang Jadi (Finished Goods) yang normal.
SPOILAGE
TIDAK BISA DISAALVAGE
Cacat fatal. Dibuang atau dijual loak. Fokus akuntansi: Mengakui kehilangan nilai yang ada di WIP.
REWORK
BISA DIPERBAIKI
Cacat minor. Jadi bagus lagi. Fokus akuntansi: Bagaimana mencatat tambahan biaya bahan baku/tenaga kerja perbaikannya?
Sama seperti Spoilage, Rework juga terbagi dua: Normal Rework dan Abnormal Rework.
Normal Rework: Spesifik vs Umum
Beban pengerjaan ulang yang "normal" dibebankan tergantung pada seberapa umum kegagalan tersebut terjadi.
A. NORMAL REWORK SPESIFIK KE PEKERJAAN (JOB) TERTENTU
Terjadi karena karakteristik spesifik pesanan tersebut. Biaya perbaikan langsung dibebankan ke pesanan itu (Debit WIP).
Dr. Work in Process (Pesanan #101) Cr. Materials / Payroll / FOH Applied
B. NORMAL REWORK UMUM (COMMON TO ALL JOBS)
Terjadi secara acak di pabrik dan bagian dari proses normal. Biaya perbaikan dibebankan ke Factory Overhead (FOH).
Dr.Manufacturing Overhead Control Cr. Materials / Payroll / FOH Applied
Abnormal Rework
Jika pengerjaan ulang terjadi karena kelalaian parah, kesalahan operator yang fatal, atau penggunaan bahan baku di bawah standar, ini adalah Abnormal.
PERLAKUAN AKUNTANSI ABNORMAL REWORK
JADIKAN KERUGIAN PERIODE
Biaya tambahan untuk memperbaiki (Bahan Baku + Tenaga Kerja + Overhead tambahan) tidak boleh dibebankan ke WIP atau Overhead Pabrik. Semuanya harus ditampung dalam akun kerugian.
JURNAL ABNORMAL REWORK
Contoh biaya perbaikan: Material Rp 300.000, Buruh Rp 400.000.
Dr.Loss from Abnormal Rework ........ 700.000 Cr. Materials Control ...................... 300.000 Cr. Payroll Payable (Tenaga Kerja) ....... 400.000
Bagian 3 dari 4
Scrap (Barang Sisa)
Serpihan, sisa potongan, atau ampas dari proses produksi yang nilai ekonomisnya kecil namun tetap laku dijual.
DefinisiPencatatanPengurangan COGS
Apa itu Scrap?
Scrap adalah sisa material yang dihasilkan dari proses manufaktur yang memiliki nilai jual rendah jika dibandingkan dengan produk utama.
CONTOH SCRAP DI INDUSTRI
Industri Kayu: Serbuk gergaji dan potongan kecil kayu (bisa dijual untuk bahan bakar atau serbuk papan).
Industri Garmen: Perca kain atau potongan kain kecil sisa pola jahitan.
Industri Logam: Serpihan bubut logam yang dikumpulkan lalu dilebur kembali atau dijual kiloan.
Berbeda dengan spoilage/rework, Scrap tidak memiliki biaya yang dibebankan kepadanya. Akuntansi untuk Scrap hanya fokus pada penerimaan kas saat sisa bahan tersebut dijual.
Kapan Mengakui Scrap?
Pencatatan memo nilai scrap dapat dilakukan di dua titik waktu yang berbeda, tergantung materialitasnya.
METODE 1
SAAT DIJUAL
Paling praktis dan banyak dipakai. Scrap dikumpulkan di gudang tanpa jurnal (hanya catatan kuantitas memo). Jurnal baru dibuat saat laku menjadi kas.
METODE 2
SAAT DIPRODUKSI
Jika nilainya cukup material dan jarak ke penjualan lama. Saat dipotong, langsung dijurnal menaikkan "Scrap Inventory" sebesar estimasi harga pasarnya.
Pencatatan Saat Scrap Dijual (Metode 1)
Asumsi kas Rp 1.500.000 diterima dari penjualan Scrap. Tiga opsi akun kredit yang bisa digunakan:
Opsi Pendekatan
Debit
Kredit
A. Sebagai Pendapatan Lain-lain (Jika nilainya sangat kecil/immaterial)
Cash .... 1.500.000
Scrap Revenues / Other Income .... 1.500.000
B. Pengurang Cost of Goods Sold (COGS) (Disatukan dengan HPP periode tersebut)
Cash .... 1.500.000
Cost of Goods Sold (COGS) ........ 1.500.000
C. Pengurang Overhead / WIP (Dikreditkan ke Manufacturing Overhead)
Cash .... 1.500.000
Manufacturing Overhead Control .... 1.500.000
Semua metode di atas pada akhirnya akan menaikkan Laba (baik dengan menambah revenue atau mengurangi beban). Pilih yang sesuai kebijakan materialitas.
Bagian 4 dari 4
Penutup & Ringkasan
Membandingkan ketiga inefisiensi secara berdampingan.
ReviewKesimpulan
Perbandingan Komprehensif
Kriteria
Spoilage (Barang Rusak)
Rework (Pengerjaan Ulang)
Scrap (Barang Sisa)
Status Produk
Gagal, tidak bisa diperbaiki
Cacat, tapi masih bisa diperbaiki
Residu bahan baku, bukan produk cacat
Nilai Ekonomis
Sangat rendah (salvage) atau Rp 0
Nilai penuh setelah diperbaiki
Rendah, tapi lumayan dijual eceran
Cost yang Diakui
Menyerap full biaya hingga titik rusak
Biaya awal + Tambahan Biaya Perbaikan
Tidak menyerap cost produksi, 0 cost.
Perlakuan Normal
Dibiarkan (menaikkan cost/unit bagus)
Dibebankan ke WIP (job) atau FOH
Dijual untuk mengurangi COGS/FOH
Perlakuan Abnormal
Dibuang jadi Loss on Spoilage
Dibuang jadi Loss on Rework
- (Scrap selalu dianggap normal inheren)
Coba Sendiri: Klasifikasikan Kasus Barang Rusak
Pilih skenario produksi bermasalah, lalu putuskan apakah itu spoilage, rework, atau scrap, normal atau abnormal.
Mengapa Semuanya Repot-Repot Dicatat?
"Akuntansi bukan sekadar menghitung harga produk, tetapi menyediakan cermin bagi manajemen."
Dengan memisahkan Loss from Abnormal Spoilage/Rework, manajemen tidak bisa sembunyi. Laporan Laba Rugi akan "berteriak" bahwa bulan ini terjadi inefisiensi yang parah. Itulah peran Anda sebagai calon Akuntan Manajemen: menyorot kelemahan pabrik dengan cahaya angka.
SEKIAN & Terima Kasih
Selesai: Pertemuan 04
Jangan lupa kerjakan latihan soal di e-Learning terkait pembuatan Jurnal untuk Abnormal Spoilage dan Rework.