Anda ingin meneliti “pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan”. Tetapi kepuasan kerja itu apa? Ia tidak bisa diukur dengan penggaris, tidak punya satuan seperti sentimeter atau kilogram. Inilah masalah pertama hampir semua skripsi manajemen: variabel yang ingin diteliti bersifat abstrak.

Seorang psikolog bernama Rensis Likert menghadapi masalah yang sama pada tahun 1932. Gagasannya sederhana dan brilian: kalau sikap tidak bisa diukur langsung, mintalah orang menyatakan seberapa setuju mereka terhadap sejumlah pernyataan, lalu ubah jawaban itu menjadi angka. “Sangat Setuju” jadi 5, “Sangat Tidak Setuju” jadi 1. Hal abstrak pun menjelma data yang bisa dihitung.

Artikel ini membangun pemahaman dari nol: apa itu skala Likert, bagaimana menyusun pernyataan yang baik, cara memberi skor, sampai menghitung skor total tiap responden. Semua dihitung manual, angka per angka, supaya Anda paham dari mana setiap nilai berasal.

Apa Itu Skala Likert

Skala Likert mengukur sikap atau pendapat dengan meminta responden menyatakan tingkat persetujuan terhadap sebuah pernyataan. Responden tidak menjawab dengan kalimat bebas, melainkan memilih satu dari beberapa tingkatan yang sudah disediakan. Bentuk paling umum punya 5 pilihan:

Pilihan jawabanSingkatanSkor
Sangat Tidak SetujuSTS1
Tidak SetujuTS2
Netral / Ragu-raguN3
SetujuS4
Sangat SetujuSS5

Idenya sederhana: makin setuju responden, makin tinggi angkanya. Kalau seseorang menjawab “Sangat Setuju” pada pernyataan “Saya puas dengan pekerjaan saya”, kita catat angka 5. Sikap yang tadinya hanya bisa diucapkan kini menjadi angka yang bisa dijumlah, dirata-rata, dan dianalisis.

Inilah seluruh gagasannya dalam satu gambar — lima tingkat persetujuan yang berurutan, dan berapa banyak orang yang memilih tiap tingkat:

Skala Likert 5 titik dengan batang frekuensi responsLima kotak kategori berurutan dari kiri ke kanan: 1 STS (Sangat Tidak Setuju), 2 TS (Tidak Setuju), 3 N (Netral), 4 S (Setuju), 5 SS (Sangat Setuju). Di bawah tiap kotak ada batang frekuensi yang menunjukkan jumlah responden pada kategori itu; distribusi 100 responden condong ke setuju: STS 4, TS 9, N 18, S 41 (paling tinggi), SS 28. Tanda tanya kecil di antara kotak menegaskan bahwa skala ini ordinal — urutannya pasti, tetapi jarak antar-kategori tidak harus sama.4918412812345STSTSNSSS????tidak setujusetujutinggi batang = jumlah responden (n = 100)data ordinal: urutan pasti, jarak antar-kategori belum tentu sama
Skala Likert 5 titik (1 STS sampai 5 SS) dengan batang frekuensi = jumlah responden tiap kategori. Contoh 100 responden yang condong setuju: STS 4, TS 9, N 18, S 41 (paling banyak), SS 28. Tanda tanya di antara kotak menegaskan sifat ordinal: urutan STS < TS < N < S < SS sudah pasti, tetapi jarak antarkategori belum tentu sama.

Berapa titik: 4, 5, atau 7?

Jumlah pilihan jawaban (sering disebut titik skala) menentukan kehalusan pengukuran sekaligus risikonya:

TitikCiriKapan dipakai
4Genap, tanpa Netral — responden dipaksa memihakSaat Anda khawatir banyak yang “main aman” memilih tengah
5Ada satu titik tengah (Netral)Pilihan paling umum dan paling aman untuk skripsi S1
7Lebih halus, dua tingkat di tiap arahSaat butuh sensitivitas tinggi dan responden sudah terbiasa survei

Aturan jumlah titik berhubungan dengan titik tengah. Skala bertitik ganjil (5 atau 7) punya satu titik tengah murni (Netral pada skor 3 untuk 5 titik, skor 4 untuk 7 titik). Skala bertitik genap (4) tidak punya titik tengah, sehingga responden terpaksa condong ke salah satu sisi. Tidak ada jawaban benar tunggal; untuk mayoritas skripsi, 5 titik adalah jalan tengah yang aman.

Variabel, Indikator, dan Item

Struktur ini sering membingungkan pemula. Urutannya dari yang paling besar ke paling kecil:

  • Variabel: konsep besar yang diteliti (misalnya Kepuasan Kerja).
  • Indikator (kadang disebut dimensi): aspek-aspek pembentuk variabel itu (misalnya gaji, rekan kerja, kesempatan promosi).
  • Item (butir pernyataan): kalimat konkret yang benar-benar ditanyakan kepada responden.

Satu variabel dipecah menjadi beberapa indikator. Tiap indikator dijabarkan menjadi satu atau beberapa item. Contoh:

Variabel: Kepuasan Kerja └ Indikator “Gaji” → Item: “Gaji yang saya terima sesuai dengan beban kerja saya.” └ Indikator “Rekan kerja” → Item: “Rekan kerja saya saling membantu menyelesaikan tugas.”

Aturan praktis: sediakan minimal 3 item per indikator atau variabel. Alasannya teknis — dengan hanya 1 atau 2 item, instrumen tidak bisa diuji validitas dan reliabilitasnya secara memadai. Tiga item adalah batas bawah yang lazim diterima.

Pernyataan yang jelek merusak seluruh penelitian, karena angka yang dihasilkannya menyesatkan. Lima aturan inti:

  1. Satu ide per pernyataan. Jangan menulis “Gaji dan promosi saya memuaskan” — ini menanyakan dua hal sekaligus (disebut double-barreled, “berlaras ganda”). Responden yang puas dengan gaji tetapi tidak dengan promosi tidak tahu harus menjawab apa. Pisahkan menjadi dua item.
  2. Hindari kata negatif ganda. “Saya tidak pernah merasa tidak puas” memutar otak responden. Tulis lugas: “Saya merasa puas.”
  3. Bahasa sederhana, sesuai responden. Hindari istilah teknis yang asing bagi orang yang mengisi kuesioner.
  4. Jangan menggiring jawaban. “Setujukah Anda bahwa perusahaan hebat ini layak dibanggakan?” sudah menyetir responden ke arah setuju. Tulis netral: “Saya bangga bekerja di perusahaan ini.”
  5. Konkret dan spesifik. “Atasan saya memberi umpan balik yang membangun” jauh lebih baik daripada “Atasan saya baik” yang kabur.

Pernyataan Favorable dan Unfavorable

Pernyataan dalam kuesioner punya dua arah.

  • Favorable (mendukung): persetujuan menunjukkan sikap yang positif terhadap variabel. Contoh: “Saya puas dengan pekerjaan saya.” Makin setuju, makin tinggi kepuasan.
  • Unfavorable (tidak mendukung): persetujuan justru menunjukkan sikap yang negatif. Contoh: “Saya berpikir untuk keluar dari perusahaan ini.” Makin setuju, makin rendah kepuasan.

Sebagian peneliti sengaja menyelipkan pernyataan unfavorable untuk menguji konsistensi responden — orang yang asal mencentang tanpa membaca akan ketahuan karena jawabannya saling bertentangan. Tetapi ada konsekuensinya: sebelum dijumlahkan, skor item unfavorable harus dibalik agar searah dengan item favorable. Kita bahas rumus pembalikannya sebentar lagi. Banyak skripsi S1 memilih semua pernyataan favorable saja untuk menghindari kerumitan ini — itu sah, asalkan konsisten.

Skoring: Dari Jawaban ke Angka

Setelah kuesioner diisi, tiap jawaban diubah menjadi angka sesuai tabel skor (STS = 1 sampai SS = 5). Lalu untuk tiap responden, kita hitung skor total: jumlah skor semua item yang menyusun satu variabel.

$$T = \sum_{j=1}^{k} s_j$$

Penjelasan tiap lambang:

  • $T$ = skor total seorang responden untuk satu variabel.
  • $\sum_{j=1}^{k}$ artinya “jumlahkan untuk semua item, dari item ke-1 sampai item ke-$k$”. Tanda $\sum$ (huruf Yunani sigma besar) berarti “jumlahkan”.
  • $k$ = banyak item yang menyusun variabel itu. Kalau variabel diukur 5 item, maka $k = 5$.
  • $s_j$ = skor item ke-$j$ (angka 1 sampai 5). Misalnya $s_3$ adalah skor jawaban responden pada item ketiga.

Membalik skor item unfavorable

Untuk item unfavorable, skor mentahnya harus dibalik dulu. Rumus pembalikan pada skala $k$ titik:

$$s' = (k_{\text{maks}} + 1) - s$$

Di sini $s$ adalah skor mentah (jawaban apa adanya), $s'$ skor setelah dibalik, dan $k_{\text{maks}}$ adalah skor tertinggi pada skala (5 untuk skala 5 titik). Maknanya polos: skor baru = (skor tertinggi + 1) − skor lama. Untuk skala 5 titik, $k_{\text{maks}} + 1 = 6$, sehingga:

Jawaban mentah $s$Dibalik $s' = 6 - s$
1 (STS)5
2 (TS)4
3 (N)3
4 (S)2
5 (SS)1

Perhatikan: nilai tengah (3) tetap 3, sedangkan kedua ujung saling bertukar. Untuk skala 4 titik rumusnya $s' = 5 - s$; untuk skala 7 titik $s' = 8 - s$. Polanya selalu sama: angka pembagi adalah skor tertinggi ditambah satu.

Contoh hitung skor total dari nol

Misal variabel Kepuasan Kerja diukur dengan 5 item ($k = 5$), semuanya favorable. Responden ke-1 menjawab: S, SS, N, S, S. Ubah menjadi angka sesuai tabel skor:

Item ke-$j$JawabanSkor $s_j$
1S4
2SS5
3N3
4S4
5S4
Σ20

Masukkan ke rumus:

$$T = \sum_{j=1}^{5} s_j = 4 + 5 + 3 + 4 + 4 = 20$$

Skor total responden 1 = 20. Untuk menafsirkannya, bandingkan dengan rentangnya. Skor maksimum mungkin = $5 \text{ item} \times 5 = 25$; skor minimum = $5 \times 1 = 5$. Karena 20 mendekati maksimum 25, responden 1 tergolong puas.

Contoh dengan satu item unfavorable

Sekarang anggap item ke-3 ternyata unfavorable, misalnya “Saya sering merasa jenuh dengan pekerjaan saya.” Responden menjawab semua item dengan: S, SS, SS, S, S → skor mentah 4, 5, 5, 4, 4.

Kalau lupa membalik, totalnya tampak tinggi: $4 + 5 + 5 + 4 + 4 = 22$ — seolah responden sangat puas. Tetapi item ke-3 unfavorable: jawaban SS (5) di situ berarti responden sangat jenuh, justru sinyal ketidakpuasan. Maka skor item ke-3 harus dibalik dulu: $s'_3 = 6 - 5 = 1$. Skor terkoreksi menjadi 4, 5, 1, 4, 4:

$$T = 4 + 5 + 1 + 4 + 4 = 18$$

Selisihnya 4 poin (22 versus 18) — cukup besar untuk menggeser kesimpulan. Inilah sebabnya pembalikan skor item unfavorable tidak boleh terlewat.

Interpretasi Skor

Angka skor total baru bermakna setelah dibandingkan dengan acuannya.

  • Terhadap rentang. Skor 20 dari rentang [5, 25] berada di sekitar 80% dari skala penuh — tinggi. Ukuran ini, skor dibagi skor maksimum lalu dikali 100%, sering disebut tingkat capaian responden; pembahasan rincinya ada di Tingkat capaian responden.
  • Antar-responden. Kalau ada 8 responden dengan skor total 20, 22, 18, 25, 19, 21, 17, dan 23, rata-ratanya $165 / 8 = 20{,}625$. Angka rata-rata ini menggambarkan kepuasan kelompok secara keseluruhan.

Satu hal penting: skala Likert menghasilkan data ordinal. Angka 1 sampai 5 menyatakan urutan (5 lebih setuju daripada 4), tetapi jarak antar-angka belum tentu sama — selisih sikap antara “Setuju” dan “Sangat Setuju” tidak harus sama besar dengan selisih antara “Netral” dan “Setuju”. Itulah arti tanda tanya di antara kotak pada gambar di awal artikel. Dalam praktik, banyak penelitian tetap memperlakukan skor Likert sebagai data interval (asumsi yang umum diterima), sebagian lagi mengubahnya lebih dulu lewat Method of Successive Interval (MSI).

Bereksperimen Sendiri

Ubah jumlah responden yang memilih tiap kategori dan amati bagaimana skor total, rata-rata, serta distribusi jawaban ikut berubah. Cobalah juga menyalakan satu item unfavorable dan lihat efeknya kalau skor tidak dibalik.

Excel Companion

/excel/skala-likert-kuesioner.xlsx berisi: contoh kuesioner 5 item × 8 responden, tabel skoring, perhitungan skor total tiap responden (kolom penjumlahan terlihat), skor per item, persentase jawaban, dan contoh pembalikan skor item unfavorable. Semua dengan penjumlahan sederhana yang formulanya hidup, tanpa fungsi yang tersembunyi.

Cek Pemahaman

1. Seorang responden menjawab 4 item favorable dengan: SS, S, N, SS. Hitung skor totalnya dari nol, lalu sebutkan rentang skor yang mungkin.

Lihat jawaban

Ubah jawaban menjadi angka: SS = 5, S = 4, N = 3, SS = 5. Skor total $T = 5 + 4 + 3 + 5 = 17$. Rentang skor yang mungkin untuk 4 item: minimum $4 \times 1 = 4$, maksimum $4 \times 5 = 20$. Skor 17 mendekati maksimum 20, jadi responden ini tergolong sangat setuju/positif.

2. Sebuah kuesioner skala 5 titik berisi item nomor 2 yang unfavorable: “Saya ingin pindah ke perusahaan lain.” Responden menjawab seluruh 3 item dengan skor mentah 4, 5, 4 (item ke-2 = 5). Hitung skor total yang benar.

Lihat jawaban

Item ke-2 unfavorable, jadi skornya dibalik: $s'_2 = 6 - 5 = 1$. Skor terkoreksi menjadi 4, 1, 4. Skor total yang benar $T = 4 + 1 + 4 = 9$. (Kalau lupa membalik, totalnya tampak 13 — terlalu tinggi dan menyesatkan, seolah responden puas padahal ia ingin pindah.)

3. (Transfer) Sebuah tim peneliti ingin menghindari responden yang “main aman” memilih Netral. Skala berapa titik yang sebaiknya mereka pakai, dan apa konsekuensinya?

Lihat jawaban

Pakai skala 4 titik (genap, tanpa Netral), supaya responden terpaksa memihak ke arah setuju atau tidak setuju. Konsekuensinya: responden yang benar-benar ragu kehilangan opsi yang jujur dan terpaksa memilih sisi yang belum tentu mencerminkan sikapnya. Jadi pilihan ini mengurangi jawaban “main aman”, tetapi berisiko memaksakan jawaban pada orang yang sungguh netral — sebuah pertukaran yang harus disadari peneliti.

Kesalahan Umum

Pernyataan double-barreled. “Gaji dan promosi memuaskan” menanyakan dua hal sekaligus. Responden yang puas dengan satu hal tetapi tidak dengan yang lain tidak bisa menjawab jujur. Pecah menjadi dua item terpisah.

Lupa membalik skor item unfavorable. Item negatif harus dibalik dengan rumus $s' = (k_{\text{maks}} + 1) - s$ sebelum dijumlahkan. Lupa membalik membuat skor total tidak bermakna — seperti contoh tadi, selisihnya bisa beberapa poin dan menggeser kesimpulan.

Item terlalu sedikit. Satu indikator dengan hanya 1 item tidak bisa diuji reliabilitasnya. Sediakan minimal 3 item per indikator.

Memperlakukan skala Likert sebagai data rasio mentah. Jarak antara “Setuju” dan “Sangat Setuju” belum tentu sama dengan jarak “Netral” ke “Setuju”. Secara teknis ini data ordinal. Memperlakukannya sebagai interval umum diterima, tetapi sadari asumsinya; bila ragu, pertimbangkan MSI.

Pilihan jawaban tidak seimbang. Jumlah pilihan positif dan negatif harus sama, dengan satu titik tengah pada skala ganjil. Jangan menyediakan 2 pilihan negatif dan 3 positif — itu diam-diam menggeser jawaban ke arah setuju.

Dipakai di Dunia Nyata

  • Skripsi manajemen SDM. Mengukur kepuasan kerja, motivasi, komitmen organisasi, kinerja karyawan, dan gaya kepemimpinan — variabel yang seluruhnya abstrak dan hanya bisa diakses lewat persepsi responden.
  • Riset pemasaran. Mengukur kepuasan pelanggan, persepsi kualitas, niat beli, dan loyalitas merek. Skala Likert adalah tulang punggung hampir semua survei konsumen.
  • Survei kepuasan layanan publik. Instansi pemerintah mengukur kepuasan masyarakat lewat Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) yang berbasis skala Likert.
  • Pengembangan instrumen psikologi. Skala baku seperti pengukuran sikap, stres kerja, dan kesejahteraan psikologis hampir selalu memakai format Likert dengan item favorable dan unfavorable yang dikalibrasi.

Lanjutan

Setelah kuesioner jadi dan data terkumpul, langkah berikutnya menguji kualitas instrumen dan menyiapkan data untuk analisis:

Reference

  • Likert, R. (1932), “A technique for the measurement of attitudes”
  • DeVellis, R. F. (2017), “Scale Development: Theory and Applications”, 4th ed.
  • Sugiyono (2019), “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D”